logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 3 menyelamatkan Bangsa Elf/Peri

Malam yang begitu hening, udara dingin yang begitu tajam aku(karui) yang lagi berbaring bersama nagoto. Mendengar suara teriakan dari balik gunung, aku segera menuju di atas puncak gua. Aku melihat karina berdiri di atas sana.
“Kenapa kau terbangun?” kata nagoto yang lagi menguap
“kenapa karina berada di sana, sebenarnya apa yang telah terjadi dengannya” kata Karui
“apakah kau buta, atau pura-pura tidak melihatnya ha..” kata nagoto sambil mengarahkan pandangan karui pada sebuah desa
“Di sana ada desa, cepat kita turun, kita harus menolong mereka” teriak karui
Karina yang seketika itu melihat karui. Dia mengatakan kalau kau mau pergi, pergi saja sendiri jangan kau bawa kami dalam bahaya. Karui yang mendengar ucapan karina pun bergegas kembali ke goa untuk mengambil kedua pedangnya.
Karui berlari dangan cepat.rupanya karui terlambat, rumah-rumah di desa itu telah hancur oleh api yang sangat besar, dan sebagian dari mereka telah di bunuh.
Apa yang telah kau lakukan sekarang dan apa saja yang telah kau pikirkan berani sekali kau membunuh mereka semua, kata karui kepada seorang pemuda berkuda.
"Siapa kamu dan dari mana kamu muncul?, apakah kalian berani ikut campur. Apakah kamu tidak lihat yang aku lakukan, Sepertinya kalian tidak takut apalagi kamu, apakah kalian mau mati sekarang?” ucap seorang komandan perang yang membantai para bangsa peri
Karui berlari dengan begitu cepat, seakan dia-dia menjadi seorang flash “aku akan membunuh kalian semua, hahahahahaha” dengan tatapan tajam dan senyum yang lebar membuat para pasukan BlackOn mundur beberapa langkah. Karui langsung melayangkan kedua pedangnya 6 orang yang berada di sekitarnya tiba-tiba saja sudah tidak memiliki kepala.
Sisa komandan yang tersisa, “aku sudah lapar melihat pertarungan tadi, sebelum aku membunuhmu aku akan memperkenalkan namaku, aku adalah sicho komndan kelima dari devisi BlackOn” mulai lah pertarungan antara keduanya sicho melawan karui.
Karui yang melihat betapa tebalnya baju yang berlapiskan baju besi dan logam itu. “Ini akan membuat aku kesusahan untuk menebasnya” karui tetap melakukan serangan bertubi-tubi dengan kedua pedangnya. Tetapi baju besi itu masih terlihat mulus tak ada bekas dari potongan pedang karui tersebut. Berbeda dengan karui yang sudah robek-robek bagian anggota tubuhnya
Karui yang terus melakukan pertarungan, dia hanya bisa berharap kepada teman-temannya untuk datang membantu dia. 1 jam selama pertarungan sudah berjalan. Komandan itu tidak terlihat terluka. Tetapi karui memperhatikan sachio tersebut, rupanya serangannya makin lama, makin lambat “aku yakin dia pasti kelelahan dalam pertarungan menggunakan baju tameng setebal itu, sepertinya inilah saatnya aku untuk membunuhnya” karui menendangnya seketika sachio itu jatuh. Karui menahan kedua tangannya dan membalikan tangannya itu di belakang.
Dengan sekuat tenaga dia mencoba untuk melepaskan topeng atau helm “rupanya ini sangat kuat untuk di lepaskan” karui melihat palu-palu yang berada di sisi kanannya, dia mengambil dan mencoba memukul kepala sachio. Beberapa kali dia memukul akhirnya helm itu terlepas juga.
karui Melepaskan kedua tangan sachio itu” aku lepaskan kau. Sekarang kita adil dalam pertarungan, harusnya sekarang kau harus berhati-hati sama dirimu karena aku akan mengambil kepalamu itu, dan pastinya aku akan membalskan dendam dari bangsa peri yang telah kau habisi” karui menghunuskan pedangnya dengan cepat. Kecepatan seperti seekor harimau yang mau menerkam mangsanya. sachio pun jatuh. Karui menondongkan pedangnya di lehernya. Tebasan kecil melukai leher si komandan “aku tidak akan membunuhmu tapi merekalah yang akan melakukannya” sambil menunjuk bangsa-bangsa elf.
Karui memberikan alat-alat perang kepada bangsa elf/peri “ini lakukan, bunuh dia” lelaki muda yang menerima pedang itu sungkan untuk membunuhnya. Tetapi saat pandanganya di balikan ke belakang rasa marahnya semakin memuncak kerena melihat anak-anak di desa banyak yang mati . dengan batuan dari para teman-teman yang lain mereka mulai melukai pemuda tersebut “apakah kalian tidak takut terhadap kerajaan BlackOn mereka akan membasmi kalian semua” tetapi bangsa peri tidak mempedulikan perkataanya. Tusakan demi tusukan menanyap di tubuh pemuda sombong itu “aah,,sakit, ahhhhh SAKITTT” pria itupun mati dengan tragis
Nagoto dan karina yang melihat aksi perlawanan yang di lakukan karui saat itu menggatakan “dia memang orang yang kuat, kan karina” nagoto pun menghampiri karui.
“kemana saja kalian pergi” ucap karui
“maaf, maaf aku tadi ketiduran dan karina pergi keluar, tak tau tuh dia pergi kemana” kata nagoto sambil tersenyu, ringan
“apakah masih ada musuh yang tersisa” kata karina
“ musuhnya udah kalah semua, maaf yah aku tidak sisakan buat kamu” kata karui sambil tersenyum yang lagi merangkul nagoto
Tiba-tiba saja bulan langsung berubah berwarna merah. Ketua dari BlackOn menyadari apa maksud dari bulan merah tersebut. Sedangkan klan pernasa tidak manyadarinya apa arti dari bulan yang berwarna itu. Anggota pernasa di sapa baik oleh bangsa elf. “apakah kalian mau tinggal di sini!?” ucap tetua dari bangsa elf
Mereka bertiga berunding tentang pendapat yang di sarankan oleh tetua elf/peri apakah mereka akan tinggal di sini atau tetap di dalam gua “kalau aku sih setuju untunk tinggal di sini, apalagi disini makanan lebih mudah” kata karina. Mereka bertiga menginap di desa elf
Wanita pengintai terbangun ketika matanya melihat bulan menjadi warna merah. Wanita pengintai membuka teropongnya, dia mengambil teropong dari dalam tasnya yang terdapat di sisi kirinya, mencari keberadaan para anggota pernasa, bolak balik dia arahkan teropongnya untuk melihat gerakan dari anggota pernasa. Berjam-jam dia arahkan teropongnya tak ada satupun yang dia lihat. Bola yang berada di tasnya mulai berkedip-kedip mengeluarkan cahaya. Wanita pengintai dia mengambil dengan penuh rasa takut, dalam hati dia berkata “apa yang aku harus laporkan pada bos, mati gue kalau bos tau aku hanya tidur seharian ini.
kisah di lanjutkan pada scene, dimana kematian pada komandan pada devisi lima anggota dari klan BlackOn. mengejutkan para anggota lain. tak heran para ketua dari masing-masing devisi tak terlalu heran " kenapa semua orang terkejut tentang kematiannya padahal dia hanya komandan buka ketua" ucap komandan pada devisi tiga
pimpinan menyatakan bahwa pertama kalinya anggota BlackOn kalah, ini menjadi sejarah baru. awal dari kalahnya dengan matinya salah satu komanda devisi lima. "memang anak buah tidak becus" ucap ketua devisi lima.
"halo pak ketua, wah anak buah yang baru bikin ulah lagi yah" kata ketua devisi dua.
ketua devisi lima hanya bisa terdiam sambil membalas dengan senyuman tipis "dia itu tidak terlalu kuat, dan mungkin saja aku akan membunuh ketua devisi dua"

Bình Luận Sách (78)

  • avatar
    Huda97Miftakhul

    ceritanya harus dikembang kan lagi maupun fiksi atau aksi

    17/08

      0
  • avatar
    Ari Cemul

    semua ini prjuangan keren

    26/06/2025

      0
  • avatar
    Ati Niar

    sangat cocok buat saya

    04/08/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất