Wanita bernama Ardila Kartika Wijaya, dia merupakan wanita yang sederhana tapi perjuangan untuk meraih cita-citanya membuat Arka kagum. Kepribadian yang menyenangkan membuat Arka diam-diam memperhatikannya dan ingin tahu lebih dalam tentangnya. Sudah lama Arka tak mendengar kabar darinya dan ternyata saat ini dia bekerja di kantor Papanya, Dila terlihat tambah cantik dan dewasa saat mengenakan baju kerjanya. “Oke Dila, saya rasa sudah lengkap dan kita bisa berangkat sekarang.” Ucap Pak Dhanu. Merasa Dila melamun, Pak Dhanu berbicara dengan Dila dengan suara yang lebih keras untuk menyadarkan Dila,“Dila ayo kenapa kamu melamun, apa yang kamu pikirkan?” “Eh iya, itu Kak Arka Pak,” balas Dila spontan. “Kenapa Dila?” Tanya Pak Dhanu yang tak terlalu jelas mendengar Dila bicara. “Engga Pak, ayo kita pergi sekarang.” Jawab Dila kikuk. “Arka untuk lebih jelasnya, nanti sepulang Papa meeting kita bicara. Sebentar lagi Tomy akan datang dan menemani kamu untuk saling sharing. Ungkap Pak Dhanu. Dila terkejut mendengar dua laki-laki ini berbicara dan ia hanya bisa bergumam dalam hati,“bearti selama ini Kak Arka anaknya Pak Dhanu, ternyata dia setajir itu dan pantas saja apa yang Kak Arka pingin waktu di SMA terpenuhi karena Pak Dhanu orang penting di sekolah dan kebetulan dia investor terbesar di sekolah, gila si ini kenapa aku baru tahu sekarang ya. Tapi di samping itu memang Kak Arka anak yang pintar jadi wajar juga si kalo dia sering juara di kelas bukan hanya mengandalkan orang tuanya.” Batin Dila. “Oke Pa.” Jawab Arka. “Satu lagi kemaren Dila nitip pesan sama Papa untuk menyampaikan salam buat kamu, tapi Papa lupa. Jadi Papa bilang sekarang.” Ucap Pak Dhanu sambil tertawa dan membuat Dila malu. “Pak saya kan becanda.” Sambung Dila dengan malunya. Arka hanya senyum melihat tingkah Dila yang menurutnya lucu,“Menggemaskan.” Lirih Arka. Dila dan Pak Dhanu pun pamit dan meninggalkan ruangan, mereka belum sempat saling sapa dan Dila hanya menganggukan kepalanya lalu dibalas pula sama Arka. Dila dan Pak Dhanu berjalan santai menuju lift, Dila menekan angka satu karena memang metting akan di adakan di sebuah restoran. Sambil menunggu lift sampai ke lantai dasar Dila memberanikan diri untuk bertanya pada Pak Dhanu. “Pak, yang tadi itu anak bapak?” tanyanya pada Pak Dhanu. “Iya dia anak saya, nantinya dia akan menggantikan mengurus perusahaan ini termasuk cabang-cabangnya. Kenapa Dila apa kamu kenal dengan anak saya?” Tanya balik Pak Dhanu pada Dila. “Iya Pak dia Kakak kelas saya waktu di SMA dulu.” jawab Dila. “Ohh jadi kamu sudah kenal dengan Arka sebelumnya, hmm bagus deh.” gumam Pak Dhanu sambil tersenyum penuh arti. “Apanya yang bagus Pak.” Jawab Dila bingung. “Ohh tidak. Selama ini Arka saya kuliahkan di luar negeri agar dia bisa hidup mandiri dan mengenal kehidupan di luar sana,” sambung Pak Dhanu. “Pantes Pak, Kak Arka beberapa tahun belakangan tidak pernah ada kabar.” “Iya begitulah Dil,” senyum Pak Dhanu. “Nanti kita harus bisa mendapatkan investor dari Jepang itu Dil. Lakukan yang terbaik ya,” tambah Pak Dhanu. “Iya Pak siap laksanakan.” Kedekatan Dila dengan bos dan keluarganya, membuat Dila menganggap Pak Dhanu seperti Ayah nya sendiri. Segitupun dengan Pak Dhanu yang menganggap Dila seperti anaknya karena dia pernah kehilangan anak perempuannya karena suatu hal dan Pak Dhanu tidak memberikan alasannya apa. Pak Dhanu adalah orang yang bijaksana, baik dan yang Dila tahu Pak Dhanu sangat sayang pada keluarganya. Begitu pula dengan Bu Rosa istri Pak Dhanu, beliau sering mengajak Dila untuk menemaninya shopping atau makan bersama. Bu Rosa adalah orang yang menyenangkan dan satu frekuensi dengan Dila, jadi mereka memang cocok jika sudah berdua. Tak jarang Bu Rosa juga sering mengajaknya datang ke rumahnya untuk berkunjung atau menginap saat Pak Dhanu kerja di luar kota. Mereka saat ini menaiki mobil Pak Dhanu yang supirnya Mang Dadang menuju ke restoran. Dila duduk di depan bersama Mang Dadang sedangkan Pak Dhanu duduk di belakang. Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena memang waktunya masih panjang, mereka sengaja berangkat lebih awal supaya tidak kena macet dan tidak terburu-buru. Tak terasa mereka sudah sampai di restoran tempat metting, mereka duduk di meja no lima belas. Kebetulan dari kemarin Dila sudah memesan tersebut sehingga mereka tidak perlu lagi mengantri. Mereka menunggu sekitar lima menit sampai akhirnya investor Jepang itu datang. Mereka menyambutnya dengan hangat lalu mempersilahkan untuk duduk. Metting langsung di mulai karena memang orang Jepang sangat menghargai waktu. Dila menyiakan beberapa dokumen yang di berikan pada investor tersebut agar bisa melihat gambaran kerjasama di antara kedua belah pihak. Dila menjabarkan poin demi poin yang akan menjadi kesepakatan kerjasama itu dan tak lupa dia menjelaskan keuntungan apa yang di dapat jika mereka menerima kerjasama kita kali ini. Pak Dhanu selaku Direktur Utama juga memberikan bebarapa poin tambahan penting supaya mereka semakin yakin dengan kinerja perusahaan City Grup. Metting telah selesai, Dila dan Pak Dhanu keluar restoran dengan senyum bahagia karena kerja keras mereka membuahkan hasil. Yups, investor Jepang itu menyetujui untuk berkerja sama dengan City Grup. “Bagus Dila kamu melakukan tugas kamu dengan baik,” senyum Pak Dhanu bangga. “Sudah tugas saya Pak,” senyum Dila tak kalah manisnya. “Perusahaan kita pasti akan lebih di kenal dan pendapatan kita pasti lebih baik lagi. Saya sangat bangga sama kamu, kamu mengingatkan saya dengan sahabat saya,” senyum Pak Dhanu tiba-tiba pudar. “Beliau orang yang pintar dalam berbisnis dan berkomunikasi, beliau sangat pandai menggaet beberapa investor besar dan ia juga sukses mengantarkan perusahaannya menjadi perusahaan yang besar. Tidak hanya itu beliau juga sangat baik dengan keluarga saya, saya rindu dengannya.” Terdengar hembusan nafas Pak Dhanu yang menginsyaratkan kerinduan terhadap sahabatnya. Dila hanya mendengarkan ceritanya dengan seksama. “Kalo Bapak rindu kenapa tidak bertemu saja Pak?” tanyanya Dila penasaran. “Sayangnya dia sudah di panggil sama yang Maha Kuasa.” Jawab Pak Dhanu dengan raut wajah sedihnya. Dila hanya mengaga tentang jawaban beliau. “Kematiannya sungguh membuat saya terpukul.” Pak Dhanu menjeda bicaranya dengan menarik nafas dalam-dalam. “Dan kematiannya sangatlah mengganjal dan saya yakin ada orang yang sengaja membuatnya meninggal karena tidak ingin di saingi, dan saya pastikan akan mengerjar orang itu.” Sambung Pak Dhanu berbicara dengan menahan rasa emosinya. Belum sempat Dila bertanya mobil jemputan datang dan kami langsung menaiki mobil untuk kembali ke kantor. “Ternyata Pak Dhanu punya masalah yang cukup berat. Menjadi orang kaya ternyata banyak juga masalah” Gumam Dila. Dalam perjalanan pulang ke kantor hanya ada keheningan di dalam mobil, mereka di kuasai dengan pikirannya masing-masing. Mobil sedan hitam itu kini sudah masuk ke parkiran mobil yang khusus untuk Direktur Utama. Dila dan Pak Dhanu keluar dari mobil dan berjalan menuju lift untuk keruangan mereka masing-masing. Lift berhenti di lantai dua puluh delapan, segera Dila pada Pak Dhanu untuk pamit menuju ruangannya. “Permisi Pak saya duluan ya,” ucap Dila tersenyum. “Silahkan Dila.” jawab Pak Dhanu membalas senyumnya. Tak lama kemudian lift juga berhenti di lantai Pak Dhanu tuju yaitu tiga puluh satu, Pak Dhanu keluar lalu menuju ke ruangannya. Terlihat Arka dengan berbincang dengan sekretaris Pak Dhanu yang bernama Tomy. “Apa saja yang kalian bicarakan,” tanya Pak Dhanu “Ini Pak, saya menjelaskan tentang kantor ini dan investor yang bekerja sama dengan kantor City Grup,” jawab Tomy. “Baiklah kalau begitu, Tomy bisa kamu keluar sebentar saya mau bicara dengan Arka,” perintah Pak Dhanu. “Silahkan Pak, kalau begitu saya pamit dulu.” Pamit Tomy. “Oke Arka sepertinya kamu sudah seharusnya mengerti tentang masalah Papa,” terang Pak Dhanu. “Masalah apa Pa, Papa melakukan apa? Papa engga punya masalah besar kan?” cecar Arka cemas. “Begini, dulu Papa pernah cerita sama kamu tentang perusahaan teman Papa yang harus kamu urus nantinya selain perusahaan Papa. Teman Papa ini bernama Harry Wijaya, dia bukan hanya teman Papa tapi juga lebih dekat dari pada saudara, dia sosok laki-laki yang bijaksana dan cerdas. Beliau terus mensupport Papa waktu Papa bersitegang dengan Kakek kamu, dia memberikan saran yang menurut Papa memang terbaik dan membuat hubungan Papa dengan Kakek kamu membaik. Singkat cerita Harry mengalami kecelakaan mobil dan dia meninggal di tempat, Papa sempat syok dan Papa tidak begitu saja percaya dengan apa yang di alaminya. Harry meninggal namun seperti ada yang mengganjal. Karena kejanggalan itu, Papa yang di bantu oleh Tomy melakukan penyelidikan.” Ucap Pak Dhanu menceritakan masalah pada waktu itu. Arka mendengarkan cerita Papanya dengan mengamati dengan serius. “Terus gimana Pa.” tanya Arka penasaran. “Ya pagi itu saat Papa tiba di kantor, Tomy memberi kabar jika ada seseorang yang memutus rem mobil Harry. Orang itu terekam di CCTV dan sangat terlihat jelas bahwa wajah itu adalah Alex, Alex merupakan tangan kanan Harry. Tapi di saat Papa menuju kantor Harry dan ingin bertemu dengannya, pihak kantor menjelaskan bahwa Alex telah resign. Sempat Papa mencari di mana Alex berada tapi sampai sekarang dia belum di temukan.” Pak Dhanu menjelaskan tentang Pak Harry dengan perasaan yang sulit. “Arka, ini foto Alex,” Pak Dhanu memberikan selembar foto pada Arka. Arka menerima lembaran kertas itu dan mengamatinya. “Bisakah kamu membantu Papah untuk mencari orang ini, dia adalah saksi terkuat untuk menguak pembunuhan Harry.” Pak Dhanu meminta bantuan Arka dengan menahan amarahnya.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
mantap
23/04
0sukaaa bangetttt
02/04/2025
0sangat bagus menarik
10/03/2025
0Xem tất cả