logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 2 Orang baru

Tubuh menggeliat serta tangan bergerak tanpa arah. Megan terbangun dari tidur dengan mulut yang terbuka. Tangannya mencubit kedua pipi terasa cukup sakit. "Astaga, Lukiel kamu bikin aku tambah kangen tau ga? Kamu ngapain masuk masuk ke mimpi aku? Mana senyum kamu candu banget. Cepet balik ya?" Monolog Megan pada dirinya sendiri.
Mata cantik itu melirik jam beker yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Tanpa bertele-tele Megan bergegas ke kamar mandi untuk menjalani ritual dengan alunan musik korea. Tidak heran kenapa banyak orang suka menyanyi di kamar mandi karena suara jelek pun akan sangat indah terdengar bagai seorang penyanyi profesional.
"Megan! Cepetan mandinya, lo bareng same gue." Teriak Orion saudara kedua Megan dari balik pintu kamar.
"Pak Beni kemana? Males ah sama abang."
"Lagi sakit. Jadi lo bareng gue atau mau sama Bang Leo?"
"Sama Bang Rion aja, makin gila gue kalo sama Bang Leo." Sahut Megan masih di dalam kamar mandi, ia memang jarang berangkat bersama terutama dengan saudara sulungnya Leo Castor karena bisa dipastikan bahwa ia masih tertidur pulas di dalam kamarnya.
Setelah selesai mandi dan memakai seragam serta mempoles wajahnya dengan sedikit make up. Megan tidak suka dandanan yang menor, menurutnya itu ciri khas dandanan wanita tua. Jadi, dia hanya memberi sedikit bedak serta lipbalm pada bibir serta tak lupa parfum ke sekujur tubuhnya.
"Bang Leo masih belom bangun?"
"Belom kali, soalnya semalem gue pulang duluan dari dia."
"Semoga kuliah kalian lancar ya Bang? Miris gue liat tingkah kalian berdua."
Orion terkekeh mendengar itu. "Apa bedanya sama tingkah lo yang kaya cacing kepanasan liat cowok-cowok ganteng dikit aja?"
"Mulai lo ya!!!" Balas Megan sedikit emosi. Pasalnya dia sangat tidak suka jika ada yang menyinggung pria koreanya. Itu adalah kesalahan bagi orang yang melakukan hal itu pada seorang penggemar garis keras sepertinya.
"Santai kali, Dek."
Megan mengerucutkan bibirnya dengan tangan menyilang didada. Orian menyukai hal ini karena hobinya memang menjahili adiknya.
Mobil putih melesat menuju gedung sekolah elit di tengah pusat kota. Orion mengantar Megan hingga di depan gerbang setelah itu dia langsung pergi ke kampus karena ada kuis dari dosen.
"Lo bareng sama Bang Rion?" Megan mengangguk menjawab pertanyaan Daniel. Mereka sama-sama baru datang.
"Kenapa ga bilang gue aja? Kan bisa gue jemput."
"Males ah lo suka kesiangan entar gue kena hukum lagi sama OSIS."
Diantara empat sekawan ini, Daniel adalah yang paling sering dihukum berdiri didepan tiang bendera. Sekarang juga mimpi apa dia semalam hingga bisa berangkat lebih awal walau 5 menit menjelang masuk.
Daniel hanya bisa menggaruk tengguknya yang tidak gatal. Ia tidak bisa memungkiri fakta bahwa dirinya adalah pria muka bantal. "Palingan kita dihukum bareng kali, Gan."
"Ogah!" Sahut Megan.
Hari ini cukup beruntung karena mereka semua dipulangkan awal. Megan berjalan menuju gerbang untuk melirik taksi yang kosong. Orion tidak bisa menjemputnya karena masih ada kelas begitupun dengan Leo dia masih harus disibukkan dengan bimbingan.
Sebenarnya dia ingin pulang bersama Juan atau Daniel dan Carlos hanya saja mereka sudah ada janji masing-masing dan rumah mereka juga tidak searah. Jadi, Megan memutuskan untuk mampir ke taman kota karena sedang ingin membeli es krim langganannya kebetulan jaraknya tidak jauh.
"Coba aja beneran bisa jalan bareng sama Tavian, pasti bahagia banget gue. Apalagi kemarin dia habis potong rambut damage-nya kaya anak kuliahan, Abang-abang gue mah lewat."
Banyak orang disekitar Megan memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Mungkin mereka mengangapnya gila karena berbicara sendiri seperti sekarang. Megan tidak menaruh peduli tentang hal itu, selama dia bahagia dengan imajinasinya kenapa harus menghiraukan komentar orang lain.
"Capek, pengen duduk." Ujar Megan sambil mendudukan diri di bangku taman. Hari memang sudah mendung tapi gadis itu masih setia duduk menghabiskan es krim yang tinggal setengah.
"Astaga! Hujan?" Tangannya menengadah memeriksa air hujan yang berjatuhan. Belum lebat tapi cukup membuat tubuh menjadi basah kuyub.
Megan bingung kenapa disekitarnya hujan tapi dirinya tetap kering. Perlahan kepalanya mendongak dan betapa terkejutnya melihat seseorang sedang memayungi dirinya.
"Aku menemukanmu." Ucap orang itu.
Tampan. Lelaki muda memakai hoodie sedang melindunginya dengan payung. Megan berpikir sejenak, ia pernah melihat adegan seperti ini tapi ia lupa dimana.
"Ka-kamu? Siapa?"
"Aku akan mengantarmu pulang. Ayo, sebelum hari mulai malam."
Seperti terhipnotis Megan mengangguk dan pulang bersama. Tidak banyak bicara hanya suara langkah kaki yang menginjak air. Megan sesekali melirik lelaki disampingnya ini, mereka pulang berjalan kaki. Rumah Megan cukup jauh tapi ia tidak mengeluh atau mencegah hal ini yang dia lakukan hanya menurut serta memuji lelaki disampingnya ini.
"Siapa namamu? dan kenapa kamu mengatakan sudah menemukanku? Kita saling mengenal?"
"Aku tidak memiliki nama."
"What?!" Pekik Megan terheran. Bagaimana bisa ada orang hidup dengan tidak memiliki nama, sederhana saja jika orang ingin memanggilkannya apa yang akan orang sebut untuknya?
Megan memilih tidak bertanya lagi dan fokus pada langkah kakinya. Tidak terasa jarak yang jauh itu sudah sampai mereka tempuh. Megan dan lelaki berpayung tiba di kediaman keluarga Castor.
"Lo pulang sama siapa?" Tanya Leo sambil membuka pintu rumah.
Megan menunjukkan ke samping mengisyaratkan lelaki berpayung. Leo mengernyitkan keningnya lalu kembali menatap adiknya. "Kalo sakit minum obat, Gan. Itu payung jangan disimpan dilantai nanti basah gue jitak lo."
Payung?
Megan melirik ke samping. Tidak ada siapapun hanya ada payung basah yang tergeletak di teras. Lelaki berhoodie hijau menghilang tanpa jejak jikapun berlari harusnya terlihat. Tak ambil pusing, Megan menguncupkan payung plastik itu lalu menaruhnya ke dalam tempat payung dibalik pintu.
"Kemana dia pergi?" Guman Megan sambil menaiki tangga.
Tubuh yang segar selepas mandi langsung terempas di ranjang. Megan mengambil ponselnya lalu membuka salah satu aplikasi sosial medianya bukan untuk memposting poto melainkan membuka sosial media Lukiel idolanya. Otak dingin Megan kembali berputar mengingat suatu hal.
"Malam tadi kan aku mimpiin kamu. Nah, kalo ga salah kamu nemuin aku di taman sambil payungin aku. Eh bentar deh, Luk." Ucapnya berhalunisasi sedang berbicara dengan lelaki idolanya padahal hanya menatap poto Lucas di sosial media.
"Oh God! Kok adegannya sama kaya cowok berpayung tadi sih?! Itu bukan jelmaan kamu? Eh kok aku jadi ngaco gini? Tapi beneran mirip."
Megan kembali mengingat bagaimana adegan tadi sore dengan mimpinya bersama Lukiel semalam. Tidak ada perbedaan, semuanya sama persis terkecuali dialog didalamnya mungkin karena lawan mimpi Megan berbeda. Seharusnya lelaki berpayung itu masuk ke dalam rumah sama seperti yang dilakukan Lukiel karena mereka akan makan malam dirumah tapi adegan itu berantakan karena Leo tiba-tiba keluar. Pasalnya Leo tidak termasuk hitungan orang yang ada di dalam mimpi Megan. Sebuah kebetulan atau takdir yang mulai mendekatinya?

Bình Luận Sách (57)

  • avatar
    Darwisy

    wow amazing

    09/12

      0
  • avatar
    Amerta dalam bumantara

    bagus ceritanya

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Dewi

    kerenn ceritanya

    23/03/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất