Sudah satu bulan Rendi menjadi siswa tetap sekolah itu. Dan kebiasaannya yang selalu mengganggu Lili, menjadi semakin berulah setiap harinya. Motto Rendi, setiap kali mengganggu Lili. Hidup ini kurang asik, kalau nggak jailin hidup loh. Nah itu yang selalu Rendi ucapkan, dikala Lili jengah dengan perbuatan jailnya kumat. Bel istirahat berbunyi, di kantin terjadi lagi kegaduan. Lili dan Lisa duduk sambil bercerita. Datanglah Rendi menghampiri mereka. “Hai cewek primadona” sapanya. “Siapa lagi sih ini” batin Lili kesal. (berbalik) “Ngapain loe kesini” ucap Lili. “Gue kan udah bilang sama loe, kalo urusan kita belum selesai” ucapnya. “Mau loe apa sih Ren” Tanya Lili. “Mau gue loe ikut sama gue sekarang” ucapnya kemudian menarik lengan Lili dengan kasar. “Loe mau bawa gue ke mana, lepasin sakit tahu Ren” teriak Lili. “Diam aja loe Li, gue Cuma mau bicara berdua sama loe kok” ucapnya. Setelah sampai dia mendorong Lili ke kursi. ”Sekarang loe duduk” ucapnya sembari mendorong Lili ke kursi, lebih tepatnya sih melempar Lili deh. “Awh… sakit tahu Ren. Mau loe apa sih” Tanya Lili. “Loe yakin mau tahu mau gue” ucapnya. “Iya gue yakin” ucap Lili. “Gue mau loe jadi asisten gue selama satu bulan sekaligus jadi pacar gue” ucapnya. “Apa, gue nggak mau” ucap Lili. “Nggak mau ya, loe mau foto ini sampai ketangan kepala sekolah. Apa yang akan dia katakan ya, melihat primadona sekolahnya berbuat seperti ini” ancamnya. Emangnya foto apa sih. Sampai Lili terkejut seperti ini. Kalau mau tahu, baca aja ya. Nanti akan terjawab sendiri kok. “Foto itu bagaimana bisa, jadi kemarin loe jebak gue Ren. Loe benar-benar licik” ucap Lili. “Loe mau atau tidak” ucapnya. “Iya gue mau, asal loe tidak menyebarkan foto itu” ucap Lili terpaksa. “Selama loe menurut sama gue, foto-foto loe aman. Loe harus tinggal di rumah gue mulai sekarang” ucapnya. “Tinggal di rumah loe, apa loe gila. Gue harus ngomong apa pada orang tua gue” ucap Lili. “Itu urusan loe, nanti gue sore gue tunggu loe di taman indah” ucapnya. “Baiklah” ucap Lili. Pulang dari sekolah Lili jadi pusing apa yang harus dia katakan pada orang tuanya. “Gue harus bilang apa sama ayah dan bunda. Menginap di rumah cowok itu tidak mungkin. Ahah… gue ada ide” batinnya. “Ayah… Bunda… aku boleh nggak nginap di rumah temen selama satu bulan. Mau mengerjakan tugas sekolah” ucanya bohong. “Kok lama banget” Tanya Bunda. “Soalnya tugas penelitian bun, boleh ya bunda” ucap Lili. “Iya bunda izinkan, temanmu perempuankan?” Tanya Bunda. “Iya bun” ucapnya berbohong. Lili tiba di taman indah, tetapi tidak menemukan keberadaan Rendi. “Rendi mana sih, sudah jam 4 lewat belum muncul juga” keluh Lili. Tidak lama kemudian Rendipun tiba. Suara klakson mobil Rendi… “Ayo buruan masuk” ucapnya. “Iya, aku masuk” ucap Lili. Setelah sampai di rumah Rendi, Lili membereskan pakaiannya. “Li… loe dengar gue nggak sih” teriak Rendi. (Menghampiri Rendi) “Loe kenapa teriak kaya gitu. Loe kira gue budek” ucap Lili kesal. “Sekarang loe masak buat gue, gue lapar” ucap Rendi. “Apa masak buat loe, memangnya loe siapanya gue. Gue nggak mau, masak aja sendiri” ucap Lili. “Loe lupa ya dengan perjanjian kita” ucap Rendi. “Iya gue masak buat loe” ucap Lili. “Gitu dong, gue nggak usah buang tenaga nyuruh loe” ucap Rendi. Lili akhirnya memasak untuk Rendi. “Silahkan kamu makan, gue masih ada kerjaan yang lain” ucap Lili. “Iya silahkan” ucap Rendi. Selesai makan dia masih saja mengerjai Lili. Tetapi kali ini Lili hanya diam saja. “Li kesini loe” panggilnya. “Ada apa lagi Ren?” Tanya Lili. “Gue mau nonton tapi baterainya mati. Loe pergi beli sana” ucapnya.. “Baiklah aku berangkat, permisi” ucap Lili “Aneh kenapa tuh anak, tak biasanya seperti ini. Baguslah dia sudah sadar” batinnya. Beberapa menit kemudian Lilipun pulang membawa baterai. “Ini baterainya, gue mau ke kamar” ucapnya. “Loe disini aja” ucap Rendi. “Tapi gue…” ucapnya. “Tidak ada tapi-tapian, sekarang loe duduk disebelah gue” potong Rendi. “Ok gue duduk” ucap Lili. Kebersamaan mereka bagaikan sepasang kekasih. Hanya saja tidak ada cinta antara mereka. Karena kecapean dia pun tertidur dipundak Rendi. Karena kasihan Rendi membiarkan saja. “Nih cewek diperhatiin lama-lama cantik juga. Tidak salah jadi primadona sekolah” batinnya. Tetapi akhirnya dia menggendong Lili ke kamarnya. (Menggendong Lili) “Nih cewek berat banget sih” batinnya. “rendi terus saja mengoceh hingga sampai di kamar LIli, tak sengaja kakinya tersandung. Lilipun dia benturkan ke tembok. Pertengkaranpun terjadi. (Kakinya tersandung) (Kepala terbentur ketembok) “Awh… Rendi loe apa-apaan sih” ucap Lili. “udah bagus loe gue bawa ke sini, jadi loe nggak tidur di ruang tv” ucapnya. “Loe sengaja kan lakuin ini, agar gue terbangun” ucap Lili. “Loe tuh ya sudah ditolong bukannya berterima kasih mala nudu yang bukan-bukan. Tau begini gue tinggalin aja loe” ucapnya. “Iya deh makasih and maaf ya” ucap Lili. “Nggak semudah itu gue maafin loe” ucapnya. “Loe harus tidur sama gue malam ini” ucapnya. “Apa loe sudah gila ya, gue nggak mau. Loe pikir gue perempuan apaan” ucap Lili. “Pikiran loe picik amat sih maksud gue nggak kaya gitu kali. Maksud gue loe temenin gue tidur” ucapnya. “Itu sama aja kali Ren” ucap Lili. “Berdebat sama loe nggak akan ada habisnya. Sekarang loe pindah kesana gue mau tidur disini” ucap Rendi. Lili membiarkan begitu saja, lalu pergi. “Terserah loe aja Ren, gue tidur disofa aja” ucap Lili. “Loe mau kemana, gue kan sudah bilang loe temani gue disini atau nggak…” ucapnya. “Iya… iya gue tetap disini. Sekarang loe puas” ucap Lili. “Gitu dong” ucapnya. Mereka tidur dikasur yang sama tetapi tidak terjadi apa-apa, jadi jangan salah sangkah ya. Hanya saja tanpa sengaja Rendi memeluknya. Dia pun tersentak bangun… (Memeluk Lili) (Terbangun dan memindahkan tangan Rendi) “Apa-apaan sih, memangnya gue guling apa. Main dipeluk-peluk gitu aja” batinnya. Berulang kali melepaskan pelukan Rendi, tetap saja Rendi kembali memeluknya. Karena lelah ia membiarkannya. Malampun berlalu begitu cepat, sebelum Rendi bangun ia keluar lebih dulu. Hendak memasak buat rendi. “Sebelum dia bangun gue harus pergi” batinnya. Sesampainya di dapur dia bingung harus memasak apa untuk Rendi. Dalam kebingungannya diapun mendapat ide. “Masak apa ya hari ini” pikirnya. “Aha… gue tahu. Bunda sering masakin gue nasi goreng udang, buat ah untuk Rendi” batinnya. Namun dia tidak tahu sama sekali jika Rendi alergi dengan udang. Terjadilah pertengkaran yang hebat. “Loe udah bangun Ren, nih gue udah masak buat loe” ucap Lili. “Beginikan enak” ucap Rendi. “Loe makan aja, nggak usah banyak komentar” ucap Lili. “Iya gue makan” ucap Rendi. Setelah makan, Rendi berkeringat badannya gatal-gatal. Setelah minum obat pertengkaranpun terjadi. “Li loe tadi masakin nasi goreng apa sih buat gue” tanyanya. “Gue masak nasi goreng udang” jawab Lili. “Hah… udang. Loe nggak tahu atau pura-pura nggak tahu, gue alergi sama udang Li” suara Rendi meninggi. “Maaf Ren, gue nggak tahu” ucap Lili. “Ala… loe nggak usah berpura-pura. Loe sengajakan balas dendam sama gue” suara Rendi semakin meninggi. Karena tidak tahan dengan semua tuduhan Rendi, dia memilih pergi. “Kalo loe nggak percaya sama gue. Lebih baik gue pergi, terima kasih atas penghinaan yang loe berikan pada gue. Gue permisi” ucapnya dengan berlinang air mata. “Tunggu Li sekali lagi loe melangkah gue pastikan loe tidak akan pernah kembali ke rumah loe” ancam Rendi. “Apa maksud loe, loe ancam gue lagi” ucapnya. “Menurut loe. Apa yang terjadi semalam” ucap Rendi sambil menunjukkan video rekaman. “Kita nggak melakukan apa-apa. Kapan loe…” ucapnya. “Bagaimana dengan orang tua loe dan kepala sekolah. Apa mereka percaya sama omongan loe” Tanya Rendi. Lili terdiam seakan terpengaruh dengan kata-kata Rendi. “Loe benar-benar kejam Ren, loe gunakan kelemahan gue untuk hancurkan gue” ucapnya. “Itu loe tahu jadi jangan pernah macam-macam sama gue” ucap Rendi. “Sebenarnya apa salah gue sama loe” ucapnya. “Salah loe Cuma satu, kenapa loe membuat gue tergila-gila seperti ini” batin Rendi. “Jawab Ren, jangan diam saja” ucapnya. Tanpa pedulikan pertanyaan Lili, Rendi pergi begitu saja. “Tau… Ah…” ucapnya. “Rendi… Rendi…” teriak Lili. (Terus berjalan) “Belum saatnya loe tahu Li” batinnya. Lili menuju kamarnya… (Masuk, berlari ke kasurnya) “Kenapa Ren, loe selalu lakuin ini sama gue. Sebenarnya apa salah gue ke loe. Sehingga apa yang gue lakuin semuanya salah dimata loe” batinnya.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
bagus
15/04
0mantap
23/10
0good
17/08
0Xem tất cả