logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Masa Lalu Dila

Sebuah mobil Civic berwarna putih baru saja memasuki area parkiran kantor City Grup, pintu sisi pengemudi sebelah kanan terbuka dan Dila terlihat keluar dalam mobil tersebut dan di susul Heni. Heni yang merasa aneh dengan Dila yang sedari diam, ia mencoba bertanya dengannya apa masalah yang terjadi.
“Dil kenapa kamu, muka di tekuk gitu abis metting?” ucap Heni penasaran.
Mendengar pertanyaan Heni, Dila mengheaan napas yang terdengar dengan kasar. “Aku lagi gak mood Hen abis ketemu sama Melia tadi,” jawab Dila lesu.
“Emang kenapa sama dia?” tanya Heni penasaran.
“Nanti ya aku ceritain kalo mood aku udah pulih,” jawab Dila yang terlihat tak bersemangat.
“Oke deh kalo gitu.” Jawab Heni mengerti.
Dila dan Heni mulai melangkahkan kakinya menuju lift menuju lantai dua puluh delapan, mereka kembali ke kantor setelah metting dengan PT Mahendra Sejahtera selesai. Dila membuka dan menutup pintu kantornya dengan kasar, mood Dila dari metting sangat buruk setelah pertemuannya dengan Melia. Ia teringat jelas masa dulu waktu SMA, Dila selalu menjadi sasaran bullyan Melia dan teman-temannya. Persaingan untuk menjadi yang terbaik di sekolah menjadi momok untuk Dila kala itu.
Beberapa tahun yang lalu…
Dulu Dila bersekolah di SMA Bakti Nusantara, sekolah itu memang terkenal sebagai sekolah yang bagus. Biaya SPP setiap bulannya tergolong sangat mahal sehingga banyak murid disana dari kalangan orang kaya. Tak hanya itu sekolah Bakti Nusantara terkenal dengan siswanya yang pintar.  
Sebuah kertas tertempel di papan dinding sekolah, banyak para siswa berkerumunan karena ingin tahu isi pengumuman tersebut. Dila baru saja tiba di sekolah ikut bergabung di antara kerumunan siswa itu. Isi dari kertas itu iyalah pendaftaran beasiswa untuk semua angkatan di sekolah, senyum bahagia itu terpancar pada wajahnya. Beasiswa merupakan berita yang ia tunggu selama ini karena menjadi kesempatan untuknya bersekolah tanpa memikirkan biaya. Ya Dila sekolah disini karena mendapat Beasiswa. Jika tidak, mungkin ia tidak sekolah di tempat tersebut. Dan beasiswa ini merupakan penghargaan yang di akankan oleh sekolah untuk beasiswa sampai lulus sekolah nanti, sedangkan Dila saat ini terdaftar dalam beasiswa hanya setahun.
“Minggir minggir.” Suara itu terdengar dari belakang dan para siswa itu terlihat menepi.
Ya itu ada suara Melia, anak dari pemilik yayasan sekolah itu. Ia datang bersama dua temannya yang bernama Jesika dan Nindy. Mereka merupakan geng yang terkenal di sekolah karena kekayaannya, kecantikannya dan kesadisannya mereka. Mengapa mereka di bilang sadis, karena waktu itu saat kegiatan Osis ada salah satu siswa baru yang melawan. Mereka berani memukul siswa itu lalu menjadi bahan bullyan. Mereka akan terus melakukannya sampai siswa yang berani dengan mereka meminta maaf dan takut pada mereka.
Saat mengetahui informasi tentang Beasiswa itu Melia dkk sangat antusias dan akan mengikuti tes beasiswa itu. Mereka harus menjadi nomor satu di sekolah itu, terutama untuk Melia.
“Sepertinya kita harus ikut tes ini, biar Papa aku bangga jika aku lolos tes dan menjadi nomor satu di sekolah ini,” ucap Melia semangat.
“Iyaa harus, karena kita geng yang harus terdepan di sekolah ini.” Sambung Nindi.
Ketiga anak yang tergabung dalam geng itu pun memperlihatkan kekompakannya dengan tos bersama. Ketika mereka akan kembali ke kelas, Melia berbalik badan lalu melihat Dila di sampingnya yang masih melihat pengumuman itu.
“Pasti kamu ikut kan, karena kamu anak miskin!” ucap Melia tak suka dengan Dila.
“Iya pasti aku akan ikut,” jawab Dila dengan santai.
“Yakin kamu lolos?” ejek Nindi.
“Udah kamu mundur aja, daripada malu kalah dari kita. Iya gak guys?” sambung Jesika.
“Udah pasti, coba saja kamu ikut tapi ingat langkah kamu tidaklah mudah jika melawan aku!” senyum Melia percaya diri.
“Oke.” Jawaban Dila singkat membuat Melia geram.
Saat itu Dila memang berani dengan Melia dkk karena memang Dila orang yang tegas dan berani melawan jika dia tidak salah. Namun Dila mengetahui jika keberaniannya justu membuat ia akan menghadapi masalah dengan Melia dan teman-temannya. Hari senin itu merupakan hari di laksanakan tes beasiswa. Tak lupa sebelum berangkat sekolah Dila meminta doa Ibunya dan Adiknya agar Tes Beasiswanya kali ini bisa diberi kelancaran dan kemudahan.
“Ibu, Dila minta doanya ya biar tesnya lancar,” ucap Dila meminta doa pada Ibunya.
“Pasti nak, ingat sebelum tes kamu berdoa terlebih dahulu,” perintah Ibu.
“Siap laksanakan Bu,” Ucapnya pada Ibu.
“Dek, doain Mbak juga,” ucap Dila pada adiknya.
“Iya Mbak, jangan lupa traktirannya ya.” Kekeh Vano.
Sampai disekolah Dila melihat banyak siswa yang belajar di luar kelas sebelum Tes di mulai. Dan di tempat lain, Melia dkk merencanakan sesuatu.
“Kamu tahu apa yang aku lakukan pada Dila?” tanya Melia pada temen-temanya.
Di saat bersamaan ketiga temannya menggeleng yang menandakan mereka tidak mengetahui rencana apa yang dia berikan pada Dila.
“Kalian semua tahu aku siapa, aku pemilik yayasan sekolah ini jadi dengan mudahnya aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Kemarin aku menyuruh staf sekolah untuk mengambil soal tes beasiswa ini,” ucap Melia dengan sombongnya.
“Wihh gila juga ide kamu Mel, tapi gpp si aku dukung!” sahut Jesika sambil tertawa.
“Biar mampus tuh si Dila, orang miskin tapi songong. Cuma dia yang berani sama kita!” sambung Nindy geram.
“Hahaha ya biar dia tahu rasa, aku juga gak mau dia mengalahkanku dan akan aku buat dia malu didepan umum!” ucap Melia tak sabar menantikan kejadian mempermalukan Dila.
“Terus soalnya udah kamu kasih di tasnya Dila belum? Apa perlu kita bantu?” sambung Nindy dan Jesika bersamaan.
“Tak perlu, karena aku sudah meletakkannya tadi pas Dila ke toilet.” Jawab Melia.
Jam menunjukkan angka 08.00 WIB yang bearti tes beasiswa pun di mulai. Semua siswa masuk ke dalam kelas dengan rapi, soal dan lembar jawab siap untuk di bagi. Siswa mengerjakan soal dengan tenang dan serius. Setelah 2 jam mengerjakan akhirnya bel berbunyi yang bertanda waktu mengerjakan selesai.
Semua satu persatu siswa keluar ruangan dan Dila keluar paling belakang karena males keluar berdesak desakan. Saat Dila berada di luar kelas, banyak murid yang berkerumunan dan berteriak Dila curang. Mendengar namanya di sebut dia langsung menghampiri kerumunan itu dengan perasaan tidak enak. Dan benar saja dia di jebak seakan-akan telah melakukan kecurangan dengan mencuri soal untuk tes beasiswa ini. Banyak siswa yang berkata tidak pantas pada Dila, sampai akhirnya air mata nya tidak tertahan dan membasahi pipinya.
“Aku tidak melakukan itu, aku di jebak!” ucap Dila mengelak sambil menangis.
“Halah ngaku deh, orang jelas-jelas soal ini ada di dalam tas kamu kok,” ucap salah satu siswa terus menuduh.
“Ternyata Dila tidak sebaik yang kita kira, dia pendusta dan licik!” sahut murid lain.
“Karna dia anak orang miskin jadi melakukan curang biar dapat nilai bagus!” teriak salah satu siswa.
Banyak omongan keluar dari mulut siswa itu yang membuat Dila malu dan hanya menundukkan kepalanya. Hingga akhirnya ada seorang laki-laki berwajah tampan membelanya, laki-laki itu Arkana Elvaro Aditama atau biasa di sapa dengan Arka. Pria itu membantu Dila untuk keluar dari kerumunan lalu pergi menjauh lalu menenangkannya.
Arka terus menenangkannya sampai berkata,” kamu tenang yaa, aku tau kamu tidak melakukannya. Aku harap saat pengumuman nanti kamu datang ke sekolah untuk mengetahui fakta sebenarnya.” Arka meninggalkan Dila sambil tersenyum manis.
Dila saat itu hanya melihat kepergian Arka dengan menangis dan tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi jika nanti Ibunya tau tentang masalahnya ini.
“Aku harap apa yang di katakan kak Arka bisa menyelesaikan masalahku ini”. Gumam Dila dengan berharap.

Bình Luận Sách (64)

  • avatar
    Aril 5076498 masuk y

    mantap

    23/04

      0
  • avatar
    4725Delia

    sukaaa bangetttt

    02/04/2025

      0
  • avatar
    1204arasari

    sangat bagus menarik

    10/03/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất