logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Part 6

Apa dia keluarga Pak Ezhar?
Aku rasa gak mungkin, bukannya semua anggota keluarganya sudah dikenalkan padaku?
Telepon di meja berbunyi. Aku mengangkatnya.
"Andhi, kamu boleh istirahat, tinggalkan aja ruangan kamu, saya bisa meng-handle dari sini!" perintahnya.
Ada perasaan gak rela untuk meninggalkan meja ini walaupun perutku berdisko, bernyanyi, nge-rap minta diisi. Tetapi aku masih ingin tinggal di ruanganku. Aku akan melewatkan makan siang tentu aja.
Aku kembali termenung buat apa mengurusi urusan mereka? Toh, gak ada urusannya sama aku. Akhirnya, aku ke ruang makan karyawan di dekat pantry dengan membawa bekalku.
Langkah kakiku terasa agak berat. Seseorang menepuk pelan punggungku membuat aku seketika menoleh.
"Eonni, nak makan?"(1)
Aku mengangguk.
"Apo sengsuwang jo, biaso sesamo awak?" (2)
Aku menatap bocah itu yang baru aku sadari sudah memotong rambutnya menjadi sebahu membuat wajah imutnya makin kelihatan seperti anak SMP.
"Lupo akak, mo la."(3)
Aku menyentuh ujung rambut bocah itu.
"Ancak obuok bau kau, ye." (4)
"Ya dong, cantik, kan, Kak?"
Tangannya mengusap rambut dengan gaya berlebihan membuatku tersenyum.
Aku mengangkat jempol padanya yang dibalas dengan senyum lebar.
Ruang makan khusus karyawan ini di-design sederhana dan gak terlalu besar, dindingnya dicat dengan warna kuning.
Kami duduk di meja dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan jalanan dan gedung-gedung lainnya.
"Kakak masak apa untuk bekal?"
"Ayam lada hitam."
"Kamu bawa apa?"
"Rendang, Kak, Amak buat kemarin."
Sepanjang makan siang bocah itu bercerita tentang Jimin dan drakor on going yang sedang ditontonnya, aku hanya mengangguk dan sesekali menimpali.
Sebulan bekerja di sini membuatku cukup tahu siapa klien perempuan perusahaan ini karena sebagian besar laki-laki. Jika ada perempuan yang datang dia tidak pernah sendiri.
Aku menggaruk kepala yang gak gatal. Kenapa aku masih mikirin perempuan itu?
Siapa dia dan apa hubungannya dengan Pak Ezhar bukan urusanku.
Saat azan zuhur terdengar dari musala yang terletak di bagian belakang gedung ini, kami bersama-sama salat di sana.
Aku kembali ke ruanganku setelah itu, menerima telepon dari klien untuk temu janji dan menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi.
Seseorang mengantarkan rancangan brosur untuk di-final check oleh Pak Ezhar.
Sekarang sudah jam setengah dua tapi perempuan tadi belum keluar juga. Apa aja, sih, yang dibicarakan sampai selama itu?
Bagai diperintah pintu ruangan lelaki itu terbuka. Perempuan tadi keluar disusul oleh seorang laki-laki jangkung berhidung mancung berusia sekitar pertengahan tiga puluhan. Pasti dia datang saat aku di ruang makan tadi.
"Bang, kami pamit dulu," Perempuan itu berkata.
"Nanti telepon aja, Bang," Laki-laki itu yang berkata kini.
"OK, insyaAllah abang kabari. Nanti kapan-kapan abang yang traktir Yofood-nya lagi."
Laki-laki jangkung itu mengangkat jempolnya sembari tersenyum.
Mereka mengangguk padaku sebelum pergi yang kubalas dengan melakukan hal yang sama.
Aku mendekati Pak Ezhar, memberikan brosur tanpa berucap apa-apa. Dia mengambilnya.
"Saya sholat dulu, nanti kalau ada telepon penting handle aja dulu."
Aku mengangguk.
Dia kembali masuk ke ruangan. Aku menatap punggung lelaki itu sampai pintu ditutup lalu menghembuskan napas. Apa perempuan tadi yang dimaksud mamanya Pak Ezhar?
Aku memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan daripada bertanya-tanya tentang perempuan tadi.
Gak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima, sudah waktunya pulang. Namun di kantor ini sekretaris pulang jika sudah diizinkan oleh Pak Boss. Meski begitu aku tetap membereskan barang-barangku.
Pak Ezhar keluar ruangan menenteng tas kerja dan kotak plastik berisi puding, itu tandanya aku juga sudah bisa pulang. Yey!
Tanpa berkata apa-apa lelaki itu berjalan keluar, aku mengekor di belakangnya. Kami menaiki elevator bersama beberapa karyawan lainnya yang menyapa Pak Ezhar. Dia hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian kami sampai di lantai satu dan langsung menuju pintu keluar.
Pak Ezhar sedang memegang gagang pintu keluar saat pintu kaca itu ditarik dari luar menampakkan seorang laki-laki memakai baju kaus berwarna biru. Laki-laki itu menatap marah pada Pak Ezhar.
"Kamu, kan, yang namanya Ezhar?"
"Ya, saya."
Nada suara lelaki itu tenang aja, seperti gak terganggu dengan suara bentakan laki-laki itu.
Seketika tinju laki-laki berkaus biru itu melayang ke wajah Pak Ezhar tapi dengan cepat dia menghindar sehingga hanya mengenai udara.
Aku tertegun di tempat.
Laki-laki itu kembali melayangkan tinju dengan tangan kirinya lagi-lagi Pak Ezhar menghindar tapi itu hanya tipuan, pipi kiri Pak Ezhar terkena hantaman tinju kanan laki-laki itu membuat kepala dan bahunya terdorong ke samping tapi Pak Ezhar dengan cerdik membalas dengan tendangan tepat ke perut laki-laki itu. Laki-laki itu sempoyongan berusaha menyeimbangkan diri alih-alih dapat berdiri tegak kembali dia terjatuh tepat di bokongnya. Kemudian Pak Ezhar mundur hampir menabrakku yang entah memiliki kekuatan dari mana berteriak keras.
"Hentikan!"
Laki-laki itu sedetik terdiam kemudian dengan cepat berdiri, lalu hendak melayangkan pukulan lainnya tapi gerakannya terhenti karena dua orang sekuriti memegangi tangan dan tubuh lelaki itu.
"Lepaskan!" sergahnya.
"Kami lepaskan tapi bapak harus pergi dari sini atau kami bawa ke kantor polisi." Pak Ridho salah satu sekuriti berkata tegas.
"Laki-laki b*ngsat ini sudah pacaran dengan istri saya."
"Abang!" seorang perempuan yang aku tahu berasal dari bagian keuangan berteriak kencang.
Tubuhnya yang mungil dengan cepat sampai di depan laki-laki beringas itu.
"Abang gak bisa datang ke sini mukul-mukul orang, yang abang pukul itu bosku."
"Ya, aku tahu dia bos kamu"
"Trus kenapa abang pukul?"
"Karena kamu pacaran sama dia."
Pegangan sekuriti yang longgar pada lengannya membuat jari laki-laki itu bisa menunjuk tepat ke wajah Pak Ezhar.
"Pasti laki-laki ini yang dibilang Mak Marta makan sama kamu tadi siang. Mak Marta bilang kamu pacaran sama dia."
Perempuan itu berdecak sebal.
"Jadi tadi abang nanya siapa laki-laki itu karena laporan Mak Marta?
Iya, Laki-laki itu memang pacarku."
Laki-laki itu tertegun, lalu mengepalkan tangan.
"Jadi benar kamu pacaran sama laki-laki ini?"
Tunjuknya kembali mengarah ke wajah Pak Ezhar sebelum ditarik dengan kuat oleh Pak Ridho dan Bang Dani.
"Kan sudah aku bilang kalau laki-laki di warung makan itu memang pacarku. Tapi dia bukan Pak Ezhar. Aku sengaja bilang begitu biar Abang gak berani datang ke sini. Kita sudah berpisah, tinggal nunggu ketok palu."
Perempuan itu berkacak pinggang.
"Abang gak berhak ngatur hidupku lagi, apalagi cari gara-gara di sini, aku bisa dipecat."
"Pak Ridho, Dani, bawa laki-laki ini keluar!"
Perintah Pak Ezhar.
Kedua sekuriti itu menarik paksa laki-laki bertubuh besar itu keluar karena dia menahan tubuhnya untuk tetap di tempat.
"Santi, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku." teriakannya di luar terdengar jelas dari tempat kami berdiri.
Santi membalikkan tubuhnya menghadap Pak Ezhar.
"Maafkan saya, Pak, mantan suami membuat rusuh di sini, mohon jangan pecat saya, Pak. Saya salah karena bawa-bawa bapak."
Wajah Santi menunduk dalam.
"Ya, gak apa-apa."
Lelaki itu mengangguk.
Aku kira mantan suami Santi itu tahu wajah Pak Ezhar karena wajahnya beberapa kali menjadi bahan berita di TV dan harian online lokal.
"Terima kasih banyak, Pak."
Santi buru-buru keluar, mungkin malu sudah jadi tontonan.
Serentak orang-orang yang menonton membubarkan diri sehingga tinggal kami berdua.
"Ayo, Pak!" ajakku setengah memaksa.
"Kemana?"
"Ke ruangan bapak."
Lelaki itu mengangkat alisnya.
Aku berbalik kembali menuju elevator tanpa menunggu jawabannya.
Pak Ezhar mengikutiku tanpa bertanya lagi.
Apa dia sadar kalau sudut bibirnya berdarah?
