logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 3 RENCANA B

"Fatur besok mau datang, ketemu di rumah aja kalau emang kamu nggak mau ketemu di rumah sakit."
Rania yang tengah asyik goler-goler di atas tempat tidur langsung duduk usai ibunya masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu, mukanya cemberut. "Loh? Gimana sih, Bu?! Kan udah janji kami ketemu di luar aja!" protesnya.
"Nak Fatur juga menolak ketemu pertama di luar, katanya nggak sopan. Dia akan datang ke sini, biarpun Ibu nggak di sini, nanti kan masih ada Si Mbok. Jadi bisa ngawasi kalian juga."
"Halah! Kayak anak kecil aja pakai diawasi segala! Dia orangnya ribet banget sih! Tinggal jumpa di kafe doang susah!"
"Ya itu permintaan Fatur sendiri, dan menurut Ibu itu justru lebih baik. Lain kali aja ketemu di luar. Kamu ngikut ajalah. Sekalian kamu bisa belajar masak. Apa, kek. Masak makan siang buat kalian. Oke?" Bu Nur mengacungkan jari jempolnya.
Rania cuma bergumam panjang, terpaksa mengiyakan ide buruk itu. Bila mereka terpaksa bertemu di rumah, bagaimana cara dia untuk mengerjai laki-laki itu? Rania memutar otak. Jika memang harus memasak, hanya satu hal yang bisa dia lakukan untuk mengerjai Fatur. Rania mengikik dalam hati. Sudah dia temukan sebuah ide paling tepat.
***
Pagi-pagi sekali Rania bangun, tak seperti biasa. Dia ikut bersama Mbok Yati ke pasar, sesuai rencana Bu Nur, dia akan memasak untuk makan siang nanti dengan Fatur. Dan Rania ingin memilih sendiri bahan-bahan untuk memasak.
"Jadi, Mbok Yati mau ajari saya masak apa?" tanyanya sinis sambil memilah-milah bawang merah.
"Ya terserah Mbak mau masak apa buat Mas-nya? Mau masak daging, ayam, atau ikan?" Mbok Yati balas bertanya.
"Yang murah-murah aja! Nggak perlu yang istimewa! Kayak tamu dari kerajaan aja!" ketus Rania.
"Mbak Rania jangan bilang gitu. Ini kan pertemuan pertama dengan calon suami Mbak. Mesti istimewa. Mbak Rania masak satu menu aja, tambahannya biar Si Mbok yang masak."
Rania merengut, mendecakkan lidahnya sebal. "Ya udah deh terserah! Apa aja! Masak ikan aja!" putusnya sembarangan.
Mereka berpindah ke stand penjual ikan dan makanan laut lainnya. Kebetulan saat itu ada seorang pria tinggi juga yang sedang menunggu ikan yang dia beli untuk dipotong.
"Jadi, Mbak Rania mau ikan apa?" tanya Mbok Yati lagi.
"Mbok bawel banget, sih! Ikan paling murah aja! Yang busuk sekalian! Ngapain sih mikirin banget apa yang harus dimasak buat cowok kayak gitu?! Beli aja ikan nila satu potong! Yang udah mati, nggak perlu yang segar!" jawab Rania ketus.
Lantaran suara Rania teramat keras, orang-orang di sekitar stand penjual ikan itu, termasuk pembeli di samping Rania ikut melirik kepadanya.
"Astaghfirullah, Mbak ...." Mbok Yati cuma bisa mengelus dada. "Yowes, kita bikin gulai kepala kakap aja, ya?"
Rania yang sadar bahwa dirinya sedang dilirik langsung balas melotot. "Apa Mas liat-liat?! Mau bayarin ikan yang saya beli?!" sentaknya.
Pemuda tinggi berkulit sawo matang manis itu hanya tersenyum kikuk. Usai ikan yang dia beli selesai dibersihkan dan dipotong, dia langsung membayar lantas pergi.
"Dih! Orang udik!" semprot Rania.
"Jadi gimana, Mbak?" desak Mbok Yati.
"Bodo ah! Nanya mulu dari tadi! Ya udah itu aja! Gulai kepala kakap, kek! Apa, kek! Terserah!" sambar Rania.
Akhirnya pilihan jatuh pada kepala kakap. Sementara Mbok Yati sedang sibuk membeli kelapa parut, Rania pergi ke toko obat di sudut depan pintu masuk pasar.
"Ada obat untuk bersihin usus nggak?" tanyanya berbisik, sesekali dia lirik Mbok Yati, memastikan wanita paruh baya itu tak melihatnya.
"Ada. Mau beli berapa?"
"Satu botol kecil aja."
Senyum licik tersungging di bibir Rania. Mungkin rencana awal untuk menyingkirkan Fatur telah gagal, tapi tak membuat Rania patah arang. Masih ada rencana B yang bisa dia lakukan.
Silakan makan masakan dari calon istrimu ini wahai, Kakanda Fatur ..., dan nikmati diare satu hari penuh! Ha ha! Rania tertawa puas dalam hati.
"Mbak Rania habis dari mana?" tanya Mbok Yati saat Rania baru kembali dari toko obat.
"Nyari cabai tadi. Liat-liat mana tau ada yang murah. Ya udah balik, yuk! Keburu telat kita masaknya!"
***
Judul memasak sendiri ala Rania tampaknya tak sesuai. Nyatanya, hampir semua dilakukan oleh Mbok Yati. Dari mulai membersihkan kepala ikan, mengulek bumbu, sampai memasak di dalam kuali.
Rania cuma main ponsel pintar di kursi makan sambil sesekali mengaduk kuah santan, menunggu waktu yang tepat untuk meneteskan obat mujarab yang sudah dia siapkan.
Mbok Yati belum juga beranjak dari dapur. Sampai Rania mendapatkan ilham lagi, "Mbok, tolong setrika baju yang mau aku pakai, dong! Udah aku taruh tuh di atas tempat tidur!" titahnya.
"Tapi ini belum matang, Mbak."
"Nggak apa-apa. Biar aku yang jaga, toh tinggal diaduk-aduk pelan aja kan biar nggak pecah santannya? Gampang! Udah sana, setrika dulu baju saya. Kalau nanti Fatur datang bajunya belum rapi dan wangi gimana?!"
Mbok Yati mengangguk akhirnya. "Baiklah, Mbak. Saya setrika dulu pakaiannya."
Rania menyunggingkan senyum tanda kemenangan. Baru sosok Mbok Yati menghilang di balik pintu kamarnya, langsung dia keluarkan resep rahasia yang akan membatalkan segala perjodohan ini.
Satu tetes. Dua tetes. Dirasa belum cukup. Tambah lagi satu tetes lagi.
"Rasain! Makan tuh diare!" Rania menyumpah.
***
Siang hari menjelang. Waktu pertemuan pertama bagi Rania dan Fatur telah tiba. Mbok Yati tak lupa ikut merias dirinya, bersih-bersih rumah, dan juga menyiapkan segala makanan di atas meja. Sesuai permintaan Rania, Bu Nur tak akan datang untuk menengahi agar keduanya bisa lebih leluasa.
Rania memakai gaun lima senti di atas lutut, pakaian yang tadi disetrika Mbok Yati tak jadi dia kenakan. Berulang kali Mbok Yati menyarankan agar Rania berganti pakaian yang lebih tertutup, tapi Rania kukuh menolak.
"Mbok nggak usah ribet, deh! Justru aku mau nunjukin betapa seksinya aku! Biar dia kelepek-kelepek! Tapi awas ya, jangan laporan sama Ibu! Apa lagi sama Eyang!" Rania mengancam.
Mbok Yati hanya bisa menunduk pasrah. Tak lama setelah itu, pintu diketuk. Rania berdebar entah karena apa. Semestinya dia tak perlu merasa segugup ini. Mbok Yati yang membukakan pintu. Seorang pemuda tinggi berkulit sawo matang berkemeja batik tersenyum ramah. Rambutnya ditata rapi dan klimis. "Assalamualaikum. Rania ada?" sapanya halus.
Rania meremas kedua tangan di depan dada, pintu dibuka lebih lebar. Tepat saat Rania mengangkat kepalanya. Matanya seketika terbelalak. Pemuda di hadapannya tampak tak asing.
Orang ini kan ..., yang di pasar tadi! Mampus aku! Pekiknya dalam hati.

Bình Luận Sách (172)

  • avatar
    MashidayahNurul

    bagus baca

    02/09/2024

      0
  • avatar
    Nothing

    Best lah

    01/07/2024

      0
  • avatar
    RiniNovitasari

    bagus

    31/12/2023

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất