Obrolan mereka terhenti saat terdengar suara teriakan dari dalam rumah, tepatnya dari dalam kamar Bayu. Mereka berdua bergegas masuk dan kaget melihat apa yang terjadi. "Sekar?" Di kamar mandi terlihat wajah Sekar memerah karena terkena siraman air panas. "Kenapa Tante?" tanya Ani. "Pakai nanya lagi, kamu tidak lihat wajah tante kepanasan gara-gara air kran s*alan ini, apa? Lagian siapa sih yang naruh air panas di sini? Kurang kerjaan banget ngerebus air terus di alirkan ke kran mandi, biasanya juga air dingin yang ada." jawab Sekar sewot. Ani yang mendengar perkataan tantenya sebisa mungkin menahan tawa. Dengan sekali lihat dia langsung paham bagaimana karakter tantenya itu. "Sudah jangan marah-marah Dek, biar Mas ajarin cara pakai krannya. Putar ke arah kiri untuk air dingin, lihatlah di kiri kran ada bulatan berwarna hijau, itu artinya dingin. Lalu putar ke kanan untuk air panas, disana ada bulatan merah yang artinya untuk air panas." "Wah, Mas Bayu kok hebat banget sih bisa tahu hal beginian? Biasanya juga mandi di sungai tanpa harus muter kran air kan?" puji Sekar. "Mas kan pernah kerja di hotel Dek, jadi paham masalah beginian. Lanjutkan mandimu, Mas tunggu di luar ya." "Hati-hati ya Tante, jangan sampai salah lagi," ucap Ani. "Iya iya, bawel," jawab Sekar sewot. Ani dan Bayu keluar dari kamar mandi meninggalkan Sekar sendirian. "Om, aku ke kamar dulu ya." "Ya, Om mau menemui emakmu, Kira-kira dia dimana ya?" "Paling di ruang tengah nonton sinetron ikan terbang Om." "Ok, Om cari kesana saja." Bayu menemui Sri yang sedang bersantai di ruang keluarga, dia mengutarakan niatnya ke kota untuk meminta pekerjaan. "Mbak, sebenarnya Bayu kesini mau minta pekerjaan, kerja apa saja yang penting halal Mbak." "Em, sebenarnya kamu bisa saja mengelola salah satu restoran milik Mbak, biar nanti aku bicarakan dulu sama Mas Dirga ya." "Jabatan rendah tidak masalah Mbak, Bayu sadar kalau belum punya banyak pengalaman kok. Yang penting kerja dan tidak menganggur biar bisa kirim uang untuk anak-anak di kampung." "Memangnya anak-anakmu ikut siapa? Kenapa tidak diajak kemari sekalian?" "Ikut mertua Bayu, Mbak. Nanti kalau Bayu sudah dapat pekerjaan dan penghasilan yang tetap mereka saya jemput." "Sebelumnya kamu bekerja di mana, Bay?" "Pelayan hotel Mbak, tetapi gajinya sedikit sekali, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Atas saran Emak, Bayu disuruh kemari untuk meminta pekerjaan sama Mbak Sri." "Maaf ya Bay, kemarin Mbak sempat melupakanmu karena terlalu sibuk dengan bisnis Mbak." "Tidak apa-apa Mbak, Mbak bisa menolong Bayu saja rasanya sudah senang banget. Bagaimanapun juga aku ini seorang laki-laki Mbak, sebenarnya aku malu minta pekerjaan sama Mbak Sri. Tapi karena keadaan dan dorongan dari emaklah yang memaksaku untuk kemari." "Mbak malah akan marah jika kamu tidak kemari Bay, sebisa mungkin Mbak akan bantu." "Iya Mbak, terimakasih." "Mbak, mbok ya Mas Bayu itu suruh jadi manajer gitu hlo, masak Adik dari seorang bos mau disuruh jadi pelayan, kan tidak mungkin gitu," Sekar yang baru saja selesai mandi langsung nimbrung percakapan kakak beradik itu. "Sekar." Bayu merasa malu mendengar omongan istrinya. "Iya Sekar, Mbak memang berencana menyuruh Bayu untuk mengelola salah satu cabang restoran, untuk masalah ini biar Mbak bicarakan dulu dengan Masmu ya." "Kenapa harus bicara dengan Mas Dirga, Mbak? Bukankah restoran itu milik Mbak Sri?" tanya Sekar. "Memang restoran itu atas nama Mbak, tetapi Mas Dirga lah yang telah mendirikan restoran itu, jadi saya tinggal mengelola saja." "Oh, begitu tho Mbak." "Begitu saja kok tidak paham tho Sekar, yang namanya restoran milik keluarga itu tentunya semua yang berkaitan dengan restoran harus di ketahui oleh semua anggota keluarga, apalagi untuk masalah perekrutan pegawai, tidak bisa asal nerima orang saja, harus diketahui kualifikasi calon pekerjaan tersebut," ujar Bayu. "Ya maaf Mas, aku kan tidak tahu." "Makanya, punya HP tuh jangan cuma buat yusupan lihat drakor saja, lihatlah sesuatu yang lebih bermanfaat yang bisa menambah pengetahuan. Seperti kran air tadi tuh, masak gitu saja tidak tahu tho." "Kok merepet ke mana-mana sih Mas, nyebelin." "Aku kan…." "Lagian nih HP jarang diisi kuota, mana bisa internetan." Sri hanya tersenyum melihat perdebatan mereka. Krucuk…. Perut Sekar berbunyi cukup keras. "Kalian pasti sudah lapar ya, yuk kita makan dulu." Sri paham dengan suara kemerucuk tadi. "Mbak tahu saja kalau aku sudah lapar." Mereka bertiga menuju ke meja makan. Sekar kaget melihat hidangan yang ada di atas meja. Aneka seafood, ayam, rendang, mi goreng, capjay, tahu dan tempe goreng. Untuk pencuci mulut sudah ada Aneka buah-buahan segar, puding dan es buah. "Wow, banyak sekali makanannya. Mewah semua ini, makanan Sultan ya?" Sekar mengagumi makanan yang ada. "Ini masakan spesial untuk menyambut kalian berdua. Jangan malu-malu, makanlah yang banyak." "Mantap sekali Mbak Sri, ayo sikat semua Mas." "Ayo, Mbak tidak makan sekalian?" "Aku nunggu anak-anak pulang. Kalian duluan saja, aku tinggal dulu ya." Sekar mulai mengambil makanan ke dalam piringnya, semua jenis lauk dia masukkan ke piring sampai penuh. "Makanlah secukupnya Dek, jangan terlalu serakah." Bayu berusaha menasehati Sekar. "Kapan lagi kita bisa makan seenak ini Mas," ucap Sekar sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya. "Iya, tapi jangan terlalu berlebihan." Sekar tidak memperdulikan perkataan Bayu dan terus saja makan. "Itu kenapa ada pengganggu di sana sih, merusak pemandangan saja," ucap Sekar sambil menunjuk tahu dan tempe yang ada di piring. "Gayamu Dek, biasanya juga makanan kita cuma tahu atau tempe." "Makanya Mas, mumpung ada lauk lain, segera jauhkan mereka dariku merusak pemandangan saja." Bayu menyingkirkan tahu tempe dari pandangan Sekar. Berbeda dengan istrinya, Bayu hanya mengambil lauk seperlunya saja. "Mas makannya kok sedikit sekali sih? Tidak perlu malu Mas, ini semua memang di suguhkan buat kita." "Segini saja Mas sudah kenyang kok Dek." "Kamu ini Mas, tidak bisa memanfaatkan kesempatan yang ada." Sekar terus menikmati hidangan yang ada sampai perutnya penuh. "Kenyang sekali aku Mas." "Ya sudah, jangan makan lagi." "Itu masih ada puding, buah-buahan dan salad yang belum aku cicipi." "Nanti kamu bisa sakit perut hlo dek. Berhentilah makan sebelum kenyang." "Mubazir Mas, kalau bukan kita siapa lagi yang akan makan." Sekar terus saja makan tanpa memperdulikan perutnya yang sudah penuh. "Asalamualaikum." Terdengar salam dari seseorang yang mendekati mereka. "Waalaikumsalam," jawab Bayu. "Kamu pasti Bayu, adiknya Sri. Perkenalkan aku Dirga, suami Sri." Dirga berusaha menjabat tangan Bayu tetapi ditolaknya. "Iya Mas, maaf tangan saya kotor, ini istri saya sekar." Bayu berusaha memperkenalkan istrinya. Tetapi Sekar hanya diam saja dengan mulut masih penuh dengan makanan. Dia terpana melihat ketampanan Dirga. "Sekar." Bayu menyenggol lengan Sekar. "Eeeh...." Sekar kelabaan dan berusaha mengulurkan tangan kotornya ke arah Dirga. "Sekaaar...."
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 23 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Xem tất cả