"Assalamualaikum... Raraaaa...", ucap Monic yang sudah berada di di depan rumah temannya itu. "Waalaikumsalam", ucap bundanya berlari kecil dari dapur. "Eeeh monic cari Rara ya? Bentar ibu panggil ya", bundanya pun langsung kekamar Rara. "Ra..Rara tuh temen kamu udah nyampe", ucapnya sambil membuka pintu kamar anak perempuannya. "Iya bun aku mau pake sepatu dulu", sembari memakai sepatu "Cepetan, dia udah nunggu lama tuh ", ucap bundanya dan kembali kedapur. Rara langsung berpamitan dengan ibunya. "Jangan pulang malem malem dan yang terpenting hati - hati yaa", pesan bundanya. Rara hanya senyum sambil mengangguk. "Kita mau kemana?", pertanyaan Monic yang dari semalam belum dijawab Rara. "Keliling", ucapnya sambil memakai helm "Hah keliling? Tapi isi bensin dulu ye hehe", "Iya iya kecil itu mah", ucapnya sombong sambil naik ke motor Monic. Di perjalanan mereka asik bercanda, ngobrol, dan menggibah dari yang penting sampai yang tidak penting perjalanan mereka penuh dengan tawa. "Eh udah jam setengah 4 nih, ke SMK 1 yuk", ajaknya "Hah ngapain Raa lu mau cari cogan?", ucap temannya itu sembarangan. Rara mencubit kecil pinggang temannya itu dan Moning mengaduh tertawa. "Yaa nggak lah tolol, kemaren tu ada orang yang ngajak gue kesana tapi ga tau siapa, makanya gue kesana pengen tau siapa dia dan gue ngajak lu biar ada temen," jelasnya "Jangan jangan Aldi kan dia juga main bola hahaha", ucap Monic sambil tertawa keras dan semua orang yang ada dijalan melihatnya sambil tersenyum menyinggun. Rara langsung menepuk lengan Monic. Monic pun malu dengan tingkahnya barusan. Rara tidak menjawab perkataan monic barusan, ia langsung berfikir, "Apa benar Aldi?, iih makin kepo nih gue, mudah mudahan bukan Aldi deh?", batinnya. Sesampainya disana Rara ragu untuk masuk. "Ayo Ra", ajak Monic "Gue eee.. kalo beneran Aldi gimana di mau ngapain emang?", ucapnya Ragu. Sebelumnya Aldi juga pernah janjian dengan Rara sampai - sampai ia hampir mencium bibir manis Rara waktu kelas 2 SMP. Disaat itu Rara tidak bisa berbuat apa - apa ia hanya menutup mata karena kedua tangannya di pegang Aldi erat. Untungnya saat itu Monic dan Tika sampai. Monic langsung nemukuli kepala Aldi dengan batu. Mungkin kalo tidak ada temannya ia sudah diperkosa oleh Aldi. Aldi seperti itu karena ia merasa memang benar Rara suka padanya karena perkataan Laura. Dari peristiwa itu Rara tidak ingin bertemu lagi dengannya. "I dont know, lu ngapain takut, emang janjiannya dimana?, Monic mencoba membujuk Rara agar tetap masuk karena Monic juga penasaran siapa yang berani mengerjai temannya ini. "Dilapangan bola" ucap Rara. "Apa jangan - jangan beneran Aldi, awaas aja ya lu Aldii", batin Monic "Yaudah kita kesana", ajak Monic. Masuklah mereka ke dalam lapangan bola tersebut mata mereka melihat sekeliling dan melihat beberapa orang yang sedang pemanasan untuk mengikuti pertandingan bola antara sekolah SMK dan SMA. Mereka duduk di bangku penonton dan mereka melihat seorang yang tidak asing bagi mereka dan sontak mereka pun kaget. "Kan ra beneran dia ayo pulang", ucap Monic sambil menarik pergelangan tangan Rara. Rara hanya mengikuti Monic keluar dari lapangan itu. Tapi tiba - tiba ada orang yang berlari kecil memanggil salah satu dari mereka. "Ra..Rara", ucap laki - laki itu memakai seragam bola lengkap dengan sepatunya. Langkah Rara pun terhehenti karena ia sadar kalau ada yang memanggilnya dan langsung menoleh ke belakang. "Hah? Eh Nic bentar", ucapnya sambil menarik menarik tangan Monic. "Ihh udah lah Ra ntar lo diapa - apain sama orang gila itu", ucap Monic tanpa melihat Rara. Disaat Monic menghadap ke belakang Monic kaget, bukan karena laki - laki itu tapi karena orang yang di belakang laki - laki itu. "Tuh kan ayolaa", ucap Monic paksa. "Monic bentar aja tenang ya kita aman kok", ucapnya yang membuat Monic melepaskan tangannya. "Ehh bang Gibran kebetulan baget nihh ketemu disi...", ucap Rara terhenti melihat Aldi yang berada di belakang pria itu. Rara dan Monic pun langsung berlindung di belakang Gibran. Gibran langsung kaget akan hal itu. "Lah lah kalian ngapain", ucapnya herman eh heran. Aldi yang berdiri tepat di depan Gibran langsung membuka mulut ingin berbicara, tapi keduluan sama Rara "Eh brengsek lu ngapain kesini pergi ga atau ga gue pukul lu", ucap Rara ketakutan "Iya pergi ga atau lu mau gue pukul lagi pakai batu HAH", teriak Monic yang masih berlindung de belakang Gibran. Gibran yang bertanya - tanya akan tingkah Rara dan temannya. "Kalian kenapa sih", tanya Gibran semakin herman ehh heran typo mulu. "Itu bang dia kurang ajar sama gue?", ucapnya. "Kurang ajar gimana?", tanyanya sambil mengerutkan dahinya karena kesal akan kaduan cewe manis itu sambil melihat Aldi, Aldi hanya bisa menunduk mengaku akan kesalahannya. Rara pun menceritakan singkat tentang kejadian itu. BRUUKK Satu pukulan mendarat di wajah Aldi. "Eeh lu santai DOONG!!", ucap Aldi dan langsung memukul kembali wajah Gibran,tapi Gibran mengelak dan langsung menyungkai kaki Aldi dan Aldi terjatuh. Rara dan Monic sontak kaget dan menepi. Aldi yang masih tergeletak di dijalan dan Gibran mencoba meraih dan meremas krah baju Aldi dan mengatakan. "Lu inget pesan gue yaa jangan sesekali lu ngelecehin cewe karena gue ga sukaa dan cuman cowokk brengseekk yang gaada otak (Gibran menggoyangkan krah baju Aldi sangking kencangnya kepala Aldi terbentur ke aspal) yang berani ngelakuin itu ke cewe, awas lu", amarah Gibran semakin memuncak. Rara yang ngga nyangka hal itu bakal terjadi langsung menenangkan Gibran. Rara memeluk Gibran erat. "Bang udah kasiaan", ucap Rara memeluk Gibran erat. "Masa iya lu kasian sama orang brengsek kek dia", emosi Gibran mulai berkurang karena pelukan hangat dari Rara. Aldi langsung berlari kabur dengan keadaan seperti orang mabuk saat berlari. Gibran membalas pelukan Rara dan kemudian Rara sadar akan perlakuannya yang tidak mengenakkan itu dan ia langsung melepaskan pelukannya. "WOII kalian sempet - sempetnya yaa, kasian nih gue yang jomblo", ucap Monic yang langsung menarik tangan temannya itu. "Ayo Raa pulang",ajak Monic. "Lah lah kok pulang kalian ga mau nonton dulu, padahal gue udah nunggu kalain dari tadi", ucap Gibran, Monic dan Rara terheran heran akan perkataan cowok itu. "Nungguin kita?", ucap Rara "Iyaa, jadi yang massager lu semalem itu gue, masa iya baru nyampe udah mau pulang aja, kan gue udah nunggu", jelas Gibran, ia mendapat nomor Rara ketika Rara sedang membayar makanannya di tempat nasi goreng waktu itu. "Ooo", ucap Rara dan Monic berbarengan "Jadi gimana Nic? Masih mau nonton?", tanya Rara. "Hmmm oke deh" "Nah gitu dong, yaudah ayok pertandingannya udah mau mulai", ajak Gibran dan mereka langsung berlari ke arah yang berbeda, Rara dan Monic lari ke arah kursi penonton dan Gibran lari kearah ruangan pemain untuk bersiap siap. Akhirnya permainan pun dimulai. "Eh Ra liat deh itukan Aldi?", ucap Monic sambil menunjuk ke arah Aldi. "Mana", Rara yang masih belum melihat Aldi dan mulai menyipitkan matanya. "Itu tu masa lu gak liat si, tuh tuh yang dekat wasit", ucap Monic yang memegang kepala Rara dan menggoyangkannya kekiri kekanan agar Aldinya kelihatan. "Eh iya Nic, aduuh anjir kepala gue sakiti woi", ucap Rara sambil menepis tangan Monic. "Ya maap kan biar lu keliatan hahah", ucapnya sambil ketawa. Rara yang masih marah dengan Aldi dan langsung mengalihkan pemandangannya ke Gibran yang berlari di tengah lapangan. "Ganteng paraahh padahal baru kenal tapi dia udah perhatian sama gue, eh wait apaa dia friendly? Kesemua cewe dia kek gitu", batin Rara. Dan pandangan Rara tidak lepas darinya, dan Gibran sadar ketika ia dipandang oleh Rara cukup lama, tingkah Gibran seolah oleh lebih semangat di pertandingan itu. "Oo jadi mereka utusan sekolah untuk tanding bolaa, trus yang ngundang lu cowok yang tadi haha, bisa tuh Ra", ucap Monic yang membuat Rara bingung. "Hah bisa apa?", tanya Rara yang sok polos dengan perkataan temannya itu padahal ia tau apa maksud Monic. "Yaelah masa iya lu gatau maksud gue, bisa tuh buat jadiin gebetan lu dan lu ga jomblo lagi deh", jelas Monic. "Hahah gila lu gaa gue ga mau ntar kejadiannya sama kek si brengsek itu, jaga ya mulut lu, ntar keceplosan yang ngga ngga lagi", tegas Rara sambil menunjuk wajah Monic dengan tatapan serius. "Hadeeh iya iya, keknya ni yaa tu orang ngga sama deng kek Aldi", ucap Monic langsung memalingkan mukanya dan lanjut menonton pertandingan. "Kita ga tau orang itu gimana, apalagi gue baru..", Monic langsung menotong pembicaraan Rara. "Eits udah udah udahhh gue ga mau dengerr ceramah dari lu, orang mau nonton bola juga", tegas Monic. Saat ini pandangan Rara mengarah ke sekumpulan cewe yang menyemangati Gibran terlihat mereka sangat terpesona akan ketampanan remaja itu dan bersorak sorak agar Gibran meresponnya. "Eww cafferr banget", ledek Rara Monic yang menyadari siapa yang disindir temannya itu langsung berkata"Lah kenapa lu yang sewott bambang terserah dia dong atau lu cemburu hmm" "Bener bener ni anak ya (sambil mencubit paha Monic)", ucap Rara kesal. Rara berhasil membuat temannya itu mengaduh tetapi tetap tertawa untuk meledek temannya itu. Pertandingan selesai dan dimenangkanboleh SMK Gibran bagai mana tidak Gibran yang menjadi kepala tim disana sudah berstrategi bagaimana caranya untuk mengalahkan tim lawan. Rara dan Monic ikut bangga akan hal itu. Terlihat dari bangku penonton segerombolan cewe tadi langsung menghampiri Gibran dan tidak sesuai ekspetasi cewe - cewe itu Gibran malah kabur dari kerumunan dan langsung menghampiri Rara dan Monic. Segerombolan cewe itu terlihat kesal akan perlakuan Gibran yang dingin dan langsung bubar. "Ra dia kesini Ra", ucap Monic pelan sambil menyenggol bahu temannya itu. "Iya gue tau emang gue buta", ucap Rara risih akan perlakuan temannya itu. Monic yang sedari tadi mencoba mengingat dimana ia pernah ketemu Gibran sebelumnya dan sampai saat ini ia belum ingat apapun tentang Gibran. "Ra keknya gue pernah deh ketemu ni orang tapi dimanaaa gitu padahal ni ya gue udah berusaha buat ingat - ingat tapi..", ucap Monic "Hmm gini ni orang yang keseringan nonton bokep jadi pelupa (ucap Rara asal) ni abang yang waktu itu nyelamatin gue di kolam renang", ucapnya yang berhasil membuat Monic itu salting akan aib yang dibuka terang terangan oleh temannya itu. Monic pun langsung membalas temannya itu dengan fakta yang ada "Ooo iya abang yang waktu itu kalian cipokan di kolam berenang, iya iya gue baru inget", Rara yang kaget dengnn perkataan Monic itu langsung menyenggol bahu Monic tersipu malu. "Hahaha maaf ya Ra soal itu", ucap Gibran ketawa kecil. "Udah udah gausah bahas itu malu tau, oh iya bang lu kenapa ga ladenin cewe - cewe itu tu kasian tau dia udah semangatin lu dari awal pertandingan, eeh lu nya malah cuekin", ucapnya mengalihkan pembicaraan. Gibran duduk dan mulai menjawab pertanyaan Rara sebelunya Gibran menyuruh Monic untuk membeli air untuk mereka bertiga. "Gatau males aja ngeliat cewe - cewe caper kek gitu gue ga suka yaudahlah gue ga mau bahas", ucapnya. Gibran disekolah terkenal dengan cueknya dinginnya dia walaupun begitu ia incaran para cewe tapi ia tidak begitu merespon. Menurutnya cewe yang beneran cewe itu cewe yang tidak mendatangi cowok dan cewe yang yaa seperti cewe pada umumnya pemalu, baik, feminim, polos bukannya cewe yang suka menggoda cowok dan membuka aurat. "Lah trus sukanya apa", tanya Rara. Gibran yang ingin menjawab perkataan Rara namun terlebih dahulu ia menarik nafas dan mencoba memandang bibir dan mata Rara dalam dalam. "Lu mau tau gue suka apa?, kalau gue suka elu, gimana? boleh ga", ucap Gibran sambil tersenyum dan teryawa kecil. Rara yang tak menyangka akan hal itu langsung salah tingkah. "eeee haa.. gimana gimana", Rara langsung mengalalihkan pandanganya ke banyak arah dan pipinya hampir menyerupai warna tomat karena malu "Haha udah - udah santai jangan maluu atuh", ucapnya yang menyadari muka gadis didepannya itu merah karena malu. "Iss siapa yang malu aneh lu", ucap Rara yang berbohong akan kondisinya saat ini. Gibran yang melihat Monic dari jauh yang membawa beberapa air mineral dan Gibran langsung mengganti topik pembicaraannya. Dan terlihat Aldi jalan bersama teman temanya melihat kearah mereka. "Ehh ehh nih temen gue kenapa pucet amat kek mayat, diapaian lu sama ni orang, eh lu macem - macem ya ama temen gue", ucap Monic yang langsung menarik Rambut Gibran. "Eeh eh eh Monic lepasin ga gue ga diapa apain lepasiin", Rara yang kaget akan tingkah Monic langsung memukul mukul tangan Monic. "Aduuuh itu tangan cewe apa tangan kuli, kuat banget dah", ucap Gibran sambil menggosok gosok kepalanya. "Aduh maaf ya bang namanya juga nenek lampir eh ma..maksud gue temen jadi saling jaga gitu, Monic minta maaf sana kasian tau", ucapnya menjadi tidak enak terhadap Gibran. "Tapi lu baik baik aja kan", tanya Monic meminta kepastian "Iyaaaa ayok sana", suruh Rara. "Eee hehe bang maaf yaa gue udahh narik rambut lu, tapi lu ga apa apain temen gue kan?", ucapnya sambil menunjuk Gibran. "Ganas ganas (menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya) iya iya gue maapin untung ku cewe kalo ngga beeee udah gue sikaaat lu", ucapnya yang membuat Monic ngeri dan lebih berhati hati lagi. "Uweek bau banget tu rambut ga pernah di cuci atau gimana, baunya masukk langsung ke paru paru gue", ucap Monic yang mengelapkan tangannya ke kursi tempat ia duduk. "Yaelah mbaak namanya juga abis olahraga", ucapnya sambil mengambil air dari Monic dan mencuci muka serta kepalanya. Rara dan Monic hanya melihat Gibran ditambah lagi Gibran makin ganteng ketika sedang merapikan rambutnya.Dan terlihat Aldi jalan bersama teman temanya melihat kearah mereka. "Oh iya lu kenapa sampai digituan sama cowok itu?", tanyanya sambil mengepalkan tangannya dan melihat Aldi panjang yang membuat Rara takut mereka akan bertengkar lagi. "udah lah bang gue kan ga diapa apain gausahlah brantem", ucapnya sambil memegang kedua tangan Gibran. Sadar tangannya dipegang ole Rara Gibran pun luluh akan permintaan Rara. "Raa inget Raa temen lu ini gaada temen plus jomblo jadi jangan deh ya disini pegang pegangannya lagi pula lu ga troma apa sama si Aldi", nasehat Monic. Rara yang terbayang akan hal itu langsung melepaskan tangannya "Ni orang ganggu ajaa", batin Gibran. "Ya ngga la gue bukan cowok yang kek gitu kali, masa iya lu ga bisa bedain mana cowok tampan, baik, keren dan mana cowok brengsek", ucap Gibran santai. "Jadi teman teman gue tu salah paham, mereka bilang kalo gue suka sama Aldi padahal gue bilang Kek gini 'Aldi ganteng ya kalo lagi main bola tapi..' gue kan belum selesai ngomong tuh ehh temn gue malah bilang kalo gue suka sama Aldi dan akhirnya Aldi tau trus ngelakuin itu ke gue mungkin Aldi pikir gue nerima ", jelasnya "Nah gue mau nanya 'tapi' apa", tanyanya ingin tau kelanjutan dari cerita Rara. "Tapii gue cuman simpatik aja sama orang yang jago main bola", Rara hanya menceritakan kebenarannya "Hah jadiii lu simpatik sama gue dong kan gue jago main bola", ucap Gibran kegirangan. Lagi dan lagi Rara merasa kemakan sama omongannya sendiri. "Udah lah Ra ayo pulang udah mau gelap. Makin lu ladenin ni lakik makin setres lu ntar", ucap Monic yang langsung menari tangan Rara. "Eh eh ni air ngga di bawa, udah gue beliin loh", ucap Gibran yang berhenti girang karena kesal dengan tingkah Monic. "Gausah bang makasih yaa btw dadaaaa", ucap Rara sambil senyum menghadap kebelakang. Dan Gibran pun membalasnya dengan senyuman manis.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
bagus
23/01
0seru
21/05/2025
0bagus
21/04/2025
0Xem tất cả