Khaira menunggu Ari di belakang pabrik minuman. Ari mengedarkan pandangan, Matanya menangkap Khaira yang tengah menunggunya. "Ayah!" Khaira memeluk Ari. Sudah lama, setelah perpisahan orang tuanya dia tidak melihat Ari lagi. Rasa rindu sudah memuncak di keduanya. Mereka duduk di tempat makan favorit Khaira dulu. Ari mulai menanyakan Khaira sesuatu perihal Vina, "Apa Mamah terlihat punya kekasih lagi?" "Tidak tahu," singkat Khaira sambil mengangkat bahu. Ari menggenggam erat lengan Khaira. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Khaira, "Apa yang di dapat oleh Mamahmu, itu bukan nafkah yang halal. Ia itu," "Khaira!" panggil Vina dari kejauhan. Khaira merasa heran melihat Vina yang tahu lokasinya dan ayahnya. Vina lekas menarik lengan Khaira. Dia berkata kepada mantan suaminya, "Jangan mendekati anakku! Jika kamu hanya akan menghancurkan pikirannya." Beberapa orang memandang ke arah mereka. Namun, Vina tak peduli. Ia lebih khawatir jika Ari akan memberikan Khaira pandangan buruk tentangnya. "Bolehkan aku mengharapkan kalian tetap bersama?" lirih Khaira yang menunggu di dalam mobil Vina, sementara Ari dan Vina mengobrol di luar. "Lupakan soal rujuk! Aku tidak menginginkannya, dan jangan muncul lagi di depan wajah Khaira!" Vina memperingatinya pada Ari dengan menunjuk ke wajah ayah satu anak. "Kenapa? Kamu takut jika aku akan memberitahu Khaira bahwa ibunya adalah seorang penggoda dan pengganggu hubungan orang lain?" tatapan Ari penuh keyakinan. Ia begitu yakin jika janda satu anak itu memiliki kekasih yang telah memiliki keluarga. "Berkatalah jika memang memiliki bukti." Ari merasa tertantang dengan ucapan Vina. Mobil mewah milik Vina itu melaju cepat di hadapan Ari. Ari mengingat setiap kejadian yang pernah terjadi di hidupnya bersama Vina dan juga Khaira. Namun, sekarang Vina malah semakin menjauhkannya dengan anak semata wayangnya. "Aku ingin kita berpisah," tekad Vina pada tiga tahun yang lalu. Ari yang merasa tertekan karena pekerjaan, tidak begitu memedulikan ucapan istrinya. Ia malah menyuruh Vina untuk menghentikan leluconnya. "Ini bukan lelucon. Aku tidak ingin terus hidup dalam kemiskinan." Vina mengemas pakaiannya dan Khaira. Ari yang saat itu merasa kesal, membanting tas jinjing yang Vina siapkan. "Aku janji akan mengubah hidup kita. Kamu hanya perlu bersabar," pinta Ari dengan lembut. "Sampai kapan? Khaira sudah beranjak dewasa. Dia pasti merasa malu pada teman-temannya. Harus tinggal di tempat yang layak di sebut sampah ini." "Khaira? Mungkin kamu yang malu. Khaira tidak pernah malu padaku, meskipun aku hanyalah seorang buruh pabrik. Bahkan, tadi malam dia berkata bahwa dia bangga memiliki ayah sepertiku," tutur Ari. Kepingan ingatan itu terus muncul di ingatan Ari. Bahkan, ia terus memimpikan Khaira dan Vina. Suatu hari, Ari melihat Vina sedang menggandeng lengan pria lain. Ari sempat menghampiri keduanya. Ternyata, Ari sangat mengenal baik pria itu. Pria itu adalah pemilik pabrik tempatnya bekerja. "Ternyata hubungan kalian sedekat ini," celetuk Ari. Vina dan pemilik pabrik itu tercengang melihat keberadaan Ari. Vina langsung membawa Ari pergi untuk berbincang sejenak. "Jangan beritahu ini pada Khaira! Jangan buat hatinya terluka," Vina mengancam Ari dengan membawa nama Khaira. Vina sangat paham dengan kelemahan mantan suaminya itu. Ari sangat mencintai Khaira dan tidak akan mungkin akan menghancurkan hatinya begitu saja. Namun, hari ini Ari mengancam Vina. Ia sangat ingin kembali pada wanita yang telah lama mengisi hari-harinya. "Aku akan memberitahu Khaira tentang apa yang pernah aku lihat sebelumnya. Jika ingin posisimu aman, kembalilah padaku." Pesan itu terkirim ke ponsel milik Vina. Tapi, Vina langsung bergegas ke tempat favorit Khaira. "Apa aku harus membakar pabrik ini?" Pikiran buruk terlintas di otak Ari pada saat itu. Namun, dia juga berpikir akan sulit mencari pekerjaan di usianya yang sudah tak muda lagi. Ari pun mengurungkan niatnya itu. "Mamah, mamah kenapa sih kaya gitu tadi?" Khaira masih tidak mengerti dengan sikap Vina kepada pria yang dia sebut ayah itu. "Khaira, banyak orang jahat di luar sana, kamu harus hati-hati ya," Vina bingung bagaimana menjelaskannya pada Khaira yang cerdas dan pemberani itu. "Maksud Mamah Ayah itu orang jahat?" Khaira memajukan bibirnya. Dan melipat kedua tangannya. "Mmmh, enggak gitu sayang maksudnya," "Kenapa tidak meminta bantuan pada Anto?" Rika bertanya pada Wina. "Sudahlah! jangan mengharapkannya. Dia sama sekali tidak bisa dihubungi," geram Wina. "Bagaimana jika pergi saja ke kelasnya?" ide Rika. "Aku tidak ingin menemuinya terlebih dahulu. Bagaimana pun keadaannya, dia harus menemuiku dulu. Bukan sebaliknya," ujar Wina. "Sudah menyiapkan semua bahannya?" tanya Rika. Wina menggeleng. Kali ini, mereka sangat berniat untuk membalas dendam pada Khaira. Khaira berjalan menuju lift sambil memikirkan hal yang baru saja terjadi. Ia terus berpikir mengapa sang ibu melarangnya untuk menemui ayahnya. Apalagi, saat melihat ibunya yang begitu ketakutan. "Begitu banyak hal yang harus aku pikiran akhir-akhir ini," lirih Khaira. "Apa yang tadi akan Ayah katakan yah?" "Rahmat, Pak Gunawan mencarimu," ungkap salah satu murid. Mereka mengecoh perhatian Rahmat dengan menipunya agar tidak bisa melindungi Khaira. "Seorang pria?" Khaira bergegas ketika mendengar kata-kata itu. Ia pikir itu adalah pria misterius yang telah menolongnya. Padahal, itu adalah tipu muslihat Rika dan Wina. Mereka menyuruh seorang siswi mengatakan pada Khaira bahwa ada seorang pria yang sangat ingin menemuinya. Rika dan Wina mengetahui bahwa Khaira sangat ingin bertemu dengan sosok pria itu. "Sepertinya, kita akan berhasil. Target menuju tempat," ujar salah satu murid yang mereka suruh. Mereka mengarahkan Khaira pada ruangan kelas yang sudah lama terbengkalai. Mereka mengaduk adonan cat berwarna-warni. Mereka saling melemparkan tatapan sinis. "Jangan pikir bahwa akan ada yang melindungmu lagi," gumam Wina. "Kena kau!" kata Rika. Pintu ruangan terbuka. Rika dan Wina berhasil menumpahkan cat berisi penuh. Cat itu memenuhi baju seseorang. Mereka tertawa bahagia. "Siapa di sana!" teriakan itu begitu gempar terdengar. "Tunggu, aku seperti mengenal suara ini," ucap Rika. Ternyata itu buka Khaira, melainkan pemilik sekolah. Namanya, Buk Kania. Sementara, Khaira salah memasuki ruangan. Ia memasuki lapangan bola basket yang berada di tempat tertutup. "Aduh, aku bodoh, tidak menanyakan ciri-cirinya," Khaira tampak kebingungan, karena banyak pria di sekitarnya. Khaira merasa dibohongi. Ia pikir ini adalah tempat tertutup. Khaira yang merasa canggung, langsung bergegas pergi dari lapangan basket. Pemilik sekolah sangat marah pada Wina dan Rika. Mereka diseret keluar oleh Buk Kania dengan menarik telinga keduanya. Sontak saja, hal itu dilihat oleh para murid lainnya. "Mereka begitu berani pada guru, bukankah Tami saja sudah cukup?" gunjing para murid. "Ampun Buk, kami tidak bermaksud," kilah Wina. Pak Gunawan yang melihat itu cukup bingung. "Ada apa ini Buk?" tanya kepala sekolah. "Saya akan membersihkan diri terlebih dahulu," katanya. Wina dan Rika masih ditahan di ruangan kepala sekolah. "Saya sedang melihat ruangan kosong. Dan mempertimbangkan untuk mendekor ruangan. Tapi, dua orang ini yang entah dari mana langsung menyiram seluruh tubuhku dengan cat. Mereka harus diberi hukuman!" titah Buk Kania. Namun, mereka memohon ampun pada Buk Kania. "Mengapa aku dibohongi sih?" Rahmat merasa bingung saat dia ke ruangan kepala sekolah yang ternyata tidak memanggilnya. Seperti biasa, Rahnat langsung mencari Khaira lagi. Para murid mengunjingkan perihal perlakuan Wina dan Rika yang tidak sopan pada pemilik sekolah. Khaira yang penasaran, langsung bertanya pada mereka. "Rika dan Wina mereka membuat ulah lagi. Kali ini, korbannya adalah pemilik sekolah," tutur para siswi. "Pemilik sekolah? Mungkin mereka sudah gila," gumam Khaira. Khaira tidak berhenti memikirkan siapa oramg yang menyuruhnya untuk pergi ke ruangan kosong. Namun, ruangan itu penuh dengan para pria. Ia akan menanyakan tentang sosok misterius yang telah menolongnya itu. Para murid yang Wina dan Rika suruh menunjukkan wajah yang bingung, ketika melihat Khaira yang bajunya sama sekali tidak bernoda. "Sudahlah, orang tua kalian akan dipanggil," keputusan dari Buk Kania. Wina dan Rika melirik satu sama lain. Mereka tidak ingin orang tuanya mengetahui hal itu. Namun, keputusan pemilik sekolah tidak dalat diganggu gugat. "Ada apa Bapak memanggil kami?" Mereka telah dihadapkan dengan orang tua masing-masing. Ibu Wina dan Rika datang bersamaan. "Anak ibu, telah memasang perangkap pada pemilik sekolah," terang Pak Gunawan. "Memasang perangkap bagaimana Pak maksudnya?" Acih dan Sukma masih belum mengerti maksud yang kepala sekolah jelaskan. Penjabaran jtu masih kurang bagi mereka. "Jadi anak ibu, Wina dan Rika menumpahkan cat ke seluruh tubuh Buk Kania selalu pemilik sekolah," imbuh Pak Gunawan. Sedangkan Buk Kania sudah dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. "Dasar Khaira berengsek! Bagaimana bisa ini terjadi!" batin Wina. Hatinya bergejolak merasakan kesal. Balas dendam yang harusnya sangat menyenangkan berubah menjadi petaka. Kejadian yang sebenarnya terjadi adalah ketika Khaira meyakini bahwa ruangan yang ditunjukan oleh orang suruhan Wina dan Rika sudah benar. Namun, karena Buk Kania akan memasuki ruangan itu juga, Khaira merasa bahwa itu adalah ruangan yang salah. Sehingga, Khaira berlari ke lapangan basket. Khaira juga merasa bingung oleh petunjuk yang diberikan. "Apa permintaan maaf tidak cukup?" bujuk Acih. Ia tidak ingin anaknya diskor atau mendapatakan hukuman dari sekolah. "Berikan kami alamat rumah Buk Kania!" pinta Buk Sukma. Ia berniat akan memberikan Buk Kania bingkisan sebagai permintaan maaf. Meskipun itu tidak cukup. "Mohon maaf, tidak bisa, Buk, pemilik sekolah ingin anak-anak ibu libur dari sekolah selama tiga hari," ungkap Pak Gunawan. Tidak peduli seberapa mereka memohon pada kepala sekolah, kepala sekolah tidak menerima permohonan para wali murid. Dilihat dari sikap pemilik sekolah yang keras dan tidak bisa disogok, Wina dan Rika terpaksa harus mengikuti peraturan sekolah. "Kenapa tidak bisa?" "Mohon maaf ibu, sekali lagi," ujar kepala sekolah. Wina, Rika, Buk Acih dan Buk Sukma pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah. Mereka kurang puas dengan keputusan kepala sekolah. "Kenapa melakukan hal itu?" tanya Buk Sukma.Namun, Wina malah marah dan tidak mau mengatakan apa pun. Dia tambah kesal dengan melihat Khaira yang tepat dihadapannya. Wina menatapnya dengan tatapan tajam. Sedangkan Rika tidak mau menatap siapa pun atau menyalahkan siapa pun. Ia sudah cukup malu dengan hukuman skor yang dia terima. "Bisa ceritakan pada Mamah?" pinta Sukma pada anak perempuannya itu. Rika tampak gugup saat sang ibu menanyainya tentang hal yang dia dan Wina lakukan.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
top
24/02
0sangat bagus
17/05/2025
0Oke baik
30/04/2025
0Xem tất cả