Aku pikir di sekolah ini adalah tempat yang paling menyiksa bagaikan neraka. Bagaimana tidak, ada seorang siswi yang dirundung dan tidak ada satu orang pun yang melerai aksi kejam itu. "Hentikan!" kuberteriak menghentikan aktivitas aneh itu. Namun, para perundung malah menanyakan tentang jumlah harta keluarga. Sekarang aku merasa melihat kelemahan dari mereka. Harta, harta seakan di atas segala-galanya. Tapi, bukankah ini adalah sekolah elit dimana para anak-anak orang kaya bersekolah? "Apa kamu mengenalnya dan ingin dia membantumu?" Para perundung menanyakan hal tak penting itu pada Tami. Dengan bodohnya dia menggeleng. Mereka berbalik arah akan memukulku ketika aku berkata tidak takut pada mereka. Sekeras apa pun usaha mereka, aku tidak pernah begitu cepat dikalahkan. Terbukti, dengan salah satu mereka yang sekarang berada di rumah sakit. "Kepala sekolah memanggilmu," ucap seorang murid padaku. Aku tahu akan dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Karena, kejadian tadi. Bahkan, aku yakin akan dituduh melakukan aksi kekerasan di sekolah. "Aku tidak melakukannya." Bela diri adalah hal yang paling utama di sini. Bahkan sebelum kepala sekolah bertanya padaku. Ia menghela napas berat. Dan berkata, "Saya bahkan belum mengatakan apa pun," "Tapi memang bukan aku pelakunya. Saya punya saksi," ungkapku pada Kepala sekolah. Aku berkata bahwa ada seorang siswi yang selalu dirundung di sekolah ini. Namun, ia tidak mempercayaiku. Meskipun caraku sadis membawa Tami ke ruangan kepala sekolah. "Jangan mengganggunya lagi. Dia sudah cukup dirundung oleh Wina dan Rika. Apa itu tidak cukup?" Seorang pria mencoba menghalangi langkahku untuk mengungkap kebenaran. Aku yang sudah sangat emosi, mendorongnya dan tetap terus menggenggam lengan Tami. "Katakanlah kamu adalah saksi," Rasa percaya diri begitu besar, karena aku yakin dia akan mengatakan yang sebenarnya. Aku juga sangat yakin bahwa dia akan mengucapkan terima kasih karena aku telah menolongnya.Namun, semua khayalan itu buyar ketika dia melontarkan kata-kata, "Saksi?" Dia berkata seakan tidak ada siapapun yang melukainya, "Ayolah! Jangan menutup mata atas apa yang terjadi pada dirimu." Aku mencoba untuk membuat emosinya terbangun. Bahkan seekor semut pun akan menggigit jika ada yang menyakitinya bukan? Akhirnya, hanya kekecewaan yang terdengar darinya, "Aku tidak pernah dirundung oleh siapa pun. Jangan memaksa aku untuk berbohong lagi." Kepala sekolah dengan mudahnya mempercayai itu. Ia juga bilang akan menghukumku. Aku tidak bisa menerima begitu saja hukuman ketika aku bukanlah seorang pelaku kekerasan itu sangat tidak adil. "Aku tidak mau menerima hukuman karena aku bukanlah pelaku kekerasan," "Tapi ada orang yang mengatakan bahwa kamu adalah pelakunya," jelasnya tambah membuatku jengkel. "Aku tidak bisa menerima itu, ketika bapak hanya bisa mempercayai satu orang. Sementara saya juga murid di sini." Sepertinya dia cukup kesal dengan ocehanku. Karena aku memang bukan pelakunya. Lagi pula, aku adalah orang yang membantu orang lain dari kekerasan bukan sebaiknya. "Pergilah ke ruangan guru!" kepala sekolah mengusirku keluar dari ruangannya. Dan meminta guru untuk memeriksa di kelas mana aku akan masuki. Namun, aku sangat berharap memasuki kelas yang sama dengan para perundung. Aku ingin membuat mereka merasa jera. Guru membawamu ke suatu kelas. Kelas dengan ruangan