Sampai di lantai dua, dia segera masuk ke ruangannya dan aku menuju mejaku, meraih kotak kecil dari dalam laci lalu menyusul lelaki itu ke dalam.
Aku masuk ke ruangannya yang besar. Ada meja dari kayu jati di dekat jendela. Lemari kayu berisi map-map berbagai warna dan beberapa foto keluarganya.
Pak Ezhar duduk di kursi, jarinya mengetik sesuatu di ponselnya. Dia meletakkan ponselnya di meja begitu menyadari kedatanganku.
Aku mendekatinya, membuka kotak yang kubawa di atas meja lalu mengeluarkan cairan anti septik pembersih luka.
Aku menunduk mendekat ke arah wajahnya lalu mengusap luka lelaki itu dengan kapas yang telah diberi cairan tadi. Pak Ezhar bergeming saat lukanya bersentuhan dengan kapas seolah dia gak punya saraf rasa sakit. Aku menegakkan tubuh lalu mengamati hasil kerjaku dengan puas.
"Mau ditempel plester gak lukanya, Pak?"
"Gak usah, terima kasih, ya."
"Bapak gak sadar, ya, kalau luka?"
"Luka kecil gini dijilat juga sembuh, Andhi."
Dia mengangkat bahu.
"Tergantung siapa yang jilat, lho, Pak."
Dia menatapku tepat di mata.
"Kalau yang jilat istri pasti cepat sembuh, ya."
Aku menelan ludah. Pernah dengar teori atom dan gerak Brown dari Einstein?
Dia berkata bahwa gerak acak terjadi akibat adanya tumbukan antara molekul yang ada di dalam air dengan partikel serbuk.
Sekarang terjadi gerak Brown itu di jantungku! serasa jantungku bertumbukan antara bilik kiri dan kanannya!
"Makanya cepat cari istri beneran, Pak."
Aku tersenyum lebar dengan jantung masih bertumbukan.
Lelaki itu menggumamkan sesuatu.
"Apa, Pak?"
"Tolong besok pagi pak Ridho dan Dani suruh ke ruangan saya, kemana mereka sampai laki-laki itu bisa membuat rusuh di kantor ini."
Nada suaranya tegas.
"Baik, Pak."
Kami sama-sama diam sesudahnya. Lelaki itu mempunyai bulu mata lentik, hidung agak besar tapi mancung, dagu persegi yang kokoh dengan bibir tipis. Tubuhnya yang jangkung menambah pesonanya.
Mata kami bertemu, tatapannya yang lekat kembali mengingatkanku akan teori fisika lainnya tentang aksi dan reaksi.
Dering ponsel membuat aku tersadar. Segera kuambil benda terkutuk yang sudah mengganggu moment ini, eh! ada apa dengan otakku? bukannya berdua-duaan dengan lawan jenis itu yang ketiga adalah setan?
Aku menekan layar ponsel lalu mendekatkan benda itu ke telinga, lalu mengucap salam. Mama menjawab salamku, dia menyuruhku membeli diaper untuk si kecil Rafa, yang di rumah tinggal dua. Aku mengangguk, lalu menepuk jidat dan berkata 'iya' pada Mama. Ponsel kumasukkan lagi ke dalam tas.
"Kalau gitu saya pulang, Pak."
"Iya, saya juga mau pulang."
Kami berjalan beriringan keluar ruangan menuju elevator.
Aku tersenyum sendiri mengingat kesialan yang selalu datang pada Pak Ezhar. Kemarin dikatai om-om genit sekarang dituduh pacaran sama karyawannya. Padahal aslinya ....
"Kamu pasti senyum-senyum sendiri karena kejadian tadi, ya?"
Aku meliriknya yang berdiri tepat di sebelahku. Cuma kami berdua di sini karena yang lain sudah pulang.
"Yo maaf, Pak. Lucu, sih! bisa-bisanya bapak dituduh pacaran sama karyawan sendiri trus kemarin dituduh om-om genit. Bapak perlu dirukyah kayaknya."
"Tadi katanya suruh nyari istri, sekarang rukyah." alisnya terangkat.
Belum sempat aku membalasnya elevator berhenti, pintunya terbuka. Kami melangkah keluar. Dia sepertinya memperlambat langkah untuk menyamai langkahku yang kecil-kecil.
Halaman tempat parkir ini besar dengan parkir motor dan mobil bersisian. Kami berpisah karena aku sudah mencapai motorku, tapi sebelum itu aku memutuskan untuk menuntaskan rasa penasaranku.
"Pak, tunggu!"
Pak Ezhar berhenti dan berbalik.
"Apa perempuan baju merah tadi yang dimaksud mamanya Bapak dengan masa lalu yang suram?"
1 = kakak mau makan?
2 = kenapa sendiri aja, biasa sama-sama kita?
3 = lupa kakak, ayo lah
4 = cantik dengan rambut baru kamu ya

Komentar Buku (191)

  • avatar
    PatimaPasayanti

    bguss

    02/06/2025

      0
  • avatar
    LinFer

    mantap

    31/05/2025

      0
  • avatar
    HsbAnggi

    suka banget

    31/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru