logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 2 LEBIH TAMPAN

Motor merah itu berhenti tepat di depan rumah yang lumayan luas, hanya rumah ini yang bisa ayahnya beli untuk mereka, sekarang kedua orang tuanya sedang berjualan di pasar sebagai pedagang sayuran sedangkan adiknya pasti belum pulang sekolah.
Yeona memiliki adik yang masih SMP jadwalnya padat karena selain sekolah dia juga punya ekskul dan kadang membantu guru, kadang ia merasa bangga dengan adiknya yang dicap sebagai kesayangan guru. Adik laki-laki itu memang terlihat bijaksana sejak kecil jadi tak heran.
"Makasih ya sayang!" ucap Yeona pada sang kekasih yang bernama Ravin, pria ini bekerja di pabrik bagian pengemasan, waktu kerjanya berbeda setiap Minggu jadi kadang dia tak ada waktu bersama Yeona.
"Sama-sama, eh kamu ada waktu Minggu depan?" tanya Ravin yang membuat wanita itu terdiam, apa pria itu ingin mengajaknya jalan-jalan?
"Gak tau, kalau aku diterima kerja mungkin weekend ada," ucap Yeona dengan wajah bertanya tapi biasanya pria itu akan langsung to the points tanpa tanya ada waktu gak.
"Aku mau ngelamar kamu," ucap Ravin dengan wajah malu-malu, membuat Yeona yang senang segera memeluk tubuh sang kekasih, dia tak perduli kalau ada yang melihat, toh hubungan mereka sudah di ketahui banyak orang.
"Ya, aku mau, aku akan bilang ayah sama mama tentang ini," ucap Yeona yang bahagia bukan main, setelah kepergian Nevan waktu itu, Ravin yang selalu menemani melihat dia baik juga pengertian padanya mereka pun menjadi kekasih hingga sekarang.
Perubahan itu membuahkan hasil, dia berjanji tak akan mengulangi hal yang sama dan hidup bahagia.
"Tapi sayang! Aku mau kita ngumpulin uang dulu buat punya rumah dan yang lain, baru setelah itu kita punya anak, kamu gak apa-apakan?" tanya Yeona, ia takut kalau Ravin menikahinya guna memiliki anak.
"No problem! Aku nikahin kamu supaya kita bisa bersama, anak urusan terakhir yang penting kita bahagia," ucap Ravin yang membuat Yeona menatapnya kini dengan wajah bahagia, ia bersyukur memiliki Ravin.
Tapi Ravin bukan pengganti Nevan, dihatinya masih ada pria itu, walau ia tau ini sudah terlambat tapi semua kenangan tentang pria itu akan selalu dia kenang sebagai memori terindah juga pria paling hebat yang di miliki dulu.
"Ya udah, aku mau pulang bye sayang," ucap Ravin sambil mengecup kening wanita itu yang membuat senyuman Yeona mengembang, sudah menjadi rutinitas kalau pulang harus cium kening dulu, karena Yeona rasa itu seperti mengungkapkan kasih sayang, sebetulnya tidak dia meminta itu karena kebiasannya bersama Nevan.
Tapi pria itu dulu mencium bibirnya bukan kening seperti yang dilakukannya waktu pergi meninggalkannya.
"Dah! sampai jumpa besok!" ucapnya karena malem ini Ravin akan bekerja, jadi kemungkinan mereka akan bertemu siang, pria itu memang suka sekali main kemari, kalau kata orang sudah lengket seperti perangko.
Selang Ravin pergi, Yeona yang mau masuk terkejut dengan notifikasi ponselnya. Karena penasaran dia pun menyalakan layar sejuta umat itu, terlihat Email dari perusahaan yang baru saja dia lamar tadi, ternyata dia di terima dan bisa berangkat besok.
Tapi hati wanita itu sedikit ganjal, walau ini perusahaan yang semua orang impikan, tapi ketika ada orang yang menjadi luka lama, seakan ini tak ada artinya, tapi dia harus bekerja demi kehidupannya.
Pernikahan itu butuh biaya banyak dan Yeona tak mau merepotkan Ravin, mereka menikah berdua dan biaya keduanya yang menanggung. "Semoga saja semuanya lancar! Untukmu, anggap saja kita tak pernah kenal."
Pandangan Yeona menatap keatas, dimana awan hitam seperti sedang menelan warna langit yang indah.
.
.
Sebuah kamar yang terdapat dua orang disana, membuat seorang pria yang baru saja masuk berkacak pinggang karena tak tau harus apa pada bosnya yang amat kekanak-kanakan ini.
Tanpa rasa berdosa dia membuka tirai dan selimut mereka, hingga gadis yang berada di samping bos Nevan terkejut dan berteriak. "Kamu gila ya, siapa kamu?"
Pria disamping wanita itu menatap kearah Nevan, hingga wajah mengantuk itu berubah menjadi kaget. "Sial!"
"Mohon maaf Tuan Xerxes! Ini sudah jam kerja, biasa kita pergi?" tanya Nevan dengan begitu santainya sambil tersenyum palsu yang sialnya itu sedikit menyeramkan bagi keduanya.
Xerxes Adalah direktur sekaligus pewaris tunggal dari perusahaan kakeknya, namun karena tingkahnya yang suka bermain wanita, mabuk-mabukan, juga berjudi, membuat Nevan yang menjadi pengganti dari pria itu.
Tapi walau seperti itu, dia juga ditugaskan untuk merubah anak yang sialnya adalah sahabat sendiri, sehingga seluruh perusahaan sang kakek jatuh ke tangannya.
Xerxes menatap jalang yang ada di sampingnya dengan wajah malas. "Pergi! Lo udah dapet uangnya kan?"
Namun bukannya pergi, wanita itu malah mengalungkan lengannya dileher Xerxes yang membuat kedua pria itu heran. "Tapi Tuan, anda akan menghubungi saya lagikan?"
Nevan yang geram dengan parasit mengganggu seperti wanita itu, memundurkan wajahnya dari Xerxes karena dia hendak menciumnya. "Seharusnya Lo tau malu! Sekarang, atau gue seret Lo!"
Wanita itu pun turun dengan perasan kesal, tak lama saat hendak memakai baju dia menatap keduanya yang terus memandang rendah padanya. "Lo berdua gay ya?"
Sontak saja keduanya tertawa dengan kencang membuat wanita itu semakin malu, dia pun pergi terburu-buru dengan perasaan kesal yang berkecamuk.
"Dasar cewek gila! Kalau gue gay gue gak bakal apa-apain tadi malem," ucap Xerxes yang kini menatap Nevan yang masih saja tertawa kecil.
"Lo suka sama gue?" Tak lama sebuah tonjokan kencang mengenai pangkal hidung Xerxes yang membuatnya sakit tak tertolong tak juga keluar darah segar di sana.
"Makan tuh suka!" ucap Nevan yang wajahnya berubah serius, dia kesal kenapa teman sialannya ini tak kunjung berubah membuat dia kewalahan, untung saja gajinya sangat besar kalau tidak mana mau dia diperalat seperti ini hanya untuk beralih ke tangan orang lain.
"Anj*ng, sakit tau! Lo kira-kira dong kalau mukul!"
"Kenapa? Kurang? Mau nambah?" tanya Nevan, walau dia hanya Wakil direktur tapi selalu semena-mena pada bosnya ini, dia tak perduli karena keluarga Xerxes lebih percaya Nevan dari pada anaknya sendiri.
"Gak! Lagian Lo kok tau gue ada di sini?"
"Feeling."
"Impossible! Gue yakin ada yang mata-mata gue!"
"Udah deh jangan banyak bacot! Cepet mandi! Kita ada pertemuan pagi ini!" ujar Nevan yang sudah geram, apa jadinya jika pria ini nanti jadi pemegang saham mungkin usaha keluarganya akan bangkrut, kadang dia pusing memikirkannya.
"Kenapa gak Lo aja sih?"
"Oh males ya sekarang? Mau gue aduin ke kakek Lo? Mau dicoret dari kk?" tanya Nevan yang sudah muak dengan ucapan dari mulut temannya itu, hingga dengan berat hati Xerxes mandi, mereka akan pulang dulu sebelum ke kantor dan pasti pria itu akan di marahi habis-habisan oleh keluarganya.
Tapi sayangnya tak pernah kapok, Nevan yang sedari tadi menganggu kacamata melepaskannya sebentar. Matahari dari celah jendela memancar kearahnya membuat pria itu terlihat begitu tampan, bahkan lebih tampan dari pada Xerxes.

Bình Luận Sách (420)

  • avatar
    LadjupaJuhadi

    sangat bagus

    11/02/2025

      0
  • avatar

    good job

    28/01/2025

      0
  • avatar
    NaneakKuyuk

    bagus sekali

    26/01/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất