logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 6 Bagian keenam

Manusia Parasit
Bagian 6
Rizal berjalan mengambil gawai yang ada di atas meja rias. Tak sengaja matanya tertuju pada sebuah laci yang tidak tertutup rapat. Dengan penasaran, Rizal mencoba membuka laci itu.
Rizal terperangah melihat isi laci yang dibukanya. Disana berjejer beberapa jam tangan dengan merek yang berbeda-beda.
Pasti mahal. Darimana Siska mendapatkan uang untuk membeli semua ini? Atau jangan-jangan … . Dia hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar. Pikirannya Jadi kacau.
Dia mengedarkan pandangan mencari tas yang tadi di bawa oleh Siska. Rizal membuka lemari pakaian, memeriksa semua sisi lemari, entah dimana Siska menyimpan tas itu.
Terlihat sepintas warna tas yang dibawa Siska berada di sela-sela baju milik istrinya. Dia segera meraihnya dan melihat isinya.
Sebuah jam tangan mewah bertandang disana. Rizal memotret jam tangan itu.
[Terima kasih, mbak. Sudah memberikan hadiah pada Siska]
Rizal mengirim gambar dengan menuliskan caption pada Ayu, istri Bang Ahmad. Dia sengaja berbohong aga Ayu mengetahui kelakuan Siska yang masih selalu meminta uang pada Ahmad.
Centang biru terlihat di aplikasi yang dibuka oleh Rizal. Itu berarti Ayu sudah membaca pesan dari Rizal. Terlihat tulisan yang mengatakan sedang mengetik di bawah nama Ayu. Rizal tidak sabar menunggu balasan dari Ayu.
Hanya Ayu yang bisa diandalkan Rizal kalian ini. Bukannya ia tak berani, tetapi Bu Nila masih ada dan pasti membela Siska apalagi dia mengetahui gaji Rizal yang tidak seberapa.
Berbeda dengan Ayu yang tidak pernah takut atau segan pada Bu Nilam. Bahkan sebaliknya, Bu Nilam sering takut membuat Ayu marah. Dia takut anaknya ditinggalkan oleh Ayu yang punya segala-galanya.
[Hadiah? Aku tak pernah memberi hadiah pada Siska. Apalagi kulihat itu jam mahal. Aku saja belum punya jam sebagus itu] Pesan chat dari Ayu.
[Oh, maaf, mbak aku kira ini dari mbak, soalnya tadi waktu Bang Ahmad datang, Siska ucapkan Terima kasih sudah diberikan hadiah. Jadi, aku kira itu pemberian dari mbak Ayu] balas Rizal kemudian mengirim gambar koleksi jam Siska.
[Siska sudah mempunyai banyak koleksi, lho, mbak. Kalau dari gaji aku kayaknya belum cukup membeli jam sebanyak itu dalam waktu dekat]
Ayu sudah membaca pesan singkat balasan Rizal tetapi ia tidak membalasnya lagi. Ternyata dia turun menemui Siska dan Bu Nilam yang sudah ada di bawah sedang bercengkrama dengan Ahmad, suaminya.
"Hai Ma, Sis. Dari tadi, Ma?" sapanya setelah mencium punggung tangan mertuanya," Aku tak mendengar kedatangan Mama," lanjutnya setelah duduk di kursi kosong hadapan mertuanya.
Sedangkan Ahmad yang melihat istrinya datang lebih memilih meninggalkan mereka.
"Iya, Yu. Mama baru saja datang kok. Ekspresi Bu Nilam seketika berubah melihat kedatangan Ayu. Ia belum sempat bicara pada Ahmad tentang maksud kedatangannya dengan Siska, Ayu sudah datang.
Bu Nilam tidak mau Ayu mengetahui keinginannya sebelum Ahmad setuju. Baginya, Ayu susah dibujuk, beda dengan menantunya yang lainnya, selalu menuruti keinginannya.
"Adil, tolong bawakan minuman kesini," pinta Ayu kepada salah seorang karyawannya.
"Mama baru datang dari kampung?" tanya Ayu kembali setelah meneguk minuman yang telah dibawa oleh Adil.
"Dari tadi pagi, Yu. Mama ada disebelah di rumah Ryan."
"Oh, dari tadi." Ayu memang terkadang tidak tahu. Karena ia hanya tinggal di dalam kamar. Jarang turun apalagi karyawannya semua laki-laki. Ia hanya menyiapkan sarapan di pagi hari. Untuk makan siang, terkadang Ahmad hanya memesan makanan jadi, tidak mau merepotkan istrinya.
"Sudah makan, Ma?"
"Sudah."
"Kamu masak apa, Sis?" Ayu beralih ke Siska yang tengah sibuk mengutak atik gawainya. Dia sedang memamerkan jam tangannya pada teman-temannya di salah satu aplikasi.
"Nana yang masak, mbak." ucapnya singkat.
"Memang kamu kebiasaan tidak pernah masak. Taunya hanya menikmati dan menyusahkan orang."
"Ayu! Jaga ucapanmu!"
"Memang kenyataannya seperti itu kok, Ma. Asal mama tahu, Siska sekarang keenakan tinggal serumah dengan Nana. Semua Nana yang kerjakan. Dia layaknya anak Sultan yang tinggal ongkang-ongkang kaki. Mau makan, ada yang memasak. Mau belanja, ada yang belikan. Betul-betul enak, ya." sindir Siska sedikit berteriak. Agar Ahmad yang berada tak jauh dari mereka bisa mendengarnya.
"Dia punya anak Sis, jadi wajar kalau Nana dulu yang kerja semua. Nanti kalau Aldo sudah besar pasti kan giliran Siska yang akan mengerjakan semua," balas Bu Nilam.
"Ada atau tidak ada anak sama saja bagi Siska, Ma. Dia waktu tinggal disini pun seperti itu dan sampai sekarang betul-betul belum berubah. Buktinya, sudah punya suami masih saja menyusahkan saudaranya. Mama seperti tidak tahu dia saja!"
"Suka-suka aku dong, Mbak. Kok, mbak yang marah? Aku 'kan tidak minta sama Mbak dan tidak merepotkan mbak!"
"Memang tidak minta sama aku, tetapi minta sama suami aku, itu berarti uang aku juga. Seperti jam tangan yang kamu beli hari ini dan jam tangan koleksimu yang lainnya, itu pakai uangmu atau pakai uang suami aku, ha?" bentak Ayu.
Siska mengernyitkan keningnya. Dia heran, darimana Ayu mengetahui semua itu. Padahal dia sudah mem private akunnya agar storynya tidak terlihat oleh Ayu.
"Diam Ayu! Ahmad sendiri yang memberinya uang, bukan meminta. Dia memberi adiknya sendiri. Apa salah memberi hadiah pada adik?"
"Bang Ahmad tidak memberi, tetapi Siska yang memintanya merengek-rengek agar dibelikan. Hadiah? Memangnya Siska harus setiap hari minta hadiah?"
Ahmad yang sedari tadi diam memperhatikan tingkah istri dan namanya kini berjalan mendekat ke arah mereka.
"Ayu, sudah! Sopan sedikit dong dengan Mama. Masalah sepele seperti ini tidak usah dibesar-besarkan. Malu didengar orang." Bang Ahmad mencoba merendahkan suasana yang sedikit tegang.
"Masalah sepele maksud Abang? Jadi Ini hanya masalah sepele bagi Abang? Abang seenaknya memberi Siska uang tanpa memberi tahu aku. Dia itu sudah punya suami, Bang. Siska sudah menjadi tanggung jawab Rizal. Kita sudah banyak membantunya. Sekarang biarkan dia mandiri. Agar dia bisa tahu, bagaimana rasanya ketika kita tak punya apa-apa dan bisa menghargai banyak sedikitnya pemberian suami. Ini, uang suaminya tidak cukup, ia malah meminta pada saudara."
"Iya, sekali-kali minta bantuan dengan saudara sendiri." Siska masih membela diri.
"Ini bukan sekali-kali, tetapi selalu. Kamu memang taunya jadi parasit saja. Menempel sana-sini dan merugikan orang lain. Mau bergaya tapi uang pas-pasan. Kamu tahu, Sis, secara tidak langsung kamu mempermalukan dirimu dan suamimu sendiri!" Ayu terus menyindir Siska yang tidak tahu malu.
Karyawan yang ada di rumah itu saling berbisik dan sesekali tertawa kecil. Mereka menertawakan Siska yang tidak punya rasa malu.
"Rizal sudah capek banting tulang. Dari pagi sebelum matahari terbit, dia sudah berangkat bekerja dan pulang ketika hari sudah sore. Tetapi kamu, Sis dan juga Abang tidak pernah menghargai hasil keringatnya. Seakan mengatakan bahwa memang pendapatannya kurang,"
"Sudah! Sudah! Masalahnya tidak usah diperpanjang. Tujuan mama kesini bukan untuk mendengar kalian bertengkar. Agar kondisinya bisa baik, mama punya solusinya," celetuk Bu Nilam.
Mendengar ucapan mertuanya, Ayu melongo menatap Bu Nilam. Dia yakin pasti Bu Nilam ingin meminta sesuatu untuk anak tersayang yang tak pernah salah di matanya.
"Jadi bagaimana Nak? Kamu mau menerima Rizal jadi karyawan kamu 'kan?" tanya Bu Nilam kepada anak sulungnya. Sedangkan Ahmad menatap istrinya dengan maksud meminta persetujuan.
Ayu kaget mendengar penuturan Bu Nilam. Padahal dia sudah mengatakan pada Ahmad bahwa dia tidak bisa menerima Rizal tetapi kenapa Bu Nilam langsung meminta persetujuan? Artinya mereka sudah bicarakan sebelumnya.
Sebenarnya Rizal juga sudah mengatakan pada Ayu bahwa dia tidak mau membebani keluarga istrinya lagi dan ingin pergi jauh agar istrinya bisa berubah. Tetapi Rizal tak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan Ayu.
"Kenapa minta pekerjaan pada Bang Ahmad? Bukannya gaji suamimu gede? Buktinya kamu mampu bergaya? Kenapa mau pindah kerja lagi? Aku tak setuju! Lagian Rizal belum tahu apa-apa, jika baru mau belajar, gajinya tidak akan sama dengan yang sudah mahir. Pasti Siska akan mengamuk kalau gaji suaminya sedikit," ucap Ayu lantang.

Bình Luận Sách (36)

  • avatar
    IrmansyahIrpan

    good

    20/02/2025

      0
  • avatar
    PedreteIrene

    opa

    25/01/2025

      0
  • avatar
    Surya PratamaLutfi

    makasih

    01/09/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất