Rintik hujan membasahi bumi. Suaranya seperti denting yang tiada habisnya, indah terasakan. Halimah masih merah matanya, dia keluar membawa nasi dan lauk seperti biasa dan mendekati kamar puteranya, Adam. Siang itu, Adam masih berbaring dan hanya menyebut satu kata, ’Naura.’ Halimah duduk di pinggir ranjang kayu, ditatapnya wajah kusut puteranya tersebut. Sudah 6 hari sejak hari itu, Adam seolah kehilangan semangat hidupnya. Makan tak mau, tidur pun sambil membuka mata, dan lisannya hanya menyebut nama Naura. Halimah mengelus rambut Adam, dalam hatinya lirih berujar betapa nelangsanya nasibmu Nak. Halimah meminta Adam untuk makan, namun bibir Adam tak juga membuka dan hanya mengucap lirih nama Nuara dan Naura. Halimah pun memenyet nasi dan tempe itu begitu lembut, terus dipenyet dengan kuat. Halimah melakukan itu sambil meneteskan airmatanya, airmata ketulusan seorang ibu. Makanan yang bercampur dan lembut itu pun dipaksakan Halimah ke dalam mulut Adam, meski sulit membuka Halimah tetap memaksanya hingga ada yang masuk ke dalam mulut Adam. Terlihat Adam menelan makanan lembut itu meski sedikit. Bertambahlah airmata Ibu Halimah sempurna menetes kembali. Anakku, Adam. ”Assalamu’alaikum,” Sebuah suara dari pintu depan. Itu suara Syarif. Halimah menjawab salam dan meminta Syarif langsung masuk saja karena pintu depan terbuka. ”Belum ada perubahan pada Adam Bu?” Halimah pun hanya menggeleng sambil tetap memenyet makanan untuk Adam. Syarif menggeser kursi plastik dan duduk di dekat sahabatnya itu. ”Kau harus kuat Adam, teman yang selalu memberi nasehat padaku. Kini kamu harus kuat Adam, bangunlah jangan hanya karena Naura kau jadi begini?” Syarif menepuk pelan pundak sahabatnya yang masih berbaring dengan mata menatap kosong itu. Diam, Syarif pun menggeleng dan ikut sedih. ”Aku tak bisa menemui Naura Bu, setidaknya dia harus datang untuk memberi semangat pada Adam. Besok dia menikah, aku tak diizinkan keluarganya untuk menemuinya,” Syarif menjelaskan pada Halimah soal Naura. ”Tidak apa-apa Nak Syarif, Naura pasti sibuk dengan persiapan pernikahannya. Apalah Anakku baginya,” Halimah kembali menatap puteranya yang masih tak bergeming. ”Setidaknya, dia harus melihat keadaan Adam sekarang. Dialah yang menyebabkan Adam hingga seperti ini,” Syarif masih protes. ”Sudahlah nak Syarif, mungkin inilah yang ditetapkan Allah untuk anakku. Mungkin, Allah telah mempersiapkan takdir terbaik untuknya nanti,” Halimah mengusap airmatanya. Dia juga harus paham, mereka adalah keluarga miskin, mungkin juga hukum di dunia ini salah jika seorang miskin mencintai orang terkaya di desa, yaitu keluarga pak Hasan. Sudah enam hari lamanya, tak ada yang keluar dari bibir Adam kecuali nama Naura. Cintanya begitu dalam. Namun, Adam yang lulusan pesantren tersebut tidak pernah melupakan shalatnya, entah apa yang terjadi sehingga hal itu membuat Halimah merasa bahwa itu adalah ujian Allah. Adam setiap waktu shalat selalu bangun dari tidurnya, tertatih mengambil wudhu dan melakukan shalat. Dia juga teringat Ibunya, beberapa kali sambil menangis selalu berucap maaf pada Ibunya. Tiga hal yang diingat dengan baik oleh Adam; Tuhannya, Ibu dan Naura. ”Naura...” suara Adam kembali lirih terdengar, hal itu membuat Ibu Halimah seperti tersayat hatinya, Syarif yang mendengar itu sekali lagi merasa terenyuh. Airmata Adam pun mengalir, ditimpali suaranya yang memanggil Naura. Menetes satu persatu. ”Sadarlah sahabatku... begitu dalam cintamu sehingga kau benar-benar tertawan olehnya. Bagaimana bisa kau...” Syarif tak meneruskan kata-katanya, airmatanya pun turut luruh. Syarif adalah sahabat baik Adam ketika di pesantren, mereka bersama menuntut ilmu. Langit pun menjadi saksi akan apa yang akan terjadi pada setiap manusia, semua sudah tertulis, kejutan dan musibah apa yang akan menimpa manusia. *** Hari Ahad tiba, Adam tiba-tiba bangun. Halimah bahagia, Adam biasanya bangun hanya saat shalat saja. Namun, kali ini dia bangun untuk mandi. Adam terlihat lebih kurus. Adam bangkit dan memakai baju terbaiknya serta memakai peci. Adam tak menyahut apapun yang dikatakan Ibunya, Dia hanya memakai baju terbaiknya, mengenakan peci lusuhnya. Dia mengambil sepedanya, hendak mulai mengayuh. ”Adam, Adam... kamu mau kemana Nak?” Adam seperti tak mendengarkan Ibunya, ”Ini hari Ahad Ibu, aku akan bertemu Naura di Danau Kenanga.” Pecahlah tangis Ibunya, tangisan ketidakberdayaan seorang Ibu yang tak bisa memberi kebahagiaan yang utuh pada anaknya. Halimah sangat mengerti sedalam apa cinta Adam kepada Naura, seperti cintanya dahulu ketika suaminya meninggalkannya untuk selamanya pada saat dia sangat membutuhkan suaminya, saat mengandung Adam. Kesedihannya itulah mungkin yang tercerap dalam diri Adam, kesedihan yang pernah dialaminya. Namun saat itu, Halimah harus bisa kuat dalam menghadapi ujian karena ada benih dalam kandungannya. Dia berusaha tegar, mendidik sekuat mungkin Adam. Nyatanya takdir itu berulang. Kini, Adam lebih hebat lagi cintanya. Ada apa ini ya Allah? Halimah pun tak berhenti bertanya pada Tuhannya. Adam yang terlihat kurus hendak mengayuh sepedanya, tapi terjatuh beberapa kali. Dia masih berusaha tapi tenaganya tak cukup kuat. Dia lemah sekarang, kesedihan membuatnya tak makan sempurna. Adam berdiri diam, Halimah pun melihatnya. Adam meletakkan sepedanya begitu saja. Dia mulai berjalan kaki, menuju danau cintanya, ” Naura... tunggu aku.” Halimah tak bisa menahan airmatanya. Tepat di hari itu, pernikahan Naura digelar. Naura menikah dengan Sandi Harnanto, seorang anak dari pedagang kaya di kota. Keluarga Naura juga terpandang di desa, wajah cantik Naura membuat Sandi tergila-gila. Dan. Perjalanan setiap manusia pun digelar, garis takdir pun terukir, apa yang menunggu setiap perjalanan manusia, masih menjadi misteri. Begitulah Adam, sudah satu bulan semenjak pernikahan Naura. Genap empat kali Ahad, dan setiap Ahad Adam duduk sendiri memandangi danau semata. Danau Kenanga tempat kenangan Adam dan Naura. Adam hanya seharian saja menatap air, disana dia melihat wajah Naura yang tersenyum. Halimah tak tega, dia mengikuti Adam dan menunggui puteranya itu di Danau. Namun, Syarif tak tega pada Ibu Halimah yang sudah dianggapnya ibunya sendiri. Syarif yang menungguinya. Setiap Ahad, wajah Adam terlihat ceria meskipun badannya kini kurus seperti hilang lemak dalam tubuhnya. Saban hari hanya terbaring meratapi nasibnya, setiap Ahad dia datang ke Danau Kenanga, sekedar duduk dan tersenyum melamun. Syarif menggelengkan kepalanya, sebesar apa cinta yang bisa membuat demikian? Sambil mendesah, Syarif berujar, ”Adam, sadarlah. Setidaknya, kasihanlah pada Ibumu. Tak perlu kau berlarut seperti ini, Naura bukan untukmu sahabatku.” Adam berhenti tersenyum tiba-tiba, ”Tidak Syarif..., Naura tercipta untukku,” setelah itu, Adam kembali tersenyum menatap air di danau. Syarif menatap sahabatnya itu, mungkin benar kata pujangga. Cinta bisa menjadikan orang menjadi gila. Saat dhuhur datang, Adam mengambil air wudhu di pinggir Danau, dia shalat di pinggir danau. Adam tak pernah meninggalkan shalat, namun setelah shalat Adam akan kembali pada lamunannya. Sore hari menjelang, Adam pun bergerak hendak pulang. Syarif mengikutinya, kini seantaro desa mengenal Adam sebagai orang yang gila cinta. Ya, bahkan anak kecil yang dilewati Adam dan Syarif terus mengatakan ’Orang gila cinta.’ Adam tak peduli dengan apapun di sekelilingnya. Kabar Adam menjadi pesakitan terdengar di seluruh desa. Naura pun mendengarnya, hatinya iba. Kemarin, Syarif datang ke rumah ayahnya saat dia pulang berkunjung ke desa bersama suaminya, Sandi. Syarif memohon pada Naura setidaknya untuk datang dan menasehati Adam agar sadar. Sandi yang memakai baju kemeja mendengar itu, Naura agak ragu untuk meminta izin pada suaminya. Namun, suaminya pun paham dan mengizinkannya namun dia harus ikut juga. Sandi mendengar bahwa ada orang yang tergila-gila pada isterinya hingga sakit. Sandi pun ingin melihat seperti apa lelaki itu dan katanya pernah menjadi kekasih isterinya. Sandi memarkir mobil mereka di halaman rumah Halimah. Syarif sudah datang lebih dulu memakai motornya. Rumah yang terlihat lapuk, rumah yang dibuat dari papan. Sandi melihat-lihat sejenak, kayu rumah itu banyak di makan rayap, Sandi tak bisa membayangkan semiskin apa keluarga tersebut. Halimah menyambut Naura dan Sandi dan memintanya masuk. Ruang tamu kecil, kursinya nampak sudah tua dari kayu. ”Ibu...” Naura merasa bersalah. Halimah berusaha kuat, ”Tak apa Naura..., setiap orang membawa takdirnya masing-masing. Langit selamanya tak akan bisa bertemu dengan bumi, namun mereka saling berhadapan.” Halimah tersenyum dalam getirnya. ”Bolehkah saya menemui Adam?” Naura berujar pelan. ”Boleh Nak..., semoga bisa menjadi penyembuh bagi Adam,” Airmata Halimah tak mampu ditahan, menetes perlahan dan segera diusapnya. Naura bergerak, diikuti Sandi dan Syarif di belakangnya. Halimah hanya duduk di kursi. Ruang tamu dan kamar Adam bersebelahan. Naura masuk, dia melihat Adam tertidur miring tak bergerak. Ada 2 kursi kayu di dekat Adam berbaring, mungkin ada orang yang datang menjenguknya. Naura perlahan duduk di kursi kayu itu, Sandi tak mau duduk dan hanya berdiri bersama Syarif. Kursi itu bisa saja hancur jika didudukinya karena terlihat tua menurutnya. ”Adam...” suara Naura lembut, suaranya tercekat. Tak ada sahutan. Naura melihat punggung Adam, seseorang yang pernah mengisi hatinya. Beberapa lama mereka hanya diam, hanya Sandi yang terlihat gelisah tak betah. ”Sadarlah Adam..., dan maafkan Aku, aku Naura.” Masih diam. ”Sayang, ayo pulang. Kita sudah datang dan menjenguknya,” Sandi mulai tak nyaman lagi berada di kamar itu. Pengap. Naura tak berani menolak suaminya, dia pun mulai bangkit perlahan. ”Adam...” suara dari Adam, suara itu bergetar saat Naura sudah mulai melangkah keluar. Adam meneruskan suaranya yang parau, ”Selamanya, Naura hanya untuk Adam.” Naura meneteskan airmatanya, dia amat mengenal Adam sekarang. Kehilangan hari-hari indah bersama Adam adalah hari paling menyakitkan baginya. Tapi, takdir berkata lain. ”Ayo pulang sayang!” Sandi paham situasi, ditariknya lengan isterinya itu, Naura tak bisa membantah. Mereka pergi meninggalkan Adam yang tak berhenti meneteskan airmatanya. Seperti langit runtuh dan menimpanya seluruhnya. Kesedihannya mencapai puncaknya, namun raganya tak kuat bergerak sama sekali. Sandi dan Naura pulang tanpa pamitan, Halimah menatap kepergian mereka dengan berlinang airmata. Syarif pun tak berdaya. Allah adalah penentu segala sesuatu. Di kamar itu, tetes demi tetes tak bisa ditahan lagi. Adam merasa tak berdaya, airmatanya terus menetes tanpa henti, terlihat lebam matanya, airmatanya mungkin habis sudah. Ketidakberdayaan dan kehancuran hidupnya sudah sempurna. Adam ingin bangkit, tapi ketidakberdayaan memenuhi jiwanya. Kesedihannya telah mengambil seluruh jiwanya. Apa yang hendak dilakukannya pun dia bingung dengan kehancuran harapan dan cintanya. Naura meninggalkan Adam. Di perjalanan, airmatanya tak berhenti menetes. Dia mengusap airmatanya dengan tisue hingga berlembar-lembar digunakannya. ”Ingat Naura, jangan mencintai siapapun kecuali aku, suamimu!” Sandi berkata agak keras membuat Naura segera tersadar. Mungkin, Adam kehidupannya hancur, namun hidup Naura juga sebenarnya hancur demi menyelamatkan keluarganya dia harus menjadi tumbal dan harus menikah dengan orang yang tak dicintainya.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 38 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (230)
Bobby Gonsalez
good and fantastic story.i love it
11/08/2022
0
BangYudha
wow! ceritanya keren banget....saat bacanya ada perasaan senang sedih campur geregetan dan penasaran...pokoknya mantap!
02/02/2022
2
Sarif Hidayat
cerita isi novel yang berjudul deras cinta di dalem ceritanya seru, rame, bikin aku nggak jenuh, rasanya seneng banget punya aplikasi novel ah saya mengisi luang waktu kosong karenan aku bekerja di tempat santai waktu kosong itu aku gunakan buat baca aplikasi novel ah yang bikin aku enggak gabut lagi makasih yang udah bikin aplikasi novel lah😊
good and fantastic story.i love it
11/08/2022
0wow! ceritanya keren banget....saat bacanya ada perasaan senang sedih campur geregetan dan penasaran...pokoknya mantap!
02/02/2022
2cerita isi novel yang berjudul deras cinta di dalem ceritanya seru, rame, bikin aku nggak jenuh, rasanya seneng banget punya aplikasi novel ah saya mengisi luang waktu kosong karenan aku bekerja di tempat santai waktu kosong itu aku gunakan buat baca aplikasi novel ah yang bikin aku enggak gabut lagi makasih yang udah bikin aplikasi novel lah😊
26/12/2021
2Xem tất cả