logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 3 Restu Ummi Segalanya

Laila hendak pergi ke dapur untuk mengambil minum. Namun langkahnya terhenti saat melewati  kamar Baim. Sayup-sayup indera pendengarannya menangkap percakapan anak laki-lakinya itu dengan seseorang. 
Dia berjalan mengendap-endap ke arah pintu, lalu menempelkan telinganya pada daun pintu kamar Baim. Penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan anaknya itu.
"Zam, kayaknya aku nggak jadi kuliah di UIN Sunan Kalijaga deh," kata Baim pelan.
["Kenapa, Im? Bukannya kamu kemarin antusias banget pengin kuliah di sana?"]  tanya  lawan bicaranya.
Laila bisa mendengarkan dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan, lantaran panggilannya diloudspeaker oleh Baim.
"Iya sih. Tapi mau bagaimana lagi? Ummi nggak kasih izin buat aku kuliah di sana," jawab Baim dengan nada suara pasrah.
["Yaaah ... sayang banget sebenarnya, Im. Kamu itu kan dulu termasuk siswa berprestasi waktu di pesantren. Aku yakin deh, pasti bisa dengan mudah kamu dapat beasiswa di kampus UIN."]
Baim hanya bisa mengembuskan napas beratnya. Menyayangkan Umminya yang tidak memberinya izin untuk kuliah di UIN Sunan Kalijaga.
["Atau nggak gini, kamu tinggal daftar dulu aja. Siapa tahu nanti setelah kamu udah diterima di UIN, Ummi kamu bakal kasih izin."] Temannya mencoba memberi saran.
"Nggak bisa, Zam. Aku harus dapatkan restu Ummi dulu baru daftar. Biar bagaimana pun, ridho seorang ibu itu kan yang paling utama. Kalau Ummi udah ridho, Allah juga nanti pasti akan ridho. Dengan begitu, ilmu pengetahuan yang kita dapatkan nanti bisa diberkahi oleh Allah," terang Baim panjang tanpa lebar.
Temannya terdengar menghela napas panjang di seberang telepon sana. ["Angel wes angel. Ya sudah, nanti kalau kamu berubah pikiran  tinggal kabari aku aja. InsyaAllah aku siap membantu."]
"Oke. Terima kasih banyak bantuannya, Bro."
Sambungan telepon pun terputus saat keduanya saling berbalas salam.
Lalu hening. Laila tak mendengar aktifitas lain di kamar anak laki-lakinya itu.
Percakapan yang didengarnya tadi membuat hati Laila tersentuh. Begitu baktinya dia pada seorang ibu. Hingga dia rela mengubur keinginannya untuk menuntut ilmu ke Kota Jogjakarta dalam-dalam.
Dulu dia sering memaksa Baim untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus pesantren. Sekarang giliran anaknya sudah ada kemauan malah dihalangi.
Laila merasa bersalah karena lebih mementingkan keegoisannya yang tak bisa menahan rindu pada anak laki-lakinya itu. Mengingat jarak antara Jombang ke Jogjakarta yang bisa dibilang cukup jauh.
Wanita yang berusia setengah abad itu mengetuk daun pintu kamar Baim. Lalu membuka pintunya sedikit. "Nak, apa Ummi boleh masuk?" pintanya dengan lirih.
"Eh, Ummi." Baim sedikit tersentak dengan kehadiran Laila. Dia pun membenarkan posisi duduknya. "Boleh kok, Mi. Masuk saja!"
Laila mendekat ke arah anaknya dan duduk di sebelahnya. Dipandanginya wajah putra sulungnya itu dalam-dalam. "Sayang, maafkan kelakuan Ummi yang semalam, ya," ucapnya dengan lembut.
"Iya. Ummi nggak perlu kok sampai minta maaf sama Baim. Baim tahu bagaimana perasaan Ummi," jawab Baim dengan sopan.
"Nak, kamu yakin mau kuliah di sana?" tanya Laila serius.
"Jika memang Ummi tidak mengizinkan, Baim nggak papa kok, Mi. Ridho Ummi yang paling utama bagi Baim. Agar Allah juga ridho dengan apa yang Baim lakukan," jawab laki-laki itu sambil membalas tatapan lembut Umminya.
Baim meraih kedua telapak tangan Laila dan mengecupnya dengan takzim. Kemudian mendogakkan wajahnya hingga menatap mata bulat Laila seraya berkata, "Baim sayang banget sama Ummi."
Perlakuan lembut anaknya benar-benar membuatnya terharu. Setetes air matanya meluncur melewati pipi kanannya. Kemudian dia mendekap anaknya penuh sayang.
"Ummi juga sayang banget sama kamu, Nak. Ummi sangat yakin, Abimu pasti bangga sekali mempunyai anak soleh sepertimu. Maafkan Ummi ya, Nak. Maaf," ucapnya dengan bibir bergetar menahan tangis haru.
"Sudah, Ummi jangan minta maaf terus." Baim mencoba menenangkan Laila. Dia membalas pelukan ummiya sambil telapak tangannya mengusap-usap punggung Laila. Berharap dengan itu, tangisnya mereda.
Sungguh, dia tak akan sanggup melihat wanita yang begitu dia hormati sampai meneteskan air mata di depannya. Meski itu air mata bahagia.
Dia hanya ingin melihat kedua orangtuanya tersenyum bahagia karenanya.
Laila melepas pelukannya. Mengusap sisa air matanya di pipi. Lalu kedua telapak tangannya menangkup wajah teduh Baim.
"Nak, Ummi ... Ummi izinkan kamu untuk kuliah di Jogjakarta," ucapnya lagi.
Mendengar ucapan Laila, kedua mata bening Baim terbuka lebar-lebar. Menatap Ummi tak percaya. "Ummi nggak lagi bercanda 'kan?" tanya Baim memastikan.
Laila hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"MaasyaAllah. Ummi baik banget. Terima kasih, ya! Cinta banget sama Ummi!" seru Baim kegirangan sampai dia kembali mendekap Umminya.
Allah, betapa mudahnya Engkau membolak-balikkan hati setiap manusia, batin Baim sambil tersenyum tipis pada Laila.
"Jadi kapan kamu mau daftar, Nak? Biar Ummi sama Abi siapkan biayanya."
"Sekarang juga Baim akan daftar, Mi. Baim mau kasih kabar sama teman dulu yang bakal bantu Baim selama di sana."
"Oke, baiklah. Kalau begitu, Ummi keluar dulu, ya! Mau kasih tahu sama Abi," pamitnya sambil mengusap-usap lengan Baim lembut.
Dia bahagia bukan main. Bahkan selepas kepergian Laila dari kamarnya, Biam sampai tersungkur melakukan sujud syukur kepada Allah yang akhirnya telah melembutkan hati Umminya untuk memberinya restu juga doa sebelum berangkat ke Jogjakarta.
Sebenarnya dia sudah sangat ingin unuk kuliah di sana. Namun dia tak memiliki keberanian yang cukup untuk mengutarakannya pada kedua orantuanya.
Barulah kali ini Baim berani membicarakan keinginannya itu. Hitung-hitung sekalian menyembuhkan luka hati.
****
"Bagaimana sama pendaftarannya, Im? Sudah beres semua?" tanya Joko sambil sesekali menyeruput kopinya.
"Alhamdulillah sudah beres, Bi. Tinggal mengurus administrasinya aja nanti di sana," jawab Baim dengan wajah berseri-seri. Karena sebentar lagi mimpinya untuk bisa menimba ilmu di universitas impian segera terwujud.
"Terus kapan rencananya kamu mau berangkat?" Joko menatap intens anak laki-lakinya itu.
"Rencananya tiga hari lagi, Bi. InsyaAllah."
"Mau Abi temani ke Jogja?"
"Nggak usah, Bi. InsyaAllah Baim bisa sendiri kok. Sekalian cari kos-kosan," tolak Baim secara halus.
"Ya sudah kalau begitu." Joko menempelkan punggungnya pada sandaran sofa. Matanya kembali memperhatikan tayangan berita di televisi.
"Oh iya, Im. Ainul sudah dikasih tahu tentang rencana kuliah kamu ke Jogja?" tanya Joko yang tiba-tiba ingat dengan anak perepuannya itu.
"Astagfirullahal'adzim, belum, Bi!" seru Baim sambil menepuk dahinya pelan.
"Kasih tahu, Nak. Nanti dia ngomel-ngomel. Kamu tahu sendiri kan kelakuan adik kamu itu," ujarnya sambil tersenyum kecil.
"Iya, Abi. Baim kasih tahu sekarang deh. Baim masuk kamar dulu, Bi," pamitnya. Lalu beranjak meninggalkan ayah sambungnya itu sendirian di depan televisi.
Dia segera masuk ke kamarnya dan menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Membuka aplikasi chat dan menulis pesan pada adik tirinya itu.
[Assalamu'alaikum, Dik. InsyaAllah tiga hari lagi Mas Baim mau berangkat ke Jogja. Mas mau kuliah di UIN Sunan Kalijaga]
Bibirnya tersungging setelah mengirim pesan untuk Ainul. Lalu meletakkan ponsel itu kembali ke nakas.
Tak berselang lama, terdengar dering telepon masuk.
Dia pun kembali meraih ponselnya. Dahinya mengernyit saat mendapati nama Ainul yang terpampang pada layar ponsel.
"Aduh, kok malah telepon dia," gumamnya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

Komentar Buku (536)

  • avatar
    AnabelNasa

    baguss bgt😌

    21d

      0
  • avatar
    GantengDowi

    bagus

    26/01

      0
  • avatar
    Revaangginifebrianti

    good job

    25/01

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru