logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Pertemuan Singkat

Saat pulang ke rumah, Dila hanya diam karena dia takut sekolah akan memberi hukuman terhadapnya. Saat di tanya Ibunya, Dila hanya bilang tidak enak badan. Dia tidak mau jika Ibunya cemas memikirkannya.
Satu hari setelah kejadian, akhirnya pengumuman Tes Beasiswa diumumkan. Kepala Sekolah mengumumkan pada saat Upacara Bendera berlangsung. Dila hanya pasrah tentang nasibnya kini, dia pun sedih karena para siswa melihatnya seperti orang yang hina. 
“Berikut adalah pengumuman hasil Tes Beasiswa Tahun 2021, dan sekolah mengambil tiga siswa yang lulus seleksi.” Ucap Kepala Sekolah.
Para Siswa merasa cemas mendengarkan hasil tersebut, termasuk Dila. Dia berfikir jika pun dia lulus pasti akan dicabut oleh pihak sekolah karena di nilai curang, dan mungkin Dila akan keluar dari sekolah tersebut  karena dia tidak bisa membayar uang SPP yang mahal.
“Peringkat pertama jatuh pada Ardila Kartika Wijaya, Peringkat kedua Melia Putri Aditama, peringkat ketiga Meyrizka Zakira.” Kepala Sekolah mengumumkan tiga siswa yang lulus.
Mendengar hal itu Dila terkejut karena dia berhasil menduduki peringkat pertama. Berbeda dengan Melia yang terlihat sinis.
“Iya walaupun kamu peringkat satu tapi tetap kamu tidak akan lolos karna kamu curang!” bisik Melia pada Dila.
“Itulah hasil Tes Beasiswa yang belum lama ini kita laksanakan bersama,namun aka nada suatu kejadian yang tidak sepatutnya kita lakukan, lalu melalui rapat para Guru, kami sepakat untuk mencabut nama Dila karena terbukti curang saat Tes berlangsung.” Jelas Kepala Sekolah.
Deru sorak-sorai menggema mengisi seluruh penjuru lapangan saat mendengar nama Dila dihapus, banyak kata yang tak pantas keluar mulut para siswa itu dan Dila hanya bisa menahan tangis. Tetapi saat Kepala Sekolah akan menutup jalannya Upacara, terdengar percakapan pada suara speaker sekolah yang keras.
“Kamu tahu apa yang aku lakukan pada Dila?”
“Kalian semua tahu aku siapa, aku anak pemilik yayasan sekolah ini jadi dengan mudahnya aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Kemarin aku menyuruh staf sekolah untuk mengambil soal tes beasiswa ini,”
“Wihh gila juga ide kamu Mel, tapi gpp si aku dukung!”
“Biar mampus tuh si Dila, orang miskin tapi songong. Cuma dia yang berani sama kita!”
“Hahaha ya biar dia tahu rasa, aku juga gak mau dia megalahkanku dan akan aku buat dia malu didepan umum!”
“Terus soalnya udah kamu kasih di tasnya Dila belum? Apa perlu kita bantu?”
“Tak perlu, karena aku sudah meletakkannya tadi pas Dila ke toilet.”
Mendengar suara percakapan itu, para Guru dan Siswa heboh. Dan tak percaya tentang apa yang telah terjadi.
“Bukannya itu suara Melia, Jesika dan Nindy ya,” ucap salah satu Siswa.
“Ehh iya itu suara mereka, wah ternyata selama ini kita salah mengira, bukan Dila tetapi mereka.” Sambung siswa lain.
Melia, Jesika dan Nindy terlihat sangat syok dan menahan rasa malu karena percakapan dia waktu dibelakang kelas ada yang merekam. Sekarang hujatan mengarah pada mereka, banyak siswa yang menjelek-jelekkan mereka. Atas kejadian itu membuat nama Dila tidak jadi dicabut dan Dila berhak mendapatkan Beasiswa. Dila yang tadinya merasa sedih kini dia tersenyum bahagia dan pasti membuat Ibu dan Adiknya akan bangga padanya.
***
Dering telefon menyadarkannya dari lamunan Dila, lalu ia mengangkat telfon itu.
“Dila hari ini kamu siapkan berkas untuk besok metting dengan Investor Jepang ya, saya hari ini tidak berangkat kekantor karena anak saya baru pulang dari Inggris,” ucap Pak Dhanu menyampaikan pesannya.
“Oke Pak siap laksanakan, sampaikan salam saya sama anak Bapak ya hehe,” kekeh Dila.
“Hahaha dasar kamu, buat sebaik mungkin Dil, saya percayakan semuanya sama kamu. Besok pagi saya ke kantor untuk mengecek semuanya, baru kita berangkat untuk metting,” sambung Pak Dhanu.
“Iya Pak saya akan selesaikan hari ini, enjoy time with family Pak.” Dila menjawab dan mematikan telefon.
Diseberang telfon, Pak Dhanu mematikan telfonnya kemudian memanggil Arka untuk berbicara dengannya.
“Arka bisa kamu turun, Papa ingin bicara,” teriak Pak Dhanu.
“Iya Pa,” jawab Arka sambil berjalan turun tangga.
“Besok kamu ikut Papa ke kantor, di sana nanti kamu di temani Tomi sekretaris Papa. Setelah Papa selesai metting, Papa mau bicara suatu hal yang penting,” ucap Pak Dhanu.
“Kenapa gak sekarang aja Pah bicaranya, kan bisa?” tanya Arka penasaran.
“Besok lebih baik Arka,”        
“Hmm, iya Pa.”
Keesokan harinya Arka sudah bersiap pergi ke kantor dengan pakaian kemeja putih dan jas navynya, penampilan kali ini menambah ketampanannya. Saat itu Arka menyetir sendiri mobil kesayangannya karena ingin menikmati suasana kota Jakarta yang semakin maju dan indah. Sedangkan Pak Dhanu beda mobil bersama supirnya Mang Dadang.
Sesampainya dikantor Arka dan Pak Dhanu menuju lift dan menekan tombol angka tiga puluh satu, lantai tiga puluh satu merupakan ruangan untuk Direktur Utama. Sambil menunggu tiba di lantai tiga puluh satu, dia berbicang ringan dengan Papanya.
Tinggg …
Denting suara itu menandakan mereka telah sampai pada di lantai yang mereka tuju. Arka dan Pak Dhanu keluar dan berjalan menuju ruang Direktur Utama.
“Udah lama Pa aku gak kesini sekarang tambah nyaman ruangannya, betah nih kyanya aku kalo disini,” ucap Arka.
“Nanti kan kamu ada diruangan ini terus, gantiin Papa,”jawab Pak Dhanu.
Bincang-bincang mereka harus terpotong karena tak lama kemudian terdengar ada yang mengetok pintu.    
Tok tok …
Pak Dhanu mempersilahkan tamu itu untuk masuk, sedangkan Arka sedang menikmati pemandangan Jakarta dari atas gedung. Melihat indahnya kota Jakarta Arka enggan untuk berpindah tempat bahkan untuk berbalik badan, dia hanya mendengar percakapaan Papanya dengan salah satu karyawan di kantor itu.
“Selamat pagi Pak Dhanu, saya mau mengantarkan dokumen yang nanti dipersiapkan untuk metting Pak.” Ucap Dila sopan.
Sambil menunggu Pak Dhanu melihat dokumen yang dia berikan, mata Dila menjelajah ruangan Pak Dhanu yang lebih nyaman dan lebih luas dari ruangannya. Maklumlah ruangan Direktur Utama pasti lebih bagus daripada bawahaannya. Diatas meja Pak Dhanu terdapat foto yang berukuran sedang dan tidak terlihat begitu jelas hanya gambaran keluarga itu terlihat harmonis dan penuh dengan kasih sayang.
Ruangan yang rapi dan hiasan di dinding membuat siapa saja yang ada di ruangan ini pasti betah, mata Dila menyelusuri ruangan bagian pojok kiri dan melihat ada seorang laki-laki sedang berdiri depan jendela.
“Eh siapa laki-laki itu, apa mungkin anaknya Pak Dhanu yang kemarin diceritain ya,” batin Dila penasaran.
“Dila, saya cek terlebih dahulu dokumennya dan silahkan kamu Dila duduk dulu,” perintah Pak Dhanu.
“Baik Pak,” jawab Dila.
Saat Dila berjalan menuju tempat duduk, pria bernama Arka itu berbalik badan setelah nama Dila di sebut oleh Papanya. Pandangan mereka saling bertemu, sepersekian detik berikutnya mata Dila membulat tidak percaya. Wajah tampan dan terlihat lebih dewasa itu sangat dia kenali waktu SMA dulu.
“Kaak Arka?” lirih Dila.
Arkana Elvaro Aditama merupakan kakak kelasnya dulu waktu SMA, Arka menjadi Ketua OSIS dan saat itu Dila menjadi anggota OSIS. Banyak kaum hawa termasuk Dila yang menyukainya bukan hanya ketampanannya saja tapi dia juga sosok yang jenius dan pemberani. Banyak ide-ide cermerlang keluar dari otaknya saat menjadi Ketua OSIS dulu. Salah satu idenya yaitu mengadakan Olimpiade Matematika se-Jawa, ide yang sangat di dukung oleh sekolah tapi juga banyak yang menghujat karena Arka mengirimkan anak IPS untuk ikut. Iya walaupun sekolahnya terkenal kepintarannya tapi masih saja yang menganggap anak IPS sebelah mata. Arka ingin membuktikan bahwa anak IPS juga mampu mengharumkan nama sekolah mereka tanpa bayang-bayang anak IPA.
Karena acara ini anak Osis yang mengadakan maka sekolah tidak ikut campur. Kebetulan Arka juga anak IPS jadi dia tahu mana anak yang pintar dan berpotensi untuk menang pada Olimpiade kali ini. Arka dan tim mempersiapkan semuanya dengan serius dan pembagian tugas juga terarah. Kala itu Arka mendapat bagian mencari guru les yang kompeten dan menyenangkan agar siswa yang ikut Olimpiade belajarnya serius tapi enjoy, untuk bagian pembagian jadwal itu tugas tim. Setelah beberapa minggu persiapan akhirnya Olimpiade di mulai dan hasil kerja keras mereka membuahkan hasil dengan menangkan Olimpiade Matematika tersebut. Mereka membawa pulang piala itu dengan bangganya dan sekolah mengapresiasi prestasi mereka saat Upacara Bendera diadakan.
Waktu telah berlalu dengan cepat setelah lulus SMA Dila tak mendapat kabar dari Arka beberapa tahun ini dan dia sekarang berada dihadapannya sekarang. Memang Dila dan Kak Arka tidak begitu dekat karena memang Dila fokus dengan sekolah dan ingin mengejar cita-cita sedangkan Arka juga orang yang tergolong dingin pada wanita dan mereka hanya berteman sebagai patner di Osis dulu.
“Bagaimana mungkin Kak Arka berada diruang Direktur bersama Pak Dhanu. Dan dia keliatan tambah tampan.” Lirihnya yang semakin terpesona.
Disisi lain terlihat pria itu masih diam menatap Dira dengan raut wajah tak terbaca. Matanya mengunci pandangan dengan mata Dila. Jantung yang berdetak di luar kendali, setelah sekian lama dia tak merasakannya, kini muncul kembali. Arka menerka-nerka tentang desiran aneh yang ia rasakan mungkin jawaban tentang yang dia rasakan timbul karena kehadiran Dila.
“Takdir Allah memang tidak ada yang tahu dan rasa ini masih tetap sama seperti dulu” Batin Arka.

Bình Luận Sách (64)

  • avatar
    Aril 5076498 masuk y

    mantap

    23/04

      0
  • avatar
    4725Delia

    sukaaa bangetttt

    02/04/2025

      0
  • avatar
    1204arasari

    sangat bagus menarik

    10/03/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất