logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 4 Pria Misterius

"Pria misterius?" tanya Rahmat dan Khaira. Dina hanya mengangguk.
"Itu bukan kamu kan?" Khaira menaruh rasa curiga pada Rahmat. Yang ia tahu, hanya Rahmat lah yang peduli padanya. Mereka pun cepat akrab.
"Aaaku? Jelas bukanlah. Aku kan ada diruangan kepala sekolah ketika kamu dipanggil," jawab Rahmat terbata. Beberapa menit yang lalu, Dina bertemu dengan pria yang memakai topi, dan kacamata hitam. Juga sepatu hitam.
"Tolong siarkan ini! Ini akan mengungkap kebenaran." Sosok misterius itu memberikan Dina sebuah flashdisk. Dina mengambil dan mengikuti perkataan pria yang masih menjadi sosok misterius itu.
"Suaranya?" Khaira terus menggali informasi terkait sosok yang menolongnya.
"Aku yakin, dia memberatkan suaranya," tebak Dina.
"Kalo begitu, kita periksa saja isi flashdisk itu," ide Khaira.
"Sudah kuperiksa dan isinya kosong, hanya ada rekaman suara Wina," tutur Dina.
"Setelah itu, flashdisk itu hilang. Padahal, aku menyimpannya di kantongku," Dina menambahkan dan mengingat lagi kejadian aneh itu.
"Apakah di sekolah sebagus ini tidak ada CCTV?" Khaira begitu penasaran apakah perkataan Pak Gunawan benar. Ataukah itu hanya alibinya saja untuk melindungi Wina dan Rika.
"Memang tidak ada. Tapi beredar rumor, banyak yang bilang bahwa sebenarnya, CCTV sekolah itu di bawah kendali Pak Gunawan."
"Di bawah kendali?" Khaira merasa aneh dengan perkataan Rahmat. Rahmat pun, menjelaskannya pada Khaira.
"Dahulu, ada senior yang merokok. Namun, tiba-tiba saja, Pak Gunawan mengendus baju para kakak senior itu, lalu Pak Gunawan menampar mereka semua. Mereka juga menjalani hukuman. Mereka membersihkan toilet pria," ungkap Rahmat.
Wina mengendap memasuki kamar mewahnya. asisten rumah tangga ingin membantunya membawa tas sekolah. Namun, dia memberikan kode untuk tetap diam ditempat.
"Apa benar ini dengan Buk Sukma, Ibu dari Wina?" Pak Gunawan memberitahukan informasi terkait Wina.
"Pantas dia beralibi untuk kelas tambahan. Mau kutaruh dimana wajahku saat bertemu Kak Acih," dengus Sukma, saat mendengar bahwa anaknya lah yang memukul Rika. Ia menelepon salah satu guru dan menanyakan tentang kelas tambahan.
"Ibu, untuk hari tidak ada kelas tambahan. Dan seluruh murid telah pulang."
"Wina! Cari Wina sekarang!" titah Buk Sukma pada para pengawal. Asisten rumah tangga yang telah mengetahui keberadaan Wina langsung memberitahu Sukma.
"Nona Wina telah pulang, Buk," ungkap asisten rumah tangga. Ia juga menunjuk kamar Wina yang berada di lantai atas.
"Bangun! tidak usah pura-pura tidur." Sukma membuka selimut yang begitu sulit terbuka.
"Ada apa?" Wina perlahan membuka selimutnya.
"Apa kesalahanmu?" Sukma memberikan Wina tes. Apakah dia akan berkata jujur atau tidak.
"Baiklah, aku mengaku. Akulah pelakunya. Toh, semua orang sudah tahu." Wina membuka lebar selimut.
"Menjenguk? Tidak mau!" protes Wina saat Sukma menyuruhnya untuk menjenguk Rika. Namun, Sukma menarik lengannya.
"Tidak mau!" Kali ini, Wina berteriak lebih kencang. Dia bahkan sampai memeluk erat sofa yang ada di kamarnya. Buk Sukma mengancam Wina. Jika dia tetap bersikuku untuk tinggal di kamarnya, sang ibu akan menyuruh pengawal pria untuk mengangkatnya keluar. Dan mengancam Wina agar dia tidak usah membawa uang ke sekolah.
"Dasar berengsek!" Wina terus mengingat wajah Khaira yang dia kira bahwa Khairalah yang menyiarkan suaranya.
"Ada yang kamu bilang?" Buk Sukma tidak percaya bahwa Wina mampu mengatakan hal itu padanya.
"Kata-kata itu, Bukan untuk Ibu," jelas Wina. Karena uang adalah segalanya bagi Wina, dia pun mau mengikuti perintah ibunya.
Beberapa bingkisan makanan, dikirim ke ruangan Rika. Bersama dengan Sukma dan juga Wina. sukma menarik lengan Wina yang masih enggan untuk masuk.
"Aku sudah dengar dari kepala sekolah. Kakak maafkan Wina ya." Sukma tidak ingin membuat hubungannya dengan Acih menjadi renggang.
"Aku sudah tidak mempermasalahkan itu. Lagipula, Wina bilang dia tidak sengaja. Rika juga sudah memaafkan Wina. Betul kan sayang?" Mereka melirik ke arah Rika. Rika hanya menggangguk.
Khaira mengetuk pintu kamar Vina. Terdengar Vina yang tengah asik tertawa, membuat Khaira penasaran. Vina membukakan pintunya untuk Khaira dan menyapa, "Ada apa?"
"Mamah mengenal ibu dari anak perundung itu?" Khaira menatap Vina dengan serius.
"Siapa yang dirundung? Kamu? Apa kamu baik-baik saja?"
Vina yang begitu mencintai anaknya, langsung balik bertanya pada Khaira begitu Khaira mengucapkan kata rundung. Ia menyentuh seluruh tubuh Khaira. Khaira yang tidak ingin mendapatkan pertanyaan kembali, langsung menggeleng dan menjawab, "Aku baik-baik saja, sekarang tolong ceritakan tentang ibu dari anak yang suka merundung anak lemah itu."
Vina mengelus dada. Kini dia bernapas lega, karena anaknya bukanlah korban maupun pelaku. Sejenak Vina bingung dengan pertanyaan Khaira yang sangat mendadak,
"Perundung? Siapa yang kamu maksud sayang?" Vina mengerutkan alis. Ia tidak mengerti siapa yang Khaira bicarakan.
"Aku tidak begitu tahu namanya. Tapi, aku melihat Mamah begitu asyik berbicara padanya." Khaira bohong ketika dia berkata bahwa dia tidak mengetahui nama Rika. Khaira hanya sedang mencari tahu, sejauh mana Vina mengenal Acih.
"Kak Acih maksud kamu? Dan anaknya Rika?"
"Dia itu anak yang dulu Nenek kamu rawat." Vina dengan pelan memberikan Khaira penjelasan mengapa mereka bisa saling mengenal. Khaira terpancing oleh kata-kata yang Vina katakan. Dengan sinisnya Khaira bertanya, "Kenapa Nenek mau mengurus anak orang?"
"Berawal dari seorang tetangga yang menitipkan anaknya pada Nenek kamu. Dia berkata hanya menitipkan untuk dua hari saja. Namun, sudah lebih dari waktu yang dijanjikan. Tetangga Nenek pergi untuk waktu yang sangat lama. Tapi, dia akhirnya kembali untuk mengambil anaknya," jelas Vina pada Khaira.
"Berapa lama tepatnya?" Khaira mengharapkan cerita yang lebih banyak lagi dari ibunya.
"Kira-kira sepuluh tahun kemudian," terang Vina pada Khaira.
"Sekarang Mamah gantian nanya sama kamu," Vina begitu penasaran mengapa anaknya bisa dituduh melakukan perundungan.
"Cerita Mamah saja belum Mamah ceritakan semua. Gimana aku mau jawab." Khaira melipat kedua tangan. Ia protes pada Vina. Karena, menurutnya ibunya yang terlihat awet muda itu belum menyelesaikan seluruh cerita.
"Apalagi sih yang anak Mamah ingin tahu?" Vina mengalah, dia membiarkan Khaira untuk memberikan dia pertanyaan yang Khaira ingin ketahui.
"Di usia berapa tahun dia dititipkan? Kenapa orang tuanya baru kembali lagi setelah sepuluh tahun?"
"Kalo tidak salah, saat dia berusia dua belas tahun. Dan Mamah lima tahun. Jika soal orang tuanya, Mamah tidak tahu pasti. Karena Mamah berpikir bahwasanya anak kecil tidak harus selalu tahu urusan orang dewasa." Seperti menyindir Khaira yang selalu ingin mengetahui segalanya, Khaira menjawab, "Tidak seperti aku yang selalu ingin tahu, begitu kan maksud Mamah?"
"Mamah tidak sedang membicarakan kamu, kita akan sedang membicarakan orang lain," Vina menebak bahwa Khaira mengerti maksud dari ucapannya. Dan itu benar.
"Mamah sudah pernah bertemu Rika?" Khaira tidak pernah lelah untuk bertanya.
"Baru saja, tadi saat kamu sedang sekolah, Mamah menemuinya. Tapi, dia terlihat seperti gadis baik." Khaira yang mendengar itu mengeluarkan suara tawanya. Ia meledek sang ibu dengan ucapannya, "Baik? Mamah mengarang kan?"
Beberapa jam yang lalu, Acih mempertemukan Vina dan Rika.
"Rika, ini adalah orang tua dari Khaira. Orang yang kamu bilang dia memukulmu," ujar Acih.
"Keadaanmu bagaimana? Apa baik-baik saja? Apa yang sakit?" Rika menyunggingkan senyum palsu pada Vina. Ia menjawab pertanyaan Vina, "Aku sudah merasa baik."
"Khaira,"
"Mamah, apa yang Mamah lihat itu bukan sikap aslinya. Dia itu seorang pengganggu." Khaira membuka tabiat Rika yang sebenarnya.
"Lalu siapa anak yang Rika rundung?"
"Percuma aku ceritakan. Mamah tidak mengenalnya." Khaira berdiri dari kursi. Namun, Vina memegang lengannya. Dan meminta Khaira menceritakan sesuatu,
"Sekarang giliran Mamah yang bertanya. Kenapa kamu bisa dituduh melakukan perundungan?"
Khaira kembali duduk untuk menjelaskan sesuatu, "Khaira sedang ingin melihat fasilitas kolam berenang. Namun, tiba-tiba Khaira melihat perundungan. Tidak ada yang membelanya. Jadi Khaira memberanikan diri untuk melerai hal buruk itu."
"Mereka masih tidak ingin menghentikan tingkat konyol itu. Kemudian, salah satu dari mereka ingin memukul Khaira dengan Kayu. Khaira menahan lengannya. Dan Rika maju, ketika Khaira melepaskan lengan siswi yang Khaira tahan itu," sambung Khaira, sambil mengingat kejadian yang sangat gila dalam hidupnya.
"Pantas saja," lirih Vina. Ia tidak mendapat jawaban dari Rika, ketika Vina bertanya pada Rika tentang lukanya.
"Kamu yakin dia perundung?" Vina sebenarnya mempercayai Khaira. Namun dia tengah bingung. Bagaimana caranya memberitahu Acih bahwa anaknya adalah seorang pengganggu. Khaira amat marah, ketika Vina menanyainya begitu, "Kalau tidak percaya, tidak usah percaya."
"Mengapa sih begitu terpancing cepat dengan rasa kesal? Maksud Mamah bukan seperti itu." Khaira hanya berbalik dan berkata akan mengerjakan tugas.
"Khaira? Siapa orang yang menolong kamu itu? Yang menyebarkan semuanya di siaran?" Vina juga tampak penasaran dengan orang yang telah menolong anaknya itu.
"Entahlah, katanya pria misterius,"
"Mungkin kamu punya penggemar rahasia," tebak Vina. Namun, Khaira menepis itu dengan menjawab, "Tidak mungkin."
Rahmat menceritakan tentang Khaira kepada burung merak di belakang rumahnya, "Dia sangat pemberani dan aku sangat menyukainya."
Sang merak yang seakan mengerti ucapan Rahmat, mematuk kaca. Merak dengan ekor yang indah itu sesekali terbang. Namun, tidak bisa jauh.
"Akan sangat aneh jika aku langsung mengatakan perasaanku, aku harus menunggunya. Minimal enam bulan." Rahmat berpikir akan sangat aneh jika dia mengatakan cinta pada wanita yang baru ia temui.
Khaira terus memikirkan tentang pria misterius yang menolongnya. Ia memusatkan pikirannya pada pria itu. "Bisa saja dia tidak menyukaiku. Mungkin dia lelah melihat tingkah gila para gadis-gadis nakal itu. Bisa-bisanya aku berpikir dia menyukaiku."
Deretan mobil mewah memasuki sekolah A Christal School. Para orang tua murid mengantarkan anak-anaknya dengan mobil mewah.
"Jadilah gadis yang baik," pinta Vina. Ia khawatir jika Khaira akan ikut merundung murid lagi seperti Rika yang dia kenal. Awalnya, Vina ingin agar Rika dan Khaira menjadi teman dekat.
"Itu tidak akan terjadi, aku janji." Khaira berjanji pada Vina bahwa dia akan menjadi gadis yang baik dan tidak mengecewakan Vina. Tak lupa, Khaira mencium lengan ibunya.
"Khaira!" panggil Rahmat. Ia menunggu Khaira di tangga. Khaira melambaikan lengannya pada Rahmat. Mereka menaiki lift. Rahmat fokus mengajak Khaira mengobrol. Sampai dia tak sadar bahwa Khaira telah pergi setelah mereka keluar dari lift.
"Bisa membantu Ibu membawa berkas-berkas ini?" Ibu Ana meminta para murid membantunya. Namun, mereka malah bersikap ketus dan dingin. Khaira yang melihat itu, langsung membantunya.
"Biar Khaira bantu, Buk," ucap Khaira menawarkan bantuan.
"Oh, kamu murid baru ya?" tanya Buk Ana. Buk Ana menyukai kesan pertama yang Khaira berikan. Biasanya, kebanyakan para murid A Christal School itu bersikap cuek dan sinis pada guru. Karena mereka berpikir, orang tua mereka sudah sangat memberikan uang pada pihak sekolah. Jadi, mereka bisa seenaknya.
"Iya, Buk, saya murid baru di sekolah ini." Wina yang melihat penampakan tidak enak dari Khaira, langsung menghalangi kakinya. Agar, Khaira terjatuh bersama berkas-berkas berat yang dia bawa.
Adam yang baru keluar dari kelas, menaruh tangannya di pinggang Khaira. Adam menahannya agar tidak terjatuh. Namun, beberapa berkas berhamburan ditiup angin. Adam juga membantu Khaira mengambil berkas-berkas itu.
"Terima kasih," ujar Khaira yang terbata.Ia tidak menyangka bahwa Adam akan membantunya. Padahal, Adam terlihat tidak menyukai dirinya. Rahmat juga turut membantu Khaira.
"Menyebalkan," gumam Wina saat dia tidak berhasil mencelakai Khaira.
"Jangan melamun!" Rahmat mengantar Khaira ke ruangan Buk Ana.
"Aku tidak melamun, seseorang dengan sengaja melakukannya," jawab Khaira.
"Wina?" Rahmat mencoba menebaknya.
"Kamu pikir ada orang lain lagi yang membenciku?" Khaira menyunggingkan senyum sinis.
"Haruskah aku memarahinya?"
"Tidak perlu, aku bisa menangani itu." Khaira tetap masih ingin bertahan di sekolah A Christal School. Bukan karena sekolahnya elit. Itu hanga alasan Khaira yang dahulu. Namun, alasannya yang sekarang adalah ingin membuat para perundung merasa jera.
"Aku makin menyukainya," batin Rahmat.
"Khaira, kabar Mamah gimana?" Pak Gunawan yang kemarin bersikap kejam padanya, tiba-tiba menyapanya dan menanyakan hal itu.
"Sehat, Pak." Khaira memacu langkahnya. Ia merasa sangat marah dengan hanya melihat wajah kepala sekolah A Christal School itu.
"Khaira, jangan terlalu cepat!" pinta Rahmat.
Khaira beralasan, "Kita harus cepat, Buk Ana menunggu. Karena memang, Khaira dan Rahmat begitu tertinggal jauh di belakang Buk Ana.
"Bagaimana cara menyingkirkan dia dari sekolah ini?" batin Wina. Ia memikirkan cara-cara licik, agar Khaira dapat pindah sekolah lagi.
"Rika? Kamu sudah berangsur sembuh? Tapi ini baru satu hari." Para guru menanyakan kondisinya. Sedangkan para murid tidak peduli sama sekali.
Rika menjawab dengan ketus, "Masih sakit atau sudah sembuh itu bukan urusan kalian." Tidak ada satu guru pun yang berani memarahi Rika. Ada kemungkinan mereka akan dipecat jika menegur perkataan Rika yang kurang baik itu. Karena, ini adalah sebuah sekolah elit. Jadi di sekolah A Christal School, banyak ditemukan murid dengan kepribadian yang kurang mencerminkan sikap sesungguhnya murid terhadap guru.
"Kenapa dia sembuh sih? Kenapa tidak mati saja? Kalo begini kan aku selalu menjadi nomor dua," Wina merasa peringkatnya terancam. Dengan kembalinya Rika,
Khaira melihat ciri-ciri dari pria misterius itu. Ia terus mengikutinya. Pria itu membawa banyak dus. Khaira menghentikan langkahnya dengan meluruskan kedua tangannya. Tanpa pikir panjang, Khaira membuka topi pria itu.

Bình Luận Sách (59)

  • avatar
    Ucup Wakacipuy

    top

    24/02

      0
  • avatar
    WatiNur

    sangat bagus

    17/05/2025

      0
  • avatar
    Dony 666

    Oke baik

    30/04/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất