"Selamat datang, Den." Mbok Yati tak bisa berpaling dari wajah tampan Fatur yang ternyata perawakannya lebih muda dari yang dia kira. Rania tergagap, takut kalau Fatur ingat kepada dirinya dan mengungkit apa yang terjadi di pasar tadi pagi. Kata-kata yang keluar dari mulutnya hampir tak satu pun ada yang beres, isinya hanya memaki seputar ikan busuk. Kalau Fatur punya nalar yang tajam, tentu tak akan sulit untuk tahu bahwa kalimat itu diarahkan kepadanya. "Ha ..., halo. Rania." Dengan gugup tingkat dewa, Rania menjulurkan tangannya ke hadapan Fatur. Untungnya Fatur menyambut salam itu tanpa menyinggung kejadian di pasar tadi. "Fatur." Syukur deh kalau dia nggak ingat aku ..., batin Rania lega. "Silakan masuk, Den. Mau langsung makan atau minum teh dulu?" tanya Mbok Yati. "Kayaknya--" "Langsung makan aja, Mbok. Soalnya kalau ngeteh dulu takutnya malah keburu kenyang!" potong Rania tanpa ragu-ragu. Fatur cuma bisa menyunggingkan senyum kecut melihat tingkah Rania yang sama sekali tak menunjukkan keramahan. Kuasa berada di tangan Rania sepenuhnya, mau tak mau Mbok Yati mengikut saja apa yang dia mau. *** "Tante nggak di rumah?" tanya Fatur ketika sudah berada di meja makan. "Nggak. Nemenin Eyang," jawab Rania tanpa menatap Fatur sama sekali. "Sunyi ya kalau rumah sepi begini." Seakan tak mau menyerah, Fatur masih mencoba untuk mengajak Rania bicara. Namun, Rania pura-pura tak mendengar. Bagian yang ditunggu-tunggu Rania akhirnya tiba juga. Makan siang. Dengan sok manisnya, Rania menyendokkan lauk kepala kakap ke atas piring Fatur. Fatur lumayan kagok, matanya melirik Rania dengan heran. Rania tersenyum tipis. "Silakan dimakan, Mas Fatur. Ini aku sendiri loh yang masak," katanya penuh kepalsuan. Sendok sudah di tangan kanan dan garpu di tangan kiri. Fatur menjorokkan kepalanya sesaat, lalu berbisik, "Ini bukan ikan busuk, kan?" tanyanya pelan. Seketika Rania terbelalak. "Hah?!" teriaknya spontan. Jadi dia ingat apa nggak, sih? Aku dikerjain, nih?! Kedua tangan Fatur melambai di depan dadanya dibarengi tawa renyah yang jujur saja, cukup membuat dada Rania berdesir. Senyum Fatur lebih manis ketimbang es teh manis yang ada di atas meja makan. "Aku cuma bercanda. Nggak mungkinlah kamu masak ikan busuk. Cuma tadi di pasar, pas aku lagi beli ikan juga, ada orang yang katanya mau beli ikan busuk, gitu," ralat Fatur memberi penjelasan. "Ooo gitu, he he." Rania tertawa kaku. Yang kamu maksud itu aku! Pekiknya dalam hati. "Ya udah, makan yuk, silakan dicicip." Rania memicingkan matanya, memastikan Fatur sungguh-sungguh menelan makanan yang telah dia beri obat pembersih usus tadi. Dan ketika sendok benar-benar masuk ke dalam mulut Fatur, secara reflek Rania berseru pelan, "Yes!" "Kenapa?" tanya Fatur dengan mulut penuh makanan. "He he. Nggak ada. Lanjut aja makan nya. Enak, kan?" Fatur mengangguk tanpa ada rasa curiga sama sekali. Rania pun ikut menyantap makan siang, tapi tentunya gulai kepala kakap tak dia sentuh sama sekali dengan alasan tak suka makan ikan. *** Habis makan siang, Fatur tak segera pulang. Dia berkeliling rumah, masih berusaha untuk mencari bahan pembicaraan yang tepat dengan Rania. Sedang Rania sudah muak, kalau saja dia cukup punya nyali untuk mengusir pria itu. "Ini kamu?! Ha ha! Lucu ya!" Fatur menunjuk foto masa kecil Rania yang terpajang di ruang tamu. Rania cuma menggumam sekadarnya. Fatur beralih ke sebuah kolase berisi foto Rania dan mendiang ayahnya. "Kamu dulu dekat sama mendiang ayah kamu, ya?" Air muka Rania berubah sayu, sudah lama dia tak mendengar kata 'ayah'. Hidup tanpa ayah sekian lama telah membuatnya lupa bagaimana rasanya punya ayah, seperti apa rasanya .... "Ma-maaf! Aku bukannya mau ngingatin kamu sama kejadian sedih," ucap Fatur yang sigap menangkap perubahan ekspresi Rania. "Nggak apa-apa, kok, santai aja. Memang udah lama aku lupa gimana rasanya punya ayah, aku juga udah lupa mukanya, suaranya ..., ya gitulah." Rania menggaruk pipinya yang tak gatal untuk mengusir kecanggungan. "Yang penting kamu rutin kirim doa. Hanya itu yang dibutuhkan sama mendiang ayah kamu." Alis Rania menukik drastis, dia paling benci diceramahi seperti ini. Eyang Puteri pun kerap meminta dia untuk mengirim doa, namun boro-boro doa, Rania sudah lupa bagaimana cara untuk sembahyang. "Sebentar lagi bulan suci Ramadhan. Ada baiknya kamu ziarah nanti, kirim doa. Biasa juga gitu, kan?" tanya Fatur. "Nggak." "Hah? Kok enggak? Di keluarga kamu nggak ada tradisi nyekar?" "Paling Ibu doang yang pergi. Aku sih males!" sambar Rania judes. Bagus, sekarang dia bakal tau karakter asli aku! Yes! Rania berseru antusias dalam hati, berharap Fatur akan langsung menjauh darinya. "Kalau gitu tahun ini pergi sama-sama, yuk?" Rania menoleh cepat, jantungnya berdegup ganjil saat dia temui wajah manis fatur dan senyum lebarnya mengembang sehangat matahari pagi. Rania kehabisan kata-kata. Mulutnya gagu. "Yuk? Aku juga sebelum puasa nanti mau ziarah dulu ke makam mendiang Mbah-ku. Kita bisa bareng-bareng kalau daerah makamnya dekat." Harusnya Rania menolak detik itu juga, namun magis dari senyum tulus Fatur dan intonasinya yang begitu halus membuatnya sulit untuk berkata tidak. "Ya ... boleh." Jari telunjuk Fatur menunjuk sebuah bingkai berisi foto bayi mungil. "Ini kamu, kan? Manisnya ~" Suara Fatur yang menggemaskan membuat Rania memalingkan muka, dia tak tahan lagi mendengar segala pujian yang diberi Fatur. Ingin sekali rasanya lari dari tempat ini sekarang juga. "Waktu bayi aku juga gemuk banget. Sampai susah duduk," kenang Fatur. Dalam hati, sesungguhnya dia menanti kapan Rania akan balik bertanya tentang masa kecilnya, atau apa saja tentangnya, namun harapan itu pupus, Rania tampak tak menaruh perhatian sama sekali. Ketika Fatur asyik mengomentari hiasan lampu di ruang tamu, tiba-tiba dia memegang perutnya. Ada sensasi lain, nyeri yang teramat hebat seketika menyerang. Rania cengo, menunggu apa yang akan keluar dari mulut Fatur. Wajah Fatur memucat. "Eh ..., toilet! Aku ..., aku boleh numpang toilet, kan?!" serunya panik. "Ya! Ya! Di belakang!" Rania menunjuk ke belakang. Fatur berlari terbirit-birit. Setelah dia menghilang di balik pintu toilet, Rania langsung berjingkrak-jingkrak, rencananya sukses besar! Agak lama Fatur di dalam toilet, dia kembali dengan muka penuh keringat jagung. Rania berlaga kasihan, "Kamu nggak apa-apa? Aku buatin teh ya?" "Nggak usah, kayaknya aku mau pulang aja ..." Fatur membeku lagi sesaat, perutnya seperti sedang memproses lagi. "Belum! Aku ..., aku numpang toilet lagi!" teriaknya sambil berbalik kembali ke toilet. Lagi-lagi Rania tertawa terbahak-bahak. Mampus! Makan tuh toilet!
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
bagus baca
02/09/2024
0Best lah
01/07/2024
0bagus
31/12/2023
0Xem tất cả