logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 7

"Lo nggak akan lepas dari gue mulai sekarang" kata laki – laki tampan itu lagi dengan tangan kirinya mengarah ke dada krystal.
Sedangkan Krystal hanya bisa diam membeku melihat tingkah laki – laki di depannya yang semakin semena – mena terhadapnya. Mendadak lidahnya kelu saat ingin balik membalas perkataan pemuda tampan itu. Sial (2).
"M... mau apa lo?!" tanya Krystal susah payah menahan rasa takutnya. Sungguh baru kali ini dia tidak bisa melawan balik orang yang berlaku semena – mena terhadapnya. Dirinya seorang Raizel, oleh karena itu selama ini tidak ada yang berani berbuat macam – macam padanya. Kalaupun ada, maka detik itu juga Krystal akan membalas mereka sepuluh kali lipat.
"Gue? Gue mau ini" jawab laki – laki itu santai sembari memegang cabang headset yang di pakai Krystal.
Akibat sentuhan laki – laki gila di depannya ini pada headsetnya, Krystal segera melepas benda itu cepat. Laki – laki di depannya ini terlalu absurd hanya untuk sebuah headset!
"Nih!" balas Krystal seraya mendorong headsetnya ke arah laki – laki di depannya agak keras, kemudian berlalu begitu saja mendahuluinya. Sedangkan pemuda tampan tersebut yang mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum miring bahagia. Sekarang, dirinya tau jika gadis yang membuatnya tertarik itu juga memiliki rasa takut padanya, ia akan memanfaatkan dengan sebaik – baiknya.
Sesampai di depan kelas, Krystal segera mengetuk pintu kemudian langsung masuk menuju meja guru. Ia tau dirinya sudah begitu telat untuk mengikuti kelas.
Dan sialnya ini adalah pelajarannya bu Linda, guru yang paling lemah lembut kepada muridnya. Jadi ya... Krystal tidak akan mendapatkan sambutan lebih hari ini di kelasnya. Tidak terbayangkan jika dirinya harus kembali mendapatkan hukuman di kelas tersebut, dimana bisa dibilang dirinya adalah tahta tertinggi di kelas itu, jadi akan sangat memalukan jika yang lain tahu dirinya mendapatkan hukuman.
"Maaf miss saya telat" kata Krystal dengan menundukan kepalanya. Meskipun guru yang berada di hadapannya ini sangat baik hati dan lemah lembut, Krystal tidak bisa menghilangkan tata kramanya begitu saja.
"Tidak biasanya kamu telat seperti ini Krys, apa ada halangan besar sampai kamu telat?" tanya bu Linda dengan nada lembutnya.
"Ah-" jawaban Krystal terpotong karena ada yang mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" kata bu Linda sembari menengok ke arah pintu.
"Maaf mengganggu waktu ibu mengajar"
"Eh pak Hendra, ada apa pak?" kata bu Linda dengan beranjak berdiri menghampiri kepala sekolah yang masih berdiri di depan pintu.
"Ini, saya ingin mengantarkan murid baru. Tapi maaf karena telat mengantarkannya" kata kepala sekolah dengan senyum tenangnya.
"Ah.. tidak apa apa pak, lalu dimana dia sekarang pak?" jawab bu Linda tersenyum ramah.
"Ayo sini" perintah kepala sekolah.
Setelah kepala sekolah memanggilnya, anak yang dimaksudpun akhirnya masuk dengan kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya. Saat dia memasuki kelas itu, Krystal hanya mampu membelalakan matanya tak percaya, baru kali ini ia dibuat melongo oleh seseorang. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum miring kemenangan, bahkan ia mengedipkan salah satu matanya pada Krystal. Hal itu membuat Krystal ingin mencolok mata itu sekarang juga.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu bu" pamit kepala sekolah yang mendapat anggukan dari bu Linda.
"Krystal, kamu boleh duduk sekarang" kata bu Linda menyadarkan Krystal dari lamunannya.
"Eh... baik bu"
Krystalpun segera duduk di tempat duduknya. Ia berlalu begitu saja saat melewati murid baru itu, bahkan ia bersikap seolah olah tidak pernah terjadi apa – apa pada dirinya. Bahkan murid baru itu sangat terkesan dengan perubahan ekspresi yang begitu hebat.
"Nah... sekarang silahkan perkenalkan nama kamu" perintah bu Linda kepada murid baru yang masih sibuk memperhatikan Krystal sedari tadi. Seakan tidak rela melepas pandangannya dari gadis cantik berwajah judes tersebut.
Sedangkan Krystal bersikap acuh, ia malah membaca novel yang ia bawa tadi pagi.
"Hallo nama gue Gilang Vans Katria, cukup panggil Gilang. Gue pindahan dari SMA NUSA. Gue tinggal di Magersari, jalan Delima, nomor 02. Ok, mungkin sudah cukup perkenalan dari gue" kata laki – laki bernama Gilang yang di akhiri dengan tersenyum manis mengarah ke arah Krystal, yang membuat kaum hawa di kelas itu memekik tertahan karena senyum maut yang dipadukan dengan wajah super tampannya.
Sedangkan Gilang tidak heran lagi dengan respon yang ia terima. Rambut hitam, hidung mancung, kulitnya yang putih bersih, serta tinggi yang menyentuh angka seratus delapan puluh lima membuat dirinya begitu mencolok. Perpaduan yang sangat tampan, membuat siapapun akan merasa kecewa jika melewatkannya.
"Baiklah, apa ada pertanyaan buat Gilang?" tawar bu Linda yang sudah duduk di kursinya.
"Masuk kelas ini lewat apa? Akademik apa non akademik?" tanya Kelvin dengan tampang sok kerennya. Pasalnya tidak semudah itu murid pindahan bisa masuk kelas Unggulan.
Sedangkan Krystal yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum miring meremehkan, ya... meskipun dia tidak memperhatikan perkenalan Gilang tadi, dia hanya mendengarkan apa yang dia maksud menarik saja. Dan pertanyaan Kelvin kali ini berhak ia acungi jempol.
"Pertanyaan yang bagus Vin, kali ini gue setuju" bisik Syila sebelahnya yang di jawab oleh anggukan antusias oleh Kelvin.
"Gue masuk ke kelas ini melalui non akademik"
Mendengar jawaban tadi membuat Krystal tersenyum meremehkan, merasakan kemenangannya akan datang. Begitu juga dengan Kelvin, ia tersenyum lega, merasa tidak akan terjadi perubahan terhadap popularitasnya karena Gilang sama tampannya dengan dia.
"Gue masuk olimpiade nasional dan itu hanya juara satu"
Satu kalimat yang terlontar dari mulut Gilang itu, sukses membuat Krystal menjatuhkan novelnya ke mejanya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Gilang. Gilang yang merasa pikirannya benar hanya tersenyum menanggapi ekspresi kaget Krystal.
Berbeda dengan Kelvin, Kelvin bahkan sudah membuka mulutnya karena saking terkejutnya. Begitu juga dengan yang lain.
"W... what?! L... lo bilang hanya?! Memang ada lagi juara diatas juara satu" kata Krystal dengan geramnya. Bagaimana bisa dia menyebutkan kejuaraan itu dengan kata hanya?
"he.em... memang, karena gue udah sering mengalaminya jadi gue udah biasa dengan yang seperti itu, karna gue sekarang ingin bertanding melawan negara se-Asia, jadi jika hanya sampai nasional saja gue nggak akan puas" kata Gilang enteng.
"WHAT?! Lo bilang se Asia?! Yang benar saja!!!" kali ini bukan dari Krystal, melainkan dari Lascrea.
Ya... meskipun Lascrea terhipnotis dengan wajah Gilang, tapi dia masih sadar akan kompetisi yang diremehkan Gilang tadi, bahkan Lascrea saja harus mati – matian berlatih untuk masuk ke nasional. Dirinya merasa diremehkan saat Gilang berbicara seperti itu.
"Sudah... sudah... tanya – tanyanya dilanjutkan nanti waktu istirahat saja, sekarang Gilang kamu duduk di sebelah Krystal" kata bu Linda memecahkan suasana tegang itu.
****
"Krys... ke kantin bareng gue ya..." kata Kelvin yang kini sudah berada di depan meja Krystal.
"Sorry gue sibuk" jawab Krystal dengan mengemasi semua bukunya terburu – buru, ia hanya meninggalkan satu buku.
Tanpa menghiraukan Kelvin lagi, Krystal segera meningalkan kelas dengan setengah berlari. Dan sekarang disinilah ia berada, di depan pintu perpustakaan utama sekolah. Setelah mengatur nafasnya, Krystal segera memasuki perpustakaan itu dengan wajah datarnya. Datang ke perpustakaan merupakan hal wajib bagi Krystal.
Cukup lama ia berada di perpustakaan itu hanya untuk sekedar membaca, Krystal akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelasnya, mengingat ini sudah jam sepuluh lima belas menit masih tersisa lima menit untuknya kembali ke kelas.
Bagi Krystal di sinilah tempat paling favoritnya, tempat yang tenang, tanpa gangguan, dan tidak ada yang ingin mengganggunya. Ia bisa sepuas puasnya untuk menikmati harinya di sini meskipun ia tak punya banyak teman. Selama masih ada novel, komik, drakor dan KPop, dirinya rasa masih tidak apa – apa.
Dalam perjalan ke kelasnya, Krystal selalu saja memikirkan hal – hal kecil yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, tentang sahabatnya dulu yang meninggalkannya karena ia harus meneruskan masa SMAnya di luar negri kerena orang tuanya memiliki bisnis disana. Bagi mereka yang terlahir dari kalangan atas, mereka tidak bisa berlaku seenaknya akan hidup mereka, mereka dituntut harus bisa meneruskan perusahaan keluarga bagaimanapun caranya. Termasuk dengan pasangan mereka.
Krystal terus berharap agar suatu hari nanti ia dapat bertemu dengan sahabatnya lagi, sahabat yang benar – benar tulus dan tidak memandang derajat mereka, yang tidak pernah berfikir untuk memanfaatkan satu sama lain.
Krystal tersenyum kecut mengingat hal itu semua. Bagaimana mungkin sahabatnya itu akan ingat kepadanya yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari Krystal yang dulu? Sudah berkali kali Krystal menolak pemikiran itu, namun entah mengapa justru pemikiran itulah yang muncul pertama kali setiap ia mengingat kejadiannya.
"Semua telah berlalu, inilah Krystal yang sekarang, jadi lo nggak boleh goyah hanya karena dia" gumam Krystal menyemangati dirinya sendiri.
"Emang Krystal yang dulu gimana?"
Krystal segera mendongakkan kepalanya dengan pupil yang membesar, karena mendengar seseorang berbisik di telinganya.
"Lo apa-apaan sih?!" kata Krystal marah kepada orang yang sekarang sedang bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun. Dia laki – laki menyebalkan yang dihukum bersamanya tadi pagi, dan laki – laki yang menganggap remeh olimpiade nasional. Laki – laki gila yang tampan.
"Apa? Emang gue kenapa?" jawab Gilang menampakkan senyum memikatnya.
"KRYS!!!"
Belum sempat Krystal menjawab, seseorang sudah memanggil namanya dengan keras, bahkan murid – murid yang sedang lewat menengok kearah sumber suara. Ya... siapa lagi si biang onar yang mengganggu Krystal dengan seenak hati selain Kelvin?
"Haaiiss... beratnya hidup gue" gumam Krystal saat melihat Kelvinlah yang memanggil namanya sekeras itu. Memang tak tahu malu itu orang.
"Krys, kamu dari mana aja sih? Dari tadi aku cariin tahu" kata Kelvin saat sudah di depan Krystal.
"Terus, ngapain ini anak bareng sama kamu? Bukannya kamu nggak suka kalau ada orang yang nggak kenal tapi sok kenal ya?" lanjut Kelvin dengan menengok kearah Gilang.
"Ya kaya lo nggak aja" jawab Gilang sedikit bergumam.
"Apa?! Tadi lo bilang apa? Heh... gue itu udah kenal sama Krystal sejak kita kelas sepuluh, jadi nggak salah dong kalau gue deket sama dia" jawab Kelvin yang mulai menyombongkan dirinya.
Krystal yang melihat dan mendengar pertengkaran kedua makhluk itu hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Buktinya lo nggak tau dia habis darimana" jawab Gilang enteng.
Belum sempat Kelvin menjawab perkataan Gilang, Krystal sudah melenggang pergi melewati kedua makhluk itu. melihat itu Kelvin menghiraukan perkataan Gilang dan segera mengejar langkah Krystal.
"Eh... Krys, tungguin!" teriak Kelvin yang segera menyamakan langkahnya dengan Krystal.
Sedangkan Gilang hanya tersenyum miring melihat tingkah lakunya juga tingkah laku kedua makhluk yang sedang berjalan beriringan di depan matanya.
Pasalnya, selama ini dia tidak pernah bersikap peduli dan care dengan perempuan, baru kali ini dia yang memulai percakapan antara dirinya dan seorang perempuan. Biasanya para kaum hawalah yang berlomba – lomba hanya untuk sekedar mengajaknya berbicara panjang lebar. Krystal merupakan tantang baginya.

Bình Luận Sách (72)

  • avatar
    YulianaSanti

    bagus ceritanya

    04/06/2025

      0
  • avatar
    B.SAlbi

    novel nya keren pokonya wajib. baca📍📍📍

    29/05/2025

      0
  • avatar
    NadinKristina

    ceritanya baguss kakk, pembawaannya juga seru

    18/04/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất