logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

my cold vampire

my cold vampire

kyutsgirl_


Chương 1 -vampire?-

^_^*^_^
Bulir-bulir keringat sudah membasahi baju seragam-ku. Apalagi saat
ini Inggris sedang mendapat kunjungan dari musim panas. Banyaknya
gerakan yang aku lakukan justru membuat produksi keringat
meningkat untuk saat ini.
Hanya selangkah lagi, semangatku di dalam hati.
Aku mengambil ancang-ancang untuk melompat dari pagar gedung
SHS (Senior High School).
Mataku terpejam sebentar, berusaha meyakinkan niat untuk
melakukan hal ini.
Greep!
Yeay! | can!
Aku bersorak di dalam hati. Well sangat tidak memungkinkan untuk
berteriak secara langsung saat ini.
Aku mulai menyusup secara perlahan ke koridor sekolah. Sudah
tertangkap oleh mataku, koridor loker yang tidak berpenghuni.
Bagus! Ini memudahkan usahaku. Aku melirik sekitar seperti pencuri,
berharap tidak ada guru atau Head Masteryang menangkapku.
Great!
Dewi fortuna memang memihak padaku. Aku selamat! Tidak ada guru
yang mengawas sekarang.
Aku berlari dengan suara perlahan di lorong sekolah.
Aku tahu ini semua sia-sia. Kemungkinannya terlalu kecil untuk aku
selamat dari hukuman hari ini.
Meskipun tidak ada guru yang menangkapku sekarang, setidaknya guru
mata pelajaran sudah menunggu di ruang kelas. Shit!
Ruang kelas mulai tampak di depan mata. Satu persimpangan lorong
lagi dan setelah itu, neraka dunia akan menjemputku.
tiba-tiba.
Bugh!
Sesuatu terasa menghempas bahuku dengan cepat. Namun,
kurasakan tangannya berusaha menahanku untuk tidak terpental.
sayangnya, aku dan sesuatu yang menabrakku itu, sama-sama terjatuh.
cup.
kemudian benda kenyal dan lembut menyapa bibirku. aku membulatkan mata tidak percaya?
hell! seseorang telah mengambil ciuman pertamaku!
Aku, Michaela Everlyn Collins, telah resmi kehilangan ciuman
pertama-ku secara tidak wajar. Dan bagi yang menemukannya,
harap untuk mengembalikan kepadaku, karena akan diberi imbalan
sepantasnya.
Oh andai saja, aku bisa memasang reklame seperti itu. First kiss—ku
telah hilang, tetapi aku tidak tahu siapa yang mengambilnya. Damn!
Aku bahkan masih ragu apakah peristiwa tadi sungguh terjadi.
Arghh! How bad this day!
"Ela! Ada apa denganmu?!” tepukan pelan dari Helena terasa
mengejutkan.
Aku memandangnya sekilas. "Nothing;' ujarku acuh tidak acuh.
Jelas, aku tidak sedang dalam perasaan yang baik untuk diajak bicara.
Helena terlihat gemas oleh tingkahku. "Kau barusan saja berteriak!"
kesal
Well sekarang aku tahu, mengapa orang-orang di cafeteria sekolah ini
menatap kami dengan tatapan penasaran.
"Sorry,' ujarku tanpa nada menyesal.
Sahabatku terlihat malas untuk kembali bertanya dan memilih kembali
fokus pada makanan dan smartphone canggihnya. Keheningan ini
membuat bayang-bayang kejadian memalukan itu kembali terulang.
Flashback
Mataku membola tidak percaya melihat mata hitam pekat yang sedang
menatapku tajam. Jarak antara aku dan sosok yang menabrak-ku,
hanya terpaut beberapa senti. Jangan lupakan benda kenyal dan manis
yang membentur bibirku.
oh god! i wanna die!
Dengan gerakan impulsif, aku hendak melepaskan kontak bibir ini.
Tetapi si pemilik mata hitam menyorotku dengan tatapan terganggu.
Sosok itu justru menarik tengkuk-ku dan memperdalam ciumannya.
Rambut-rambut halus di sekitar leherku meremang perlahan ketika
tangan dinginnya merambat di sana.
Crazy!
Aku menikmati ini!
Rasanya seperti melayang dan jantungku berpacu begitu keras. Mata
hitam dan ciumannya benar-benar merenggut kesadaranku.
Sekarang aku malah memilih untuk menutup mata dan meresapi apa
yang ia lakukan. Walaupun hanya benturan bibir yang terjadi tanpa ada
hal lainnya. Tetapi ada yang membuat ciumannya terasa membutakan
bukan menuntut.
"Michaelaa!!" bentak seseorang. Aku membuka mata dan
menghentikan surga sekilas itu.
Lalu mataku terbelalak kaget.
Bukan.
Bukan karena dia yang membentakku itu seorang guru. Tetapi karena
tidak ada pemandangan mata hitam yang tadinya hanya terpaut
beberapa senti di depanku.
Yang tersisa hanya diriku yang terlentang pada lantai dingin sekolah.
Flashback off
"Sebenarnya apa yang terjadi?" heranku kesekian kalinya.
"Apa? Apa yang baru saja kau katakan?" tanya Helena dengan mata
yang terfokus pada smartphone.
"Tidak. Bukan apa-apa."
"Mengapa kau hanya mengatakan kata itu?" keluhnya.
"Terserah padaku."
"Kau sungguh menyebalkan hari ini!" Aku mengangkat bahu tidak acuh
mendengar gerutuan Helena dan hal itu justru membuat sahabatku
semakin kesal.
Gadis itu mendorong bahuku dengan kuat.
"Aaaaaaaah!" seruku terkejut.
Tubuh-ku tidak memiliki pertahanan akan tindakannya sehingga akan
terjatuh.
Tetapi selang beberapa menit, tidak ada rasa sakit yang menghantam
tubuh ini. Justru sesuatu yang asing melingkar di bahuku.
Aku membuka mata dan manik coklat yang menyambutku pertama
kali. Senyum canggung aku lempar pada sosok itu.
"Kau tidak apa—-apa?" tanya Eldric sembari mengangkat tubuhku
kembali ke posisi sebelumnya.
"Tidak. Terimakasih!" ucapku tulus padanya.
"Oke. Lain kali hati-hati."
Setelah itu, dia melangkah pergi meninggalkan cafetaria yang hening
dengan oksigen yang tertahan di rongga dada siswi di sini.
"Sialan! Mengapa kau beruntung sekali?" runtuk Helena.
"Memang;' ujarku ketus. Helena adalah pemuja garis keras para siswa
tampan di sekolah dan Eldric adalah salah satunya.
"Hah?! Itu juga karena aku mendorongmu;,’ kilahnya.
"Mengapa tidak kau katakan saja kalau aku sungguh beruntung? Aku
memang magnet bagi para lelaki tampan.
Helena terlihat panas dengan kata-kataku. Tetapi percayalah
meskipun kami sering bertengkar dan adu mulut, persahabatanku
dengannya begitu erat.

"Ish!! Kau?! Kau?!--" Helena terlihat geram dan kehabisan kata untuk
melanjutkan kalimatnya.
Jelas sekali, kekesalannya telah mencapai batas maksimal. Dan aku
tahu ia akan memberi pembalasan padaku dengan cubitannya.
Dengan cepat aku mengambil vanilla latte milik-ku dari atas meja.
Kemudian lari dari Helena yang sedang dalam situasi mengamuk. Dan
di saat itulah kesalahan terbesarku terjadi.
it's a shit day?!!
What the hell!!
what the fuck!!
Tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan menumpahkan
minumanku padanya.
Tubuhku terdiam kaku dengan kepala yang menunduk takut. Seketika
terbayang di kepalaku adegan penindasan oleh kakak tingkat yang
sering ada pada serial drama televisi.
Oh sungguh! Aku tidak ingin menghabiskan masa SHS-ku dengan
perundungan.
"Ma- ma- maaf;' ujarku gugup. Ya Tuhan, dimana suaraku saat ini?
"Bukankah tidak sopan berbicara dengan orang lain tanpa melihat
wajahnya,' sindirnya.

Namun aku terlalu takut. Aku tidak bisa mengangkat kepalaku dan
menatap wajah mereka.
Benar! Sosok itu membawa kawanannya.
Seperti kumpulan-kumpulan aneh yang biasa diciptakan di sekolah.
Aku benar-benar ingin menangis. Aura mencekam begitu
mendominasi cafetaria ini. Tidak ada sedikit pun suara yang terdengar.
Oh God, help me please!
Aku melihat langkah kaki mereka yang ada di depanku mulai bergerak
menjauh.
Oh Tuhan, terimakasih mereka akan pergi.
Satu per satu dari anggota mereka, bergerak melewati aku yang masih
menunduk takut. Terlihat pasang-pasang kaki yang berbalut sepatu
sproty
Pada pasang sepatu terakhir, aku melihat langkah kakinya melambat.
Aku sudah ketakutan setengah mati. Benak-ku menerka apa mungkin
dia ingin mengancamku.
"Mine" lirihnya pelan hingga nyaris benar-benar tidak terdengar.
Aku diam.
Memutar otak-ku mencari arti kata itu.
Apa maksudnya?
Aku segera mengangkat kepala untuk melihat siapa yang
mengutarakan kata itu. Namun yang terlihat, hanya punggung tegap
lima lelaki.
"Who are they?" tanyaku lebih pada diri sendiri.
"Sungguh?! Kau tidak mengenal mereka?" balas Helena yang sudah ada
di sampingku. Lalu dengan polosnya aku menggeleng.
Helena menatap ke arah para lelaki itu lagi walau hanya dapat melihat
punggung-punggung indah itu dengan tatapan memuja, "mereka
dikenal dengan julukan AIUEO Boys. Kelimanya adalah saudara
kembar dan mereka adalah the king of the most wanted di sekolah.
Bahkan kepopuleran Kak Eldric Alden Walker masih dibawah mereka,'
cerocosnya panjang lebar.
"Aku pernah mendengar AIUEO Boys sebelumnya. Tetapi mengapa aku
tidak pernah melihat mereka?" heranku.
"Jelas saja. Hampir dua tahun di sekolah ini dan yang kau tahu hanya
menjadi budak Student Council!'
"Mulutmu sungguh sialan;' aku memukul pelan kepala Helena dan dia
mengaduh sakit.
"Lalu mengapa nama mereka AIUEO Boys?" tanyaku lagi.
"Karena begitulah inisial nama mereka. Seperti yang sulung, namanya
Alaric Kalfani Walcott. Dialah yang tadi berbicara denganmu;' terang
Helena. "Lalu yang kedua bernama Ireneo Bel Walcott. Aku sangat
menyukainya. Dan yang ketiga ialah Urien Xavier Walcott. Dia yang
paling sering tersenyum dari yang lainnya. Kemudian Esteve Graffielo
Walcott. Banyak dari siswi di sini yang menyukai lelaki itu karena
ia begitu rupawan dengan manik hitam miliknya. Namun sayang,
sikapnya terlalu dingin bahkan beku. Tidak tersentuh sama sekali.
Dan yang paling bungsu ialah Obelix Felix Walcott. Lelaki ini lebih suka
bersosialisasi dan terikat dengan jabatan playboy, karena memiliki
banyak mantan kekasih."

"Apa yang membuat mereka berbeda dari yang lainnya?"
Punggung-punggung itu tidak lagi tertangkap oleh mata. Sehingga
Helena kembali untuk duduk di kursi cafetaria dan aku mengikuti apa
yang sahabatku itu lakukan.
"Kelima lelaki itu hampir tidak tersentuh. Bukan hanya untuk
bersosialisasi atau berbicara. Bertemu dengan mereka di sekolah ini
saja sulit, ditambah lagi dengan mereka yang memiliki ruangan kelas
jelas Helena. "Jadi selain karena Student Council, kau juga
tidak pernah melihat mereka karena hal ini."

"Berlebihan; jijikku. "Tetapi nama-nama mereka begitu unik."
"Sayang sekali, kau tidak melihat wajahnya. Mereka mempunyai darah
yunani!
"oh"
" Just it

"so?"
"Crazy! Seharusnya kau berekspresi sedikit lebih tersanjung karena kau
baru saja berbicara dan bersentuhan dengan mereka!" geram Helena.

Aku hanya membisu. Pikiranku melayang pada hal lain.
Mine?
Benarkah bisikan itu nyata? Tetapi siapa yang mengatakannya? Apa
mungkin aku salah dengar? Atau memang salah satu dari mereka yang
mengatakannya? Tetapi mengapa ia mengatakan hal itu? Aku bahkan
tidak mengenal para lelaki itu.
Aku memeriksa setiap map berbeda warna yang berada dalam
dekapanku, memastikan apakah ada yang tertinggal atau tidak.
Sebentar aku menengadah ke langit kemudian menghela napas.
Ternyata malam telah menjemput. Sedangkan aku baru saja keluar dari
lingkungan sekolah.
Di beberapa situasi terkadang aku menyesalkan pilihanku untuk
mengikuti organisasi kesiswaan itu, dan membenarkan sedikit
pendapat Helena selama ini.
Aku berpikir menjadi anggota Student Council adalah hal yang
menyenangkan. Aku akan dihormati dan disegani oleh siswa lain.
Namun, ternyata aku salah. Selama kakak tingkat-ku masih ada,
mereka-lah yang berkuasa dan aku hanya menjadi pembantu di sana.
Asumsi-ku dengan bergabung dalam organisasi kesiswaan ini, aku
akan lebih mudah mendapat teman dan menjadi populer. Kesulitan-ku
untuk beradaptasi membuat aku yakin bahwa menjadi anggota
kesiswaan akan menjadi batu loncatan.
Meski kenyataan yang ada selama dua tahun ini tidak menunjukkan
hasil sesuai harapan. Satu-satunya temanku hanyalah Helena, sisanya
hanya datang ketika butuh dan pergi ketika kebutuhannya dariku
terpenuhi.
Hidup memang seperti itu bukan?
Sesekali aku merapikan map sialan yang merosot jatuh dari pelukanku.
Ya Tuhan, ini berat sekali!
Jika saja aku sedikit lebih sabar untuk menunggu kedatangan bus kota,
dan tidak memilih untuk menggunakan kereta bawah tanah, mungkin
aku tidak perlu berjalan seperti ini.
‘Aku mulai melewati lorong sempit sebagai jalan pintas menuju rumah.
Aku pernah menggunakan jalan ini sebelumnya ketika siang hari dan
suasananya sangat berbeda dengan sekarang. Aku bahkan tidak
menyangka, tempat ini akan sangat menyeramkan saat malam.
Akhirnya aku berhasil keluar dari lorong itu. Setelahnya, aku hanya
harus melewati sebuah jembatan dan akan sampai di rumah.
Shit.
Tiba-tiba aku berhenti melangkah.
Ada seseorang yang berdiri di tengah jembatan.

Aku menghirup napas dengan perlahan, berusaha menenangkan d

Stop thinking to much, Michel!
Belum tentu orang itu memiliki niat jahat.
Meski pemikiran itu terus aku tekankan, namun keringat dingin tetap
mengalir deras ketika langkahku semakin mendekati sosok itu.
Orang itu menggunakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.
Bahkan tudung hitam juga menutup kepalanya.
Kumohon, dia bukan orang jahat kan? Tetapi mengapa ia
menggunakan pakaian yang aneh? Jubah itu mungkin akan cocok jika
digunakan saat malam Halloween.
Aku mengambil jalan di sisi sebelah kanan agar tidak bertabrakan
dengan punggungnya. Namun tiba-tiba ia menghalangi jalanku. For
God's sake tubuhnya membelakangiku.
Oh Tuhan! Sudah jelas, dia pasti orang yang berniat jahat.
Aku meremas map-map yang kupeluk. Lalu kembali menuiju sisi jalan
yang lainnya. Namun, dia kembali menghalangi langkahku.
Tenang Michel! Kau harus berani! Semakin aku takut, maka semakin
mudah ia mengintimidasiku.
"Permisi Tuan. Saya ingin lewat. Bisakah Anda minggir dan
memberikan saya jalan?" tanyaku padanya.
Tetapi dia sama sekali tidak menjawab.
Aku kembali mengambil arah lain. Dan dia melakukan hal yang sama
lagi
Karena kesal akhirnya aku berkata, "Apa yang Tuan inginkan?"
Tanpa aba-aba orang itu berbalik dan membuatku mundur satu
langkah. Dia tetap menunduk hingga aku tidak bisa melihat wajahnya
'yang tertutupi tudung hitam.
Selang beberapa detik, dia mengangkat kepalanya dan membuka
penutup kepala itu. "Aku menginginkanmu;' dia berbicara dengan suara g
serak, membuat bulu-bulu halus di tanganku meremang. P
Aku sungguh ketakutan! Orang di depanku begitu aneh.
Bahkan manik matanya berwarna merah seperti darah. Apa mungkin
ada mata semerah itu? Atau dia menggunakan lensa mata?
"Apa maksud Tuan?"
"Aku tahu, kau mengerti maksudku,’ ujarnya.
Hell! Dia mengubah lagi warna matanya menjadi hitam kelam.
Mommy! Daddy! Help me!
Mataku mulai berkabut.
Okey! Don't afraid Michel! Don't be afraid!
"Tidak. Aku tidak mengerti."
"Aku menginginkan darahmu;' ujarnya sembari menunjukkan evil smile,
hingga taring panjang miliknya dapat terlihat.
Air mataku sudah berkumpul di pelupuk mata.
what the fuck!!
Dia...
Dia...
Dia seperti Edward Cullen. Jangan katakan kalau dia itu-,

"Vampir?" Saat aku mengucapkan kata itu, evil smile-nya semakin
lebar. Dan dengan jelas aku dapat melihat taringnya yang berkilau
ditimpa sinar rembulan.
"Gadis pintar."
Come on! Inggris sudah semakin maju. Apakah mungkin, masih ada
makhluk seperti itu saat ini? Bahkan jika dia adalah manusia, aku
belum tentu bisa melawannya. Dan dia vampir?!
For God's sake! Vampir itu hanya fiksi.
Dia maju perlahan mendekatiku. Aku ingin mundur dan menjauh,
tetapi kaki—ku seolah terpatri di tanah. Lalu dia menghirup napas
dalam~-dalam.
"Darahmu manis;' lirihnya.

Dia bahkan belum merasakannya, bagaimana mungkin dia tahu rasa
darahku? Aku sendiri tidak pernah mencicipi rasanya. Maaf, tetapi aku
tidak berminat.

Sosok itu melirik ceruk leherku. Akankah ini sama seperti
adegan-adegan dalam film makhluk bertaring? Apa dia akan mengigit
leherku? Lalu aku akan mati?
No! Aku masih ingin hidup.
Tetapi memberi perlawanan saja, aku tidak bisa.
Seperti inikah akhir hidupku?Digigit oleh makhluk fiksi?
Tubuh sosok itu semakin mendekat dan aku memilih menutup mata.
Tidak tega rasanya melihat hidupku yang akan berakhir tragis.
Haruskan aku mati hari ini? Bagaimana jika jasadku tidak tampak?
Bagaimana dengan Mommy dan Daddy?
Beberapa detik aku menunggu, namun tidak ada rasa sakit yang
menyerang leherku.
bugh!

bugh!!
Justru suara itu yang terdengar.
Seketika aku membuka mata.
Akhirnya, akhirnya ada penduduk yang ingin membantuku. Tetapi
dia hanya sendiri dan bagaimana juga, dia hanya manusia biasa.
Sedangkan lawannya adalah vampir.
"Beraninya kau menggangguku!" seru orang berjubah.
"Menjauhlah darinya,’ balas orang itu.
Mengapa kata-katanya seolah mengatakan telah mengenalku begitu
lama.
"Siapa kau hingga berani memberikan perintah padaku?" jawab orang
berjubah. Lalu kembali melayangkan pukulannya.
"Sialan!" desisnya.
Aku tidak dapat melihat wajahnya, tetapi aku dapat melihat taringnya
yang mencuat keluar.
Dia juga vampir?!
Aku...
Aku...
"Kau baik-baik saja?" seseorang menepuk bahuku. Aku melihat sosok
itu, seorang lelaki yang mungkin sebaya denganku. Wajah tampannya
diliputi kecemasan.
Aku hanya mengangguk, mulutku keluh mengeluarkan suara. Ini terlalu
mengejutkan.
"Lix bantu aku,' vampir yang menolongku atau mungkin yang akan
menerkamku juga setelah menghabisi orang berjubah itu, berteriak dari
ujung sana.
Orang yang dipanggil Lix itu segera mendekat ke pertarungan mereka.
Dan ternyata, dia juga vampir.
Aku lemas, kaki-ku terasa seperti jelly. Terlihat dua vampir tadi
menarik kepala vampir berjubah.
Tiga orang lainnya kembali datang. Ralat! Aku yakin mereka bukan
manusia, pasti mereka juga vampir.
Ketiga vampir itu, baru saja membuat api besar di sana. Kemudian
jasad si vampir berjubah dilempar ke dalam nyala api.
Oh, aku tidak sanggup lagi, benar-benar tidak sanggup lagi. Kepalaku
berputar dan mataku berkabut. Aku akan pingsan. Ah, tetapi tidak apa.
Setidaknya, aku tidak akan merasakan sakit ketika lima vampir itu
mengoyak tubuhku.
Saat aku akan jatuh. Aku merasakan tangan kokoh menangkap
tubuhku. Lalu sepasang mata hitam menatap mataku. Manik mata
yang sama saat aku kehilangan ciuman pertamaku.
Cahaya mentari mulai menyusup malu-malu melalui celah jendela
kamarku. Sehingga aku yang tertidur nyaman di ranjang, terusik untuk
bangun.
wait.
Aku ada di kamar?!
"Mommy! Daddy!" teriak—ku panik.
"Darl, kau tidak perlu berteriak sekuat itu. Kau ingin memecahkan
selaput telinga Mommy, Michel?" protes ibuku.
"Ada apa darl?" tanya ayahku.
Aku menatap mereka dengan bingung.
Bagaimana bisa aku benar-benar ada di rumah?!
“Itu. Emm. Itu."
Ah, kenapa sulit sekali mengatakan ada vampir?!
"Itu apa?" tanya ibu dengan tidak sabar.
"Mom Dad, bagaimana bisa aku sampai di rumah? Aku bertemu vampir
semalam. Bukankah seharusnya aku sudah mati? Tetapi mengapa?
Mengapa aku--?" Aku kebingungan mencari kata untuk melanjutkan
ucapanku.
Tiba-tiba ibuku yang mengesalkan, tertawa dengan keras.
"Kau pulang sendiri kemarin malam, Michel. Dan vampir kau bilang?
Vampir itu hanya mitos. Wake up, darl! Apa mimpimu seburuk itu tadi
malam?" tanya ibu bercanda.
Sialan! Mimpi?! Jelas-jelas yang terjadi semalam adalah kenyataan.
"It's realMom. Semalam ada vampir yang menghadangku. Lalu
ada lima vampir lain yang datang membantuku dan mereka saling
menyerang. Entahlah mereka datang untuk menolong atau justru juga
ingin menggigitku;’ ceritaku pada mereka.
"tidak ada vampir Michel. Dan lebih baik kau bersiap ke sekolah
sekarang”"
“Lihatlah, sudah jam berapa ini?" Ayahku berkata sembari menunjuk
jam kecil di atas nakasku.
07.10
what the--?!

Sekolah akan dimulai pukul 07.30. Jika seper! lebih baik aku tidak
berangkat ke sekolah. Lebih baik aku tidur di rumah daripada mengurus
organisasi sialan yang membuatku harus bertemu makhluk bertaring
itu

Tidak akan lagi!
"Dad, aku sudah sangat terlambat. Lebih baik aku tidak sekolah ya hari
ini?" aku memasang puppy eyes andalanku.

"Tidak boleh. Untuk apa kami membayar uang sekolahmu yang cukup
mahal itu, jika kau tidak mau sekolah;’ protes ibuku.
Ya Tuhan, hanya sehari saja.
Kenapa harus seperti itu? Dasar ibu-ibu perhitungan!
"Hari ini saja, tubuhku terasa sakit,' alasanku.
Ibu memeriksa suhu tubuhku. "Tidak. Tidak demam."
"Kumohon Mom, Dad. Hari ini saja;’ pintaku.
"Kau semakin membuang waktumu Michel,' ujar ayah lalu berlalu pergi.
Begitulah ayahku, sedikit berbicara. Namun sekali berbicara, maka
akan langsung tepat sasaran.
Berbeda sekali dengan ibu yang selalu mengeluarkan banyak energi
(I TR
"Sekolah yang rajin anak manis;’' ujar ibu lalu menepuk kepalaku
sebelum berlalu keluar.

sial!!

“Len, aku tidak telat kan?" seruku dengan panik. "Eh? Dimana
teman-teman yang lain?" ujarku lagi saat melihat hanya Helena yang
tersisa disana.
Apa mungkin mereka bertemu vampir sepertiku? Lalu, apa mereka
digigit vampir-vampir itu?
Oke. Tenang Michel. Tenang.
Vampir itu tidak ada. Vampir itu hanya fiksi.
"Hai Ela'' sapanya ketika melihatku. "Terlambat lagi, heh?" sindirnya dan
aku hanya mendengus kesal. "Tetapi, tenang saja. Hari ini kau tidak
akan dihukum seperti kemarin."
"Mengapa?" tanyaku sambil meletakkan tas di atas meja.
"Hari ini kita tidak belajar. Para guru sedang mengadakan rapat dan
siswa bebas untuk sekarang."
Aku hampir bersorak kegirangan, jika saja Helena tidak melanjutkan
kalimatnya.
"Yah, kecuali anggota Student Council. Mereka juga sedang
mengadakan rapat.'
fuck!
Helena tersenyum mengejek padaku.
"Sialan kau! Berhenti mengejekku. Aku juga akan segera keluar dari
organisasi sialan itu. Pekerjaan disana sangat banyak dan melelahkan.
Belum lagi--"

Apa aku harus mengatakan bahwa aku bertemu vampir semalam?
Tetapi orangtuaku saja tidak mempercayainya.
"apa?"
"Tidak. Bukan apa-apa’
"Ayo keluar,’ ajak Helena.
"Maaf. Tetapi aku harus ikut rapat organisasi itu;' sedihku.
"Pertama, sebelumnya kau katakan kau ingin keluar dari organisasi itu.
Jadi untuk apa kau ikut rapat di sana? Kedua, kau itu masih pengurus
baru. Aku yakin, kehadiranmu tidak terlalu diperlukan. Dan ketiga--,"
Aku mengernyitkan dahi dengan bingung, "apa?"
"Rapatnya belum dimulai Helena terkekeh.
“Sialan kau!"
"Come on,"ajak Helena lalu menarik-ku keluar.
Aku dan sahabatku, berjalan menuju cafetaria sekolah. Kami membeli
beberapa makanan ringan untuk menemani mengisi kegiatan yang
akan kami lakukan.
Tetapi kami tidak duduk di cafetaria untuk menghabiskannya. Biasanya
kami akan memilih untuk menghabiskan waktu di taman sekolah yang
sejuk, karena tempat itu akan menghadap pada lapangan sekolah. Dan
dari sana kami dapat menonton kegiatan yang dilakukan oleh siswa
lain.
"Ah, ini baru hidup;' seru Helena girang. Gadis itu meletakkan makanan
yang dia beli dan smartphone-nya pada bangku taman. Lalu ia ikut
duduk juga di sebelahku. "Mengapa tidak tiap hari saja guru-guru itu
mengadakan rapat?"
"Mau jadi apa Inggris, jika para generasinya berpikiran seperti dirimu;’
ujarku mencela.
"Yak!" serunya. "Semua siswa mencintai jam kosong." Gadis itu
memukul bahuku dan aku meringis kesakitan.
Kemudian Helena membuka bungkus makanannya dan aku melakukan
hal yang sama.
"Oh My God! Eldric tampan sekali!" Helena berkata sembari menatap ke
arah lapangan basket.
"Biasa saja."
"Kau itu tidak normal. Mungkin matamu rusak sangat fatal,’ dia
menghinaku. "Astaga keringatnya justru membuatnya semakin sexy.
Arrgh;' Helena kembali memekik kegirangan.
"Ya Tuhan Helena. Mengapa kau menjadi mesum seperti ini? Ah,
sungguh memalukan berteman denganmu."
"Itu fakta, Ela. Dia memang sexy:"
Setelah itu, aku tidak terlalu memperhatikan ocehan Helena. Aku
mulai memainkan smartphone milik-ku. Selama dia tidak mengusik
ketenanganku. Aku tidak akan peduli. Lagipula, aku yakin. Dia hanya
berceloteh mengenai kadar ketampanan pangeran sekolah itu.

Tiba-tiba dia berteriak.
"Oh God! What the--?!"
Aku menggerutu kesal. Tentu saja, karena aku terkejut. Seharusnya
aku tidak perlu bereaksi berlebihan jika hanya suara Helena yang
terdengar. Masalahnya, hampir setiap siswi di sini melakukan hal yang
sama. Mereka memekik kegirangan.
Sebenarnya ada apa?
"Haish. Ada apa Lena?" gerutuku padanya dan dia sama sekali tidak
memberi respon.
Dia masih setia dengan pandangan lurus ke depan dengan tatapan
memuja.
"Lena,’ aku memaksanya agar melihat ke arahku.
"Unbelievable Ela! AIUEO Boys keluar dari ruangannya;' jelasnya
padaku.
Jadi aku menatap pada titik yang sedang ia lihat.
Oke. Mereka tampan, mungkin karena darah Yunani di tubuh mereka,
seperti kata Helena. Ada tiga lelaki yang berjalan beriringan dan
membuat semua orang yang menatap mereka, tersenyum memuja.
Tidak ada siswi yang dapat mengalihkan pandangan mereka dari
pesona ketiga lelaki itu. Dan para siswa menatap mereka penuh rasa
iri
Ketiga laki-laki itu benar-benar menjadi pusat perhatian saat ini.
Aku juga merasakannya. Ada daya tarik di diri mereka dan membuat
kaum hawa sulit mengalihkan pandangan. Mereka punya kharisma
tersendiri dan rupa—nya seperti lelaki impian para gadis. Tetapi
sayangnya, mereka tidak membuatku terpikat. Seolah tidak ada rasa
lain selain keingintahuan yang membuatku harus melihat mereka.
Mereka tidak semenarik saat Helena menceritakannya.
Tiba-tiba bayangan pemilik mata hitam bergentayang di pikiranku.
Dengan gerakan impulsif aku menyentuh bibirku sendiri. Aku
menginginkannya lagi? Hanya dia yang mampu membuatku tertarik.
Bahkan hanya dengan bayangan mata hitamnya saja.
"Oke-oke. Aku harus mengabadikan ini;' suara Helena membuyarkan
lamunanku.
"Mengapa?" heranku.
"Ela, sudah kukatakan padamu kalau mereka sulit sekali ditemukan.
Mereka juga tidak bersosialisasi. Jadi mereka juga jarang tampak
di depan umum. Dan tidak sembarangan untuk masuk ke kelasnya.
Private, you know?' Helena mengeluarkan smartphone miliknya.
"Mengapa mereka hanya bertiga?" Aku mulai penasaran.
"Aku tidak tahu dimana Obelix, mungkin ia sedang mengurus para
fans atau kekasih-kekasihnya. Kalau Esteve, dia sangat-sangat
jarang keluar dari ruangan mereka. Oleh karena itu, aku begitu terkejut
melihatnya di cafetaria kemarin,' jelas Helena. "Sayang sekali AINEO
Boys menjadi tidak lengkap,' Helena berujar sedih.
"Penguntit, huh?" ejek-ku, namun gadis itu justru menganggukkan
kepalanya dengan semangat. Seolah itu adalah kebanggaan tersendiri
untuknya
Aku kembali memperhatikan makananku. Tidak lagi memedulikan
Helena dan kegiatannya yang memotret the king of the most wanted
sekolah.
"Nah. Nah. Itu Obelix,' seru Helena dan membuatku mengalihkan
pandangan pada arah yang ia tunjuk.
Aku terpaku.
itu?! Itu Obelix!?” seruku tertahan.
"iya, itu obelix"
"Really? Itu Obelix?!" jeritku tidak percaya.
“lya Michaela Everlyn Collins. Jangan bilang kau suka dengannya.
Atau kau termasuk korban dari rayuannya--,' dan aku sudah tidak
mendengar lagi ocehan Helena.
Tiba-tiba telingaku berdengung. Dan lidahku kelu untuk mengeluarkan
suara. Tubuhku terasa begitu kaku. Pikiranku mendadak kosong.
Yang aku ingat hanya,
kau tak apa?
Lix bantu aku
Dan dua kalimat itu seperti bom waktu untukku sekarang. Aku masih
mengingat dengan jelas pahatan wajah orang itu karena jarak kami
yang sangat dekat. Ralat! Bukan orang mereka,
"Vampir?" Aku mendesis pelan bahkan nyaris tidak terdengar di
telingaku sendiri ataupun telinga Helena. Tetapi keempat vampir
bersaudara itu bisa mendengarnya. Mereka semua menoleh ke arahku.
For God's sake mereka bisa mendengarnya!
Aku dapat menangkap pekik bahagia dari mulut Helena karena pujaan
hatinya menoleh ke arahnya. Tetpi tidak denganku!
Aku meneguk ludah dengan susah payah. Bayangkan saja, aku ditatap
intens oleh empat vampir tampan yang berkedok most wanted
sekolah.
what the fuck!
Vampir Michel?!
Di sekolahku ada Vampir!
hell!
Mati kau Michel!
Bagaimana jika mereka menggigitku? Atau bagaimana jika mereka
mengancam-ku? Dan jika mereka meneror-ku? Tamatlah aku!
Mengapa aku harus mengetahui rahasia besar mereka?
Hell, dimana saudara mereka yang satu lagi? Apa dia sedang
mengintai-ku? Bagaimana jika aku mati di tangan mereka? Aku masih
ingin hidup!
"Hei Ela! Kau tidak mendengarkan aku?" suara Helena sukses menarik
kesadaranku.
"Ada apa Lena?" kesal-ku padanya karena terkejut.
"Aku bertanya sedari tadi. Apa yang baru saja kau katakan?" Helena
melirik ke arahku. Tanpa aba-aba ia menangkup wajahku dan memberi
tatapan khawatir, "are you okay? Mengapa tiba-tiba wajahmu pucat
EEC
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Helena. Yang aku pikirkan hanya
cara untuk lari dari tempat ini. Ketakutan sepertk mencekik-ku hingga
keringat dingin mengalir deras dari pelipis.
"Maaf Lena. Tetapi aku harus pergi untuk menghadiri rapat organisasi
itu. Bye!" Seketika aku beranjak pergi tanpa memedulikan perkataan
Helena mengenai makananku yang tersisa.
Aku takut. Benar-benar takut. Aku merasa semua yang ada di
sekelilingku sekarang akan membahayakan keselamatan-ku.
Bagaimana jika teman-teman sekolahku selama ini adalah vampir?
Apa Helena juga begitu? What the hell!
Ini semua mulai merasa gila.
Langkahku benar-benar tidak tentu arahnya. Ketahuilah, aku adalah
orang yang benar-benar penakut dan mudah sekali khawatir ataupun
cemas. Jika sudah mengalami perasaan seperti ini, tubuhku akan
terasa sangat dingin dan perutku menjadi mual.
Serangan panik ini benar-benar buruk!
Aku tidak tahu harus bersembunyi dimana?
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh lenganku. Itu vampir?!
"Aaaaaaaaal”
"Hei, ada apa denganmu?" tanya orang itu dan membuatku sadar.
"Maaf Kak, refleks—ku sangat buruk;' aku berujar sopan pada kakak
tingkat-ku
"It's okay. Kau Michaela Everlyn Collins kan?" tanyanya dan kubalas
anggukan.
"Kau dipanggil untuk ikut rapat organisasi kesiswaan."
Aku mengangguk lagi, "terimakasih Kak."
Setidaknya ini dapat mengalihkan dari pikiran bodoh.
_*°*_
Aku ingat beberapa hari yang lalu, aku tidak sengaja menumpahkan
minuman pada salah satu dari antara mereka. Setelah itu, aku mulai
mengenal mereka dari Helena. Dan tanpa sengaja, aku mengetahui
bahwa mereka adalah vampir.
Hah! Perfect?! Seminggu ini benar-benar dapat memutarbalikkan
duniaku.
"Michaela;' panggil seseorang.
"lya Kak?" sahutku pada sang sekretaris organisasi kesiswaan itu.
"Jangan lupa. Ini semua dibawa besok ya;' perintahnya sambil
menunjuk map-map yang kupeluk.
Huh! Aku ingin sekali mendengus kesal dan berkata, siapa kau yang
berani-beraninya menyuruhku? Sayangnya, aku tidak seberani itu. Aku
hanya dapat menggerutu di dalam hati.
Siapa yang tidak kesal jika disuruh membawa tugas-tugas sialan yang
bukan tanggung jawabnya. Map-map ini, hanya berisi diskusi yang
dimana aku tidak memiliki peran penting di dalamnya. Tetapi aku harus
membawa benda-benda ini pulang untuk diketik ulang agar lebih rapi,
hanya karena aku anak baru pada organisasi Oh damn! i hate them!
"Kau mendengarnya—kan Ela?" tanyanya lagi.
RIZLELS
"Lily, panggil seseorang. Dia adalah sang ketua organisasi kami yang
begitu tampan, namanya Gerald. Dia juga salah satu most wanted.
"Ada apa Rald?" tanya Lily.
"Berkas yang tadi kuberikan padamu, sudah kau bawa-kan? Itu perlu
untuk dicetak dan diberikan kepada Head Masterbesok;' terangnya.
"Astaga! Aku melupakannya,' kakak tingkat-ku itu menepuk dahinya
pelan.
Lalu ia kembali melihat ke arahku, "Ela tolong kau ambilkan ya.
Aku meletakkannya di kelasku, tepat di atas meja. Orang yang
menjemputku sudah datang." Dia berlari begitu saja menuju mobil
yang menjemputnya. Sama sekali tidak mendengar jawabanku atas
permintaannya.
la tidak membiarkan-ku untuk menolak! Fuck you, Lily!
Dasar tidak bertanggungjawab!
Aaaaargh!! Aku kesal!
Helaan napas jenuh terdengar. Percuma saja aku mengumpatnya di
dalam hati. Hal itu tidak akan mengubah apapun. Dan Lily si sekretaris
tidak kompeten itu juga tidak akan mendengarnya.
Aku berbalik menatap sekolah.
Ya Tuhan! Mengapa sekolah ini lebih mirip rumah hantu sekarang?
Dengan takut aku berjalan naik menuju lantai tiga. Semua ruangan
senior memang ada di lantai itu. Dan di sepanjang lorong yang aku lalui,
tidak ada lagi siswa maupun siswa yang terlihat. Mungkin hanya aku
satu-satunya yang masih ada di lingkungan sekolah.
Akhirnya aku tiba di kelas Lily. Sial, mengingat gadis itu membuatku
muak.
Seperti kelas lainnya, ruangan ini juga telah kosong. Aku segera
memeriksa meja miliknya.
Kertas—kertas itu memang terletak begitu saja di atas meja. Aku
segera mengambilnya dan menyusunnya, lalu aku bersiap untuk pulang
ke rumah.
Namun dengan tiba-tiba, angin menghantam tubuhku hingga aku
terguncang. Segera saja aku memegang benda terdekat agar tidak
jatuh. Itu angin sungguhan? Bagaimana bisa ada angin di kelas ini?
Jelas-jelas semua jendela terkunci.
Angin ini terasa aneh.
Tanpa aba-aba, bulu di tanganku meremang. Aku mulai mengusap
tengkuk-ku dengan resah.
Oh tidak! Ada yang tidak benar. Lebih baik aku segera meninggalkan
tempat ini.
Aku bergerak keluar. Namun belum selangkah aku beranjak. Mendadak
pintu kelas tertutup dengan keras, seperti dibanting.
Braaak!!
Cukup! Ini sudah diluar nalar. Tidak mungkin pintu ini bisa tertutup
sangat keras, padahal tidak ada angin, hujan, apalagi manusia di sana.
Ayolah Michaela! Berpikir positif!
Tarik napas.
Buang.
Tarik napas.
Buang.
Aku mulai menenangkan diri.
Tiba-tiba sebuah suara berbisik tepat di telingaku, "hai Michel."
Dan saat itu juga semua pertahananku luruh. Seketika aku terduduk
di lantai kelas yang dingin. Map-map itu aku biarkan terjatuh. Lalu
aku menenggelamkan wajah pada lipatan lutut-ku. Dan mulailah aku
menangis ketakutan.
"PERGI!" teriak—ku.
Air mata-ku sudah luruh di pipi. Mata-ku terpejam kuat-kuat. Aku
tidak sanggup melihat hal apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.
"Kau takut Michel?" bisikan itu kembali terdengar. Tangisku semakin
menjadi-jadi, semua sugesti di kepalaku untuk tenang dan berpikir
positif telah hilang.
"PERGI KAU!!" teriak—ku.
Kemudian hembusan napas terasa di daerah tengkuk-ku. Secara
impulsif, aku berteriak sekuat mungkin, "AAAAaaaaa!!" Rasa takutku
telah mencapai batas maksimal, mungkin aku akan mati kali ini. Tetapi
bukan mati karena sesuatu yang tidak kuketahui ini. Namun rasa
takut-ku sendiri.
Brakk!
Pintu kelas kembali dibanting. Namun kali ini dibanting untuk terbuka.
Aku mengangkat kepala. Tidak ada orang disana. Mungkin saja hal
yang tidak aku ketahui itu yang membukanya.
Ayo Michaela! Jangan buang kesempatan yang ada!
Dengan kekuatan yang tersisa. Aku berdiri dan mengambil kesempatan
ini untuk kabur. Aku tidak memedulikan lagi map-map sialan yang
membuatku terdampar di tempat ini.
Aku berlari keluar kelas dengan keringat dan air mata yang mengalir
deras.
Braak!
Suara pintu kelas Lily yang kembali dibanting keras menyentak
kesadaranku, namun tidak membuatku berhenti untuk berlari. Hal ini
justru memperingatkanku untuk terus berlari.

Braaak!
Braaak!
Braaak!
Pintu kelas di sepanjang lorong terus dihempas dengan kuat. Itu
semua seolah memperingatkan bahwa hal yang tidak aku ketahui itu
masih terus mengejar. Ini benar-benar menakutkan.
Ketika aku menuruni tangga, aku kembali mendengar bisikan itu.
"Jangan terburu-buru Michel"
Aku semakin takut, karena bisikan itu menandakan bahwa ia berada di
dekatku. Pijakan-ku oleng.
"Ish sial."
Aku terjatuh dan meringis kesakitan, sepertinya kaki-ku terkilir.
Tetapi ketakutan lebih terasa saat ini. Aku tetap berdiri dan terus
melangkah secepat yang aku bisa. Walaupun dengan langkah
Tertatih-tatih.
Tidak lama, aku sampai di gapura sekolah. Aku tidak lagi mendengar
suara-suara bisikan itu atau pintu yang terhempas. Meski begitu, aku
tidak memelankan langkah. Selama aku belum sampai di rumah, maka
tidak ada kata aman yang singgah.
Saat aku ingin menyeberang dari sekolah. Aku kembali mendengarnya,
"hati-hati Michel"
langkahku terhenti ditengah jalan.
^_^*^_^

Bình Luận Sách (71)

  • avatar
    Sinta Queena Reborn

    aku suka alur ceritanya... bikin kesel, greget sekaligus gemes sm es batu nya esteve..

    04/07/2022

      2
  • avatar
    Rada Dan Yasir

    kenapa lama bnget ceritanya kk ... sya sudh chek setiap hri tapi masih lom dilanjut lanjut kak . ayo dong semngat kak .. lanjutin lagi kak .

    21/06/2022

      0
  • avatar
    AzuzaYui

    ceritanya bagus dan banyak pembelajarannya dan mohon untuk autor jangan lama2 rehatnya kasihan yang sudah menunggu termasuk saya 😁

    09/06/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất