logo text
Tambahkan
logo
logo-text

Unduh buku ini di dalam aplikasi

Bab 2 Kebenarankah yang kulihat?

Bab 2
Benar saja, Niar sedang sibuk menjemur baju. Sedangkan Ibu dan Kak Ayu malah sibuk diskusi mencari baju seragam. Apa Niar tak pernah diajak pengajian, ya?
Aku harus memastikannya, karena sangat disayangkan kalau Ibu dan Kak Ayu tak mau mengajak Niar istriku. Aku tak mau Niar diperlakukan berbeda dari Kak Ayu.
Aku menghampiri Niar dan membantunya. Aku tuh biasanya tak pernah sekhawatir ini. Biasanya aku biarkan saja Istriku berbuat sesukanya.
Kali ini senyuman itu hilang. Aku penasaran dengan apa yang terjadi dengannya. Apa ia benar-benar sudah tak mau tersenyum padaku?
Aku mengambil sebuah baju untuk ku jemur juga di sebelah baju yang Niar sudah jemur. Lalu, Niar malah mengambilnya kasar, dia tak mau aku membantunya.
"Sayang, ayo kita jalan-jalan ke Alf*. Abang lihat, Istri-istri lain pada seneng jalan-jalan, walau cuma ke Alf*." Aku tersenyum semanis-manisnya.
Niar tak menggubris perkataanku. Dia malah sibuk menjemur semua baju. Hingga aku merasa jamuran ada di sebelahnya.
"Niar, jawab pertanyaan Abang!" ucapku tegas.
Niar tersentak. Dia menepuk-nepuk dadanya, lalu menghela napas kasar.
"Abang mau apa sih? Kerjaan Niar belum selesai, Bang! Nggak ada waktu!" bentaknya. Baru kali ini kudengar Niar marah padaku. Ia seperti punya beban di pundaknya.
Aku pun agak menjauh darinya. Hanya ingin memantaunya saja.
Benar saja, tak lama Ibu berteriak dari dalam. Aku pun mengamati Niar dari jauh.
"Niar ... Mana minum untuk teman-teman Ibu?" Ibu menghampiri Niar yang sedang menjemur.
Niar langsung ke dapur. Membuatkan minuman untuk para tamu.
Setelah disuguhi minuman, Ibu meminta Niar membawakan cemilan. Tapi kok nggak ada cemilan apa-apa di dapur.
Kemudian ku lihat Niar menuju kamarnya. Ia mengambil uang dari dompetnya. Ia ke luar, ke warung dekat rumah. Ternyata dia membeli kue-kue untuk tamu-tamunya Ibu.
'Astaga, jadi selama ini Niar melakukan ini semua,' gumamku.
Niar menyuguhkan pada tamu Ibu. Lalu dia kembali ke belakang, tanpa ikut bergabung dengan mereka.
Ya Allah, kasihan sekali Niarku. Maafkan aku Istriku. Kamu malah jadi seperti ini, karena memang aku yang salah dari awal.
***
Aku melihat Niar sekarang sudah di kamar, sedang menyusui Farhan. Mungkin ia sedang tertidur. Aku tak mau mengganggunya.
Tak lama terdengar suara Icha yang berteriak dari kamar mandi.
"Mama, udah!" Icha mengatakannya berkali-kali.
Terdengar suara Kak Ayu bicara pada Icha.
"Icha, berisik! Mamamu malas banget, pasti sedang tidur dia!" teriak Kak Ayu.
Aku langsung naik pitam. Yang malas bukannya Kak Ayu? Istriku sudah kerja dari bangun tidur tadi. Justru ia dan Ibu yang belum terlihat bekerja di rumah ini.
Aku langsung menghampiri Icha. Mencoba untuk menc*bokinya.
"Deni, kamu nggak boleh menc*boki anakmu! Itu tugas perempuan. Bisa-bisa nanti kamu jadi budak istrimu! Belum lagi, Icha kan anak perempuan, sebaiknya sama Istrimu!" Ibu melarangku.
"Nggak apa-apa dong, Bu. Lagian Icha masih kecil. Niar juga sedang tidur, Bu!" jawabku pada Ibu.
"Apa? Jam segini dia tidur? Kalau sedang punya bayi, dilarang tidur jam segini!" kata Ibu.
"Ah, Ibu ada-ada aja. Lagian Farhan sekarang sudah satu tahun kok!" jawabku berdalih.
"Kamu ini, dikasih tau malah ngeyel! Cepat panggil Istrimu buat ceb*kin Icha!" kata Ibu.
Aku bergeming, tak mau beranjak. Ibu gusar dan memandangku lekat-lekat.
"Apa harus Ibu yang panggil?" katanya.
"Jangan, Bu. Biar aku saja," kataku. Kemudian aku membangunkannya. Aku tak tega sih sebenarnya, tapi Ibu tak bisa dibantah.
"Sayang, bangun. Tolong ceb*kin Icha. Dia habis buang air besar," kataku.
Kemudian Niar terbangun, dia langsung menuju kamar mandi,lalu menc*boki Icha.
Icha semringah melihat mamanya datang. Aku bersyukur Niar tidak marah padaku saat ini.
***
Aku mendatangi ruang tamu. Masih berantakan, gelas-gelas dan piring-piring bekas acara Ibu tadi. Lalu Ibu memanggil Kak Ayu karena melihatku.
"Ayuuu ... Cepat kamu bereskan ini!" Ibu berteriak. Ia tak nyaman melihat yang berantakan.
Kak Ayu keluar dari kamarnya dengan cemberut. Ia malas-malasan saat dipanggil.
"Apa sih, Bu. Biasanya juga kaaan ..."
Ketika melihatku, dia mencoba tersenyum manis, tak jadi meneruskan kata-katanya. Aku menelisik lagi dan mendekati Kak Ayu.
"Eh, iya biar Ayu aja yang beresin, Bu." Kak Ayu mengambil semua bekas makanan dan minuman.
Aku mengernyitkan dahiku. Ternyata kelakuan Ibu dan Kak Ayu kurang ramah pada Niar.
"Bu, aku mau bicara sama Ibu, bisa?" Aku mencoba bicara pada Ibu.
"Iya, bicara tentang apa?" kata ibu saat bicara di depanku.
"Tentang Niar. Ibu menyuruh Istriku berbagai pekerjaan di rumah ini. Sementara Ibu dan Kak Ayu santai saja ku lihat dari tadi." Aku langsung ke pokok pembicaraan.
Wajah Ibu berubah. Ia menjadi khawatir dan ketakutan.
"Eh, itu. Begini, jadi biasanya kita bareng-bareng kok ngerjainnya. Cuma hari ini aja kita rasa ribet. Jadi Niar yang ngerjain semua. Kadang Kak Ayu yang ngerjain seharian juga pernah. Tergantung situasi dan kondisi," jelas Ibu.
Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Ibu.
"Baiklah, berarti besok Niar nggak boleh kerja. Giliran Ibu atau Kak Ayu. Aku mau ajak Istriku dan anak-anak jalan." Aku memanas-manasi Ibu.
"I-iya. Silahkan aja. Memang sesekali Niar harus diajak jalan. Kasian kalau di rumah terus." Ibu akhirnya setuju kalau Niar akan kuajak jalan-jalan.
"Iya, Bu. Terima kasih dukungannya. Semoga kata-kata Ibu murni keluar dari hati Ibu." Aku mengangkat bokongku. Lalu meninggalkan Ibu yang masih membulatkan kedua matanya.
'Maaf, Bu. Deni mau menguji ketulusan Ibu saja. Semoga Ibu memang tidak berpura-pura.' Aku bermonolog saat berjalan menuju kamar.
"Niar, aku mau ajak kamu main besok!" Aku membuka pintu kamar.
Niar sedang menangis. Aku tak tau kenapa dia menangis lagi.
"Bang, jangan suka sok pahlawan!" katanya dengan mata yang menyimpan kemarahan.
Aku mendekatinya, berusaha menenangkannya. Tapi dia berontak, tak mau ku sentuh.
"Dek, Sayang, istighfar. Kamu kalau ada masalah, ceritakan padaku. Aku siap menampungnya, Dek!"
Niar terus saja menangis. Tak lama dia bangkit, berusaha menghindar dariku.
"Dek, kamu bicara sama aku sekarang juga!"
Tiba-tiba Ibu datang mengatakan kalau Icha terjatuh dari tangga.
"Deni, tolong. Icha jatuh, Den!"
Aku berhambur ke luar. Kepala Icha berdarah, sepertinya lukanya dalam. Aku harus membawa Icha ke klinik terdekat.
"Siapa yang mau ikut?"
"Ibu saja!"
Tanpa pikir panjang, aku dan Ibu menuju ke klinik terdekat. Icha terus menangis.
"Sabar ya, Cha. Insya Allah sebentar lagi sehat lagi kok!" hiburku pada Icha yang baru berusia tiga tahun.
Tibalah kami di klinik. Dokter segera mengambil tindakan.
"Harus kami jahit, Pak. Lukanya lumayan dalam," katanya seperti yang diperkirakan. "Bapak atau Ibu pegangi ya, mungkin akan sakit buat anak Bapak!" kata Dokter memberi tahukan.
"Baik, Pak."
Kami memegangi Icha. Icha kesakitan saat dilakukan tindakan Dokter. Aku hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Icha segera sehat dan bisa tersenyum kembali.
"Sudah, Pak."
"Alhamdulillah."
Aku membereskan administrasi dulu, sementara Icha dengan Ibu. Setelah selesai, kami dibolehkan pulang dengan beberapa resep obat.
Ketika di jalan, aku bertanya pada Ibu tentang kejadian jatuhnya Icha. Sementara Icha sudah tidur.
"Bu, bagaimana kejadiannya sampai bisa Icha jatuh di tangga gitu?"
Ibu terdiam sejenak untuk berpikir. Lalu ia pun menjawab pertanyaanku.
"Iya, Deni. Ceritanya tadi Ibu sedang bersama Icha, tiba-tiba aja dia jatuh di tangga."
"Ibu nggak perhatiin Icha sih?" bentakku.
"Deni! Kamu jangan bentak Ibu, dosa! Ibu nggak salah, yang salah Istrimu, tak mau mengasuh Icha. Mentang-mentang punya Farhan, jadi Icha dilupakan?" cecar Ibu.
"Ibu, selalu saja nyalahin Niar. Ibu harusnya paham kalau Istriku harus dibantu Ibu," kataku.
"Maksud kamu? Ibu jadi babunya Niar gitu?"
"Bukan gitu Bu, bantuin, bukan pembantu! Aku selama ini udah kasih Ibu tiga juta sebulan. Seenggaknya Ibu bantuin istriku, Bu!" Aku memohon dan mengiba pada Ibu.
"Kamu bahas uang yang kamu kasih. Memangnya kamu nggak ikhlas ngasih uang tiap bulan ke Ibu?" Ibu membulatkan matanya.
"Bukan begitu, Bu. Aku ikhlas kok. Aku cuma minta pengertian Ibu aja untuk membantu Istriku. Lagipula Niar juga mengerjakan pekerjaan di rumah kita seorang diri. Apa benar Ibu sering membantunya?" cecarku.
"Kamu tuh kenapa, Deni! Tega-teganya menghakimi Ibumu sendiri. Huhuhu." Ibu menangis tersedu.
Aku jadi iba. Aku tak bermaksud membuatnya terluka, tapi, ah, sudahlah. Mungkin besok lagi aku bicara dengannya.
Kami tiba di rumah, aku menggendong putriku dengan kedua tangan ini menuju kamarnya. Di rumah ini ada banyak kamar. Jadi, Icha menempati kamar sendiri. Kalau kedua anak kakakku menempati satu kamar saja.
Setelah membaringkan Icha, aku kembali ke kamar. Badan ini rasanya remuk, capek tak tertahankan.
Niar sudah tidur, Farhan pun tidur di dalam box bayi. Walau sudah setahun, Farhan masih bisa ditidurkan dalam box.
Aku pun tertidur di sofa kamar kami karena itu lebih nyaman untuk saat ini.
***
Pagi ini semua sudah rapi, ku lihat Ibu yang sedang melakukan tugasnya hari ini. Ternyata aku salah. Benar kata ibu, mereka membuat jadwal bergantian setiap hari.
Ibu memberikan sebuah kertas padaku.
"Coba kamu perhatian2 jadwalnya? Apa ada nama Istrimu mengerjakan tugas-tugas ini semua setiap hari?"
Aku mengamati kertas ini. Kertasnya lusuh dan ada bekas tempelan juga. Terlihat kertas yang sudah lama. Tapi, aku tak pernah melihatnya di tempel di rumah ini.
"Ibu tempel dimana kertas ini? Istriku tak punya ini, kok!" kataku pada wanita yang telah melahirkanku dua puluh sembilan tahun yang lalu itu.
"Ya wajar. Nggak Ibu kasih. Ibu menempelnya di kamar," jawab Ibu.
"Baiklah, Bu. Terima kasih penjelasannya."
Aku kembali ke kamar, Istriku kembali tidur setelah shalat subuh. Aku penasaran membangunkannya.
"Dek, bangun. Jangan tidur lagi habis subuh!" kataku. "Kamu nggak langsung ke dapur hari ini?"
Niar menatapku dalam. Aku jadi grogi kalau ditatap seperti ini.
"Kenapa Sayang?"
"Aku libur kerjaan hari ini," katanya singkat.
"Berarti kamu bisa ikut jalan-jalan sama aku, Niar?" tanyaku.
Niar tak menjawab, ia kembali merebahkan dirinya di samping Farhan.
"Bagaimana, Dek?"
"Iya." Ia menjawab juga.
Aku sangat senang. Berarti Ibu benar. Sekarang aku percaya sama Ibu kalau ada jadwal tersendiri. Aku tak usah curiga lagi dengannya sekarang kalau Niar diperlakukan tak baik oleh mereka.
Bersambung

Komentar Buku (163)

  • avatar
    lagi1Kemana

    keren nih ceritanya gak bosenin bikin penasaran kelanjutannya

    04/06

      0
  • avatar
    Anisaa Putrii

    kerenn bagus😍

    23/11

      0
  • avatar
    JULIYANTISILVIA

    sangat bagus

    21/09

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru