logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 27 Keputusan Sandrina

Sandrina pulang menjelang malam setelah meninggalkan rumah siang tadi. Wajahnya terlihat berseri-seri dan bahagia. Pasti bertemu dengan temannya membuat dia sangat senang.
“San, Mom mau bicara. Kamu duduk di situ.” Aku memerintah Sandrina yang tampak enggan melihat wajahku.
“Ada apa Mom? San mau istirahat niih.” Jawab Sandrina malas-malasan.
“San, Mom tidak pernah berniat mengasingkan kamu di sini tapi apa yang Mom lakukan ini yang terbaik untuk kamu.” Aku ingin membicarakan hal yang tadi siang Sandrina lontarkan padaku.
“Tapi itu kenyataannya Mom, alasan apa sih yang membuat seorang ibu tega meninggalkan putrinya jauh di negeri orang sejak dia berumur menjelang enam tahun ? alasan apa yang membuat seorang ibu sanggup tidak menghubungi putrinya yang selalu menangis karena rindu?!” sorot mata Sandrina tajam seakan menembus jantungku.
“Tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya San, Mom pun menyayangimu tetapi Mom punya alasan yang Mom belum bisa jelaskan sekarang.”
“Omong kosong, kenyataan yang terjadi justru tidak menunjukkan bahwa Mom menyayangiku. Hanya Dad saja yang menunjukkan itu, hanya Dad, Nenek dan Rico yang peduli padaku. Aku hanya menumpang di perut Mom sembilan bulan dan lahir. Tapi bukan dengan tangan Mom aku besar, iya kan ? orang lain yang melakukan itu!” suara Sandrina terdengar mulai meninggi dan membuat mas Andy serta Rico mendekati kami.
“Ada apa ini?” mas Andy memandangku dan Sandrina bergantian, wajah kami sama-sama tegang dan mengeras layaknya musuh yang tengah berduel.
“Beritahu pada Mom tidak usah berlagak menjadi ibu yang baik untukku, lakukan saja itu pada Aldrin sebelum terlambat dan Aldrin bernasib yang sama denganku!”
Plaaak …! Telapak tanganku terayun pada pipi Sandrina dan membuat gadis itu terhuyung refleks Rico menangkapnya dan memeluk putriku yang baru saja ku tampar itu.
“Airin!” mas Andy membentakku dan menjauhkanku dari Sandrina. Seluruh tubuhku gemetar air mataku sudah tumpah di pipiku sebersit sesal pun seketika menyergapku.
“Jaga juga ucapanmu Sandrina, kau tidak boleh bicara kasar pada Mom!” mas Andy menatap punggung Sandrina yang yang terguncang karena menangis dalam pelukan Rico.
“Tolong bawa San naik ke kamarnya Co.” pinta mas Andy dengan suara melunak.
“Apa yang telah kau lakukan Airin?” mas Andy menghela napas dan meraih tanganku yang masih gemetar. Aku pun tak tahu mengapa aku bisa semarah itu pada Sandrina.
“Mas, anak itu … anak itu sudah keterlaluan, dia bicara keterlaluan padaku.” desisku terbata. Kepalaku mendadak terasa pusing dan hampir kehilangan keseimbanganku. Mas Andy dengan cepat menangkapku dan membimbingku untuk duduk di soda ruang tengah ini. aku mengelap air mataku dengan jemariku yang masih gemetar. Segelas air putih disodorkannya padaku.
“Minumlah dan tenangkan dirimu.”
“Aku sangat menyesali apa yang sudah kau lakukan pada putri kita barusan Rin. Kau berhak marah tapi ku rasa tak bijak juga jika memukulnya seperti itu.”
Aku menghela napas, ku akui tadi itu berlebihan. Hingga aku menyadari satu hal aku sudah membuat jarak yang sangat jauh dengan Sandrina dan tak bisa untuk ku jangkau lagi.

Makan malam di meja terasa sunyi, yang terdengar hanya denting suara piring yang beradu dengan sendok. Ibu memandangi kami dengan heran, bahkan Rico pun enggan untuk buka suara seperti biasanya.
“San Sayang, ayo tambah lagi makanannya Nenek lihat kamu makan cuma sedikit sekali.”
“Terima kasih Nek, San sudah kenyang. San naik dulu yaa.” Sandrina meninggalkan meja makan setelah mengelap mulutnya dan naik ke kamarnya dengan diam, wajahnya masih terlihat sendu.
“Bagaimana dengan kuliahmu Co, kapan akan selesai?” tanya mas Andy yang memecah kesunyian.
“Enam bulan lagi Om kalau gak ada halangan. Kuliah Rico akan selesai dan segera pulang ke rumah.”
Rico sudah menyelesaikan makan malamnya, dia hendak beranjak tapi aku menahannya.
“Tunggu Co, bagaimana dengan Sandrina, apa dia baik-baik saja?” aku menatap Rico dengan penuh penyesalan.
Rico melirik ibuku yang tampak tenang, di saat kejadian itu terjadi ibu sedang berada di pekarangan belakang.
“Iya Tante, San baik-baik saja. Nanti kita bicara lagi yaa, Rico masih harus siapkan presentasi untuk besok.” Rico berdiri dan menaiki tangga. Aku terdiam, rasanya susah untuk menghabiskan sisa makanan di piring ku ini. Mas Andy mengambil piringku dan masih menambah nasi serta lauk yang kami masak tadi siang.
“Sayang kalau tidak dihabiskan. Setelah jangan lupa minum vitamin kamu yaa, kamu agak lemah seharian ini.”
“Baik Mas.” aku membereskan piring kotor yang ada di meja dan meminta ibuku istirahat lebih awal.
“Ibu ke kamar aja yaa, biar Airin yang bersihkan dapur, ibu istirahat saja.”
Ibuku mengangguk tanda setuju dan kini hanya ada aku dan mas Andy yang bersama-sama membereskan dapur dan dia ikut pula membantuku mencuci piring.
Sejak Sandrina dan Rico masuk di middle school ibu sudah tidak ingin lagi menggunakan jasa asisten rumah tangga, paling tidak ibu hanya memanggil jasa tukang kebun untuk membersihkan halaman rumah dan memangkas rumput-rumput. Semua pekerjaan rumah dilakukan bersama-sama oleh Rico dan Sandrina ibu bilang agar mereka bisa mandiri dan tidak terbiasa dilayani.
Aku menyeduh minuman hangat untukku dan mas Andy kami duduk di beranda samping rumah sambil menikmati udara malam pertengahan musim semi. Kami sedang mengobrol ringan ketika bel sedang berbunyi. Aku hendak membukanya namun ku dengar langkah kaki bergegas turun untuk membuka pintu.
Sepintas ku dengar Sandrina berbicara dengan seseorang dan hanya sebentar pembicaraan mereka berakhir. Pintu kembali di tutup, aku melihat Sandrina melintas sambil membawa kotak yang ku duga adalah paket kiriman seseorang untuknya.
Sandrina telah hidup di dunianya sendiri dan aku berpikir aku masih bisa masuk ke dalamnya ternyata aku salah, sudah tidak ada tempatku lagi dalam hati Sandrina.

“San tidak jadi pulang bersama kalian sekarang.” sandrina membatalkan kepulangannya ketika kami sudah akan berangkat besok.
“San, kamu pulang aja duluan sama Om dan Tante yaa nanti aku nyusul, aku bener-bener gak bisa pulang dalam bulan ini.” Rico berusaha membujuk Sandrina yang entah alasan apa hingga membuatnya tak jadi pulang.
“Lho, bukannya kamu yang ngotot minta pulang ? sekarang udah dijemput malah tidak jadi pulang.” Mas Andy mengerutkan keningnya menatap pada anak gadisnya itu. Aku menunggu penjelasan Sandrina.
“Tapi Nenek sudah ingin pulang San Sayang, Nenek sudah rindu kampung halaman.”
“San akan pulang bersama Rico nanti kalau dia sudah selesai wisuda. Enam bulan lagi.”
“San … Itu masih lama, kamu mau ngapain di sini selama enam bulan?” tanya Rico heran.
“Tenang aja Co, aku gak akan mati bosan di sini, aku akan kerja magang di sebuah perusahaan milik ayah Bella. Hitung-hitung cari pengalaman dulu.”
“Kamu bisa bekerja di kantormu sendiri Sandrina di tanah air tak perlu repot menjadi pekerja magang di sini.” aku akhirnya angkat bicara mendengar semua perdebatan ini.
“San sudah memutuskan untuk tinggal menunggu Rico selesai dan itu keputusan akhir San.” Gadis itu menatapku dingin.
Aku menghela napas, aku juga sudah tidak bisa tinggal lama-lama, sudah banyak agenda yang ku tunda karena berada di sini dan pada akhirnya anak ini belum mau pulang juga.
“Baiklah jika itu mau kamu, jaga diri kalian baik-baik karena nenek sudah tidak bersama kalian lagi dan kalian sudah dewasa.” Aku menatap Sandrina dan Rico bergantian, biar bagaimana aku tetap khawatir jika mereka tinggal berdua saja.
“Jika Tante mengkhawatirkan itu aku akan pindah ke apartemen.” usul Rico yang membaca kekhawatiranku.
“Gak perlu, Om percaya sama kamu dan Sandrina. Cuma Om minta tolong jaga Sandrina baik-baik yaa dan selesaikan kuliah kamu dengan baik pula.”
Mas Andy menepuk bahu Rico dan berlalu masuk ke kamar kerja kami.
“Sandrina, Dad ingin bicara, ikut Dad sekarang.”
Sandrina menuruti ayahnya dan entah apa yang akan dikatakan mas Andy pada anak gadisnya yang akan tinggal berdua dengan laki-laki yang telah melamarnya itu. Oh yaa tentu saja ku rasa Sandrina belum tahu tentang hal itu.
“Tante, percaya sama Rico, Rico tidak akan berbuat hal yang tidak bertanggung jawab pada Sandrina, Rico akan menjaga Sandrina sebaik mungkin. Tante jangan khawatir.”
Ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, perempuan paruh baya yang penuh kasih sayang itu bingung juga hendak bersikap bagaimana untuk menghadapi Sandrina yang semakin keras kepala.

Mobil jemputan menuju bandara sudah siap di depan rumah kami. Aku , mas Andy dan ibu sudah bersiap untuk kembali pulang ke Indonesia.
“Mom minta maaf atas sikap Mom tempo hari San, Mom tidak sengaja ingin menyakiti kamu.” aku meraih Sandrina ke dalam pelukanku dan dia membalas pelukanku juga.
“San juga minta maaf karena sudah kurang ajar pada Mom. San pasti akan pulang dan ketika San pulang nanti San akan langsung bergabung dengan Sanjaya Enterprise.”
Aku mengusap punggung Sandrina dan mengecup kedua pipinya. Pelukan yang sama juga dia lakukan pada nenek dan ayahnya.
“Jangan berbuat hal yang aneh-aneh di sini yaa my Sun, kalau kau melakukan Sesuatu yang nakal Dad tidak akan segan terbang jauh-jauh hanya untuk menjewer telingamu.”
Sandrina tergelak dalam pelukan ayahnya itu dan berjanji akan baik-baik saja.

Bandar udara Heathrow adalah salah satu bandara yang tersibuk di dunia. Bermacam orang lalu lalang dan kami sedang menunggu untuk penerbangan menuju ibukota tanah air. Aku sedang menerima panggilan telpon dari asistenku di Sanjaya Build dan mengabarkan bahwa kami akan pulang hari ini. Tiba-tiba seseorang menabrakku hingga ponselku terjatuh. Laki-laki yang menabrakku itu segera meminta maaf dan memungut ponselku, dia menyerahkannya padaku masih dengan perkataan maaf berulang-ulang.
Aku mendongak untuk melihat wajah laki-laki penabrakku itu, aku pun seketika membeku, jantungku ku rasa hampir tidak berfungsi lagi.
“Maaf Nyonya saya sedang terburu-buru ini ponsel anda.”
Aku mengambil ponselku dari tangannya dengan jari yang gemetar. Mata itu memandangku seperti mengingat sesuatu. Mungkin baginya aku sudah terlupakan olehnya tapi bagiku … aku tidak akan pernah bisa melupakan wajah yang telah menjadi mimpi burukku selama bertahun-tahun.
“Ariel …” aku mendesis menyebut nama itu.
Laki-laki itu tersentak kaget, ku dengar suara ibu dan mas Andy di kejauhan yang memanggilku. Seperti tersadar aku bergegas menjauh dari sosok yang tiba-tiba saja hadir di depanku membawa semua kenangan buruk itu hadir.


Bình Luận Sách (93)

  • avatar
    Rata Ratna

    bagus banget

    24/04/2022

      0
  • avatar
    MartinoDoni

    mantap

    24/12

      0
  • avatar
    syalomedward

    bagus

    11/12

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất