logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 5 (Sebuah Jebakan)

Tak lama terdengar suara kunci pintu terbuka. Dengan cepat Iyus membalikkan tubuhnya dan menyodorkan bucket bunga mawar merah.
“PAGI SAY ....” Kata-kata Iyus terhenti, matanya yang teduh membulat sempurna ketika yang dilihatnya bukanlah Alena. Sekujur tubuhnya kaku tak bergerak.
“Pagi Mas Iyus,” sapa Shella dengan senyum merekah.
“Ka ... kamu siapa?” tanya Iyus heran.
“Saya Shella.” Shella menyodorkan tangannya untuk berjabat, namun tak dihiraukan oleh Iyus.
“Kamu ngapain di rumah saya? Di mana Alena?” Shella dicecar pertanyaan oleh Iyus.
“Tenang, Mas. Masuk ke dalam dulu, biar saya buatkan teh. Mas Iyus pasti lelah,” ucap Shella dengan sedikit manja.
Shella menuju dapur, dengan rasa senang dia membuatkan segelas teh hangat untuk lelaki tampan yang akan dikuasai hatinya. Senyuman menyeringai menghiasi wajahnya yang penuh dengan sandiwara.
Shella mengeluarkan secarik kertas kecil berisi serbuk putih dari saku piyamanya. Dia mulai melancarkan sederetan aksi jahatnya.
“Diminum dulu, Mas.” Shella meletakkan secangkir teh di meja ruang tamu.
Sikap cuek Iyus membuat Shella makin penasaran untuk segera menaklukkan pria itu. Pasalnya, Shella memang suka tertantang dengan lelaki yang bersikap dingin nan cuek.
Awalnya Iyus tampak ragu untuk meminumnya. Ditatapnya wajah Shella yang selalu melempar senyum kepadanya. Namun, akhirnya diminum juga teh buatan Shella karena dirinya pun belum minum sepanjang perjalanan tadi. Isi dalam cangkir itu pun hampir tandas.
“Alena kemana?” tanya Iyus datar.
“Mbak Alena pergi ke salon dengan Ralin naik taksi online,” tutur Shella lembut.
“Mbak Alena juga bilang nanti sore minta dijemput sama Mas Iyus,” sambung Shella.
Iyus hanya mengangguk tipis dengan mimik wajah yang masih datar.
“Saya permisi ke kamar dulu ya, Mas,” pamit Shella meninggalkan Iyus.
Iyus mengambil ponsel yang berada disaku celananya. Dia hendak mengirimkan pesan pada Alena bahwa dirinya sudah sampai di rumah. Tetapi, urung dilakukan karena tiba-tiba pandangannya perlahan buyar. Benda pipih itu seketika lepas dari genggamannya. Kepalanya terasa berat dan kesadaran menghilang darinya.
Di dalam kamar, Shella telah bersiap untuk melakukan langkah selanjutnya. Dia menghitung pelan dari angka lima sampai satu. Senyuman menyeringai tak pernah lepas dari bibirnya yang ranum.
Shella meraih knop pintu dengan pelan, menyingkap sedikit daun pintu kamarnya. Dia mencoba memastikan apakah Iyus sudah terlelap dalam tidurnya.
Shella menghampiri Iyus yang duduk terkulai tak berdaya di sofa ruang tamu. Matanya terpejam, namun pesonanya tak hilang meskipun sedang tertidur pulas.
Benda pipih milik Iyus menjadi incaran utama Shella. Diraihnya ibu jari Iyus dan diarahkan ke ponsel tersebut untuk membuka kunci layar.
“Yes, berhasil,” ucap Shella sembari tersenyum sumringah ketika ponsel Iyus dapat dibuka olehnya.
Jari tangan Shella lincah mengetikkan sebuah nomor dan melakukan panggilan. Setelah dirasa selesai, Shella bergegas membawa Iyus ke dalam kamarnya.
Rangkaian aksinya hari ini sungguh berjalan dengan mulus tanpa cacat. Setelah puas melakukan semua rencananya, Shella segera mengenakan pakaiannya sebelum Iyus bangun.
Rambut hitamnya yang panjang sepinggang dibiarkan terurai, dengan dress selutut tanpa lengan berwarna merah membuat Shella makin terlihat cantik, nyaris sempurna.
Shella masih duduk menunggu di depan meja riasnya, memperhatikan wajah Iyus dari balik cermin dan membayangkan betapa kagetnya pria itu ketika tersadar dari alam tidurnya.
Tak lama kemudian, Iyus mulai mengerjapkan kedua matanya. Terlihat tangan kanan memegangi kepalanya yang masih terasa berat.
Shella memasang mimik wajah sumringah. Lelaki pujaannya sudah mulai sadar.
“Sudah bangun, Mas?” tanya Shella basa-basi.
“Ka ... kamu ngapain disini?” Iyus terlihat bingung.
Shella tetap tenang dalam diamnya. Detik kemudian, beranjak dari duduknya, mendekati Iyus yang masih terbaring di ranjang.
“Ini kamarku, Mas. Mas lupa apa yang sudah Mas Iyus lakukan terhadap aku?” tanya Shella sembari menyentuh bahu Iyus yang kekar.
Iyus mendorong tubuh Shella hingga membuat wanita itu tersentak kaget.
“Kamu menjebak saya?” teriak Iyus dengan mata membulat.
Shella berdecih. Rupanya pria yang ada dihadapannya saat ini sangat sulit untuk ditaklukkan.
“Mas Iyus aslinya lebih tampan dari pada di foto, aku suka,” ucap Shella penuh manja.
“A ... apa maksud kamu? PERGI kamu! PERGI! Iyus berteriak karena semakin terpojok oleh keadaan.
“Tak semudah itu, Mas. Aku akan tetap disini, karena apa? Karena Mbak Alena yang mengijinkan aku untuk tinggal di istananya.” Tawa renyah terdengar di ruangan menandakan kemenangan Shella saat ini.
“TIDAK! Aku akan katakan padanya bahwa kamu orang tidak waras!” bentak Iyus.
“Silakan saja, tunggu kejutan dari aku, Mas.” Senyuman menyeringai senantiasa bersarang diwajah Shella sebelum akhirnya pergi dari kamar yang menjadi bukti kuatnya untuk menjerat sang pria.
Iyus tak mempedulikan ucapan Shella. Dia bergegas mengenakan pakaian dan celana panjangnya. Pikirannya saat ini tak karuan. Dia terus memikirkan Alena. Apa yang harus dia katakan pada istri tercinta atas kejadian hari ini?
Iyus keluar kamar menuju ruang tamu, disana sudah ada Shella yang duduk manis sambil memainkan ponselnya.
Iyus tak mempedulikan keberadaan Shella. Diraihnya kunci mobil dan benda pipih yang berada di atas meja tamu.
Deru mesin mobil terdengar dan perlahan melaju meninggalkan rumah menuju salon milik Alena.
Sepanjang perjalanan Iyus mengerutuki dirinya. Bisa-bisanya dia terjebak oleh wanita tidak waras seperti Shella. Dan anehnya, kenapa Alena begitu percaya pada makhluk yang bernama Shella.
Iyus segera turun dari mobil ketika sudah sampai di salon Alena. Dia segera masuk dan mencari istrinya.
“Eh ada Mas Iyus, cari Mbak Alena, ya?” tanya Karin basa-basi ketika lonceng pintu berbunyi.
“Iya,” sahut Iyus tanpa menoleh sedikitpun, ia terus melaju lurus ke ruangan Alena.
“Loh, Mas kok disini?” Alena tersentak kaget ketika pintu ruangannya terbuka secara kasar.
Iyus segera menutup rapat pintu ruangan. Disana hanya ada Iyus dan Alena, Ralin sedang bermain didepan bersama Karin.
“Ada apa, Mas?” Alena melontarkan pertanyaan kembali karena heran melihat sikap suaminya.
“Kamu kenapa terima tamu tanpa seijin aku?” Iyus menatap lekat mata Alena.
“A ... ak ... aku kasihan sama Shella, Mas. Aku pikir kamu akan sepemikiran denganku.” Alena mencoba menjelaskan pada Iyus.
“Apa kamu tidak menaruh rasa curiga terhadap wanita itu?” tanya Iyus.
Alena menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Iyus menghela napas kasar.
“Aku minta maaf karena tidak minta ijin sama kamu. Aku merasa iba mendengar kisah hidupnya,” terang Alena dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu terlalu polos, Alena. Sekarang kamu suruh dia pergi dari rumah kita!” Suara Iyus sedikit tinggi hingga membuat Alena terpelonjat kaget. Tak pernah dia melihat suaminya semarah itu. Alena paham betul dengan watak suaminya.
“Ta ... tapi, Mas, aku sudah janji akan membantu dia untuk mencarikan Mas Dika, kekasihnya yang kurang aj*r itu,” tutur Alena sedikit memelas.
Iyus mendekatkan wajahnya ke Alena, kedua tangannya bertumpu diatas meja kerja.
“Dengar Alena, aku tidak akan bertanggung jawab jika sesuatu hal terjadi pada kita karena kamu mempertahankan wanita itu!” ancam Iyus dengan wajah menegang.
Degh
***
Bersambung

Bình Luận Sách (26)

  • avatar
    ErpaEr

    ya bagus

    12/05/2024

      0
  • avatar
    Neneng Mulyani

    lanjut Thor

    19/12/2022

      0
  • avatar
    HelmiHanif

    mamtap

    16/04/2022

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất