logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 6

Krystal masih menundukkan kepala, dirinya masih tidak tenang memikirkan apa yang akan dilakukan kepala sekolah. Ini merupakan kesalahan pertamannya, atau bisa dibilang pertama kalinya dirinya melanggar aturan sekolah. Jadi tidak mungkin bukan jika dirinya langsung di keluarkan dari kelas unggulan begitu saja? Prestasi yang ia torehkan di sekolah ini lebih besar dari jumlah kesalahan yang pernah ia buat.
“Maaf pak. Bisakah kita bicara sebentar?” tanya pak Hendra setelah berada di samping pak Bagyo.
Pak Bagyo yang sedang mengawasi gerbang utama segera menolehkan kepalanya ke arah kiri karena sempat kaget dengan kehadiran kepala sekolah di sana. Tidak biasanya kepala sekolah mendatanginya secara langsung seperti ini.
“Oh kepala sekolah! Ada apa pak? Apa ada masalah?” tanya pak Bagyo dengan ekspresi tidak tahunya.
“Kenapa bapak menghukum Krystal?” tanya pak Hendra agak lembut, terlihat sekali menahan diri agar tidak marah.
“Oh… jadi namanya Krystal toh… ya tentu saja karena dia telat pak” jawab pak Bagyo dengan enteng.
“Seberapa telat dia pak?” tanya kepala sekolah dengan senyum yang dipaksakan.
“Dia telat sekitar delapan menit pak”
“Hukuman berlaku jika ada murid yang telat sepuluh menit pak, bukan delapan menit! Dan juga, berani beraninya bapak menghukum anak emas sekolah sekaligus dari keluarga Rayzel” kata pak Hendra masih berusaha menekan emosi yang mulai melanda.
“M… maaf pak, sepertinya saya salah mengira, saya kira maksimal telat adalah lima menit bukan sepuluh menit. Lalu saya baru tahu jika dialah sang emas sekolah. Jadi maafkan atas keteledoran saya pak” jawab pak Bagyo agak takut melihat ekspresi kepala sekolah yang tangah menahan emosinya. Dirinya tidak tau jika menghukum murid yang telat akan langsung berhadapan langsung dengan kepala sekolah seperti ini.
“Ekhem… apakah saya di sini tidak dianggap, kalau tidak, saya akan ke kelas saya. Permisi” sela laki – laki tampan yang sedari tadi berdiri di samping Krystal dan senantiasa memperhatikan kedua orang gurunya yang sedang berdebat. Dirinya heran, kenapa menghukum seseorang bisa memunculkan perdebatan seperti itu di antara para guru.
“Tunggu! Siapa bilang kamu boleh pergi? Selesaikan hukuman kamu!!” cegah pak Bagyo bermaksud ingin mengembalikan imagenya di depan kepala sekolah.
“Ya… kamu boleh kembali ke kelas kamu. Tapi tidak sekarang” jawab kepala sekolah dengan nada datar tapi juga terkesan seram.
“Bagaimana bisa bapak membiarkan dia ke kelasnya begitu saja? Dia harus menyelesaikan hukumannya terlebih dahulu pak” sangkal pak Bagyo.
“Pak… apa bapak akan memperlakukan semua murit pindahan dengan sebegini tidak hormat?” kata kepala sekolah dengan amarah tertahan.
Sedangkan laki – laki yang sedari tadi berdiri layaknya patung tanpa dianggap itu menampilkan senyumnya, melihat jika yang dibicarakan kepala sekolah dan guru yang memberikan hukuman padanya tadi membicarakan dirinya. Dirinya cukup kesal karena sedari di lapangan basket tadi diacuhkan, tidak dianggap ada. Krystal yang melihat ekspresi laki – laki di sampingnya hanya mencibir tidak jelas.
‘Orang gila, tetap saja orang gila’. Batin Krystal menggerutu.
“Kenapa lo? Iri sama gue? Segitu amat ekspresi lo” kata laki – laki tampan nan menyebalkan itu dengan kepercayaan tinggi maksimal.
Sedangkan Krystal hanya diam saja tidak menggubris perkataan Gilang, justru dia mengalihkan pandangannya kepada kepala sekolah dan pak Bagyo yang berada dua langkah di depannya. Namun kedua guru itu malah menatap Gilang dengan tatapan cengo. Krystal yang melihat ekspresi kedua gurunya hanya memutar bola matanya jengah. Mereka sama – sama menyebalkannya, ia ingin segera ke kelas namun kedua guru tersebut malah berdebat tidak penting. Jika memang hukumannya di cabut, ya sudah lakukan dengan cepat, agar ia bisa segera duduk di bangkunya dengan AC yang tepat mengenainya. Krystal sudah lelah.
“Ekhem… apakah saya boleh ke kelas pak?” kata Krystal membuyarkan ekspresi cengo kedua gurunya.
“Eh… oh… boleh Krystal, kamu boleh ke kelas kamu sekarang, karena nanti saya akan memberikan pengumuman pada kelas kamu di akhir pelajaran, jadi tolong sampaikan ke teman – teman sekelas kamu agar jangan pulang terlebih dahulu nanti” jelas kepala sekolah sebelum dia mempersilahkan Krystal pergi.
Setelah mendapatkan ijin dari kepala sekolah untuk kembali ke kelasnya, Krystal segera memasang headset di kedua telinganya, sebelum ia mendengar perkataan tak berguna dari orang di sebelahnya yang sedari tadi mengikuti langkahnya.
“Mmm… tapi kan, setelah gue pikir – pikir, kita itu belum pernah kenalan loh… emang lo nggak ngrasa aneh apa?” kata laki – laki tampan di sebelah Krystal sembari mengingat ingat kejadian terdahulu dengan jari telunjuknya memegang dagu seolah berpikir, sedangkan salah tangan kirinyanya ia masukan kedalam saku celana. Sudah terbiasa baginya memasukkan tangannya ke saku celana saat jalan.
Karena tak kunjung mendapat jawaban dari orang yang ditanya, laki – laki berparas tampan tersebut segera mengalihkan pembicaraan bermaksud untuk tidak membuat mereka canggung, terutama dirinya sendiri.
“Em… kalau gitu lo di kelas apa? Sebelah mana tempatnya? Jauh nggak dari kantin?” laki – laki tersebut masih saja bertanya dengan pandangan lurus seolah tak perduli, padahal ia melakukan itu hanya untuk mencegah rasa canggung dalam dirinya. Tanpa mengetahui jika objek yang diajak bicara tidak mendengarkan sama sekali.
Setelah menanyakan hal itu laki – laki tampan tersebut terdiam sejenak menunggu jawaban yang akan keluar dari gadis di sampingnya. Namun hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada jawaban dari gadis di sampingnya setelah lima menit berlalu. Tak ambil pusing, ia kembali menormalkan suasa yang menurutnya canggung.
“Em… kata kepala sekolah gue bakal di kelas unggulan, tapi gue belum tahu gimana kelasnya. Ya… meskipun gue udah tahu dimana tempatnya sih, lo tahu nggak kelas itu seperti apa?” tanya laki – laki berparas tampan tersebut sembari menoleh ke arah Krystal yang sedang mengangguk anggukan kepalanya menikamati lagu yang di putarnya.
Melihat Krystal yang seenak hatinya menikmati lagu – lagu yang entah apa itu membuat pemuda yang sedari tadi berjalan bersisihan di samping Krystal membulatkan mata kaget. Ia masih tidak percaya ada orang yang menghiraukan keberadaannya seperti ini. Melihat gadis di sampingnya masih tidak menyadari keberadaannya, atau sengaja mengacuhkannya, laki – laki tampan tersebut segera berjalan mendahului Krystal kemudian berhenti tepat tiga langkah di depan Krystal.
Krystal yang menyadari bahwa di depannya ada orang segera menghentikan langkahnya, tapi tidak dengan headsetnya, ya… setidaknya ia sudah menurunkan volumenya yang cukup untuk mendengar orang di dekatnya berbicara. Meskipun Ia tidak perduli dengan orang yang sekarang berada di depannya, jadi dia tetap berdiri di tempatnya dengan tangan di bersedekap tidak suka, tak lupa mengeluarkan smirk menatap laki – laki yang kini berdiri dengan raut wajah kesal di depannya.
“Ngapain lo disitu?” kata Krystal dengan senyum miring yang masih terpantri di bibirnya.
“What?! Jadi bener tadi gue ngomong sendiri kayak orang gila?!” jawab laki – laki tersebut tidak percaya.
“Cih, lo itu kenapa sih? Kenapa lo terus ngikutin gue hem? Lo suka sama gue huh?” kata Krystal meremehkan laki – laki yang ada di hadapannya.
Sedangkan laki – laki berparas tampan yang semula masih menampakkan raut wajah tenangpun kini menjadi geram sendiri, lantaran mendengar nada bicara Krystal yang sudah tidak bisa dianggap bersahabat. Pasalnya selama ini ia tidak pernah di acuhkan begini, terlebih lagi dengan kaum hawa. Justru merekalah yang mengejar ngejar dirinya agar bisa berbicara dengan mereka. Tapi sekarang dia di acuhkan oleh seorang gadis?!
Merasa harga dirinya jatuh begitu dalam, laki – laki tersebut kembali ke mode garang, tidak ada lagi senyum yang terpantri di wajah tampannya. Namun tidak mengurangi kadar ketampanannya. Dia mulai melangkah satu langkah ke depan menuju Krystal berdiri, sebelum berucap.
“One! Gue perlu tau siapa lo!”
“Two! Gue nggak suka diacuhkan!” lanjut laki – laki tersebut kembali melangkah satu langkah kearah Krystal. Sedangkan Krystal yang melihat pergerakan di depannya hanya memasang wajah dinginnya untuk menutupi keterkejutannya. Dia tidak mengira jika laki – laki bodoh yang sedari tadi di sampingnya bisa mengeluarkan aura tajam seperti sekarang, dirinya benar – benar terjebak. Sial.
“Three! Gue akan bikin lo jatuh hati sama gue!” tambah laki – laki tampan itu dengan maju satu langkah. Lagi. Hingga tidak ada jarak lagi diantara mereka berdua.
Dan kata – kata terakhir yang diucapkan laki – laki yang kini tepat berdiri di hadapannya sukses membuat Krystal membulatkan matanya bahkan pertahanan yang ia tunjukan hancur sudah berkat laki – laki itu. Karena sekarang ia tepat berada di depan pemuda tampan nanmenyebalkan itu dengan jarak kurang dari tiga puluh sentimeter.
“Kenapa? Lo takut hem?” tambahnya dengan menundukan wajahnya supaya bisa bertemu pandang dengan wajah Krystal.
Krystal yang merasakan hembusan nafas di sekeliling wajahnya menelan ludah dengan susah payah, ia tidak menyangka akan terjadi adegan seperti ini. Bahkan ia sudah tak bisa berkata apa – apa lagi saking dekatnya wajah mereka. mulai detik ini ia akan melabeli laki – laki di hadapannya ini sebagai makhluk paling bahaya yang harus ia hindari.
“Lo nggak akan lepas dari gue mulai sekarang” kata laki – laki tampan itu lagi dengan tangan kirinya mengarah ke dada Krystal.
Sedangkan Krystal hanya bisa diam membeku melihat tingkah laki – laki di depannya yang semakin semena – mena terhadapnya. Mendadak lidahnya kelu saat ingin balik membalas perkataan pemuda tampan itu. Sial (2).

Bình Luận Sách (72)

  • avatar
    YulianaSanti

    bagus ceritanya

    04/06/2025

      0
  • avatar
    B.SAlbi

    novel nya keren pokonya wajib. baca📍📍📍

    29/05/2025

      0
  • avatar
    NadinKristina

    ceritanya baguss kakk, pembawaannya juga seru

    18/04/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất