[Bagaimana Aku menghidupi Bayi ku jika keadaan ku cacat seperti ini. Bahkan pemakaman Vina pun Aku tak menghadiri. Ya Alloh, jika cacat ini bisa sebagai penggugur dosa Ku pada Ibu, akan ku ikhlaskan jangan kan kaki tubuh ini pun ku serahkan. Hiks. Hiks. ] Tak henti mulut ini bergumam berharap hati agar ikhlas dan pasrah walau ku yakin hidup yang ku jalani kedepannya akan terasa lebih berat. 🌼🌼🌼🌼 "Maafkan Bapak ya Mas Gilang. Bapak terpaksa menanda tangani surat persetujuan operasi, karena kondisi Mas Gilang saat itu sedang kritis dan membutuhkan penanganan intensif." Pak Rahmat berkata lirih penuh penyesalan. "Sebenarnya ini sangat berat bagi saya Pak . Huu huu huuu .Hiks hiks hiks. Ya Alloh. Begitu berat hukuman dari Mu." "Sabar ya Mas Gilang. Alloh tidak akan memberi cobaan melebihi dari kemampuan hamba Nya. Setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Yakinlah Alloh sedang menyiapkan hadiah yang tak ternilai jika Mas Gilang bisa melewati ujian ini." "Benar sekali ucapan Bapak, mungkin ini sudah menjadi takdir saya agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Ucap ku seraya menyeka air mata yang membasahi pipi. "Saya akan berusaha ikhlas Pak menerima semua ini. Yang menjadi fikiran saya sekarang bagaimana kondisi Anak Saya Pak?" "Saya akan coba telepon Bidan Riyani ya Mas? Menanyakan perkembangan terbaru tentang Anak dan Istri Mas Gilang." Tuuut. Tuuut. Tuuut. Tuuut. "Sepertinya beliau sedang sibuk Mas. Telepon dari Saya tidak di angkat." Ucap Pak Rahmat dengan terus mencoba menelepon kembali. "Tidak apa-apa Pak Rahmat. Mohon maaf jika Saya merepotkan Bapak." "Sudah menjadi tanggung jawab Saya Mas sebagai Ketua RT. Nanti sore Saya akan pulang setelah yang tugas menemani Mas Gilang sore nanti datang." "Masya Alloh, Saya dan keluarga jadi merepotkan warga pak." Lirih ku penuh sesal. "Itu sudah menjadi kewajiban kita semua Mas, saling membantu dan gotong royong sudah menjadi kebiasaan di kampung kita Mas. Jadi Mas Gilang tidak perlu sungkan." Ucap Pak Rahmat bijak. Kembali Ku usap pipi ini yang basah karena air mata. Bersyukur aku tinggal di lingkungan yang sosial bermasyarakat nya tinggi. Sehingga masalah pemakaman Vina dan perawatan Bayi ku tak terlalu ku khawatir kan. Pastilah semua warga silih membantu. Tak mungkin Ku minta tolong pada Ibu, di usianya yang enam puluh lima tahun tidak memungkinkan Ibu merawat seorang Bayi. "Sekarang yang terpenting fokus pada kesembuhan Mas Gilang . Biar bisa sehat kembali." "Iya Pak, terima kasih sudah menasehati saya Pak, hampir saja saya menjadi hamba yang kufur nikmat. Menyalahkan Alloh atas musibah yang menimpa Saya. Padahal semua ini terjadi karena kesalahan saya sendiri Pak." "Tidak apa-apa Mas Gilang. Saran saya lebih baik sekarang Mas Gilang istirahat agar segera membaik." "Iya Pak, ini juga rasa nya badan masih lemas. Mata susah sekali untuk di buka. seperti ada lem nya. Hehehe." "Silahkan Beristirahat Mas, saya tinggal ke kantin sebentar ya. Nanti kalau Pak Sobri datang untuk menggantikan saya, mau sekalian pamit pulang ya Mas." "Sekali lagi terima kasih Pak atas segala bantuannya." "Iya, sama-sama Mas Gilang." Ku pejamkan mata setelah Pak Rahmat keluar dari ruang rawat ku. Berharap kembali terlelap agar sekejap saja bisa melupakan semua kejadian yang membuat ku semakin terluka. [Mengapa nasib kita jadi seperti ini Vin? Mungkin ini dosa kita pada Ibu . Tanpa sengaja kita sudah menyakiti Ibu terlalu dalam. Entahlah apa yang terjadi pada Ibu setahun belakangan ini, hingga rasa kecewa tumbuh di hati Ibu.] Gumam Ku dalam hati.
Air mata mengalir di sela-sela netra ini yang terpejam. Sesak rasa di dada seolah tertimpa beban yang tak terkira beratnya. [Astaghfirullah.] Berkali-kali kuucap berharap agar hati menjadi tenang. "Bagaimana kondisi Mas Gilang Pak?" "Alhamdulillah Pak Sobri, sudah terlihat banyak kemajuan. Semoga akan semakin membaik Pak. Aamiin." Ku dengar sayup-sayup suara orang berbincang-bincang. Perlahan ku buka mata. "Mas Gilang sudah bangun? Berhubung Pak Sobri sudah datang Saya mau pamit pulang dulu ya Mas. Insya Alloh besok pagi saya kembali ke sini." "Baik Pak Rahmat, sekali lagi terima kasih sudah menemani Saya di sini." "Sama-sama Mas Gilang . Saya pamit dulu, Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Jawab Ku berbarengan dengan Pak Sobri. "Bagaimana sekarang kondisi Mas Gilang?" Tanya Pak Sobri. "Alhamdulillah Pak, saya sudah mendingan. Cuma masih agak lemas." "Yang semangat ya Mas, Biar cepat sembuh . Pastinya Mas Gilang ingin segera ketemu dengan putra nya to?" "Berarti Anak Saya Laki-laki ya Pak?" "Iya Mas,Tampan mirip sekali dengan Mas Gilang. Mohon maaf bukan berniat lancang Mas, tadi saya yang mengadzankan putra Mas Gilang." "Tidak apa-apa Pak, keadaan yang mendesak Pak. Saya malah berterima kasih sekali pada Bapak sudah mewakili mengadzankan Putra Saya." "Sudah di siapkan nama atau belum Mas? Sayang tadi ndak Saya foto ya. Biar Mas Gilang bisa lihat betapa tampannya putra Mas Gilang. He he he." "Alhamdulillah sudah Pak, Rizal jamaluttoriq artinya Anak lelaki yang menunjukan jalan kebaikan." " /Bagus sekali namanya Mas, semoga menjadi Anak yang Sholeh, berbakti pada Bapak dan Ibunya. Berguna bagi bangsa dan negara. Aamiin." "Aamiin Ya Rabbal Aalamiin." "Bagaimana proses pemakaman Istri saya Pak? Apa berjalan lancar? " "Maksud Mas Gilang apa ? Siapa yang meninggal?" tersentak Aku mendengar pertanyaan Pak Sobri. Ku tatap lekat pada matanya berharap ada kejujuran di sana. 🌼🌼🌼🌼 Apa yang sebenarnya terjadi pada Vina? Bersambung.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 18 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (111)
QorinaFatchul
Alhamdulillah, akhirnya publish juga. Untuk Reader selamat membaca, semoga suka dengan cerita yang ku persembahkan ini. jangan lupa ya follow dan komentarnya ....Terima kasih.🥰🥰🥰
Alhamdulillah, akhirnya publish juga. Untuk Reader selamat membaca, semoga suka dengan cerita yang ku persembahkan ini. jangan lupa ya follow dan komentarnya ....Terima kasih.🥰🥰🥰
21/12/2021
1halo semua
12/03
0aku tolong minta jagakan
12/03
0Xem tất cả