Karin memajukan tubuhnya, kedua tangan diletakkan diatas meja. “Perlu Karin ingatkan, jaga suami Mbak!” Ucapan Karin begitu tajam menancap dihati Alena. Kenapa bisa dia berbicara demikian? Karin langsung pergi dan membuka knop pintu ruangan dengan keras. Bruggghhhh “Astagfirullah!” teriak Alena melihat Shella sudah berada dilantai. Karin memalingkan wajah dengan sinis, menatap ke atas langit-langit. “Karin, jangan diam saja! Cepat bantu, Mbak.” Alena bersusah payah membantu Shella untuk berdiri. Karin masih saja diam berdiri sambil melipat kedua tangan di atas perutnya. “Nggak apa-apa kok, Mbak,” ucap Shella sambil mengibaskan dressnya yang tak kotor. “Yakin? Perut kamu nggak sakit?” tanya Alena cemas. “Iya, benar kok, nggak ada yang sakit, Mbak,” ujar Shella meyakinkan. “Makanya kalau jadi perempuan jangan suka menguping pembicaraan orang dibalik pintu.” Karin pergi meninggalkan Alena dan Shella yang mematung di ambang pintu. Alena hanya menggelengkan kepalanya melihat perilaku Karin. Ada apa dengan Karin? “Kamu istirahat di rumah saja ya, biar saya pesankan taksi,” ucap Alena khawatir saat membantu Shella untuk duduk di ruang kerjanya. “Nggak perlu, Mbak. Ini hari pertama saya kerja di sini. Saya nggak mau buat Mbak Alena kecewa,” tutur Shella pelan yang mampu membuat Alena terharu mendengarnya. “Ya ampun, kamu memang orang pekerja keras. Mbak bangga dan senang bisa bertemu dengan kamu.” Alena berdecak kagum akan sosok Shella. Untuk kesekian kalinya Shella berhasil mengambil hati Alena. Dengan begitu, Alena tidak akan menaruh curiga pada Shella. Drrttt drrttt drrttt Alena membuka pesan di aplikasi berlogo telepon. [Besok Papa pulang, mau dibawakan oleh-oleh apa?] Dengan cepat Alena membalas pesan tersebut. [Terserah Papa saja, Mama terima apapun asal pakai ❤️] Tanpa sadar, Alena menyunggingkan senyum di bibirnya yang ranum. Hal itu tentu saja membuat Shella menjadi curiga. Dia menganggap bahwa pesan yang diterima oleh Alena tersebut adalah dari Iyus Mahardika. Seketika wajah Shella berubah menjadi masam. *** Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sudah seharusnya Alena untuk pulang ke rumah. Dia mematikan laptop kerjanya, sedangkan Shella merapikan sisa makan malam yang terserak di atas meja. “Rin, titip salon ya, jangan lupa nanti dikunci semua.” Alena berpamitan pada Karin yang tengah sibuk memperlihatkan hasil riasan wajah kepada pelanggan baru yang sepertinya akan menjadi pengantin. Karin hanya mengangkat jempolnya sebagai tanda mengerti. Alena melajukan mobil brio merahnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibukota. Kondisi lalu lintas malam itu begitu macet, sehingga dia membutuhkan waktu satu jam untuk sampai dirumahnya. “Shell, kamu bisa istirahat di kamar dekat dapur itu ya.” Alena menunjuk sebuah kamar sebelum naik ke lantai dua menuju kamarnya. “Iya, Mbak. Sekali lagi terimakasih banyak ya,” ucap Shella seraya sedikit membungkukkan tubuhnya. Alena menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Perlahan menaiki anak tangga sambil menggendong Ralin yang terlelap menuju kamarnya. Alena mengusap lembut rambut Ralin yang masih tertidur pulas di ranjangnya setelah melaksanakan sholat ashar. Alena tampak kasihan melihat putrinya harus terus ikut bersamanya ke salon. Alena terus menimbang-nimbang keputusan yang harus diambilnya. Semua tidak mudah, dia tidak bisa meninggalkan salon karena itu adalah hobinya sejak masih dibangku SMA. Alena suka berhias diri didepan cermin layaknya pengantin. Dia pun pernah memotong rambut teman-temannya dan semua suka dengan hasilnya. Sejak itulah Alena memutuskan untuk berkecimpung di dunia kecantikan demi kelangsungan hidupnya. Ya, Alena hidup bersama ibu tiri, Ratmi Handayani yang hanya mencintai ayah kandungnya. Saat umur 1 tahun, Alena harus menerima kenyataan pahit ditinggalkan selamanya oleh sang Ibu yang telah melahirkannya. Tak lama setelah ayahnya menikah lagi, ketika berusia 4 tahun, Alena resmi menyandang status yatim piatu. Bersyukur Alena bisa bersekolah hingga lulus SMA karena ayah tirinya, Hardi Baskoro, yang resmi menikahi Ratmi disaat usianya menginjak 6 tahun. Pahit getir kehidupan Alena alami hingga dia menjadi pribadi yang mandiri. Itulah sebabnya mengapa dia tidak tega melihat orang lain menderita atau bahkan lebih darinya. Karena itu sangat menyakitkan. Terlalu dalam Alena memikirkan hingga tanpa sadar dia hanyut terbawa ke alam mimpi. *** Keesokan paginya seperti biasa Alena melakukan aktifitas sebagai seorang ibu. Sekitar pukul 7 pagi, semua pekerjaan rumah telah diselesaikannya dengan rapi. Tak lupa Alena mengajak Ralin untuk sarapan terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi ke salon. “Loh, Shel, baru bangun?” tanya Alena ketika melihat Shella keluar dari kamarnya. Shella tersenyum kikuk. “Eh, iya, Mbak.” Shella menghampiri Alena yang tengah menyendokkan nasi ke piring Ralin. “Mari, sarapan dulu,” ajak Alena ramah. Shella mengangguk dan segera menarik kursi untuk sarapan bersama. Terlihat dia menahan sakit di perutnya. Diusapnya dengan lembut untuk meredakan rasa tak enak itu. “Kamu kenapa? Sakit?” tanya Alena cemas. “Sepertinya, Mbak. Perut saya sedikit nggak enak,” jawab Shella pelan. “Kalau begitu hari ini kamu istirahat dirumah saja. Kebetulan Mas Iyus juga pulang hari ini, jadi aku naik taksi agar pulangnya bisa dijemput Mas Iyus,” tutur Alena dengan senang. Shella memaksa untuk mengukir garis lengkung di bibirnya. Dalam hati, dia sangat tidak suka dengan pemandangan itu. Lihatlah Alena, sebentar lagi semua kebahagiaanmu akan berpindah ke tanganku, batin Shella. Tiga puluh menit lamanya taksi yang ditunggu akhirnya datang. Alena dan Ralin bergegas pergi. “Titip rumah ya, Shel.” Alena berpamitan dan perlahan menghilang jauh dari pandangan Shella. Shella melangkah masuk kedalam rumah. Tak lupa untuk mengunci pintu dari dalam. Shella pandangi satu per satu benda yang ada di ruang tamu. Disentuhnya dengan senyum menyeringai. Dalam hati Shella berkata, “Tak lama lagi, dia yang akan menjadi ratu di rumah itu.” *** Di lain tempat, waktu yang bersamaan, Iyus Mahardika sedang memilih bucket bunga di sebuah toko. Dia berencana untuk memberikan kejutan pada istrinya, Alena. Dia sengaja tak memberi kabar apapun sejak kemarin sore, dan itu pasti membuat Alena merasa kesal padanya. Setelah merasa cukup puas atas pilihannya, dia langsung bergegas ke rumah untuk sekedar mandi dan bersiap-siap ke salon untuk menghadiahi bunga itu pada Alena. Sekitar pukul 9, Iyus sudah sampai di depan rumah. Dia memarkirkan mobilnya sebentar diluar. Perlahan tangannya membuka slot pagar. “Loh, nggak dikunci? Mobil Alena masih ada, berarti masih dirumah. Sekarang saja kalau begitu kasih bunganya.” Iyus bermonolog dengan dirinya sendiri. Kakinya melangkah mantap ke depan pintu rumah lalu mengetuknya. Iyus membelakangi daun pintu untuk menyembunyikan bunga yang ada ditangannya. Tak lama terdengar suara kunci pintu terbuka. Dengan cepat Iyus membalikkan tubuhnya dan menyodorkan bucket bunga mawar merah. “PAGI SAY ....” Kata-kata Iyus terhenti, matanya yang teduh membulat sempurna ketika yang dilihatnya bukanlah Alena. Sekujur tubuhnya kaku tak bergerak. *** Bersambung
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
ya bagus
12/05/2024
0lanjut Thor
19/12/2022
0mamtap
16/04/2022
0Xem tất cả