yang sangat luas. "Nah anak-anak, kita kedatangan murid baru. Ayo perkenalkan diri!" Ibu Romlah menyuruku untuk memperkenalkan diri. Namun, kelas sangat bising. Dan juga, ada satu murid pria yang keluar dari kelas. Entah apa alasannya. Buk Romlah memanggilnya, tetapi, dia tetap tidak mau berbalik. "Beradaptasilah dengan baik!" Buk Romlah meninggalkanku di kelas Diamon. Aku terus berbicara untuk memperkenalkan diri meskipun tidak ada yang mau mendengarkan. Setelah perkenalan selesai, aku memilih tempat duduk yang kosong. Namun, siswi itu menolak keberadaanku, "Ini sudah ada yang menempati." Tiba-tiba, seseorang mencolek pelan lenganku. Ia memberikan tempat untukku di sampingnya. Meskipun, dia adalah seorang pria. Tapi, tidak masalah. Ia juga menjabat lenganku untuk memperkenalkan dirinya, "Rahmat." begitu katanya. Saat itu, dia menjadi sahabatku. Kami menjadi dekat. "Kenapa kamu menempati tempatku?" Pria itu melirik ke arahku. Aku yang tidak tahu apa-apa, hanya mampu menjawab, "Aku pikir kursi ini kosong." Rahmat menyuruhnya untuk duduk di tempat perundung yang bernama Wina. Namun, dia menyuruhku untuk pindah ke samping Wina. Saat itu, terjadi percekcokan di antara kami. Kami saling menolak satu sama lain. Namun, siswi yang menolakku malah menawarkan pria yang kehilangan tempat duduknya untuk duduk di sampingnya. Pria itu malah pergi lagi dari kelas. "Kenapa malah bilang tempat duduk ini kosong?" tanyaku padanya. Ia hanya tertawa dan berkata, "Aku tidak bisa melihat seorang wanita kesulitan, biarkanlah tidak usah terlalu Khawatir terhadapnya," Rahmat mengajakku untuk berkeliling melihat ruangan-ruangan di sekolah elit ini. Tapi, di tengah kami sedang berkeliling, aku ingin pergi ke toilet. "Tidak adakah yang ingin kamu katakan padaku?" Tami terlihat keluar dari kamar mandi juga. "Kamu berharap aku akan mengatakan terima kasih?" ucapannya sungguh membuatku heran. Mengapa ada orang sepertinya. Rahmat menjawab semua kebingunganku, "Dia bernama Tami. Ia tidak memiliki teman. Jika ada orang yang berteman dengannya, kemungkinan besar, temannya juga akan menjadi bahan rundungan Wina dan Rika," Banyak orang yang membicarakan tentang Tami lagi. Setiap nama Tami di sebut, nama Wina juga akan terseret. Membuatku bingung dan menanyakan itu para siswi lain. "Kenapa juga dia harus menyukai pria yang ternyata adalah kekasih dari wanita yang membencinya, Dasar bodoh!" ledek yang lain. Ada niatan untuk membantu. Namun, mukut sudah terlanjur mengucap, hati sudah terlanjur berjanji bahwa aku tidak akan membantunya lain. Tapi, apa yang Wina dan pasangannya lakukan adalah hal yang paling gila yang pernah aku dengar di sekolah elit ini. Kegilaan apalagi yang nanti akan aku dengar. Bisa-bisanya mereka berciuman di depan seluruh murid lain. Orang yang tadi berpura-pura menolong Tami adalah kekasih dari Wina. Bahkan, tidak ada satu pun murid yang mengadukannya pada guru. Perilaku mereka bukanlah hal yang patut ditiru. Aku jijik ketika mendengar kabar itu. Namun, juga kasihan pada Tami. "Kepala sekolah memanggilmu," kata murid lain. Aku pun, lekas pergi ke ruangannya. Aku tidak mau mengambil hukuman yang menang bukan aku pelaku sebenarnya. Tapi, dia menyuruh aku untuk segera melakukan itu. "Kalau tidak percaya periksa saja CCTV," Dengan yakin, aku mengucapkannya. Tapi, dia lebih percaya diri lagi dengan mengatakan bahwa sekolah elit itu tidak memilik CCTV untuk menjaga privacy para murid. "Kalau begitu, aku akan membawa kasus inu ke menteri pendidikan. Bagaimana bisa sekolah ini tidak memiliki CCTV," Raut wajahnya menunjukkan kekesalan. Ia mengusirku lagi dari ruangannya. Untuk apa memanggilku terus jika akhirnya dia akan tetap kalah dengan perdebatan yang aku menangkan. Diluar ruangan kepala sekolah, aku bertemu dengan Rahmat. Ia berkata bahwa dia mencarimu dan dia bertanya mengapa aku bisa berakhir di ruangan kepala sekolah. "Selamat!" ucapnya saat aku menjelaskan situasi yang terjadi. "Selamat? untuk apa?" tanyaku. Rahmat mulai menjelaskan tentang kepala sekolah yang dinilainya kurang adil pada murid. Bahkan ada murid yang diberikan hak istimewa. Ia mengatakan terlalu kencang, sehingga aku memberitahukannya untuk tidak terlalu keras. Namun, dia masih tidak memahami kode yang aku berikan. "Siapa di sana?" Hingga kepala sekolah bersuara dari ruangannya, Rahmat dan aku langsung bergegas pergi. Aku pikir aku tidak akan lagi berurusan dengan kepala sekolah itu. Namun, dia memanggilku lagi untuk yang ke tiga kalinya membuatnya jengkel. Yang lebih parahnya lagi, dia memanggil Mamah. Aku mengupingnya saat akan memasuki ruangan kepala sekolah. "Khaira, minta maaf!" suruh Mamah. Mamah juga tidak mempercayaiku ketika aku dihadapkan oleh orang tua Rika. Rahmat yang mendengar itu dari luar juga memohon pada Mamah untuk mempercayai aku. Tapi, kepala sekolah mengusirnya dan berkata bahwa dia tidak memiliki urusan di ruangan kepala sekolah. "Khaira, jika memang kesalahan kamu, minta maaf, Mamah mohon." Aku akan melakukannya, apa yang Mamah katakan. Tapi, aku memang bukanlah pelakunya. Sampai, suara rekaman itu menggema di seluruh sekolah. Rekaman yang berisi percakapan Wina dan Anto kekasihnya itu beredar. Tidak tahu siapa yang memutar itu, rasanya aku akan mengucapkan terima kasih. Hariku sangat beruntung dan bahagia berkat sosok itu. "Dengar itu kan?" sungutku pada kepala sekolah dan ibunya Rika. Mamah yang merasa bahwa sikapku kurang pantas bagi seorang murid, mengejarku dan menanyakan. Mamah belum saja melihat tingkah laku para murid yang lebih dari aku lakukan sekarang. Aku melakukan itu karena memiliki alasan yang jelas. Aku sudah lelah terus menjadi tertuduh. Di sudut lain, aku sedang memerhatikan Mamah yang dihampiri oleh ibunya Rika. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi, tatapan dan tawa mereka menjabarkan kedekatan. "Aku harus segera menanyakan Mamah," lirihku. Yang saat itu kebetulan Rahmat juga menanyakan bagaimana perasaanku. "Aku cukup lega. Namun, juga cukup benci," ucapku. "Aku sudah pergi ke ruang penyiaran. Di sana keadaan cukup ramai. Wina dan Kak Dina bertengkar," jelas Rahmat menjelaskannya padaku. "Jadi yang membantuku Kak Dina? Siapa dia?" "Bukan, Khaira, bahkan Kak Dina tidak mengetahui apa pun." Rahmat dan aku berusaha untuk dapat memasuki ruangan penyiaran di tengah padatnya kerumunan. Pada saat itu, Kak Dina tidak ingin ditanya oleh banyak orang. Namun, Rahmat menyakinkan Kak Dina bahwa aku adalah korban yang dituduh melakukan kekerasan. Kak Dina pun, mau menjelaskan siapa orang yang membantuku. Kami pun, bercengkerama di kantin sekolah. "Pria misterius?" tanyaku. Aku berharap dapat menemuinya untuk mengucapkan terima kasih. Namun, sepertinya tidak mudah menemukannya. Apalagi, di sekolah elit ini, tidak terpasang CCTV. "Ciri-cirinya?" tanyaku pada Kak Dina. Kak Dina bilang bahwa dia memakai pakaian serba hitam. Dia juga terlihat memberatkan suaranya. "Belum pastikan jika itu adalah murid di sekolah ini," ujar Rahmat padaku. Jika dipikirkan lagi, ucapannya ada benarnya juga. Hanya Flashdisk satu-satunya barang bukti. Tapi, kata Kak Dina itu adalah Flashdisk kosong. Sekarang, harapan untuk bertemu dengan sosok yang menyelamatkan hidupku itu benar-benar hilang. "Apa Mamah mengenal ibu dari anak perundung itu?" Aku langsung menanyakannya pada Mamah sepulang sekolah. Namun, mamah masih tidak mengerti siapa yang aku maksud. Mamah malah mengkhawatirkan kondisiku. Dia meraba untuk memeriksa tubuhku. "Tadi aku liat Mamah begitu asyik mengobrol dengannya tuh," celetukku berusaha mengingatnya. Akhirnya dia mengingat itu dan menceritakan mengapa mereka saling mengenal. "Nenek mengasuhnya." Jujur saja, aku masih tidak percaya ketika Mamah menceritakan hal itu. Karena, baik Mamah maupun Nenek, belum pernah menceritakan hal itu kepadaku sebelumnya. Aku pun, mengulik lebih dalam lagi terkait tentang hal yang baru saja masuk ke telinga. "Kenapa Nenek mau mengasuh anak orang lain?" tanyaku pada Mamah. Mamah pun dengan sabar menjelaskannya. "Lalu, kenapa Khaira bisa dituduh melakukan kekerasan?" Kali ini, Mamah bertanya padaku. "Di sekolah elit yang sangat bagus itu, terdapat sosok yang sering dirundung," ungkapku. Aku menjelaskan juga pada Mamah setiap detailnya. Namun, Mamah seperti tidak mempercayai perkataanku. Mamah juga bertanya siapa yang menolongku. Ketika aku bilang aku tidak tahu siapa sosok misterius itu, Mamah membuat lelucon dengan berkata bahwa itu adalah penggemar rahasiaku. Jujur, aku memerhatikan Rahmat yang peduli padaku. Aku merasa dia mungkin orang yang selama ini telah menolongku. Tapi itu terasa tidak mungkin, mengingat dia yang selalu berada di dekatku. Dengan adanya kejadian tak mengenakan dalam hidupku, aku tidak berniat untuk pindah ke sekolah lain. Ataupun, menghindari Wina dan Rika. Aku justru semakin ingin tinggal di kelas yang sama dengan mereka. Aku ingin melihat perilaku mereka yang lebih parah lainnya. Juga ingin membuat mereka jera. Aku sangat yakin, ini bukan apa-apa. Suatu hari ini, pasti akan ada kejutan yang akan menanti. "Khaira! Ayo sayang!" Mamah memanggilku dari bawah kamar. Aku bergegas menuruni anak tangga. Kami akan berangkat bersama. Mamah akan ke kantor dan aku akan berangkat ke sekolah. Sungguh, sekolah elit A Christal School itu. untuk dapat masuk ke dalamnya saja harus menggunakan lift dan kartu pengenal. Terkadang, aku berpikir bahwa orang yang menolongku itu adalah murid di sekolah ini karena sekolah elit ini tidak membiarkan orang lain sembarangan masuk. Menurutku, masuk akal apa yang aku pikirkan. Namun, Rahmat selalu menepis gambaranku tentang sosok itu. Rahmat berkata mungkin orang yang menolongku itu adalah orang yang mencuri sementara kartu akses. "Pencuri? Apakah penjaga keamanan akan membiarkan pencuri masuk?" tanyaku pada Rahmat. Rahmat mengingatkan aku bahwa keamanan di sekolah ini tidaklah lengkap. Terbukti dengan tidak adanya CCTV. Tidak terpikir sebelumnya olehku bahwa keamanan di sekolah ini tidak lengkap. Membuatku semakin bingung memikirkannya.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
top
24/02
0sangat bagus
17/05/2025
0Oke baik
30/04/2025
0Xem tất cả