Lelaki itu menyeka wajah basahnya dengan telapak tangan lalu berlanjut melakukan hal yang sama pada rambutnya tanpa memperdulikan perempuan berumur sekitar limapuluhan yang terus saja mengucapkan kata hinaan padanya.
Aku terlalu terpana melihat kejadian itu sehingga hanya mampu berdiri tanpa melakukan apapun.
Setelah mengibaskan kertas di meja yang juga basah, lelaki itu mengalihkan perhatiannya pada perempuan setengah baya itu.
"Sudah selesai hinaannya?"
Lelaki itu berucap datar namun matanya menatap tajam.
"Belum, itu baru awalnya, jauhi anak saya, dasar laki-laki gatal!"
Teriak perempuan itu sambil bergerak secepat yang bisa dilakukan tubuh gempalnya untuk melayangkan pukulan pada pipi lelaki itu.
Sebelah tangan milik seorang gadis dengan sigap menahan tangan perempuan setengah baya itu.
"Ma, jangan! bukan dia!"
Sontak perempuan itu berhenti. Matanya menyipit.
"Maksud kamu?"
"Bukan, Ma, dia gak di sini, dia gak jadi datang."
Semua hening.
Sang Mama berdehem lalu meminta maaf dan menggamit lengan putrinya, untuk ukuran perempuan gempal, aku merasa gerakan kakinya luar biasa cepat. Dalam sekejap mereka menghilang dari pandangan.
"Andhi, ngapain bengong di situ? Bereskan barang-barang kamu, kita pergi!" perintah lelaki itu.
Aku menurutinya, setelah membereskan barang kami pergi dari restoran Padang dengan dekorasi terbuka itu diiringi pandangan semua orang.
***
Bisakah seorang laki-laki berumur 42 tahun menyingkirkan gengsinya dan menyatakan perasaannya pada gadis 22 tahun?
bguss
02/06/2025
0mantap
31/05/2025
0suka banget
31/05/2025
0keren
30/05/2025
0Saya suka
20/03/2025
0Bagus ceritanya
18/03/2025
0bguss
01/12/2024
0AQ suka
29/11/2024
0mantappp
28/11/2024
0goog
28/11/2024
0