logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 6 (Terkuak Satu Rahasia)

Iyus mendekatkan wajahnya ke Alena, kedua tangannya bertumpu diatas meja kerja.
“Dengar Alena, aku tidak akan bertanggung jawab jika sesuatu hal terjadi pada kita karena kamu mempertahankan wanita itu!” ancam Iyus dengan wajah menegang.
Degh
Jantung Alena seakan berhenti berdetak. Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi perkataan Iyus. Melupakan janji yang telah terumbar atau menuruti perintah lelaki yang berstatus suaminya itu.
Pikirannya melambung jauh, Alena akhirnya dengan berat hati memutuskan untuk tetap membantu Shella mencari orang yang sudah menanam b*nih kepada wanita itu.
Setelahnya, Alena akan terbebas dari janji yang telah diucapkan dan hidup tenang bersama suaminya.
Drrtt drrtt drrtt
Deru getaran ponsel Iyus membuyarkan lamunan Alena. Dengan sigap Iyus segera membuka layar benda pipih itu.
[aku tunggu kamu di hotel Sandrinna pukul 2 siang, jika menolak, maka hancur istanamu, Mas]
Degh
Tatapan Iyus seketika menjadi tajam melihat isi pesan dari nomor yang tidak dikenal. Dilihatnya foto profil yang terpasang disana, sungguh diluar dugaan, wanita asing itu perlahan masuk kedalam kehidupannya. Pelan namun pasti.
“Kenapa, Mas?” Alena tampak bingung melihat raut wajah suaminya yang mendadak penuh kekhawatiran.
“Nggak apa-apa. Nanti kamu pulang ke rumah sendiri saja. Aku ada urusan diluar,” ujar Iyus.
Iyus membalikkan tubuhnya dan berlalu dari hadapan Alena tanpa memberikan penjelasan.
Alena hanya diam terpaku menerima perlakuan suaminya yang mendadak berubah 180 derajat, mungkin lebih.
***
Iyus melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibukota yang padat. Diliriknya arloji pada pergelangan tangan kirinya dengan wajah sedikit cemas. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.
Iyus harus segera mengakhiri permainan wanita l*ar itu. Dia tak ingin istana yang susah payah dibangun harus hancur lebur tak bersisa.
Keadaan hotel Sandrinna siang itu cukup sepi. Tepat pukul 2 kurang 15 menit Iyus sudah sampai di lobby Hotel.
Drrttt drrttt drttt
[ Naik ke lantai 7 kamar 205, aku sudah menunggumu]
Iyus berjalan menuju lift dan menekan tombol lantai yang dituju. Pandangannya tak lepas dari layar indikator lantai yang terpampang tepat di atas kepalanya. Setelah pintu lift terbuka, Iyus segera melangkah keluar dan pergi mencari kamar yang telah diberitahu oleh Shella.
Kaki Iyus terhenti tepat di kamar nomor 205. Pintu diketuk pelan satu kali oleh Iyus, penghuni kamar sudah langsung merespon dengan segera membukanya.
“Hai, Mas, akhirnya datang juga,” kata Shella dengan senyum kemenangan.
Shella menarik lengan Iyus untuk masuk kedalam. Dikuncinya pintu dengan cepat.
“Mau apa lagi kamu!” bentak Iyus.
“Duduk sini, Mas.” Shella menepuk tepi ranjang disampingnya. Balutan handuk kimono putih menutupi tubuh wanita berparas cantik itu.
Iyus bergeming, tak menuruti perintah Shella. Dia hanya membuang wajah ke sembarang arah.
“Yakin nggak mau duduk?” Shella memainkan ponselnya dengan senyum menyeringai.
Drrtt drrtt drrtt
Iyus tersentak karena ponsel disaku celananya berbunyi. Segera dia membuka pesan yang baru saja mendarat disana. Dan lagi untuk kedua kalinya, wanita itu mengirimkan beberapa foto yang sedang memeluk dirinya di sebuah ranjang. Kamar itu? Iya, kamar di istananya yang dihuni oleh Shella saat ini.
“Gimana, Mas?” Shella menyunggingkan senyuman meremehkan.
“Kamu mau apa dariku?” Iyus mencoba berdamai dengan Shella. Kali ini intonasi suaranya terdengar pelan.
“Yang aku mau? Yakin kamu mau kasih, Mas?” tanya Shella memastikan.
“Selama permintaan kamu dapat membebaskan aku dari wanita l*ar sepertimu,” terang Iyus pelan namun ada penekanan.
Shella berdecih. Masih tetap menampilkan senyuman sinis diwajahnya.
“Kamu mau bebas dari aku, Mas?” Shella beranjak berdiri mendekatkan tubuhnya ke Iyus. Memainkan jemarinya menyusuri dada Iyus yang bidang. Kemeja slimfit yang dikenakan pria beristri itu sungguh menggoda Shella untuk menerkamnya. Iyus masih diam membiarkan Shella menggodanya. Iyus diam-diam memperhatikan Shella, ada yang aneh!
“Kok diam?” Shella merengkuh tubuh Iyus, mendongakkan wajah untuk menatap pria itu. Detik kemudian, Shella menyadari akan satu hal.
Shella perlahan melepaskan pelukannya. Kakinya mundur beberapa langkah, memberi jarak antara dirinya dan juga Iyus.
Kedua tangan Shella mulai melepaskan ikatan handuk kimono yang terbalut apik ditubuhnya. Satu rahasia yang membuat Iyus membulatkan matanya dengan sempurna.
“Ka ... kamu,” ucap Iyus terbata tak mampu mengatakan apa-apa lagi selain terhenyak.
Tubuh Shella nan putih mulus bak artis korea hanya ditutupi dengan pakaian dinas para istri idaman. Yang membuat Iyus kaget bukanlah pakaiannya, melainkan perut rata Shella.
Shella hanya tersenyum bangga memamerkan pesona tubuhnya kepada pria yang bukan suaminya. Tidak ada rasa malu sama sekali diwajahnya yang cantik. Yang seharusnya dipersembahkan untuk suaminya kelak. Yah, begitulah Shella.
“Mas kaget lihat perut aku?” Shella membuyarkan lamunan Iyus.
“Kamu sudah membohongi Alena,” ucap Iyus lemah.
Shella mengangkat sudut kiri bibirnya.
“Dia pantas untuk aku bohongi. DIA LAYAK MENERIMA INI SEMUA!” Shella berteriak layaknya orang yang sedang kesurupan.
Iyus dengan sigap mendekati dan merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Dia mencoba menenangkan Shella.
Wanita itu masih meraung tak jelas. Sesekali menangis sesenggukan. Iyus hanya bisa mengelus punggung Shella, berharap mengurangi kesedihannya.
Rasa kesal dan amarah Iyus terhadap Shella seakan menguap begitu saja. Hilang bak ditelan bumi.
“Aku kesepian, aku kesepian! Sedangkan Alena, dia bahagia diatas penderitaanku selama ini! Shella terus meracau menggaungkan kekesalannya terhadap Alena. Iyus hanya bisa mendengarkan dan mencoba memahami apa maksud dari semua ini.
Shella merekatkan pelukannya. Pelukan itu terlalu nyaman untuk dilepaskan. Iyus pun membalas dan semakin mengeratkan Shella ke dalam tubuhnya. Dan semua terjadi begitu saja tanpa paksaan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Rasanya singkat sekali waktu jika dihabiskan begitu saja.
Iyus mengenakan pakaiannya kembali setelah habis mandi. Tubuhnya merasa segar kembali setelah diguyur air.
“Kamu menyukai semua ini, Mas?” tanya Shella menatap lekat bola mata Iyus yang sibuk mengancingkan kemejanya.
Iyus mendekatkan dirinya ke ranjang, menyamakan posisi duduknya dengan Shella yang masih terbalut selimut putih.
“Aku tidak tahu harus bagaimana, dalam sekejap kamu membuat aku marah, namun dalam sekejap aku pun hanyut dalam permainanmu,”
Shella tersenyum puas, bangga dengan semua rangkaian permainan yang diperankannya. Akhirnya, pria itu jatuh ke dalam genggamanku sesuai rencananya.
“Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Alena, sejak tadi kau meracau tak jelas.” Iyus mencoba menyelidiki motif Shella. Meskipun kini, ada secuil perasaan untuk wanita itu.
“Belum saatnya kamu mengetahui, Mas. Yang aku butuhkan saat ini, hanyalah kamu, cuma kamu.” Shella kembali meraih tubuh Iyus kedalam pelukannya. Iyus pun menyambutnya kembali. Mencoba memahami dan menenangkan wanita yang lancang masuk ke relung hatinya.
Drrtt drrtt drttt
***
Bersambung

Bình Luận Sách (26)

  • avatar
    ErpaEr

    ya bagus

    12/05/2024

      0
  • avatar
    Neneng Mulyani

    lanjut Thor

    19/12/2022

      0
  • avatar
    HelmiHanif

    mamtap

    16/04/2022

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất