logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 34 Kedatangan Bayu Dan Sekar

Habis gelap terbitlah terang, mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Sri sekarang ini.
Kesabaran dan kebesaran hati Sri dalam mengarungi biduk rumah tangganya dengan Kadir akhirnya sekarang berbuah manis. Pernikahan yang harus kandas karena sikap Kadir yang jahat sekarang membawanya menuju ke kebahagiaan yang tidak pernah di bayangkan Sri sebelumnya.
Menikah dengan Dirga membuat hidupnya sangat bahagia. Terlebih lagi saat Sri melahirkan anak dari Dirga yang berjenis kelamin perempuan. Kebahagiaannya bertambah berkali-kali lipat. Gadis cantik dengan pipi tembem itu mereka beri nama Kila. Kila menjadi anak kesayangan kakak-kakaknya yang sudah duduk di bangku SMP, SMA dan kuliah.
Kila lahir di saat usia Sri tidak muda lagi. Bahkan Sri sudah sanksi kalau  dia bisa mempunyai anak lagi, tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain, Sri hamil di usianya yang sudah menginjak angka empat puluh lima tahun.
Sekarang anak-anak Sri sudah dewasa. Ali dan Ani duduk di bangku kuliah di sebuah universitas negeri di kotanya. Memang dari kecil mereka sangat pandai. Meski setiap hari harus membantu Sri mencari uang tetapi mereka tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang murid.
Disaat semua anak sudah terlelap dalam buaian malam, anak-anak Sri masih sibuk belajar. Mereka paham betul jika pendidikan tinggilah yang bisa mengubah mereka ke kehidupan yang lebih baik.
Jika mengenang saat dimana masih hidup susah, Sri sangat bersyukur karena akhirnya sekarang dia bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anaknya.
Dirga adalah tipe ayah penyayang dan penyabar, tidak pernah sekalipun dia berkata kasar atau bahkan bermain tangan dengan anak-anak tirinya. Dia menyanyanginya seperti anaknya sendiri.
Bisnis restoran yang mereka geluti sudah membuka cabang di berbagai kota. Keuangan lancar dan keluarga Sri hidup dengan harmonis.
Jika tidak ada masalah maka suatu hubungan akan terasa hambar, bukan?
Badai rumah tangga Sri mulai muncul sejak kedatangan Bayu dan Sekar. Mereka adalah adik kandung dan adik ipar Sri yang datang dari desa.
"Mbak Sri," sapa Bayu yang baru saja sampai.
"Bayu? Benarkah ini kamu Dek? Mbak kangen banget, Bapak dan Emak apa kabar?"
"Baik Mbak, perkenalkan ini istriku Sekar."
"Halo Mbak, saya Sekar, istrinya Mas Bayu."
"Halo Sekar, salam kenal. Ayo masuk dulu, kalian berdua pasti lelah sehabis menempuh perjalanan jauh."
"Iya Mbak."
Sri mengajak adiknya masuk ke dalam rumah.
"Wah, besar sekali rumahmu Mbak, barang-barang yang ada di sini belum pernah aku lihat di desa," ucap Bayu kagum melihat keindahan rumah Sri.
"Benar Mas, rumah Mbak Sri seperti istana ya."
"Kamu benar, Dek," jawab Bayu sambil melepas sandalnya.
"Kalian ini bisa saja deh, eh, kenapa sandalnya di lepas? Pakai saja Bayu."
"Kakiku kotor Mbak, takutnya nanti lantainya juga ikut kotor."
"Tidak apa-apa, ada Bik Yem yang ngepel nanti. Kalian duduk di sini ya, biar aku ambilkan minum dulu."
Sri meninggalkan Bayu dan Sekar di ruang tamu.
"Mas, aku tidak pernah menyangka kalau Mbakmu sekaya ini. Ya ampun, empuk sekali sofa ini. Dan semua perabotan yang ada di sini terlihat sangat mahal dan berkelas. Beda sekali dengan rumah kita yang isinya barang-barang murahan saja, kenapa tidak dari dulu kita kesini ya Mas?"
"Kamu benar Dek, Mas juga baru sekali ini ketemu sama Mbak Sri setelah sekian lama kami berpisah. Mas tidak pernah menyangka kalau Mbak Sri bisa sesukses ini setelah menikah dengan Mas Dirga."
"Nanti kamu langsung minta pekerjaan saja ya sama Mbakmu, siapa tahu langsung bisa jadi bos."
"Kamu ada-ada saja Dek, mana bisa orang yang masih awam seperti aku ini bisa langsung jadi bos. Yang ada nantinya aku jadi bawahan dulu lah."
"Eh, siapa tahu kan Mas, kamu ini kan Adik satu-satunya."
"Ya semoga saja rejeki kita berlimpah setelah hidup di kota ya Dek."
"Harus dong, aku tidak mau hidup miskin lagi, punya Kakak kaya harusnya bisa dimanfaatkan Mas," ucap Sekar menggebu.
"Bukan dimanfaatkan Dek, tapi dimintai tolong."
"Terserahlah bagaimana kamu menyebutnya, pokoknya aku mau hidup enak mulai dari sekarang."
"Iya, maafkan Mas yang belum bisa membahagiakanmu dan anak-anak ya, Dek."
"Nah, itu kamu tahu."
"Terimakasih selama ini sudah mau menemani Mas, Mas berjanji akan bekerja keras supaya Adek dan Anak-anak bisa hidup lebih layak."
"Baguslah kalau sadar, memang seharusnya dari dulu seperti itu."
Percakapan mereka terhenti saat Sri datang dari arah dapur membawa nampan yang berisi minuman dan makanan ringan. Dia meletakkan nampan di meja dan mulai duduk di sofa.
"Minumlah, habis ini kalian bisa istirahat di kamar, kalian pasti lelah."
"Iya Mbak, pegel banget badanku ini pengen segera rebahan," jawab Sekar.
"Ayo aku tunjukkan kamar kalian."
Sri mengantar Bayu dan Sekar ke kamar tidur tamu yang ada di samping ruang tamu.
"Ini kamar kalian, aku tinggal dulu ya."
Bayu dan Sekar masuk ke kamar dan segera merebahkan badan di kasur.
"Ahh … empuk sekali kasur ini Mas, nyaman dan dingin ruangannya. Tidak seperti kamar tidur kita di desa, kasur kapuknya keras dan kamarnya panas. Sepertinya aku bakal betah tinggal di sini."
"Kamu benar Dek, berbeda sekali dengan kamar kita yang ada di desa. Aku mau mandi dulu ya Dek, habis itu mau menemui Mbak Sri."
"Iya, aku mau istirahat dulu."
Bayu bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menguyur badannya yang sudah penat karena seharian berada di bis. Setelah itu dia keluar dan mendapati istrinya sudah tertidur pulas. 
Bayu keluar ruangan dan mencari keberadaan Sri. Tetapi karena rumah Sri yang terlalu besar dia tidak bisa menemukannya. Bayu sampai di kebun belakang rumah dan mendapati seorang anak perempuan sedang menyiram bunga. Dia mulai mendekati anak tersebut.
"Om siapa?"
"Halo, perkenalkan namaku Bayu, aku adalah adik kandung dari Mbak Sri yang tinggal di kampung."
"Oh, Om Bayu. Emak sudah cerita kalau Om mau datang ke sini. Aku Ani Om," ucap Ani sambil mencium punggung tangan Bayu dengan takzim.
"Dimana saudaramu yang lain? Kenapa sepi sekali?"
"Adik-adik masih les Om, sedangkan Mas Ali masih di kampus, ada kuliah sore."
"Oh ya, kamu mirip sekali dengan Emakmu, Ani. Wajah Mbak Sri waktu masih muda benar-benar menurun dengan sempurna," puji Bayu.
"Iya Om, untung saja aku tidak mirip Bapak, kalau tidak pasti kulitku hitam legam dan jelek, hahaha."
"Kamu bisa saja."
Ani dan Bayu mengobrol dengan seru, Bayu menceritakan kehidupan masa kecil Sri. Dengan antusias Ani mendengarkannya. Meskipun baru ketemu tetapi mereka berdua dengan cepat akrab. 
"Arrgghhhhtt…."
Obrolan mereka terhenti saat terdengar suara teriakan dari dalam rumah rumah, tepatnya dari dalam kamar Bayu. Mereka berdua bergegas masuk dan kaget melihat apa yang terjadi.
"Sekar?"

Bình Luận Sách (304)

  • avatar
    2016Louise

    Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.

    11/01/2022

      0
  • avatar
    Callista

    fokus ceritanya ke mana²

    03/02

      0
  • avatar
    Visitor

    jumadi

    02/02

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất