Dirga mengambil kotak kecil dari dalam kantong jasnya. Sambil berlutut dia memperlihatkan isi di dalam kotak tersebut. "Sri, will you marry me?" Sri sangat kaget melihat perlakuan Dirga. Tetapi dia langsung bisa menguasai dirinya. "Maaf Mas, aku tidak bisa." Seketika itu juga Dirga langsung berdiri karena kaget mendengar jawaban dari Sri. "Kenapa Sri? Apa kurangnya aku? Aku tampan, kaya, baik hati dan tidak sombong, suka menabung juga." Jawab Dirga dengan sombong, sedangkan Sri hanya tersenyum mendengar perkataan Dirga. "Ya, aku tahu itu." "Apakah kamu sudah mencintai orang lain?" "Ya, sudah ada orang lain di hatiku Mas." "Kenapa sudah ada Sri? Apakah tidak ada tempat di hatimu untukku meski hanya sedikit saya? Aku benar-benar tulus mencintaimu Sri, aku tidak masalah dengan statusmu. Tolong pertimbangkan lagi Sri, tidak akan ada orang lain yang bisa mencintai anak-anakmu seperti aku mencintai mereka." "Maaf mas, aku tidak bisa, aku sudah terlanjur mencintainya begitu dalam sehingga sulit untukku melepaskannya. Semula aku mengira dia tidak memiliki perasaan kepadaku tapi ternyata dia juga mencintaiku." "Apa sih kelebihannya?" "Dia adalah lelaki terhebat yang pernah aku temui, dia itu…." "Sudah-sudah tidak perlu diteruskan lagi. Dengan memujinya kamu telah menaburkan garam di lukaku Sri" "Lhoh, tadi kan kami yang bertanya apa kelebihannya, giliran aku jawab kok jadi sewot sih." "Ya jelaslah, aku yang begitu sempurna ini ternyata ditolak mentah-mentah oleh seorang Sri. Padahal diluar sana banyak yang mengantri ingin menjadi istriku." "Kalau banyak yang ngantri kenapa tidak kamu pilih salah satu dari mereka saja?" "Namanya juga hati tidak bisa dipaksa, mau sempurna seperti apapun kalau hati ini tidak bergetar saat bersamanya sama saja bohong dong." "Ya cari lah orang yang bisa menggetarkan hatimu itu." "Orang itu ya kamu Sri tidak ada yang lain. Taulah, capek aku, ayo kita pulang saja, berantakan acara lamarannya." Sri tersenyum geli melihat tingkah Dirga. "Ayo buruan pulang, sudah badmood aku." Dirga benar-benar bertingkah seperti seorang anak kecil. "Lho, makanannya bagaimana? Sayang hlo kalau tidak dimakan." "Aku sudah kenyang." "Tapi aku masih lapar, belum makan dari tadi." "Dibungkus saja, nanti kamu makan di rumah, ayo cepat pulang," ucapnya mulai menarik tanganku. "Tunggu dulu…." "Apa lagi sih?" "Mana cincinnya, masak mau dibawa pulang. Cepat pasangkan kejariku." "Bukannya kamu sudah mencintai orang lain, ngapain masih menginginkan cincin ini." "Dasar b*d*h…." "Maksud kamu apa sih?" "Bapak Dirga yang terhormat, yang katanya baik hati tidak sombong dan suka menabung, orang yang saya maksud itu ya kamu." "Hah? Jadi maksudnya?" "Yes, I will…." "Beneran Sri? Kamu menerimaku?" tanyanya dengan mata berbinar. Sri hanya membalas dengan anggukan. "Hahahaha … terima kasih Tuhan, akhirnya sebentar lagi aku akan punya istri." Dirga meloncat-loncat kegirangan seperti anak kecil. Sri tertawa melihat tingkah Dirga. Setelah lelah loncat-loncat dia menghampiri Sri untuk memeluknya. "Eits … bukan muhrim Mas." "Kalau begitu ayo kita segera ke KUA, aku sudah tidak sabar ingin segera menjadikanmu istriku." "Lhah, mana ada KUA buka malam-malam begini." "Hal apa sih yang tidak bisa aku lakukan? Sekarang pun aku bisa mendatangkan penghulu kemari." "Jangan ngaco deh Mas, pernikahan itu sesuatu yang sakral jadi harus dipersiapkan dengan matang. Apalagi aku orang Jawa mas, moment seperti itu tidak boleh sembarangan dilakukan, harus mencari hari baik dulu." "Yah, jadi kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat dong?" "Kita tanya Bapak saja hulu, Mas." "Tidak apa-apalah jika harus menunggumu lagi aku akan berusaha ikhlas dan bersabar, yang penting kamu sudah mau menerima pinanganku. Kalau begitu sekarang kita pacaran dulu aja yuk?" "Heh, aku tidak mau pacaran jika nantinya hanya membuat dosaku bertambah." "Makanya ayo cepat kaw*n Sri." "Dibilangin tanya Bapak dulu kok ngeyel." "Aku bilang kaw*n lho Sri, bukan nikah." "Dasar om-om mesum," teriak Sri sambil memukuli Dirga dengan tasnya. "Hahaha … ampun tante." Dirga terus mengelak dan terjadi kejar-kejaran seperti di film India, cieee…. ... "Bapak dan emak sudah mencarikan hari baik untuk melaksakan pernikahan kalian." ucap bapak sore itu. "Hari apa itu Pak?" Tanya Dirga tidak sabar. "Minggu depan, tepatnya hari rabu kliwon adalah hari baik, kalian bisa melaksanakan acara pernikahan." "Baiklah Pak, akan saya diskusikan dahulu mengenai bagaimana acaranya nanti dengan Sri." … "Sri, kamu ingin acara pernikahan seperti apa?" "Pinginnya seperti di dongeng-dongeng itu Mas, aku memakai gaun yang mewah dan acaranya outdoor gitu." "Ok, aku akan menyiapkan semuanya, kamu tinggal urus bajunya saja ya." "Apakah kamu tidak butuh bantuanku Mas?" "Tidak, ini akan menjadi kejutan untukmu." "Baiklah." … Hari pernikahan pun tiba, Sri sudah dirias dengan sangat cantik, memakai gaun pengantin bak putri di dalam dongeng. Dia segera memasuki limousin yang akan membawanya ke tempat acara nanti. Sri benar-benar tidak tahu bagaimana tempat pernikahannya nanti, dia tahunya beres saja. Limousin sudah sampai di tempat tujuan. Sri didampingi bapak menuju ke tempat acara, betapa terkejutnya Sri melihat dekorasi tempat acaranya berlangsung. Bernuansakan alam tetapi terlihat sangat indah dengan warna putih dan hijau yang mendominasi. Sri mulai mendekat ke arah bangku yang sudah disiapkan, disana sudah duduk Dirga dan bapak penghulu. "Kamu cantik sekali hari ini calon istriku, aku sudah tidak sabar buat … aduh." Dirga berbicara dengan berbisik-bisik, tetapi belum selesai kata-katanya Sri sudah mencubitnya. "Jangan bicara macam-macam mas," ancam Sri, sedangkan Dirga hanya tertawa kecil. Acarapun dimulai. "Saaaah…." Akhirnya mereka berdua sudah resmi menjadi suami istri. Acara dilanjutkan dengan makan-makan bersama. Setelah selesai acara mereka langsung pulang menuju ke rumah Sri. Sri mulai membersihkan badan karena sudah gerah dengan make up tebalnya. Setelah selesai giliran Dirga yang membersihkan badan. Terlihat Sri sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Dengan cepat Dirga membawa Sri kedalam gendongannya. "Mas, apa-apaan sih, turunin aku dong," rengek Sri. "Iya, bobok yuk sayang," ucap Dirga manja. "Hmm…." Sri pun mengangguk tanda setuju. Perlahan dia meletakkan Sri di kasur lalu ikut berbaring di sebelahnya. "Sri, kamu cantik sekali, belum pernah aku melihatmu tanpa mengenakan jilbab," rayu Dirga sambil memainkan rambut istrinya. Perlahan-lahan dia menurunkan wajahnya, berusaha menyentuh bibir Sri dengan bibirnya. Tok ... tok ... tok…. Belum sempat terlaksana niat Dirga tiba-tiba saja pintu di ketuk. "Siapa sih, ganggu saja." "Sabar Mas, nanti dilanjutkan lagi." Sri tertawa geli melihat Dirga yang kecewa. Diapun langsung menuju kepintu untuk mencari tahu siapa yang ada di luar pintu. Ceklek … pintupun terbuka dan terlihat anak-anak Sri datang membawa bantalnya. "Mak, kami mau tidur sama Emak sama Papa, boleh?" "Hah?" Dirga kaget mendengar permintaan anak-anak. "Iya, boleh sayang" Dirga cemberut mendengar jawaban Sri. "Kalau kamu menikah denganku kamu langsung dapat sepaket Mas." "Gagal deh malam ini." Sri tertawa mendengar perkataan Dirga. Akhirnya malam pertama mereka habiskan dengan tidur berdesak-desakan.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 24 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (304)
2016Louise
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
Ok banget sih baru 1 bab di baca sudah mengerti bgmn seorg istri yang harus bekerja tambahan utk memenuhi kebutuhan keluarga dengan anak bny dan kebalikan dgn suami yang besar keinginan kpingin punya bny anak tp asal saja/tdk bs memenuhi kebutuhan keluarga.
11/01/2022
0fokus ceritanya ke mana²
03/02
0jumadi
02/02
0Xem tất cả