readmore BAB 21
Bab 21 Malam terasa semakin larut. Aku masih berdiri di depan pintu, menatap jalanan gelap
readmore BAB 22
Bab 22 Matahari sudah naik cukup tinggi saat akhirnya Arkan beranjak dari balkon. Aku masih
readmore BAB 23
Bab 23 Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Setelah Arkan menunjukkan foto dan kal
readmore BAB 24
Bab 24 Dua hari berlalu sejak pesan Laras itu datang. Dua hari yang terasa seperti dua tahu
readmore BAB 25 Ada banyak hal yang harus aku lakukan
Bab 25 Pagi datang dengan langit kelabu. Hujan semalaman mengguyur tanpa henti dan sekarang
readmore BAB 26 Hari pertama tanpa Arkan
Bab 26 Hari pertama tanpa Arkan terasa paling berat. Aku bangun pagi-pagi dengan perasaan h
readmore Bab 27 Tiga hari telah berlalu sejak
Tiga hari telah berlalu sejak Arkan pergi ke pulau itu. Tiga hari yang terasa seperti tiga bulan.
readmore Bab 28 Malam itu aku tidak
Malam itu aku tidak bisa tidur. Bukan karena cemas seperti malam-malam sebelumnya, tapi karena takut
readmore Bab 29 Pagi harinya, aku terbangun
Pagi harinya, aku terbangun dengan perasaan yang sedikit berbeda. Ada kehangatan di dadaku yang t
readmore Bab 30
Aku terbangun dengan suara hujan yang masih setia menemani pagi. Sudah tiga hari hujan turun hamp
readmore Bab 31
Malam itu aku terbangun karena sesuatu yang tidak biasa. Bukan mimpi buruk. Bukan juga suara gadu
readmore Bab 32
Pagi itu aku terbangun dengan sinar matahari yang masuk melalui celah tirai. Biasanya Arkan sudah
readmore Bab 33
Hari ini berbeda sejak pagi. Aku merasakannya dari cara Arkan bergerak di sampingku. Biasanya dia
readmore Bab 34
Malam itu aku tidur dengan gelisah. Bukan karena mimpi buruk atau suara gaduh dari luar, tapi kar
readmore Bab 35
Malam itu terasa seperti tidak pernah berakhir. Setelah kabar tentang tewasnya saksi kunci, suasa
readmore Bab 36
Pagi datang dengan langit yang masih kelabu. Aku terbangun karena suara burung di luar jendela. Arka
readmore Bab 37
Aku terbangun dengan perasaan aneh. Ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Aku tidak bisa menjelaskannya
readmore Bab 38
Kabar kematian Jenderal Bimantara menyebar cepat. Pagi harinya, televisi di ruang tamu menayangka
readmore Bab 39
Pagi itu aku terbangun dengan perut yang terasa sangat berat. Bukan hanya karena bayi yang semaki
readmore BAB 40
Ruang bersalin terasa dingin. Sangat dingin. Aku berbaring di atas tempat tidur dengan lampu tera
readmore BAB 41
Aku terbangun dengan suara monitor yang masih setia berdetak di sampingku. Ruangan rumah sakit te
readmore BAB 42
Pagi di rumah sakit selalu datang dengan suara yang sama. Perawat lalu lalang di lorong, troli ob
readmore BAB 43
Rumah terasa berbeda setelah lima hari aku meninggalkannya. Mungkin karena aku hampir kehilangan
readmore BAB 44
Pagi ini aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada sesuatu di udara yang membuatku tersenyum s
readmore BAB 45
Tiga minggu telah berlalu sejak Arkan mengambil cuti. Tiga minggu yang terasa seperti mimpi. Seti
readmore BAB 46
Pagi ini Arkan memutuskan untuk memasak. Aku hampir tidak percaya ketika dia masuk ke dapur denga
readmore BAB 47
Malam itu aku bermimpi indah. Aku bermimpi menggendong bayi kecil berwajah mungil dengan mata yang m
readmore BAB 48
Pagi ini aku terbangun dengan rasa yang berbeda. Bukan rasa takut atau cemas, tapi rasa penuh harap.
readmore BAB 49
Hari ini aku bangun dengan perasaan aneh. Ada tekanan di perut bagian bawah yang tidak pernah aku
readmore BAB 50
Rumah sakit terasa berbeda di pagi hari. Mungkin karena sinar matahari yang masuk melalui jendela ka
readmore Bab 51
Pulang ke rumah rasanya seperti memulai hidup baru. Bukan karena aku belum pernah pulang sebelumn
readmore Bab 52
Usia Alena genap satu bulan hari ini. Aku masih tidak percaya bahwa waktu berlalu secepat ini. Ra
readmore Bab 53
Hari-hariku kini terbagi menjadi beberapa bagian. Pagi untuk Alena, siang untuk kuliah, sore untu
readmore Bab 54
Alena kini sudah bisa duduk dengan sedikit bantuan. Aku meletakkan bantal di sekelilingnya untuk
readmore Bab 55
Usia Alena kini sudah mendekati satu tahun. Aku masih tidak percaya bagaimana waktu bisa berlari
readmore Bab 56
Hari ini Alena genap berusia satu tahun. Aku masih tidak percaya. Rasanya baru kemarin dia lahir
readmore Bab 57
Usia Alena kini menginjak satu setengah tahun. Dia sudah bisa berjalan sendiri tanpa jatuh. Setia
readmore Bab 58
Alena kini sudah genap berusia dua tahun. Aku masih tidak percaya bagaimana waktu bisa berlari se
readmore Bab 59
Usia Kakek kini genap sembilan puluh enam tahun. Tubuhnya semakin lemah, tapi semangatnya masih t
readmore Bab 60
Tiga bulan sudah sejak Kakek pergi. Rumah masih terasa sepi di sudut-sudut tertentu. Kursi goyang
readmore Bab 61
Arka kini genap berusia tiga bulan. Aku masih tidak percaya bahwa kami kini memiliki dua anak. Alena
readmore Bab 62
Arka kini sudah genap berusia satu tahun. Aku masih tidak percaya bagaimana waktu bisa berlari seken
readmore Bab 63
Pulang dari pantai, rumah terasa berbeda. Mungkin karena kami membawa pasir di sela-sela jari kaki.
readmore Bab 64
Alena kini sudah berusia lima tahun. Dia sudah bisa membaca sendiri, menulis sendiri, bahkan berh
readmore Bab 65
Alena kini sudah berusia enam tahun. Dia sudah duduk di kelas satu sekolah dasar. Setiap pagi, dia b
readmore Bab 66
Tiga bulan sudah kami tinggal di rumah baru. Taman di halaman depan mulai terlihat hijau. Bunga-b
readmore Bab 67
Sekarang Alena sudah duduk di kelas dua SD. Nilai-nilainya selalu bagus. Menurut gurunya, Alena t
readmore Bab 68
Alena kini duduk di kelas tiga SD. Setiap hari ia pulang dengan cerita baru: matematika yang suli
readmore Bab 69
Dua tahun sudah berlalu sejak buku pertamaku terbit. Hidupku berubah jauh dari yang pernah kubaya
readmore Bab 70 TAMAT
Alena kini sudah duduk di kelas enam sekolah dasar. Sebentar lagi dia akan lulus dan melanjutkan
readmore
alur ceritanya bagus..ada susah senang sedih lucu
7d
0benarik
12d
0semangat terus ya BG
17d
0