logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 7 (Sudah Berubah)

“Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Alena, sejak tadi kau meracau tak jelas.” Iyus mencoba menyelidiki motif Shella. Meskipun kini, ada secuil perasaan untuk wanita itu.
“Belum saatnya kamu mengetahui, Mas. Yang aku butuhkan saat ini, hanyalah kamu, cuma kamu.” Shella kembali meraih tubuh Iyus kedalam pelukannya. Iyus pun menyambutnya kembali. Mencoba memahami dan menenangkan wanita yang lancang masuk ke relung hatinya.
Drrtt drrtt drttt
Sebuah pesan mendarat ke ponsel Iyus.
[Mas, kamu dimana? Aku dirumah, Ralin sudah tidur]
Iyus menghela napasnya kasar. Dia tak tahu harus bagaimana nanti untuk menjelaskan semua hal yang dilaluinya kepada Alena. Apakah diam merahasiakan yang sudah terjadi atau menceritakannya?
“Siapa, Mas? Mbak Alena, ya?” Pertanyaan Shella membuat Iyus menoleh ke arahnya.
Senyum tipis terlihat di bibir Iyus.
“Kalau Mas Iyus masih mau tahu apa masalahku dengan Mbak Alena, rahasiakan permainan kita hari ini, Mas,” pinta Shella.
Iyus menautkan kedua alisnya yang tebal. Antara ingin menolak tetapi hati sudah terjerat. Wajah Shella begitu menawan hingga membuat hati Iyus mabuk kepalang.
“Apa rencanamu selanjutnya, Shel?” Iyus membelai pipi Shella.
Shella tersenyum, Iyus sudah berada dalam genggamannya.
“Biarkan waktu yang menjawab, anggap tidak terjadi apa-apa diantara kita saat didepan Mbak Alena,” ucap Shella.
Bagaimana bisa menganggap tidak ada apa-apa setelah semua kejadian hari itu mampu membuat Iyus melayang bagai ke awan.
“Baiklah, mari kita pulang,” ajak Iyus.
Shella menganggukkan kepalanya.
***
Alena berjalan bolak-balik di depan teras rumahnya. Tampak kegelisahan digurat wajahnya yang tetap cantik meskipun tak ada riasan bedak disana.
Tidak seperti biasanya Iyus bersikap aneh seperti hari ini. Tak ada kabar sejak siang tadi hingga malam menjemput.
Alena memilih duduk untuk menenangkan pikirannya. Dia meremas jemarinya menahan cemas yang bergemuruh didada.
Sesekali Alena mencoba untuk menelepon Iyus, akan tetapi, yang ada hanyalah jawaban dari sang operator.
“Dimana kamu, Mas?” Alena bermonolog. Tatapannya tak pernah lepas dari pintu gerbang yang berwarna hitam. Berharap suaminya pulang utuh. Ya, itulah harapan seorang istri, utuh raga utuh hati pula.
Deru mesin mobil pajero berwarna putih menyapa telinga Alena. Alena segera beranjak dari duduknya.
Degh
Jantung Alena seakan terasa berhenti untuk berdetak. Kenapa baru menyadari sejak kepulangannya dari salon, Alena tak mendapatkan batang hidung Shella. Dan kini, tepat dihadapannya, mereka berdua berada dalam satu mobil.
“Loh, Ma, kenapa bengong? Suami pulang nggak disambut?” Iyus mencoba menyairkan dinding es yang bersarang dalam benak Alena. Iyus sudah dapat menerka apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya, Alena. Lima tahun mengarungi hidup bersamanya bukanlah waktu yang sebentar untuk saling memahami satu sama lain.
“Ka ... kalian dari mana?” tanya Alena terbata dan sedikit melemah. Ya, Alena lemah jika mengenai hatinya, belahan jiwanya, Iyus Mahardika.
“Pamali mengobrol di depan rumah, ayo masuk, nggak enak dilihat sama tetangga.” Iyus meraih bahu Alena dan mengajaknya masuk kedalam. Wajah Shella seketika berubah masam melihat Iyus memperlakukan Alena yang begitu lembut.
“Aku mau teh hangat, Ma.” Iyus membuka kancing kemeja dan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
“Kamu pergi tidur saja, Shel, kamu pasti lelah,” titah Iyus. Shella pun pamit dengan Alena sebelum melenggang pergi ke kamarnya.
Alena nampak bingung dibuatnya. Berbagai pertanyaan melintas di kepalanya. Dengan cepat dia menuju dapur untuk membuatkan minuman yang dipinta oleh suaminya.
“Ini, Pa,” ucap Alena menyodorkan segelas teh hangat. Aroma bunga melati menguar ke indera penciuman Iyus.
“Aaahhh, nikmatnya.” Iyus mengelap sisa air di bibir dengan punggung tangannya.
“Pa,” panggil Alena, tak sabar dia ingin melontarkan pertanyaan.
“Iya,” sahut Iyus sambil meletakkan cangkir di atas meja.
“Kok tadi pulang bareng Shella? Dari mana sebenarnya, Pa? Ponsel Papa tidak bisa dihubungi juga, Papa sengaja ya mematikannya agar aku tidak mengganggu,” cecar Alena tak memberi jeda.
“Suami pulang kok langsung diburu pertanyaan.” Iyus menjawabnya dengan dingin. Kemudian beranjak dari duduknya.
“Mau kemana, Pa?” tanya Alena.
“Kamar mandi. Mau ikut?” Iyus mencoba menggoda Alena agar terlupa dari pertanyaan yang menyudutkan dirinya.
Alena mendesis kesal. Namun tak dihiraukan oleh suaminya yang tetap pergi ke kamar mandi yang terletak di lantai atas.
Dengan perasaan marah bercampur kesal, Alena berhambur ke kamarnya. Direbahkan tubuh mungilnya di atas ranjang yang tertutup oleh sprei berwarna putih.
“Pakaian tidurku mana, Ma?” tanya Iyus setelah sudah berada didalam kamar.
“Di dalam lemari,” ucap Alena singkat sambil bermain ponsel.
“Loh kenapa tidak disiapkan, biasanya kamu letakkan ditepi ranjang?” tanya Iyus heran.
Alena tidak menjawab, dia tetap fokus terhadap benda pipih yang dipegangnya.
Iyus menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin memperkeruh suasana. Apalagi suasana hatinya kini sedang bahagia, bahagia dengan wanita lain yang bukan istrinya. Wanita yang diterima senang hati oleh istrinya untuk tinggal dirumah itu.
Meskipun diam, mata Alena sesekali melirik apa yang dilakukan oleh Iyus. Sejak tadi pulang, sikapnya berubah. Tak lagi hangat meski saat ini mereka sedang berdua.
Iyus memposisikan tidurnya membelakangi Alena. Ditariknya selimut dan mulai memejamkan mata.
Alena menghela napas pelan. Mengatur ritme emosi berkecamuk didadanya.
Pelan-pelan Alena berdiri. Menghampiri benda pipih milik Iyus yang tergeletak di nakas kecil samping ranjang.
Tak sengaja Alena menjatuhkan cincin pernikahan milik Iyus yang berada disamping ponsel. Alena menunduk mencari kemana jatuhnya benda kecil itu.
Sinar lampu tidur tak cukup menerangi ruangan yang lumayan besar. Hingga akhirnya Alena menangkap benda bulat itu persis dibawah meja riasnya.
“Ma, lagi apa disitu?” Suara Iyus mengagetkan Alena hingga akhirnya terjadi benturan antara kepala dengan meja rias.
Sejak kapan Iyus terbangun? Apakah dia tahu kalau Alena ingin mencari kebenaran melalui ponsel milik suaminya?
Alena mengusap puncak kepalanya yang nyeri. Sekilas terlihat Iyus memamerkan deretan giginya yang putih.
“Bukannya dibantuin malah ketawain istri lagi kesusahan,” rajuk Alena.
“Kamu sendiri yang buat kok aku disalahin. Udah ah aku mau tidur, besok pagi ada rapat di kantor.” Iyus kembali menarik selimut dan memejamkan matanya meninggalkan Alena yang masih saja terduduk dilantai.
Alena mendesis kesal melihat sikap suaminya. Sungguh, Iyus berubah sejak kepulangannya dari luar kota. Apa sebenarnya yang terjadi?
Alena mengurungkan niatnya membuka ponsel Iyus malam itu. Dia letakkan kembali cincin ke tempat semula.
Alena merebahkan tubuhnya disamping Iyus, menarik selimut dan mencoba memejamkan matanya yang tak kunjung mengantuk. Masih ada perasaan mengganjal di hatinya.
“Nggak jadi cek ponselku, Ma?” tanya Iyus dengan mata yang masih terpejam.
Seketika wajah Alena menoleh ke arah suaminya.
“What?” gumam Alena. Sepertinya Iyus belum benar-benar tidur. Buktinya masih bisa merasakan gerak-gerik Alena.
Alena langsung menutupi wajahnya dengan selimut dan mulai menuju alam bawah sadarnya.
***
Bersambung

Bình Luận Sách (26)

  • avatar
    ErpaEr

    ya bagus

    12/05/2024

      0
  • avatar
    Neneng Mulyani

    lanjut Thor

    19/12/2022

      0
  • avatar
    HelmiHanif

    mamtap

    16/04/2022

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất