Bab 3 Niar Bang Deni terus mendesakku untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi ... tak mungkin aku mengatakan hal ini. Ia benar-benar memaksaku. Sedangkan aku memang orang yang tak mau dipaksa. Aku sangat tersiksa dengan keadaan ini. Dimana aku juga merasa kosong pada diriku. Tak ada yang peduli dengan semua kesusahanku. Mereka sibuk semua dengan urusannya masing-masing. Apalagi Mas Deni ya g sibuk dengan pekerjaannya. Semestinya dialah yang peduli dan menyemangatiku. justru ia malah tak peduli dan meninggalkanku di sini sendirian. Kadang aku merasa ingin mencek*k Farhan saat dia rewel. Aku diantara banyak orang, tapi mereka selalu menyalahkanku. Termasuk suamiku, yang tak pernah mau mendengar pendapatku. Ia malah seenaknya tinggal di luar kota, sementara aku ditinggal dengan Ibu dan kakaknya. "Dek, kamu harus baik-baik dengan Ibu. Beliau sangat mencintaimu sebagai menantunya," ucap Bang Deni. Aku hanya bisa mengangguk mengikuti kemauannya karena ia sangat percaya dengan ibu dan kakaknya. Rasanya setiap hari seperti berada di n*raka. Aku harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, belum lagi mengurus kedua anakku, tak pernah diajak kemanapun, termasuk oleh suamiku, Kakak Ipar laki-lakiku - Bang Aldo yang genit serta Ibu yang merampas semua uang belanjaku. Ia hanya menyisakan 500 ribu untukku. "Niar, kamu masih tinggal dengan ibu. Lebih baik uangnya buat ibu saja. Kamu tak begitu membutuhkannya. Iya kan?" "I-iya, Bu." "Sekarang mana ATM-mu? Ibu sangat butuh uang untuk keperluan rumah ini!" desaknya. "Sebentar, Bu." Aku mencari lalu memberikan ATM itu pada ibu. Ibu pergi dari kamarku setelah keinginannya tercapai. Aku hanya tergugu saat telah menyerahkan ATM itu. Lemas rasanya saat ibu datang, aku takut dengan pembawaannya. Belum lagi berbagai ancaman jika aku mengatakannya pada Bang Deni. Ibu mengintervensi akan menjelekkan aku pada orang tuaku dan para tetangganya, sehingga orang-orang akan percaya kalau aku menantu dzolim. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menangis dan menyalahkan diri sendiri. "Ya Tuhan, tolong aku!" Itulah yang sering aku lakukan dalam setiap doaku selepas salat. Hanya Allah yang bisa menolongku, karena aku tak bisa berharap pada manusia. Sejak saat aku di rumah ini, aku hanya sesaat merasakan kebahagiaan. Semua punah saat Bang Deni bekerja di luar kota. Ia sangat percaya pada ibu yang justru telah menghancurkan mentalku. *** "Dek, aku mau dipindah ke cabang pusat. Kamu tetap tinggal sama Ibu ya! Aku nanti pulang sepekan sekali." Bang Deni mengatakan maksudnya. "Mas, aku nggak mau di sini. Aku mau ikut saja denganmu!" Aku merangkul suamiku dari samping, aku memohon padanya agar kami tak hidup terpisah. "Tidak bisa, Dek. Di sana semua serba tak enak. Enakan di sini, nyaman. Sama ibu kamu bisa dibuatkan segala macam nanti setelah lahiran." Perkataan Bang Doni memang benar. Saat anak pertama kami lahir, Ibu begitu baik padaku karena Bang Deni masih bersama kami. Walaupun memang sejak itu aku sudah dibebani berbagai pekerjaan rumah. Tapi aku masih bisa mengelola keuanganku. Sejak Bang Deni di mutasi ke kantor pusat, Ibu semakin berani padaku. Gaji Bang Deni yang tadinya 10 juta, naik menjadi 13 juta rupiah. Aku tak boleh memegang uang suamiku, Ibu hanya memberiku jatah 500 ribu saja. Sejak saat itu, aku sudah tak punya harapan akan diriku sendiri. Aku merasa tak pantas menjadi seorang istri. Dan aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Tanpa bisa mengatakan semua pada Bang Deni. Semua terkatup karena hati ini sudah terlalu sakit. Dan juga berbagai ancaman yang Ibu lontarkan. Kakak Ipar perempuanku juga tau mengenai ini, dia berkomplot dengan Ibu untuk menguasai uangku. *** "Niar, mana ATM kamu? Ibu mau mengambil uang yang Deni beri padamu, biar dipegang oleh Ibu. Kamu nggak bakal bisa mengelolanya. Nanti Ibu sisakan buatmu." Aku bergeming, tak menjawab keinginan Ibu. "Niar, mana ATM kamu? Cepat berikan pada Ibu!" Ibu melebarkan kedua matanya, tatapan mata Ibu membuatku sakit. Dengan berat hati, aku memberikan ATM itu. Ibu tersenyum puas. "Berapa Pin-nya?" Aku menyebutkan Pin ATM-ku pada Ibu. Ia langsung meninggalkan kamarku. Tak lama ku dengar Ibu pergi dengan Kak Ayu. "Niar, kamu jaga rumah baik-baik, ya! Ibu mau pergi dulu sama Kak Ayu! Jangan lupa tugasmu selesaikan sebelum kami datang!" "Baik, Bu!" jawabku datar. Setelah Ibu pergi, aku menyelesaikan pekerjaan rumah. Semua ku kerjakan satu per satu hingga selesai. Tak lama Bang Aldo -- Kakak Ipar laki-lakiku datang. Ia baru pulang kompetisi burung. Pekerjaannya hanya sebagai makelar tanah dan banyak bermain dengan burung. Aku masuk setelah membukakan pintu. Tapi Bang Aldo sengaja mengejarku. Dia merayuku, aku menghindarinya dan masuk ke kamarku. Untungnya Farhan dan Icha sudah di kamar, jadi aku bisa menguncinya. Setelah kejadian itu, aku jadi harus lebih berhati-hati dengan Bang Aldo. *** "Bang, aku ingin pindah. Bang Aldo menggangguku. Dia mencoba merayuku, Bang." ucapku kala itu pada Bang Deni. "Bang Aldo. Ah, tak mungkin. Dia laki-laki baik dan religius, Niar. Kamu jangan sekali-kali memfitnahnya." Bagai sengatan listrik, perkataan Bang Deni menancap di hatiku. Dia tak mempercayaiku. Aku merasa disia-siakan saat itu. 'Baiklah, Bang. Sejak ini, aku tak mau lagi bicara denganmu!' gumamku. Bersambung
Terima kasih
Dukunglah penulis untuk menghadirkan kisah-kisah yang luar biasa untuk Anda
Biaya 18 berlian
Keseimbangan: 0 Berlian ∣ 0 Poin
Komentar Buku (163)
lagi1Kemana
keren nih ceritanya gak bosenin bikin penasaran kelanjutannya
keren nih ceritanya gak bosenin bikin penasaran kelanjutannya
04/06
0kerenn bagus😍
23/11
0sangat bagus
21/09
0Lihat Semua