"Bisa letakan kembali topiku dan menyingkir dari pandamganku? Ini sungguh berat," keluh pria itu pada Khaira. "Katakan dulu kamu itu siapa?" Khaira begitu penasaran dengan pria yang ada dihadapannya. Ia bahkan rela menahan malu ketika banyak murid yang melihat ke arahnya. "Aku seorang pengantar paket," ungkap pria itu dengan cepat. Khaira yang merasa bersalah, langsung memakaikan topi itu ke kepala pria yang dia curigai sebagai orang yang telah menolongnya. Khaira juga menggeserkan tubuhnya ke samping. "Maaf, aku pikir kamu seseorang yang aku kenal." Khaira langsung meminta maaf pada pengantar paket itu. Pengantar paket hanya menggeleng melihat tingkah Khaira yang aneh. "Belum pernah ada gadis seberani itu," gumamnya "Kenapa pula kamu begitu penasaran padanya?" Rahmat tak kuasa menahan tawa ketika Khaira mengungkapkan apa yang terjadi padanya. "Bisakah berhenti tertawa. Sudah cukup memalukan bahwa semua murid melihat ke arahku. Jangan tambah aku dengan rasa malu lagi. Aku penasaran karena ingin mengucapkan terima kasih," terang Khaira. "Kenapa harus malu padaku?" tanya Rahmat. "Karena kita sahabat." Seakan ditampar oleh kenyataan, Rahmat hanya bisa tersenyum mendengar bahwa Khaira hanya menganggapnya sahabat. Namun, Rahmat yakin bahwa dia mampu meluluhkan hati Khaira suatu hari nanti. Seperti biasa, Wina dan Rika dekat lagi. Meskipun, Wina menyimpan perasaan buruk pada Rika. "Menurutmu siapa yang mengadukannya?" tanya Rika pada. "Entahlah, aku juga sedang mencarinya." Rupanya, mereka sedang membicarakan seseorang yang menyiarkan suara rekaman itu. "Untuk sekarang, aku tidak begitu memikirkan tentang itu. Aku punya sesuatu yang ingin aku lakukan pada gadis sok pahlawan itu." Wina sudah mempunyai ide untuk mengerjai Khaira. "Nah, tentang dia itu." Rika ingin menjelaskan pada Wina tentang ibunya dan ibu Khaira yang sudah lama saling mengenal. Rika yang tidak pandai untuk menjelaskan sesuatu, begitu terbata ketika mencoba untuk mengatakannya pada Wina. "Apa? Apa yang kamu tahu tentang dia?" Wina mengguncang tubuh Rika. Ia pikir, Rika akan mengatakan hal yang dapat membuat Khaira lebih buruk. Atau, memalukan. Rika menjawab dengan ragu-ragu, "Ibu kami saling mengenal." "Hanya itu? Aku pikir sesuatu yang sangat mengejutkan." Wina melepas lengannya dari bahu Rika. "Hey, mengapa lenganmu menjadi bergetar?" Wina belum pernah melihat Rika yang begitu ketakutan sebelumnya. Karena, Rika yang dia kenal tidak akan takut pada apa pun. Bahkan, guru sekali pun, tidak pernah Rika hormati. "Aku aku, takut jika dia akan memberitahu Mamah," Rika sangat Khawatir jika Khaira yang pemberani itu akan mengadukannya pada sang ibu. "Berhenti jadi pengecut! Bahkan Tami si culun itu tidak mampu memberitahukan hal buruk yang kita lakukan pada orang tuanya. Kita hanya perlu sedikit mengancamnya." Wina meyakinkan Rika, bahwa Khaira juga akan takut pada mereka. "Jadi apa rencanamu?" Rika akhirnya menyetujui untuk mengancam Khaira. Wina menjelaskan rencana busuknya untuk Khaira pada Rika. Rika perlahan tersenyum mendengar bisikan dari Wina. "Kalo jalan lihat-lihat!" Bentak Khaira pada Agus. Agus meminta maaf setelah Khaira berteriak padanya. "Ini." Agus menyerahkan buku tulis pelajaran sejarah pada Wina dan Rika. Agus bekerja sama dengan Wina juga Rika untuk membuat Khaira dihukum oleh Pak Junaedi, guru sejarah paling galak yang ada di sekolah A Christal School. "Good job." Wina dan Rika bertepuk tangan. Mereka tidak sabar menanti hal yang bagi mereka adalah keseruan. "Oke anak-anak, buka buka sejarah kalian. Bagi yang tidak membawa buku, akan mendapatkan hukuman pukul hari ini." Pak Junaedi memegang tongkat kayu kecil ditangannya. Ia menyuruh Irfan, sang ketua kelas untuk memeriksa setiap meja. Wajah Wina dan Rika menunjukkan kepanikan. Mereka merasa bingung menghadapi situasi. Buku sejarah yang telah mereka bawa dari rumah bisa menghilang. Sementara, Khaira begitu tenang seperti tidak ada apa-apa. "Kamu mencuri bukuku kan?" Agus juga tidak kalah paniknya. Ia bertanya dengan cukup keras. Sampai seluruh murid dan Pak Junaedi mendengarnya. "Jangan menyalahkan orang lain, Agus! Ke depan!" titah Pak Junaedi. "Pak, Wina dan Rika juga tidak membawa bukunya," ungkap Irfan. Akhirnya, mereka bertiga terkena hukum pukul. "Kenapa si Khaira itu bisa lepas dari hukuman?" batin Wina. Sedangkan Rika, lengannya bergetar lagi. Ia berpikir bahwa Khaira mengetahui rencana mereka. "Rika, ada apa dengan tangan itu?" tanya Pak Junaedi. Rika beralasan bahwa dia masih merasa sakit. Pak Junaedi membiarkan Rika lolos dari hukuman. Beberapa waktu lalu, saat Agus menabrak bahu Khaira. Agus diam-diam mengambil buku sejarah milik Khaira. Di saat itu pula, ada seorang pria yang mengetahui hal itu. Ia merasa harus melakukan hal sebaliknya. Keahlian dalam mengambil barang milik orang lain lebih hebat dari siapa pun. "Good job." Pria itu mendengar Agus, Wina dan Rika berbicara di gudang sekolah. Jadi, dia lebih dulu mengambil buku sejarah milik mereka di dalam kelas. Tidak ada satu orang pun yang curiga, karena suasana kelas yang ramai. Pria itu tahu, Wina membuang buku milik Khaira ke tempat sampah. Ia segera mengambil itu dan menaruhnya di tas Khaira. Sekarang, Wina merasa seperti dipermalukan. Tetapi, dia tidak merasa jera untuk melakukan sesuatu yang lebih buruk dari sekarang kepada Khaira. "Siapa lagi yang melakukan itu?" Wina mendengus kesal pada sosok yang selalu membantu Khaira. "Apakah Rahmat? Aku rasa dia menyukainya," tebak Rika. Namun, Wina menepis itu dengan menjawab, "Tidak mungkin, Rahmat selalu menempel pada Khaira seperti parasit, tidak mungkin itu Rahmat." "Aku juga yakin bahwa bukan dia yang selama ini membatu Khaira. Rahmat ada bersama Khaira saat aku mengambil bukunya," tutur Agus. "Pokoknya, aku membenci orang itu," gerutu Wina. "Entahlah, aku juga membencinya." Rika juga merasa kesal dengan orang yang telah membuatnya buruk. "Aku tidak akan membantu kalian lagi." gumam Agus dengan kesal membanting pintu gudang. "Kamu tidak mau? Kenapa? Wina begitu heran melihat tingkah Rika yang lemah. Rika tidak ingin lagi membuat Khaira celaka. Karena itu akan menjadi senjata makan tuan bagi Wina dan Rika. "Kenapa Pak Junaedi begitu berani pada murid? Bukannya para guru akan dipecat jika melakukan kekerasan pada murid di sekolah elit ini?" Khaira mengerutkan alisnya. Ia tampak bingung dengan ucapan Rahmat sebelumnya. Awalnya, Rahmat bilang bahwa tidak ada satu pun guru yang berani pada murid. "Pak Junaedi itu pengecualian," jawab Rahmat. "Dia itu sepupu pemilik sekolah ini. Awalnya, ada murid yang berani melawannya. Namun, Pak Junaedi langsung menyuruhnya lari selama satu jam di lapangan. Anak itu mengadu pada orang tuanya. Tapi, setelah itu, pemilik sekolah ini datang, tapi dia tidak bisa memecat Pak Junaedi," beber Rahmat. Khaira hanya mengangguk dan berkata, "Aku pikir pemilik sekolah dan kepala sekolah itu orang yang sama." "Nek, bisa ceritakan tidak bagaimana dulu Nenek bisa mengasuh anak orang lain?" Khaira bertanya langsung pada Neneknya, ketika dia telah pulang dari sekolah. "Bukannya, Mamahmu sudah cerita?" jawab Nenek Khaira. "Tapi kurang lengkap." "Baiklah, akan Nenek ceritakan lagi." Nenek Khaira mengingat masa lalu. Di usianya yang senja, dia belum pikun untuk mengingat hal yang lampau. "Suatu hari, ada seorang tetangga yang menitipkan anaknya pada Nenek. Anak itu begitu cantik, dengan bulu mata yang lentik. Orang tuanya berkata akan mengambilnya lagi dalam dua hari. Namun, setelah sepuluh tahun, orang tuanya baru mengambil anaknya. Untungnya rumah Nenek belum pindah." Nenek Khaira kembali merajut baju. "Lalu? Apa alasan orang tuanya pergi begitu lama? Kemana mereka pergi?" tanya Khaira. Khaira begitu jenuh dengan cerita yang selalu sama persis dengan apa yang ibunya ceritakan. "Mereka bilang, mereka mendapat pekerjaan ketika menjenguk saudara mereka di luar negeri. Pekerjaan itu tidak bisa ditinggal. Mereka membutuhkan izin untuk dapat kembali ke negeri asal mereka. Nenek pikir, anak itu dibuang oleh orang tuanya. Padahal, Nenek sudah sangat menganggapnya sebagai anak Nenek," beber Nenek Khaira menjelaskan segalanya. "Lalu? Apakah orang tuanya itu memberikan Nenek imbalan karena sudah merawat anaknya?" "Tentu, mereka memberikan Nenek uang yang cukup besar pada masa itu, tapi Nenek menolaknya." Khaira yang begitu polos bertanya lagi, "Kenapa tidak menerimanya Nek?" "Mereka memaksa dan Nenek terpaksa menerima uang itu." Khaira bertepuk tangan ketika mendengar ucapan itu, "Itu baru Nenek Khaira." "Apa kamu merasa bangga?" tanya Neneknya. "Tentu, Nenekku ini, begitu pintar, bisa mengambil keputusan yang bagus," ungkap Khaira sambil tersenyum lebar. "Dasar!" celoteh Neneknya. Khaira terus memikirkan orang yang membantunya. Ia juga berpikir sejenak, "Jika bukan Rahmat, siapa lagi? Rasa penasaran ini mengganggu pikiranku. Haruskan aku mendatangi peramal?" "Nenek? Apakah berdosa jika kita mendatangi peramal?" tanya Khaira yang sangat penasaran dengan sosok pria misterius itu. "Dalam agama kita itu berdosa. Pakailah instingmu! Biasanya perasaan lebih kuat dari ramalan apa pun itu, peramal sehebat apa pun," Saran Nenek Khaira. "Kalau begitu aku harus menaruh rasa curiga pada orang lain. Bukannya itu juga dosa?" "Memang apa sih yang ingin kamu ketahui? Tanyalah pada Nenek mungkin Nenek bisa menjawabnya," celotehnya pada Khaira. Khaira hanya tertawa seperti mengejek dan menjawab, "Nenek tidak akan tahu siapa orangnya." "Orang yang paling wajib dicurigai itu adalah orang terdekat." Khaira melihat kata-kata itu di sosial media. Ia langsung teringat pada Rahmat yang selalu berbuat baik padanya. Rahmat juga begitu gugup ketika Khaira tanya. Khaira mulai mencurigai Rahmat. "Dia tidak menyukaiku kan? Aku harap tidak," lirihnya. Khaira tidak ingin persahabatannya berubah menjadi jalinan kasih. Khaira sadar itu akan sangat merusak persahabatannya kelak. "Apa sih yang aku pikirkan? Itu tidak mungkin kan." batinnya. "Kamu begitu cantik dan berani Khaira. Tapi, kenapa kamu mengganggap hubungan ini hanya hubungan pertemanan?" Rahmat menatap layar ponsel dengan fotonya dan Khaira. "Rika, tunggu!" Wina mengejar Rika yang begitu cepat meninggalkannya. Ia merasa tambah jengkel pada Rika. Sekarang, sudah tidak ada lagi yang mau menuruti perintahnya. "Dasar pengecut!" gumam Wina. Namun, Wina tidak berhenti di situ saja. Wina terus meracuni pikiran Rika. "Kita jangan mudah goyah! Justru kita harus mencari tahu juga siapa orang yang menolong Khaira dengan caraku ini." Wina mencoba meyakinkan Rika, bahwa ia akan mampu menguak orang yang telah menolong Khaira. Dengan begitu, mereka akan merundung orang yang telah menolong Khaira juga. "Kamu yakin? Kalau ketahuan bagaimana?" tanya Rika. Rika melihat ke segala arah. Ia khawatir jika ada seseorang yang akan menguping lagi, dan mengacaukan rencana Wina dan dirinya. Wina membawa Rika ke gudang untuk membicarakan rencananya. Tanpa mereka sadari, seorang mengikuti langkah mereka dari belakang.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
top
24/02
0sangat bagus
17/05/2025
0Oke baik
30/04/2025
0Xem tất cả