logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 7 Hari ke-5

Wanita lain dalam hatiku (Maafkan aku, istriku)
***
POV Ardan.
Aku pulang ke rumah sendirian. Istriku tinggal di rumah orang tuanya untuk dua hari ke depan.
Saat malam, mataku enggan terpejam. Pikiranku selalu tertuju pada Resti. 
Perubahan sikapnya, mungkinkah karena permintaanku untuk berpoligami?
Bagaimana jika Resti mengajukan perpisahan?
Bukankah itu yang aku inginkan sedari dulu?
Kenapa sekarang, aku malah gelisah dan takut kehilangannya.
.
Pagi tiba, mataku sembab karena tak tidur dengan benar. Tak ada sarapan pagi ini di meja.
Aku berangkat dengan perut kosong. Tidak ada niat untuk sarapan di luar. Biarlah nanti siang saja.
Resti pasti akan mengirimkan bekal makan siang untukku nanti.
Saat di kantor, aku fokus mengerjakan semuanya. Hingga ponsel yang aku silent, terus saja bergetar. 
Aku meraih dengan cepat, berharap Resti yang menelepon.
Tertulis sebuah nama ... Susi.
Ah, aku hilang semangat. 
"Halo, Mas! Masih sibuk? Aku kangen banget, waktu terasa begitu lambat berjalannya tanpamu, Mas. Aku tersiksa seperti ini," ucap Susi.
Aku membuang nafas kasar. Harusnya aku senang saat Susi menghubungi. Tetapi kenapa aku malah mengharap Resti yang menelepon saat ini.
Ah, enatahlah ....
"Mas sibuk, sayang. Kamu yang sabar dong! Ini sudah hari ke-5. Tak lama lagi akan segera bertemu."
"Masih 25 hari lagi, Mas. Itu sangat lama. Apa Mas tidak merindukanku? Kenapa sekarang jarang membalas pesanku? Mbak Resti pasti sudah mengancammu kan, Mas? Keterlaluan memang wanita itu. Gara-gara dia, hubungan kita jadi terhalang seperti ini," papar Susi.
"Jangan bicara sembarangan! Resti tak pernah melarang apa pun. Kalau memnag dia melarang Mas, itu adalah wajar. Namun, Resti bukanlah tipe wanita seperti itu! Jangan menilainya asal, jika dirimu tak mengenal bagaimana wataknya!" hardikku.
Entah, aku tak terima mendengar Susi berkata begitu tentang istriku.
"Mas, apa yang terjadi padamu? Sepertinya sikap Mas berubah. Mas membela Resti dan membentakku. Keterlaluan!"
Telepon diputuskan oleh Susi. Biasanya aku selalu mencoba menghubungi balik ketika ia merajuk. Akan tetapi, saat ini tak ada keinginan itu.
Malah aku memikirkan kebenaran dari ucapan Susi.
Apa iya, aku sudah berubah?
Aku pun merasakan sesuatu yang berbeda di hatiku. 
Tak pernah aku merindukan Susi lagi. Bahkan sekarang bayangan Resti yang sering bermain di kepalaku.
Senyumannya dulu sangat aku rindukan. Sudah beberapa hari terakhir ini, Resti tak memancarkan keindahan senyum di wajah cantiknya itu.
Aku merasa kehilangan surgaku.
Kenapa aku ini?
Apa aku telah jatuh hati pada Resti?
Apa mungkin selama ini aku belum menyadarinya?
Jika benar begitu, maka aku akan segera meminta maaf padanya, dan mengakhiri hubungan yang salah ini dengan Susi.
.
Siang harinya, tak ada tanda-tanda kiriman makan siang dari istriku. 
Resah aku menunggu, bahkan tak berselera aku untuk makan di luar.
Seperti ini rasanya tak dipedulikan. Aku tersiksa, aku takut Resti benar-benar meninggalkanku.
Gusar pikiranku, rambut yang tebal, kini aku acak-acak dengan kasar.
Pulang aku ke rumah lebih awal. Tak konsentrasi lagi dalam pekerjaan.
Oh, Resti ....
Dirimu berhasil membuat diri ini hampir gila.
.
Sampai di rumah, tetap saja aku gelisah. Tak ada istriku yang biasanya menyambut dengan segelas teh hangat, dan sajian makanan lezat.
Ingin rasanya aku pergi menjemputnya saat ini juga. Namun, diriku sudah berjanji akan datang ke sana esok sore.
Jadi aku harus sabar menunggu. 
Kini aku masuk ke dalam mobil. Kususuri jalan tanpa tujuan pasti.
Perutku berbunyi-bunyi tanda berontak ingin meminta haknya untuk di-isi.
Akan tetapi tenggorokanku enggan mengunyah ataupun menelan.
Saat melaju di sebuah jalan, aku melihat Susi sedang duduk bersantai di Restoran.
Aku menepikan mobilku, dan turun untuk mengintainya.
Namun, seketika datang seorang pria. Mereka cipika-cipika begitu mesra. Bahkan aku tak pernah melakukan hal itu pada Susi.
Sejauh hubunganku dengannya. Aku paling menggenggam tangannya dan mengusap pipinya.
Terhenti langkahku di belakang Susi, sengaja aku berdiam dan tak langsung melabraknya.
"Setelah ini kita ke Apartemen, ya. Aku sungguh bosan menunggu sentuhan hangat yang tak kunjung aku dapatkan dari pacarku itu. Kalau bukan karena kekayaannya, mana mungkin aku mau bertahan sejauh ini," ucap Susi.
Pria itu tertawa sambil mencibirku. Mereka berdua terus berbagi cerita dan menertawakan aku.
Panas sudah aku mendengarnya. Ternyata Susi wanita yang bermuka dua.
Tak ada ketulusan dalam hatinya. Aku telah salah menaruh cinta selama ini.
"Oh, jadi begini kelakuanmu di belakangku! Untung saja dulu aku tidak menikahimu! Memang benar mata hati orang tua, ia lebih peka terhadap pilihannya. Menyesal aku telah mencintaimu selama ini. Mulai sekarang, kita sudah tak memiliki urusan!" hardikku dari belakang.
"Mas Ardan," lirih Susi menoleh ke arahku.
Tersenyum aku penuh kegetiran.
"Mas, dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang dirimu pikirkan."
"Oya? Tapi aku sudah mendengarnya. Apa lagi alasanmu untuk mengelak?" 
"Tidak, Mas! Aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya."
Susi masih berusaha berkilah.
Tak aku pedulikan. Detik berikutnya aku langsung menjauh dan masuk ke dalam mobil.
Susi terus mengejarku, dihentikannya mobilku.
Kini Susi berada di hadapan mobil, aku tak mungkin melaju.
Kaca aku turunkan, dan meneriakinya. "Minggir! Atau mau mati!"
"Lakukan saja, Mas! Tabrak diriku jika Mas tega," tantangnya.
Aku menyalakan lagi mobilku, dan Susi ciut. Ia pun menyingkir.
Kupercepat laju kendaraan ini. Jatuh air mataku bukan untuk Susi. Melainkan untuk Resti.
Bidadari surga telah aku miliki, tapi aku malah menyia-nyiakannya. Bahkan menyakiti hatinya.
Tak tahan aku menunggu esok hari. Aku ingin bertemu dan memeluk Resti sekarang juga.
.
Sampai di rumah mertuaku. Cepat-cepat bel aku tekan.
"Den Ardan," ucap Si Mbok.
"Istri saya ada, Mbok?" tanyaku dengan mata yang sudah sembab.
Bahkan asisten rumah tangga mertuaku ini menatap heran ke arahku.
"Non Resti lagi keluar sama Nyonya, Den. Silakan menunggu di dalam. Biar Si Mbok buatkan minum."
Aku mengangguk setuju. 
Di rumah ini tak ada siapa-siapa, karena Ayah masih berada di kantor. Sedangkan istriku, mungkin menemani Ibu belanja.
.
Satu jam berlalu, akhirnya Resti dan Ibu pulang.
"Nak Ardan. Tidak bekerja?" tanya Ibu sembari tersenyum.
Mertuaku ini persis seperti Resti. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, pasti diiringi senyuman.
"Sudah pulang, Bu. Ardan rindu Resti," ujarku dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Wah, ada yang tidak bisa pisah walau sehari saja," goda Ibu.
Detik berikutnya mertuaku berlalu. Mungkin ingin membiarkan aku dan Resti bicara berdua saja.
Resti duduk di sebelahku, dan aku langsung memeluknya dengan erat.
Berlinangan air mataku. Basah bahu Resti karena tangis yang tumpah ini.
Untuk pertama kalinya aku menangis di hadapan istriku.
"Ada apa, Bang?" tanya Resti yang merenggangkan pelukan.
Tak aku beri kesempatan untuknya menjauh. Resti kembali aku dekap dengan erat.
Aku mencintainya ya, Allah ....
Aku mencintainya.
"Maafkan Abang, Dek! Abang berjanji akan jadi suami yang baik. Ayo kita pulang! Abang tak bisa tidur nyenyak tanpamu, Dek."
Bergeming istriku. Entah aku akan mendapat maaf darinya atau tidak. Namun, aku takkan putus asa.
Aku akan terus berusaha untuk meraih cinta dan maaf dari istriku lagi.
"Bang, Resti akan pulang besok. Kenapa Abang menangis? Apa ada yang membuat Abang kecewa?"
Degh!
Aku selalu merasa tertampar dengan ucapan istriku akhir-akhir ini.
Bersambung.

Bình Luận Sách (239)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus...jadi terharu

    02/03

      0
  • avatar
    Ijah Abdullah

    Cerita nya seru banget tapi kok sedih mala Resti nya Kembali Awal ke sang pencipta tapi apapun cerita nya sngt memuas kan and untuk gilang dan rumi ada cerita ka mbak

    24/11

      0
  • avatar
    AndriantoBoby

    bagussss

    15/06/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất