^_^*^_^ Bulir-bulir keringat sudah membasahi baju seragam-ku. Apalagi saat ini Inggris sedang mendapat kunjungan dari musim panas. Banyaknya gerakan yang aku lakukan justru membuat produksi keringat meningkat untuk saat ini. Hanya selangkah lagi, semangatku di dalam hati. Aku mengambil ancang-ancang untuk melompat dari pagar gedung SHS (Senior High School). Mataku terpejam sebentar, berusaha meyakinkan niat untuk melakukan hal ini. Greep! Yeay! | can! Aku bersorak di dalam hati. Well sangat tidak memungkinkan untuk berteriak secara langsung saat ini. Aku mulai menyusup secara perlahan ke koridor sekolah. Sudah tertangkap oleh mataku, koridor loker yang tidak berpenghuni. Bagus! Ini memudahkan usahaku. Aku melirik sekitar seperti pencuri, berharap tidak ada guru atau Head Masteryang menangkapku. Great! Dewi fortuna memang memihak padaku. Aku selamat! Tidak ada guru yang mengawas sekarang. Aku berlari dengan suara perlahan di lorong sekolah. Aku tahu ini semua sia-sia. Kemungkinannya terlalu kecil untuk aku selamat dari hukuman hari ini. Meskipun tidak ada guru yang menangkapku sekarang, setidaknya guru mata pelajaran sudah menunggu di ruang kelas. Shit! Ruang kelas mulai tampak di depan mata. Satu persimpangan lorong lagi dan setelah itu, neraka dunia akan menjemputku. tiba-tiba. Bugh! Sesuatu terasa menghempas bahuku dengan cepat. Namun, kurasakan tangannya berusaha menahanku untuk tidak terpental. sayangnya, aku dan sesuatu yang menabrakku itu, sama-sama terjatuh. cup. kemudian benda kenyal dan lembut menyapa bibirku. aku membulatkan mata tidak percaya? hell! seseorang telah mengambil ciuman pertamaku! Aku, Michaela Everlyn Collins, telah resmi kehilangan ciuman pertama-ku secara tidak wajar. Dan bagi yang menemukannya, harap untuk mengembalikan kepadaku, karena akan diberi imbalan sepantasnya. Oh andai saja, aku bisa memasang reklame seperti itu. First kiss—ku telah hilang, tetapi aku tidak tahu siapa yang mengambilnya. Damn! Aku bahkan masih ragu apakah peristiwa tadi sungguh terjadi. Arghh! How bad this day! "Ela! Ada apa denganmu?!” tepukan pelan dari Helena terasa mengejutkan. Aku memandangnya sekilas. "Nothing;' ujarku acuh tidak acuh. Jelas, aku tidak sedang dalam perasaan yang baik untuk diajak bicara. Helena terlihat gemas oleh tingkahku. "Kau barusan saja berteriak!" kesal Well sekarang aku tahu, mengapa orang-orang di cafeteria sekolah ini menatap kami dengan tatapan penasaran. "Sorry,' ujarku tanpa nada menyesal. Sahabatku terlihat malas untuk kembali bertanya dan memilih kembali fokus pada makanan dan smartphone canggihnya. Keheningan ini membuat bayang-bayang kejadian memalukan itu kembali terulang. Flashback Mataku membola tidak percaya melihat mata hitam pekat yang sedang menatapku tajam. Jarak antara aku dan sosok yang menabrak-ku, hanya terpaut beberapa senti. Jangan lupakan benda kenyal dan manis yang membentur bibirku. oh god! i wanna die! Dengan gerakan impulsif, aku hendak melepaskan kontak bibir ini. Tetapi si pemilik mata hitam menyorotku dengan tatapan terganggu. Sosok itu justru menarik tengkuk-ku dan memperdalam ciumannya. Rambut-rambut halus di sekitar leherku meremang perlahan ketika tangan dinginnya merambat di sana. Crazy! Aku menikmati ini! Rasanya seperti melayang dan jantungku berpacu begitu keras. Mata hitam dan ciumannya benar-benar merenggut kesadaranku. Sekarang aku malah memilih untuk menutup mata dan meresapi apa yang ia lakukan. Walaupun hanya benturan bibir yang terjadi tanpa ada hal lainnya. Tetapi ada yang membuat ciumannya terasa membutakan bukan menuntut. "Michaelaa!!" bentak seseorang. Aku membuka mata dan menghentikan surga sekilas itu. Lalu mataku terbelalak kaget. Bukan. Bukan karena dia yang membentakku itu seorang guru. Tetapi karena tidak ada pemandangan mata hitam yang tadinya hanya terpaut beberapa senti di depanku. Yang tersisa hanya diriku yang terlentang pada lantai dingin sekolah. Flashback off "Sebenarnya apa yang terjadi?" heranku kesekian kalinya. "Apa? Apa yang baru saja kau katakan?" tanya Helena dengan mata yang terfokus pada smartphone. "Tidak. Bukan apa-apa." "Mengapa kau hanya mengatakan kata itu?" keluhnya. "Terserah padaku." "Kau sungguh menyebalkan hari ini!" Aku mengangkat bahu tidak acuh mendengar gerutuan Helena dan hal itu justru membuat sahabatku semakin kesal. Gadis itu mendorong bahuku dengan kuat. "Aaaaaaaah!" seruku terkejut. Tubuh-ku tidak memiliki pertahanan akan tindakannya sehingga akan terjatuh. Tetapi selang beberapa menit, tidak ada rasa sakit yang menghantam tubuh ini. Justru sesuatu yang asing melingkar di bahuku. Aku membuka mata dan manik coklat yang menyambutku pertama kali. Senyum canggung aku lempar pada sosok itu. "Kau tidak apa—-apa?" tanya Eldric sembari mengangkat tubuhku kembali ke posisi sebelumnya. "Tidak. Terimakasih!" ucapku tulus padanya. "Oke. Lain kali hati-hati." Setelah itu, dia melangkah pergi meninggalkan cafetaria yang hening dengan oksigen yang tertahan di rongga dada siswi di sini. "Sialan! Mengapa kau beruntung sekali?" runtuk Helena. "Memang;' ujarku ketus. Helena adalah pemuja garis keras para siswa tampan di sekolah dan Eldric adalah salah satunya. "Hah?! Itu juga karena aku mendorongmu;,’ kilahnya. "Mengapa tidak kau katakan saja kalau aku sungguh beruntung? Aku memang magnet bagi para lelaki tampan. Helena terlihat panas dengan kata-kataku. Tetapi percayalah meskipun kami sering bertengkar dan adu mulut, persahabatanku dengannya begitu erat.
"Ish!! Kau?! Kau?!--" Helena terlihat geram dan kehabisan kata untuk melanjutkan kalimatnya. Jelas sekali, kekesalannya telah mencapai batas maksimal. Dan aku tahu ia akan memberi pembalasan padaku dengan cubitannya. Dengan cepat aku mengambil vanilla latte milik-ku dari atas meja. Kemudian lari dari Helena yang sedang dalam situasi mengamuk. Dan di saat itulah kesalahan terbesarku terjadi. it's a shit day?!! What the hell!! what the fuck!! Tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan menumpahkan minumanku padanya. Tubuhku terdiam kaku dengan kepala yang menunduk takut. Seketika terbayang di kepalaku adegan penindasan oleh kakak tingkat yang sering ada pada serial drama televisi. Oh sungguh! Aku tidak ingin menghabiskan masa SHS-ku dengan perundungan. "Ma- ma- maaf;' ujarku gugup. Ya Tuhan, dimana suaraku saat ini? "Bukankah tidak sopan berbicara dengan orang lain tanpa melihat wajahnya,' sindirnya.
Namun aku terlalu takut. Aku tidak bisa mengangkat kepalaku dan menatap wajah mereka. Benar! Sosok itu membawa kawanannya. Seperti kumpulan-kumpulan aneh yang biasa diciptakan di sekolah. Aku benar-benar ingin menangis. Aura mencekam begitu mendominasi cafetaria ini. Tidak ada sedikit pun suara yang terdengar. Oh God, help me please! Aku melihat langkah kaki mereka yang ada di depanku mulai bergerak menjauh. Oh Tuhan, terimakasih mereka akan pergi. Satu per satu dari anggota mereka, bergerak melewati aku yang masih menunduk takut. Terlihat pasang-pasang kaki yang berbalut sepatu sproty Pada pasang sepatu terakhir, aku melihat langkah kakinya melambat. Aku sudah ketakutan setengah mati. Benak-ku menerka apa mungkin dia ingin mengancamku. "Mine" lirihnya pelan hingga nyaris benar-benar tidak terdengar. Aku diam. Memutar otak-ku mencari arti kata itu. Apa maksudnya? Aku segera mengangkat kepala untuk melihat siapa yang mengutarakan kata itu. Namun yang terlihat, hanya punggung tegap lima lelaki. "Who are they?" tanyaku lebih pada diri sendiri. "Sungguh?! Kau tidak mengenal mereka?" balas Helena yang sudah ada di sampingku. Lalu dengan polosnya aku menggeleng. Helena menatap ke arah para lelaki itu lagi walau hanya dapat melihat punggung-punggung indah itu dengan tatapan memuja, "mereka dikenal dengan julukan AIUEO Boys. Kelimanya adalah saudara kembar dan mereka adalah the king of the most wanted di sekolah. Bahkan kepopuleran Kak Eldric Alden Walker masih dibawah mereka,' cerocosnya panjang lebar. "Aku pernah mendengar AIUEO Boys sebelumnya. Tetapi mengapa aku tidak pernah melihat mereka?" heranku. "Jelas saja. Hampir dua tahun di sekolah ini dan yang kau tahu hanya menjadi budak Student Council!' "Mulutmu sungguh sialan;' aku memukul pelan kepala Helena dan dia mengaduh sakit. "Lalu mengapa nama mereka AIUEO Boys?" tanyaku lagi. "Karena begitulah inisial nama mereka. Seperti yang sulung, namanya Alaric Kalfani Walcott. Dialah yang tadi berbicara denganmu;' terang Helena. "Lalu yang kedua bernama Ireneo Bel Walcott. Aku sangat menyukainya. Dan yang ketiga ialah Urien Xavier Walcott. Dia yang paling sering tersenyum dari yang lainnya. Kemudian Esteve Graffielo Walcott. Banyak dari siswi di sini yang menyukai lelaki itu karena ia begitu rupawan dengan manik hitam miliknya. Namun sayang, sikapnya terlalu dingin bahkan beku. Tidak tersentuh sama sekali. Dan yang paling bungsu ialah Obelix Felix Walcott. Lelaki ini lebih suka bersosialisasi dan terikat dengan jabatan playboy, karena memiliki banyak mantan kekasih."
"Apa yang membuat mereka berbeda dari yang lainnya?" Punggung-punggung itu tidak lagi tertangkap oleh mata. Sehingga Helena kembali untuk duduk di kursi cafetaria dan aku mengikuti apa yang sahabatku itu lakukan. "Kelima lelaki itu hampir tidak tersentuh. Bukan hanya untuk bersosialisasi atau berbicara. Bertemu dengan mereka di sekolah ini saja sulit, ditambah lagi dengan mereka yang memiliki ruangan kelas jelas Helena. "Jadi selain karena Student Council, kau juga tidak pernah melihat mereka karena hal ini."
"Berlebihan; jijikku. "Tetapi nama-nama mereka begitu unik." "Sayang sekali, kau tidak melihat wajahnya. Mereka mempunyai darah yunani! "oh" " Just it
"so?" "Crazy! Seharusnya kau berekspresi sedikit lebih tersanjung karena kau baru saja berbicara dan bersentuhan dengan mereka!" geram Helena.
Aku hanya membisu. Pikiranku melayang pada hal lain. Mine? Benarkah bisikan itu nyata? Tetapi siapa yang mengatakannya? Apa mungkin aku salah dengar? Atau memang salah satu dari mereka yang mengatakannya? Tetapi mengapa ia mengatakan hal itu? Aku bahkan tidak mengenal para lelaki itu. Aku memeriksa setiap map berbeda warna yang berada dalam dekapanku, memastikan apakah ada yang tertinggal atau tidak. Sebentar aku menengadah ke langit kemudian menghela napas. Ternyata malam telah menjemput. Sedangkan aku baru saja keluar dari lingkungan sekolah. Di beberapa situasi terkadang aku menyesalkan pilihanku untuk mengikuti organisasi kesiswaan itu, dan membenarkan sedikit pendapat Helena selama ini. Aku berpikir menjadi anggota Student Council adalah hal yang menyenangkan. Aku akan dihormati dan disegani oleh siswa lain. Namun, ternyata aku salah. Selama kakak tingkat-ku masih ada, mereka-lah yang berkuasa dan aku hanya menjadi pembantu di sana. Asumsi-ku dengan bergabung dalam organisasi kesiswaan ini, aku akan lebih mudah mendapat teman dan menjadi populer. Kesulitan-ku untuk beradaptasi membuat aku yakin bahwa menjadi anggota kesiswaan akan menjadi batu loncatan. Meski kenyataan yang ada selama dua tahun ini tidak menunjukkan hasil sesuai harapan. Satu-satunya temanku hanyalah Helena, sisanya hanya datang ketika butuh dan pergi ketika kebutuhannya dariku terpenuhi. Hidup memang seperti itu bukan? Sesekali aku merapikan map sialan yang merosot jatuh dari pelukanku. Ya Tuhan, ini berat sekali! Jika saja aku sedikit lebih sabar untuk menunggu kedatangan bus kota, dan tidak memilih untuk menggunakan kereta bawah tanah, mungkin aku tidak perlu berjalan seperti ini. ‘Aku mulai melewati lorong sempit sebagai jalan pintas menuju rumah. Aku pernah menggunakan jalan ini sebelumnya ketika siang hari dan suasananya sangat berbeda dengan sekarang. Aku bahkan tidak menyangka, tempat ini akan sangat menyeramkan saat malam. Akhirnya aku berhasil keluar dari lorong itu. Setelahnya, aku hanya harus melewati sebuah jembatan dan akan sampai di rumah. Shit. Tiba-tiba aku berhenti melangkah. Ada seseorang yang berdiri di tengah jembatan.
Aku menghirup napas dengan perlahan, berusaha menenangkan d
Stop thinking to much, Michel! Belum tentu orang itu memiliki niat jahat. Meski pemikiran itu terus aku tekankan, namun keringat dingin tetap mengalir deras ketika langkahku semakin mendekati sosok itu. Orang itu menggunakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Bahkan tudung hitam juga menutup kepalanya. Kumohon, dia bukan orang jahat kan? Tetapi mengapa ia menggunakan pakaian yang aneh? Jubah itu mungkin akan cocok jika digunakan saat malam Halloween. Aku mengambil jalan di sisi sebelah kanan agar tidak bertabrakan dengan punggungnya. Namun tiba-tiba ia menghalangi jalanku. For God's sake tubuhnya membelakangiku. Oh Tuhan! Sudah jelas, dia pasti orang yang berniat jahat. Aku meremas map-map yang kupeluk. Lalu kembali menuiju sisi jalan yang lainnya. Namun, dia kembali menghalangi langkahku. Tenang Michel! Kau harus berani! Semakin aku takut, maka semakin mudah ia mengintimidasiku. "Permisi Tuan. Saya ingin lewat. Bisakah Anda minggir dan memberikan saya jalan?" tanyaku padanya. Tetapi dia sama sekali tidak menjawab. Aku kembali mengambil arah lain. Dan dia melakukan hal yang sama lagi Karena kesal akhirnya aku berkata, "Apa yang Tuan inginkan?" Tanpa aba-aba orang itu berbalik dan membuatku mundur satu langkah. Dia tetap menunduk hingga aku tidak bisa melihat wajahnya 'yang tertutupi tudung hitam. Selang beberapa detik, dia mengangkat kepalanya dan membuka penutup kepala itu. "Aku menginginkanmu;' dia berbicara dengan suara g serak, membuat bulu-bulu halus di tanganku meremang. P Aku sungguh ketakutan! Orang di depanku begitu aneh. Bahkan manik matanya berwarna merah seperti darah. Apa mungkin ada mata semerah itu? Atau dia menggunakan lensa mata? "Apa maksud Tuan?" "Aku tahu, kau mengerti maksudku,’ ujarnya. Hell! Dia mengubah lagi warna matanya menjadi hitam kelam. Mommy! Daddy! Help me! Mataku mulai berkabut. Okey! Don't afraid Michel! Don't be afraid! "Tidak. Aku tidak mengerti." "Aku menginginkan darahmu;' ujarnya sembari menunjukkan evil smile, hingga taring panjang miliknya dapat terlihat. Air mataku sudah berkumpul di pelupuk mata. what the fuck!! Dia... Dia... Dia seperti Edward Cullen. Jangan katakan kalau dia itu-,
"Vampir?" Saat aku mengucapkan kata itu, evil smile-nya semakin lebar. Dan dengan jelas aku dapat melihat taringnya yang berkilau ditimpa sinar rembulan. "Gadis pintar." Come on! Inggris sudah semakin maju. Apakah mungkin, masih ada makhluk seperti itu saat ini? Bahkan jika dia adalah manusia, aku belum tentu bisa melawannya. Dan dia vampir?! For God's sake! Vampir itu hanya fiksi. Dia maju perlahan mendekatiku. Aku ingin mundur dan menjauh, tetapi kaki—ku seolah terpatri di tanah. Lalu dia menghirup napas dalam~-dalam. "Darahmu manis;' lirihnya.
Dia bahkan belum merasakannya, bagaimana mungkin dia tahu rasa darahku? Aku sendiri tidak pernah mencicipi rasanya. Maaf, tetapi aku tidak berminat.
Sosok itu melirik ceruk leherku. Akankah ini sama seperti adegan-adegan dalam film makhluk bertaring? Apa dia akan mengigit leherku? Lalu aku akan mati? No! Aku masih ingin hidup. Tetapi memberi perlawanan saja, aku tidak bisa. Seperti inikah akhir hidupku?Digigit oleh makhluk fiksi? Tubuh sosok itu semakin mendekat dan aku memilih menutup mata. Tidak tega rasanya melihat hidupku yang akan berakhir tragis. Haruskan aku mati hari ini? Bagaimana jika jasadku tidak tampak? Bagaimana dengan Mommy dan Daddy? Beberapa detik aku menunggu, namun tidak ada rasa sakit yang menyerang leherku. bugh!
bugh!! Justru suara itu yang terdengar. Seketika aku membuka mata. Akhirnya, akhirnya ada penduduk yang ingin membantuku. Tetapi dia hanya sendiri dan bagaimana juga, dia hanya manusia biasa. Sedangkan lawannya adalah vampir. "Beraninya kau menggangguku!" seru orang berjubah. "Menjauhlah darinya,’ balas orang itu. Mengapa kata-katanya seolah mengatakan telah mengenalku begitu lama. "Siapa kau hingga berani memberikan perintah padaku?" jawab orang berjubah. Lalu kembali melayangkan pukulannya. "Sialan!" desisnya. Aku tidak dapat melihat wajahnya, tetapi aku dapat melihat taringnya yang mencuat keluar. Dia juga vampir?! Aku... Aku... "Kau baik-baik saja?" seseorang menepuk bahuku. Aku melihat sosok itu, seorang lelaki yang mungkin sebaya denganku. Wajah tampannya diliputi kecemasan. Aku hanya mengangguk, mulutku keluh mengeluarkan suara. Ini terlalu mengejutkan. "Lix bantu aku,' vampir yang menolongku atau mungkin yang akan menerkamku juga setelah menghabisi orang berjubah itu, berteriak dari ujung sana. Orang yang dipanggil Lix itu segera mendekat ke pertarungan mereka. Dan ternyata, dia juga vampir. Aku lemas, kaki-ku terasa seperti jelly. Terlihat dua vampir tadi menarik kepala vampir berjubah. Tiga orang lainnya kembali datang. Ralat! Aku yakin mereka bukan manusia, pasti mereka juga vampir. Ketiga vampir itu, baru saja membuat api besar di sana. Kemudian jasad si vampir berjubah dilempar ke dalam nyala api. Oh, aku tidak sanggup lagi, benar-benar tidak sanggup lagi. Kepalaku berputar dan mataku berkabut. Aku akan pingsan. Ah, tetapi tidak apa. Setidaknya, aku tidak akan merasakan sakit ketika lima vampir itu mengoyak tubuhku. Saat aku akan jatuh. Aku merasakan tangan kokoh menangkap tubuhku. Lalu sepasang mata hitam menatap mataku. Manik mata yang sama saat aku kehilangan ciuman pertamaku. Cahaya mentari mulai menyusup malu-malu melalui celah jendela kamarku. Sehingga aku yang tertidur nyaman di ranjang, terusik untuk bangun. wait. Aku ada di kamar?! "Mommy! Daddy!" teriak—ku panik. "Darl, kau tidak perlu berteriak sekuat itu. Kau ingin memecahkan selaput telinga Mommy, Michel?" protes ibuku. "Ada apa darl?" tanya ayahku. Aku menatap mereka dengan bingung. Bagaimana bisa aku benar-benar ada di rumah?! “Itu. Emm. Itu." Ah, kenapa sulit sekali mengatakan ada vampir?! "Itu apa?" tanya ibu dengan tidak sabar. "Mom Dad, bagaimana bisa aku sampai di rumah? Aku bertemu vampir semalam. Bukankah seharusnya aku sudah mati? Tetapi mengapa? Mengapa aku--?" Aku kebingungan mencari kata untuk melanjutkan ucapanku. Tiba-tiba ibuku yang mengesalkan, tertawa dengan keras. "Kau pulang sendiri kemarin malam, Michel. Dan vampir kau bilang? Vampir itu hanya mitos. Wake up, darl! Apa mimpimu seburuk itu tadi malam?" tanya ibu bercanda. Sialan! Mimpi?! Jelas-jelas yang terjadi semalam adalah kenyataan. "It's realMom. Semalam ada vampir yang menghadangku. Lalu ada lima vampir lain yang datang membantuku dan mereka saling menyerang. Entahlah mereka datang untuk menolong atau justru juga ingin menggigitku;’ ceritaku pada mereka. "tidak ada vampir Michel. Dan lebih baik kau bersiap ke sekolah sekarang”" “Lihatlah, sudah jam berapa ini?" Ayahku berkata sembari menunjuk jam kecil di atas nakasku. 07.10 what the--?!
Sekolah akan dimulai pukul 07.30. Jika seper! lebih baik aku tidak berangkat ke sekolah. Lebih baik aku tidur di rumah daripada mengurus organisasi sialan yang membuatku harus bertemu makhluk bertaring itu
Tidak akan lagi! "Dad, aku sudah sangat terlambat. Lebih baik aku tidak sekolah ya hari ini?" aku memasang puppy eyes andalanku.
"Tidak boleh. Untuk apa kami membayar uang sekolahmu yang cukup mahal itu, jika kau tidak mau sekolah;’ protes ibuku. Ya Tuhan, hanya sehari saja. Kenapa harus seperti itu? Dasar ibu-ibu perhitungan! "Hari ini saja, tubuhku terasa sakit,' alasanku. Ibu memeriksa suhu tubuhku. "Tidak. Tidak demam." "Kumohon Mom, Dad. Hari ini saja;’ pintaku. "Kau semakin membuang waktumu Michel,' ujar ayah lalu berlalu pergi. Begitulah ayahku, sedikit berbicara. Namun sekali berbicara, maka akan langsung tepat sasaran. Berbeda sekali dengan ibu yang selalu mengeluarkan banyak energi (I TR "Sekolah yang rajin anak manis;’' ujar ibu lalu menepuk kepalaku sebelum berlalu keluar.
sial!!
“Len, aku tidak telat kan?" seruku dengan panik. "Eh? Dimana teman-teman yang lain?" ujarku lagi saat melihat hanya Helena yang tersisa disana. Apa mungkin mereka bertemu vampir sepertiku? Lalu, apa mereka digigit vampir-vampir itu? Oke. Tenang Michel. Tenang. Vampir itu tidak ada. Vampir itu hanya fiksi. "Hai Ela'' sapanya ketika melihatku. "Terlambat lagi, heh?" sindirnya dan aku hanya mendengus kesal. "Tetapi, tenang saja. Hari ini kau tidak akan dihukum seperti kemarin." "Mengapa?" tanyaku sambil meletakkan tas di atas meja. "Hari ini kita tidak belajar. Para guru sedang mengadakan rapat dan siswa bebas untuk sekarang." Aku hampir bersorak kegirangan, jika saja Helena tidak melanjutkan kalimatnya. "Yah, kecuali anggota Student Council. Mereka juga sedang mengadakan rapat.' fuck! Helena tersenyum mengejek padaku. "Sialan kau! Berhenti mengejekku. Aku juga akan segera keluar dari organisasi sialan itu. Pekerjaan disana sangat banyak dan melelahkan. Belum lagi--"
Apa aku harus mengatakan bahwa aku bertemu vampir semalam? Tetapi orangtuaku saja tidak mempercayainya. "apa?" "Tidak. Bukan apa-apa’ "Ayo keluar,’ ajak Helena. "Maaf. Tetapi aku harus ikut rapat organisasi itu;' sedihku. "Pertama, sebelumnya kau katakan kau ingin keluar dari organisasi itu. Jadi untuk apa kau ikut rapat di sana? Kedua, kau itu masih pengurus baru. Aku yakin, kehadiranmu tidak terlalu diperlukan. Dan ketiga--," Aku mengernyitkan dahi dengan bingung, "apa?" "Rapatnya belum dimulai Helena terkekeh. “Sialan kau!" "Come on,"ajak Helena lalu menarik-ku keluar. Aku dan sahabatku, berjalan menuju cafetaria sekolah. Kami membeli beberapa makanan ringan untuk menemani mengisi kegiatan yang akan kami lakukan. Tetapi kami tidak duduk di cafetaria untuk menghabiskannya. Biasanya kami akan memilih untuk menghabiskan waktu di taman sekolah yang sejuk, karena tempat itu akan menghadap pada lapangan sekolah. Dan dari sana kami dapat menonton kegiatan yang dilakukan oleh siswa lain. "Ah, ini baru hidup;' seru Helena girang. Gadis itu meletakkan makanan yang dia beli dan smartphone-nya pada bangku taman. Lalu ia ikut duduk juga di sebelahku. "Mengapa tidak tiap hari saja guru-guru itu mengadakan rapat?" "Mau jadi apa Inggris, jika para generasinya berpikiran seperti dirimu;’ ujarku mencela. "Yak!" serunya. "Semua siswa mencintai jam kosong." Gadis itu memukul bahuku dan aku meringis kesakitan. Kemudian Helena membuka bungkus makanannya dan aku melakukan hal yang sama. "Oh My God! Eldric tampan sekali!" Helena berkata sembari menatap ke arah lapangan basket. "Biasa saja." "Kau itu tidak normal. Mungkin matamu rusak sangat fatal,’ dia menghinaku. "Astaga keringatnya justru membuatnya semakin sexy. Arrgh;' Helena kembali memekik kegirangan. "Ya Tuhan Helena. Mengapa kau menjadi mesum seperti ini? Ah, sungguh memalukan berteman denganmu." "Itu fakta, Ela. Dia memang sexy:" Setelah itu, aku tidak terlalu memperhatikan ocehan Helena. Aku mulai memainkan smartphone milik-ku. Selama dia tidak mengusik ketenanganku. Aku tidak akan peduli. Lagipula, aku yakin. Dia hanya berceloteh mengenai kadar ketampanan pangeran sekolah itu.
Tiba-tiba dia berteriak. "Oh God! What the--?!" Aku menggerutu kesal. Tentu saja, karena aku terkejut. Seharusnya aku tidak perlu bereaksi berlebihan jika hanya suara Helena yang terdengar. Masalahnya, hampir setiap siswi di sini melakukan hal yang sama. Mereka memekik kegirangan. Sebenarnya ada apa? "Haish. Ada apa Lena?" gerutuku padanya dan dia sama sekali tidak memberi respon. Dia masih setia dengan pandangan lurus ke depan dengan tatapan memuja. "Lena,’ aku memaksanya agar melihat ke arahku. "Unbelievable Ela! AIUEO Boys keluar dari ruangannya;' jelasnya padaku. Jadi aku menatap pada titik yang sedang ia lihat. Oke. Mereka tampan, mungkin karena darah Yunani di tubuh mereka, seperti kata Helena. Ada tiga lelaki yang berjalan beriringan dan membuat semua orang yang menatap mereka, tersenyum memuja. Tidak ada siswi yang dapat mengalihkan pandangan mereka dari pesona ketiga lelaki itu. Dan para siswa menatap mereka penuh rasa iri Ketiga laki-laki itu benar-benar menjadi pusat perhatian saat ini. Aku juga merasakannya. Ada daya tarik di diri mereka dan membuat kaum hawa sulit mengalihkan pandangan. Mereka punya kharisma tersendiri dan rupa—nya seperti lelaki impian para gadis. Tetapi sayangnya, mereka tidak membuatku terpikat. Seolah tidak ada rasa lain selain keingintahuan yang membuatku harus melihat mereka. Mereka tidak semenarik saat Helena menceritakannya. Tiba-tiba bayangan pemilik mata hitam bergentayang di pikiranku. Dengan gerakan impulsif aku menyentuh bibirku sendiri. Aku menginginkannya lagi? Hanya dia yang mampu membuatku tertarik. Bahkan hanya dengan bayangan mata hitamnya saja. "Oke-oke. Aku harus mengabadikan ini;' suara Helena membuyarkan lamunanku. "Mengapa?" heranku. "Ela, sudah kukatakan padamu kalau mereka sulit sekali ditemukan. Mereka juga tidak bersosialisasi. Jadi mereka juga jarang tampak di depan umum. Dan tidak sembarangan untuk masuk ke kelasnya. Private, you know?' Helena mengeluarkan smartphone miliknya. "Mengapa mereka hanya bertiga?" Aku mulai penasaran. "Aku tidak tahu dimana Obelix, mungkin ia sedang mengurus para fans atau kekasih-kekasihnya. Kalau Esteve, dia sangat-sangat jarang keluar dari ruangan mereka. Oleh karena itu, aku begitu terkejut melihatnya di cafetaria kemarin,' jelas Helena. "Sayang sekali AINEO Boys menjadi tidak lengkap,' Helena berujar sedih. "Penguntit, huh?" ejek-ku, namun gadis itu justru menganggukkan kepalanya dengan semangat. Seolah itu adalah kebanggaan tersendiri untuknya Aku kembali memperhatikan makananku. Tidak lagi memedulikan Helena dan kegiatannya yang memotret the king of the most wanted sekolah. "Nah. Nah. Itu Obelix,' seru Helena dan membuatku mengalihkan pandangan pada arah yang ia tunjuk. Aku terpaku. itu?! Itu Obelix!?” seruku tertahan. "iya, itu obelix" "Really? Itu Obelix?!" jeritku tidak percaya. “lya Michaela Everlyn Collins. Jangan bilang kau suka dengannya. Atau kau termasuk korban dari rayuannya--,' dan aku sudah tidak mendengar lagi ocehan Helena. Tiba-tiba telingaku berdengung. Dan lidahku kelu untuk mengeluarkan suara. Tubuhku terasa begitu kaku. Pikiranku mendadak kosong. Yang aku ingat hanya, kau tak apa? Lix bantu aku Dan dua kalimat itu seperti bom waktu untukku sekarang. Aku masih mengingat dengan jelas pahatan wajah orang itu karena jarak kami yang sangat dekat. Ralat! Bukan orang mereka, "Vampir?" Aku mendesis pelan bahkan nyaris tidak terdengar di telingaku sendiri ataupun telinga Helena. Tetapi keempat vampir bersaudara itu bisa mendengarnya. Mereka semua menoleh ke arahku. For God's sake mereka bisa mendengarnya! Aku dapat menangkap pekik bahagia dari mulut Helena karena pujaan hatinya menoleh ke arahnya. Tetpi tidak denganku! Aku meneguk ludah dengan susah payah. Bayangkan saja, aku ditatap intens oleh empat vampir tampan yang berkedok most wanted sekolah. what the fuck! Vampir Michel?! Di sekolahku ada Vampir! hell! Mati kau Michel! Bagaimana jika mereka menggigitku? Atau bagaimana jika mereka mengancam-ku? Dan jika mereka meneror-ku? Tamatlah aku! Mengapa aku harus mengetahui rahasia besar mereka? Hell, dimana saudara mereka yang satu lagi? Apa dia sedang mengintai-ku? Bagaimana jika aku mati di tangan mereka? Aku masih ingin hidup! "Hei Ela! Kau tidak mendengarkan aku?" suara Helena sukses menarik kesadaranku. "Ada apa Lena?" kesal-ku padanya karena terkejut. "Aku bertanya sedari tadi. Apa yang baru saja kau katakan?" Helena melirik ke arahku. Tanpa aba-aba ia menangkup wajahku dan memberi tatapan khawatir, "are you okay? Mengapa tiba-tiba wajahmu pucat EEC Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Helena. Yang aku pikirkan hanya cara untuk lari dari tempat ini. Ketakutan sepertk mencekik-ku hingga keringat dingin mengalir deras dari pelipis. "Maaf Lena. Tetapi aku harus pergi untuk menghadiri rapat organisasi itu. Bye!" Seketika aku beranjak pergi tanpa memedulikan perkataan Helena mengenai makananku yang tersisa. Aku takut. Benar-benar takut. Aku merasa semua yang ada di sekelilingku sekarang akan membahayakan keselamatan-ku. Bagaimana jika teman-teman sekolahku selama ini adalah vampir? Apa Helena juga begitu? What the hell! Ini semua mulai merasa gila. Langkahku benar-benar tidak tentu arahnya. Ketahuilah, aku adalah orang yang benar-benar penakut dan mudah sekali khawatir ataupun cemas. Jika sudah mengalami perasaan seperti ini, tubuhku akan terasa sangat dingin dan perutku menjadi mual. Serangan panik ini benar-benar buruk! Aku tidak tahu harus bersembunyi dimana? Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh lenganku. Itu vampir?! "Aaaaaaaaal” "Hei, ada apa denganmu?" tanya orang itu dan membuatku sadar. "Maaf Kak, refleks—ku sangat buruk;' aku berujar sopan pada kakak tingkat-ku "It's okay. Kau Michaela Everlyn Collins kan?" tanyanya dan kubalas anggukan. "Kau dipanggil untuk ikut rapat organisasi kesiswaan." Aku mengangguk lagi, "terimakasih Kak." Setidaknya ini dapat mengalihkan dari pikiran bodoh. _*°*_ Aku ingat beberapa hari yang lalu, aku tidak sengaja menumpahkan minuman pada salah satu dari antara mereka. Setelah itu, aku mulai mengenal mereka dari Helena. Dan tanpa sengaja, aku mengetahui bahwa mereka adalah vampir. Hah! Perfect?! Seminggu ini benar-benar dapat memutarbalikkan duniaku. "Michaela;' panggil seseorang. "lya Kak?" sahutku pada sang sekretaris organisasi kesiswaan itu. "Jangan lupa. Ini semua dibawa besok ya;' perintahnya sambil menunjuk map-map yang kupeluk. Huh! Aku ingin sekali mendengus kesal dan berkata, siapa kau yang berani-beraninya menyuruhku? Sayangnya, aku tidak seberani itu. Aku hanya dapat menggerutu di dalam hati. Siapa yang tidak kesal jika disuruh membawa tugas-tugas sialan yang bukan tanggung jawabnya. Map-map ini, hanya berisi diskusi yang dimana aku tidak memiliki peran penting di dalamnya. Tetapi aku harus membawa benda-benda ini pulang untuk diketik ulang agar lebih rapi, hanya karena aku anak baru pada organisasi Oh damn! i hate them! "Kau mendengarnya—kan Ela?" tanyanya lagi. RIZLELS "Lily, panggil seseorang. Dia adalah sang ketua organisasi kami yang begitu tampan, namanya Gerald. Dia juga salah satu most wanted. "Ada apa Rald?" tanya Lily. "Berkas yang tadi kuberikan padamu, sudah kau bawa-kan? Itu perlu untuk dicetak dan diberikan kepada Head Masterbesok;' terangnya. "Astaga! Aku melupakannya,' kakak tingkat-ku itu menepuk dahinya pelan. Lalu ia kembali melihat ke arahku, "Ela tolong kau ambilkan ya. Aku meletakkannya di kelasku, tepat di atas meja. Orang yang menjemputku sudah datang." Dia berlari begitu saja menuju mobil yang menjemputnya. Sama sekali tidak mendengar jawabanku atas permintaannya. la tidak membiarkan-ku untuk menolak! Fuck you, Lily! Dasar tidak bertanggungjawab! Aaaaargh!! Aku kesal! Helaan napas jenuh terdengar. Percuma saja aku mengumpatnya di dalam hati. Hal itu tidak akan mengubah apapun. Dan Lily si sekretaris tidak kompeten itu juga tidak akan mendengarnya. Aku berbalik menatap sekolah. Ya Tuhan! Mengapa sekolah ini lebih mirip rumah hantu sekarang? Dengan takut aku berjalan naik menuju lantai tiga. Semua ruangan senior memang ada di lantai itu. Dan di sepanjang lorong yang aku lalui, tidak ada lagi siswa maupun siswa yang terlihat. Mungkin hanya aku satu-satunya yang masih ada di lingkungan sekolah. Akhirnya aku tiba di kelas Lily. Sial, mengingat gadis itu membuatku muak. Seperti kelas lainnya, ruangan ini juga telah kosong. Aku segera memeriksa meja miliknya. Kertas—kertas itu memang terletak begitu saja di atas meja. Aku segera mengambilnya dan menyusunnya, lalu aku bersiap untuk pulang ke rumah. Namun dengan tiba-tiba, angin menghantam tubuhku hingga aku terguncang. Segera saja aku memegang benda terdekat agar tidak jatuh. Itu angin sungguhan? Bagaimana bisa ada angin di kelas ini? Jelas-jelas semua jendela terkunci. Angin ini terasa aneh. Tanpa aba-aba, bulu di tanganku meremang. Aku mulai mengusap tengkuk-ku dengan resah. Oh tidak! Ada yang tidak benar. Lebih baik aku segera meninggalkan tempat ini. Aku bergerak keluar. Namun belum selangkah aku beranjak. Mendadak pintu kelas tertutup dengan keras, seperti dibanting. Braaak!! Cukup! Ini sudah diluar nalar. Tidak mungkin pintu ini bisa tertutup sangat keras, padahal tidak ada angin, hujan, apalagi manusia di sana. Ayolah Michaela! Berpikir positif! Tarik napas. Buang. Tarik napas. Buang. Aku mulai menenangkan diri. Tiba-tiba sebuah suara berbisik tepat di telingaku, "hai Michel." Dan saat itu juga semua pertahananku luruh. Seketika aku terduduk di lantai kelas yang dingin. Map-map itu aku biarkan terjatuh. Lalu aku menenggelamkan wajah pada lipatan lutut-ku. Dan mulailah aku menangis ketakutan. "PERGI!" teriak—ku. Air mata-ku sudah luruh di pipi. Mata-ku terpejam kuat-kuat. Aku tidak sanggup melihat hal apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. "Kau takut Michel?" bisikan itu kembali terdengar. Tangisku semakin menjadi-jadi, semua sugesti di kepalaku untuk tenang dan berpikir positif telah hilang. "PERGI KAU!!" teriak—ku. Kemudian hembusan napas terasa di daerah tengkuk-ku. Secara impulsif, aku berteriak sekuat mungkin, "AAAAaaaaa!!" Rasa takutku telah mencapai batas maksimal, mungkin aku akan mati kali ini. Tetapi bukan mati karena sesuatu yang tidak kuketahui ini. Namun rasa takut-ku sendiri. Brakk! Pintu kelas kembali dibanting. Namun kali ini dibanting untuk terbuka. Aku mengangkat kepala. Tidak ada orang disana. Mungkin saja hal yang tidak aku ketahui itu yang membukanya. Ayo Michaela! Jangan buang kesempatan yang ada! Dengan kekuatan yang tersisa. Aku berdiri dan mengambil kesempatan ini untuk kabur. Aku tidak memedulikan lagi map-map sialan yang membuatku terdampar di tempat ini. Aku berlari keluar kelas dengan keringat dan air mata yang mengalir deras. Braak! Suara pintu kelas Lily yang kembali dibanting keras menyentak kesadaranku, namun tidak membuatku berhenti untuk berlari. Hal ini justru memperingatkanku untuk terus berlari.
Braaak! Braaak! Braaak! Pintu kelas di sepanjang lorong terus dihempas dengan kuat. Itu semua seolah memperingatkan bahwa hal yang tidak aku ketahui itu masih terus mengejar. Ini benar-benar menakutkan. Ketika aku menuruni tangga, aku kembali mendengar bisikan itu. "Jangan terburu-buru Michel" Aku semakin takut, karena bisikan itu menandakan bahwa ia berada di dekatku. Pijakan-ku oleng. "Ish sial." Aku terjatuh dan meringis kesakitan, sepertinya kaki-ku terkilir. Tetapi ketakutan lebih terasa saat ini. Aku tetap berdiri dan terus melangkah secepat yang aku bisa. Walaupun dengan langkah Tertatih-tatih. Tidak lama, aku sampai di gapura sekolah. Aku tidak lagi mendengar suara-suara bisikan itu atau pintu yang terhempas. Meski begitu, aku tidak memelankan langkah. Selama aku belum sampai di rumah, maka tidak ada kata aman yang singgah. Saat aku ingin menyeberang dari sekolah. Aku kembali mendengarnya, "hati-hati Michel" langkahku terhenti ditengah jalan. ^_^*^_^
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 112 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (71)
Sinta Queena Reborn
aku suka alur ceritanya... bikin kesel, greget sekaligus gemes sm es batu nya esteve..
04/07/2022
2
Rada Dan Yasir
kenapa lama bnget ceritanya kk ... sya sudh chek setiap hri tapi masih lom dilanjut lanjut kak . ayo dong semngat kak .. lanjutin lagi kak .
21/06/2022
0
AzuzaYui
ceritanya bagus dan banyak pembelajarannya dan mohon untuk autor jangan lama2 rehatnya kasihan yang sudah menunggu termasuk saya 😁
aku suka alur ceritanya... bikin kesel, greget sekaligus gemes sm es batu nya esteve..
04/07/2022
2kenapa lama bnget ceritanya kk ... sya sudh chek setiap hri tapi masih lom dilanjut lanjut kak . ayo dong semngat kak .. lanjutin lagi kak .
21/06/2022
0ceritanya bagus dan banyak pembelajarannya dan mohon untuk autor jangan lama2 rehatnya kasihan yang sudah menunggu termasuk saya 😁
09/06/2025
0Xem tất cả