logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 28 Jejak Ariel Rivaldo

Sepanjang perjalanan lima belas jam London ke ibukota aku tidak dapat tenang sedikit pun. Bayangan Laki-laki itu kembali melintas dalam dalam hidupku sekejap mata namun membuat duniaku seakan kalang kabut. Ingin aku menceritakan ini pada mas Andy tetapi aku ragu karena dia akan membantah apa yang ku lihat di bandara tadi.
Sosok yang sama, tinggi dan tegap yang masih terekam baik di ingatanku, mata tajam dan alis yang nyaris bertaut, hidung yang mancung dan semua itu diwariskan pada Sandrina, putri kandungnya. San, meski umurnya masih belia dia mewarisi gen ayah kandungnya yang tinggi besar hingga orang sering terkecoh dan menyangka jika San lebih dewasa dari umurnya. Dia putriku yang cantik jelita yang kemudian tumbuh dengan hati yang tidak hangat sempurna.

Setibanya di tanah air diam-diam aku meminta asisten pribadiku untuk menyewa seorang detektif untuk mencari keberadaan Ariel Rivaldo. Aku tidak ingin kecolongan, monster itu harus ku jauhkan dari keluargaku, siapa pun.
“Ini adalah foto terakhir dari pria bernama Ariel ini, aku bertemu dia di bandara Heathrow terakhir di London saat keberangkatanku kembali ke sini. Tolong temukan dia segera, laporkan di mana dia bermukim sekarang dan apa saja kesehariannya, usaha atau apapun yang dia lakukan. Temukan secepatnya." aku menaruh lembaran uang dalam jumlah yang sangat tebal di dalam amplop coklat di depan detektif swasta itu.
“Jangan sampai suamiku atau keluargaku tahu akan hal ini!” aku menekankan kalimat itu yang mungkin sudah klise terdengar baginya.
Laki-laki berbadan tegap pensiunan dini pasukan khusus itu mengangguk tanda setuju dan sangat puas dengan uang muka yang dia terima.
“Kau akan menerima lebih banyak lagi setelah kau mendapatkan laki-laki bajin*an yang ku cari ini.”
Kini uang bagiku tidak masalah untuk menuntaskan rasa penasaranku, yang terlebih lagi adalah aku ingin melindungiku keluargaku lebih awal dari kemunculan laki-laki ini.
“Aku sudah menyiapkan tiketmu ke London, penerbangan kelas bisnis. Aku harap kau punya paspor dan sebagainya untuk penerbangan itu.”
“Tentu saja Nyonya, jangan khawatir tentang itu. Saya akan berangkat secepatnya.”
Aku mengangguk dan laki-laki yang ku tahu bernama Darwis itu akan segera menghubungiku saat tiba di London nanti.

Beberapa tumpuk dokumen seakan menggunung di depanku sudah menunggu untuk diperiksa. Rasanya sangat melelahkan untuk semua pekerjaan ini di saat pikiranku bercabang kemana-mana. Kegelisahanku hanya tertuju pada Sandrina dan anak itu susah sekali untuk mengangkat telponku. Rico pun hanya mengatakan semua baik-baik saja. Sandrina menikmati waktunya sebagai pekerja magang seperti yang dia katakan sebelumnya.
Sudah seminggu sejak keberangkatan Darwis menuju London, sama sekali belum ada kabar tentang pencariannya atas sosok Ariel ini.
“Bu, maaf ada yang salah?’” Vina sekretarisku memperhatikan aku hanya memandangi dokumen itu tanpa menandatanganinya.
“Ouh … tidak, tidak ada yang salah.” Ucapku tergagap sambil meneruskan berkas mana lagi yang harus ku tanda tangani.
“Ada jadwal apa lagi hari ini?” tanyaku sambil memegang dahiku kepalaku terasa sedikit agak berat.
“Hanya pertemuan internal dengan pak Rudy serta kepala divisi,Bu.”
“Tolong cancel dulu, aku sedang merasa tidak enak badan. Sampaikan sama pak Rudy yaa. Aku ingin pulang ke rumah beristirahat.”
“Baik Bu.” Vina membereskan map-map dokumen dan laporan perusahaan. Aku duduk di sofa sambil menarik nafas panjang.
“Ibu baik-baik saja ? apa perlu saya antar ke Rumah Sakit Bu?”
“Tidak, Vin, tidak apa-apa. Aku hanya ingin istirahat saja di rumah.”
“Kalau begitu saya permisi dulu Bu.”
Aku mengangguk pelan dan bersandar pada sofa sambil memejamkan mata. Ponselku berdering dan sebuah nomer sambungan internasional tanpa nama tertera di sana.
Aku segera meraihnya dan menggeser tombol hijau dan berharap Darwis yang menghubungiku.
“Ibu Airin ini dengan Darwis.”
“Ya, bagaimana penyelidikan anda sejauh ini?”
“Sepertinya tuan Ariel sudah mengganti nama keluarganya atau nama belakangnya. Ada kasus kecelakaan di Manchester yang melibatkan nama Ariel Rivaldo beberapa tahun silam. Saya masih harus menyelidikinya lebih jauh lagi Bu dan sumber daya yang saya butuhkan tentunya tidak sedikit.”
“Angka tidak menjadi masalah selama penyelidikanmu memang mengarah pada orang yang saya cari, saya tidak akan ragu untuk mengucurkan berapapun yang anda butuhkan.”
“Baik Bu, setelah ini saya akan bergerak ke Manchester, menurut informasi kakek dan nenek dari tuan Ariel berasal dari kota itu. Hanya saja Tuan Rivaldo memang membuka usaha perhotelan sejak lama di kota Las Vegas dan Tuan Rivaldo yang menunjuk Tuan Ariel untuk mengelolanya di sana.”
“Saya tunggu perkembangan selanjutnya Pak Darwis, saya harap informasi selanjutnya anda sudah menemukan orang yang saya cari. Jangan buang waktu terlalu lama pak Darwis.”
“Siap Bu.”
Suara kami pun senyap, panggilan telah usai. Teka-teki Ariel masih sedikit untuk dikatakan bisa memberi petunjuk. Tapi aku yakin jika jejak Ariel tak jauh di seputar London. Ingin rasanya meminta Sandrina pulang tapi anak keras kepala itu tidak akan mendengarku.
Pintu diketuk pelan dan kepala Vina menyembul dari balik pintu,
“Bu, ada pak Andy yang akan menemui Ibu.”
“Ouh yaa baiklah, terima kasih Vin.”
Beberapa menit kemudian pintu terbuka lagi dan mas Andy memperhatikanku yang tengah duduk di sofa dan sedang menyandarkan kepalaku.
“Rin, kamu sakit?” mas Andy menghampiriku dan menyentuh dahiku dengan punggung tangannya. Aku menyingkirkan tangannya.
“Tidak, aku cuma sedikit sakit kepala saja.”
Mas Andy duduk di sampingku dan meraih bahuku agar kepalaku bersandar di bahunya.
“Apa kau mau ku antar pulang?”
“Iya rencana aku mau pulang istirahat sebentar di rumah. Mas ada perlu apa kemari?”
“Aku cuma mau mengajakmu makan siang saja, tapi lebih baik kita makan siang di rumah sekalian aku mengantarmu pulang yaa?”
Aku mengangguk tanda setuju. Sungguh aku belum berhenti bersyukur diberi suami yang baik dan pengertian seperti mas Andy ini. dia membantuku berdiri dan merangkul pinggangku dengan mesra.

Hari kelima sejak telpon pertama Darwis, rasanya waktu berlalu sangat lambat. Apakah Ariel benar-benar menghapus jejaknya sedemikian rupa ? atau Darwis yang pekerjaannya terlalu santai? Aku menjadi tak karuan, makanku tak enak tidurpun tak nyenyak. Pekerjaanku menuntut konsentrasi berpikir hingga aku kerap sakit kepala.
Mas Andy sering membujukku untuk memeriksakan diri ke dokter tapi aku menolak dengan berbagai alasan. Aku menolak karena aku tahu aku hanya terlalu banyak memikirkan hal-hal di kepalaku. Seperti hari ini aku memaksakan diri untuk masuk kantor lagi setelah paginya aku mengeluhkan sakit kepala. Demi janji hadir pada meeting penting aku tetap berangkat.

Syukurnya rapat itu berjalan dengan baik dan hanya memakan waktu sebentar saja. Aku kembali ke ruanganku untuk meminum obat penghilang rasa sakit di kepalaku. Ponselku berdering setelah aku meletakkan gelas di atas meja, dari Darwis.
“Bagaimana hasilnya Darwis?” aku sudah tak sabar untuk mengetahui hasil dari pencariannya.
“Saya sudah menemukan titik terangnya Bu, tapi saya belum bisa menemukan orangnya secara pasti.”
“Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.
“Ariel Rivaldo sudah berganti nama menjadi Ariel Benjamin Sanders. Dia sudah tidak tinggal di Las Vegas lagi tapi sudah lama bermukim di London, dia punya beberapa usaha restoran, beberapa klub malam yang besar dan terkenal serta berbagai usaha ekspor impor.”
“Jadi maksudmu Ariel memang ada di London?” tubuhku mulai gemetar dengan kenyataan ini.
“Sejak kapan Ariel pindah ke London?”
“Iya Bu benar, Ariel yang ibu cari ada di kota ini, menurut catatan Ariel sudah menetap di kota ini sejak sepuluh tahun yang lalu, membeli beberapa restoran dan klub malam.”
“Kau harus menemukan laki-laki itu dan memastikan dengan benar jika Ariel Benjamin Sanders adalah orang yang sama yang aku cari.”
“Baik Bu, nanti malam saya akan ke salah satu klubnya dan berusaha menemukannya.”
“Ingat, jangan sampai ada orang yang tahu bahkan Ariel pun tak boleh tahu jika kau sedang menyelidikinya. Aku juga punya tugas yang lain untukmu, putriku Sandrina ada di London juga, aku ingin kau mengawasinya, beberapa hari ini untuk memastikan aktifitasnya.”
“Tugas tambahan tidak termasuk dengan nilai pekerjaan di awal Bu Airin, saya harap anda mengerti.”
“Tentu saja, tugas ini akan menjadi angka tambahan untuk pekerjaanmu sebut saja berapa dan aku akan mentransfernya segera.”
Darwis menyebut jumlah angka yang cukup besar nilainya dan aku berjanji akan mengirimkannya setelah percakapan ini usai. Darwis pun menutup panggilannya, aku segera memenuhi janjiku untuk mengirim sejumlah uang pada rekening banknya.

Aku rasa sudah tak bisa lagi aku menahan berat di kepala ini setelah mendengar laporan Darwis. Ternyata selama sepuluh tahun ini anakku dan Ariel ada di kota yang sama dan hanya menunggu takdir untuk mereka bertemu.Tidak … hal itu tidak boleh terjadi. Ariel tidak boleh tahu ada keluarga Sanjaya berada di kota yang sama dengannya. Aku mengepalkan tangan yang sedari tadi gemetar. Mendadak ruangan ini terasa berputar dan hal terakhir yang aku ingat, aku terhempas jatuh di lantai kantorku yang dingin.



Bình Luận Sách (93)

  • avatar
    Rata Ratna

    bagus banget

    24/04/2022

      0
  • avatar
    MartinoDoni

    mantap

    24/12

      0
  • avatar
    syalomedward

    bagus

    11/12

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất