logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Dipermalukan

Sudah seminggu berlalu. Kehidupan sekolah Alvin berjalan sesuai yang dia inginkan. Tidak ada gangguan apapun. Terutama orang yang paling dia khawatirkan sebelumnya, Michael, tidak muncul lagi setelah hari itu. Awalnya Alvin berfikir bahwa ketidak hadirannya ke kelas ada hubungannya dengannya. Tapi fikiran itu segera menghilang setelah Alvin mendengar pembicaraan tiga orang gadis yang duduk tidak jauh darinya.
"Sudah seminggu Michael tidak masuk sekolah." Angeline memulai pembicaraan dengan kedua temannya.
Mendengar nama Michael disebut, diam-diam Alvin menajamkan telinganya sambil berpura-pura membaca buku.
"Siapa peduli? Mungkin dia membolos karena habis melakukan sesuatu yang buruk." Gadis lain menyahut ketus. Wajah cemberutnya sangat kontras dengan gadis sebelumnya. Dia adalah Roseline, saudara kembar Angeline.
"Melakukan apa?! Kau pasti termakan rumor itu kan? Hei, dengar ya, sebenarnya dia tidak seburuk yang kau bayangkan." Angeline mengomel.
Roseline memelototi saudarinya. "Datang dari mana kesimpulan ini? Kau bahkan tidak berteman dengannya!"
Teman sebangku Angeline, Veronica, melambaikan tangannya kepada Roseline sambil berkata: "Rose, tolong jangan katakan hal buruk tentang teman sekelas kita. Kalaupun dia melakukan sesuatu yang buruk di luar sana, dia sama sekali tidak melakukan apa-apa di sekolah."
Roseline mencibir. "Kata-kata mu berputar-putar. Heh katakan saja secara langsung bahwa dia tampan, sehingga apapun yang dia lakukan akan selalu dimaklumi."
"Roseline, jangan seperti itu!" Tegur Angeline.
"Ada apa, Angie? Mau membantah? Pikirkan ini, rumor tidak semuanya salah. Ada sebagian yang dibuat berdasarkan kebenaran. Dari semuanya, hanya satu kesimpulan. Dia orang jahat. Berhenti mengagumi dia!"
Angeline mengerutkan bibirnya seolah merajuk. "Dia tidak terlihat jahat ...." Ucapnya pelan.
Roseline menampar bahunya pelan. "Itu artinya kau tidak menggunakan matamu dengan benar."
"Rose, hati-hati dengan ucapan mu! Sekarang mungkin kau memakinya tetapi siapa yang tahu disaat berikutnya kau jatuh cinta padanya? Ingat, karma selalu berlaku." Veronica mengingatkan.
Alvin mengerutkan keningnya. Dia berpikir, jika Michael melakukan hal buruk diluar sekolah, kemungkinan dia adalah anggota geng atau semacamnya. Lalu, apakah dia juga melakukan perundungan disekolah? Hanya memikirkannya, membuat Alvin gemetar.
Dia menggeleng dan membuang kekhawatiran itu jauh-jauh.
Setelah merapikan buku-buku kembali ke dalam tas, Alvin beranjak bersiap untuk pergi menenangkan diri. Tapi kemudian dia berhenti. Didepannya ada seorang gadis yang menghalangi jalan.
"Maaf, aku ingin lewat." Alvin berkata. Suaranya lirih, tanpa peduli apakah gadis itu mendengarnya atau tidak.
Gadis itu tersenyum malu. Dia sedikit berpindah kesamping, memberikan jalan untuk Alvin. Tapi sebelum dia melewatinya, dia memanggil.
"Wilson."
Alvin berbalik, sedikit terkejut. Apakah dia membutuhkan bantuan?
Wajah gadis itu agak kesal dengan responnya. Namun dia masih tersenyum manis seperti sebelumnya.
"Ada yang ingin ku katakan padamu,"
Gadis itu sepertinya sengaja mengambil jeda. Alvin tidak mencoba memotongnya, hanya diam menunggu.
Kemudian dia melanjutkan. "Bisakah kau ... ehm ... aku ... ingin berkencan dengan mu."
Apa?
Melihat kejutan diwajah Alvin, gadis itu menjadi semakin malu. Wajahnya memerah sampai ke telinga.
"Aku menyukaimu. Maukah kau berkencan denganku?" Dia mengulangi.
Alvin masih tercengang. Agak malu, antara percaya dan tidak.
"Eh ...."
"Tolong terimalah,"
Alvin sungguh tidak menyangka. Jika ini nyata, dia juga benar-benar senang. Dia bahkan bisa merasakan darahnya mengalir dengan sangat cepat. Dan jantung yang berdebar kencang.
"Aku ... ya. Tentu. Aku mau. Aku juga menyukai mu. Aku bahkan menyukai mu sejak hari pertama. Sungguh." Tiba-tiba saja pengakuan seperti ini meluncur dengan sangat lancar dari mulut Alvin. Senyum muncul di wajah tembam Alvin.
"Benarkah? Terima kasih!"
Gadis itu memegang tangan Alvin. Senyum gembira dan ekspresi kemenangan terpampang jelas di wajah cantiknya.
Ya. Alvin suka dia.
Nama gadis itu Luciana Smith. Dia adalah gadis tercantik di kelas, atau mungkin di sekolah. Semua orang menyukainya karena kepribadian nya baik.
"Luciana kau berhasil, seperti yang diharapkan." Sekelompok gadis lain menghampiri Luciana. Alvin melihat mereka mengawasi Luciana dari awal.
"Benar. Tapi, menyatakan cinta pada laki-laki suram begini bukannya menurunkan kualitas pesona mu, Luciana? Ini terlalu mudah." Kemudian mereka terkikik penuh penghinaan.
Seorang teman merangkul pundak Luciana sambil berkata, "Luciana bisa menaklukan laki-laki dalam waktu kurang dari satu menit! Ini yang tercepat. Baiklah kumpulkan uang nya. Aku dan Luciana menang."
Lalu mereka sibuk diantara mereka sendiri, meninggalkan kebingungan di kepala Alvin. Dia belum mengerti apa yang baru saja terjadi. Dia masih merasakan jantungnya berdebar. Tapi kali ini berdebar karena cemas. Cemas bahwa mereka mempermainkannya. Seharusnya tidak,kan? Luciana baik. Yang Alvin ingat, dia selalu baik. Alvin tidak pernah melihat dia melecehkan perasaan orang lain. Dia baik dan lembut.
Alvin memberanikan diri maju. Dia ingin memanggil Luciana tapi salah satu teman Luciana menghalangi.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Gadis itu memarahi.
Alvin mengabaikan nya. Dia hanya ingin memanggil Luciana. Ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Luciana."
"Kau panggil apa! Kau memanggil dengan namanya seolah-olah kau begitu dekat dengan Luciana."
Para gadis itu memelototi Alvin. Ekspresi mereka sangat galak.
"Luci-"
"Heh," Luciana tertawa kecil. "Jangan kau anggap serius,oke? Aku hanya bermain-main."
Alvin tercengang. Dia mencoba menggapai tangan Luciana.
"Tapi aku benar-benar menyukai mu! Tolong, aku sungguh sangat menyukaimu. Luciana, aku benar-benar suka padamu!" Dia mengatakan pengakuan ini dengan lantang
Luciana dan teman-teman nya terkejut. Bahkan Alvin sendiri terkejut dengan keberanian yang entah datang darimana.
Seluruh ruangan menjadi hening. Kelompok kecil yang sebelumnya bergosip juga hening. Tidak lama kemudian terdengar seseorang tertawa, diikuti oleh yang lain. Pada akhirnya semua orang tertawa, kecuali Alvin.
"Jadi, darimana kepercayaan diri anak ini berasal? Dia berani menginginkan Luciana, dewi kelas kita? Hahahaha benar-benar lelucon abad ini!"
Semua orang masih terus tertawa.
"Udik pedesaan! Lebih baik kau berkaca terlebih dahulu sebelum mengaku! Hahaha"
Tawa dan hinaan mereka semakin menyakitkan. Alvin mengepalkan kedua tangan gemuknya. Tubuhnya gemetaran karena menahan rasa malu dan amarah.
Tidak tahan lagi, dia berlari menjauh dari suara tawa mereka.
Terhadap anak gemuk yang kabur itu, seluruh siswa kelas sama sekali tidak merasa iba. Termasuk Luciana, dia hanya melirik acuh tak acuh sembari menyunggingkan senyum dingin.
-
Setelah Alvin tidak dapat mendengar suara mereka lagi, barulah dia berhenti. Dia menyapu wajahnya dengan kedua tangan, baru menyadari bahwa dia menangis.
Alvin menghibur diri mengusap air mata. Ini masih belum cukup. Dia juga ingin menenangkan diri dan membasuh wajah.
Setibanya didepan pintu toilet, Alvin mendengar suara keributan didalam. Beberapa terdengar seperti pukulan dan jeritan. Samar-samar Alvin menebak apa yang terjadi didalam. Syarafnya tiba-tiba menegang. Ini tidak bagus. Dia harus segera pergi.
Mungkin karena berbalik terlalu cepat, alvin menendang kakinya sendiri dan terjatuh, menimbulkan suara berdebam yang cukup keras. Suara di dalam toilet berhenti. Seketika Alvin langsung panik. Dia takut, orang-orang didalam toilet itu mendengarnya.
Sebelum Alvin bangun, pintu toilet dibuka dari dalam. Itu adalah tubuh tinggi salah satu siswa yang dia temui di kantin seminggu yang lalu.
Orang itu menyeringai.
Alvin merasa menggigil. Senyuman miring orang itu entah kenapa memberikan teror yang tak terkatakan dihati Alvin. Ketika dia berjuang untuk bangun, secara tidak sengaja melihat kearah dalam toilet. Beberapa orang mengelilingi seorang siswa yang merangkak di lantai. Dahi dan mulut anak itu berdarah. Alvin sangat terkejut, sehingga merasa sesak di dada.
"Sudah cukup melihat?" Suara kasar itu menyandarkan nya. Pandangan Alvin beralih pada orang yang membuka pintu sebelumnya. Seringaiannya semakin lebar. Dia mendekat, berniat untuk menangkap Alvin.
***

Bình Luận Sách (210)

  • avatar
    Istianah01*Siti

    sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya 😘😚😘😗

    04/06/2022

      3
  • avatar
    ValentinaRensi

    bagus banget kak

    13/06/2025

      0
  • avatar
    DaliahKeukeu

    bagus bnget novel nyaa KA hhuu🥲

    03/06/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất