Bab 3 Mimpi buruk Dengan kecepatan kilat aku tembus, belukar yang disisi kanan dan kiri Hanya gulita yang menemani. Kaki ku sudah sangat lelah berlari, tapi sepertinya sudah tak mampu berlari lagi. Ketakutan ini sangat melemahkan. Teriakan ku seperti bergema, bahkan memantul kembali ke arahku. Dimana semua orang, Kak Irfan, Yura serta Yuri ke mana mereka semua? Saat batin masih bertanya, karena ditempat yang sama sekali tak ku ketahui. Indra pendengar ku menangkap suara seorang wanita minta tolong, serta menangis begitu pilu. “Ampun, Bang Ampun, lepaskan saya tak kuat Bang sakit” suara wanita itu begitu jelas, namun aku masih mencari darimana asal suara itu. Tak lama terdengar suara orang dipukuli dengan begitu parah nya. Bahkan suara sesuatu yang patah menggema di gendang telinga ini. Sayup terdengar lagi suara mengiba, serta suara gesekan benda yang menabrak dengan sesuatu. Kupercepat langkah ke arah sumber suara, dengan napas memburu yang tertahan, ku tatap empat sosok manusia dari kejauhan. Seorang wanita dan tiga orang lelaki. Yang memukuli memiliki postur tegap dengan baju safari khas zaman Belanda tempo dulu. Dan tiga orang yang lain memakai baju pangsi == sejenis baju untuk pencak silat lengkap dengan ikat pinggang. Sang wanita yang menjadi samsak hidup dipegangi oleh kedua orang lelaki dengan perawakan sangat menyeramkan, besar, tinggi dan berkumis melintang. Juga terselip golok berkepala macan di pinggangnya. Aku yang mengintip dari jarak yang cukup dekat, bersembunyi dibalik pohon besar, serta hitam nya malam. Wanita yang aku lihat cantik Sekali, dengan rambut di Gelung ke atas menampakkan leher jenjangnya yang cantik. Tapi yang paling menarik perhatian netra ku menatap bunga mawar merah yang terselip di Gelung nya. Tetiba terperanjat, aku seperti mengenal nya tapi di mana yah? Memori ku berputar, mengingat siapa wanita cantik itu siapa? Dan kenapa aku disini, tempat antah berantah yang sangat asing. Aku ingin membantu wanita itu, tapi tubuh ku tertahan membeku seketika. Hanya netra yang masih berfungsi dengan baik. Tapi adegan demi adegan yang terjadi didepan mata sangat tak diharapkan. Bahkan mulut ku ingin berteriak agar ke empat lelaki itu, berhenti menyiksa dan berbuat asusila terhadap Sang wanita itu. Percuma saja, mulut terkunci badan membeku, tak punya kuasa lagi. Tak terasa batin ku menyebut nama tuhan, dan beristigfar berulang kali, karena tak tega dengan apa yang terjadi di depan mata ini. Seorang wanita, dipukuli, di tendang, bahkan dilecehkan di dalam hutan oleh empat orang lelaki, dan yang miris nya lelaki itu sepertinya kekasih si wanita. Karena berkali-kali si wanita memohon belas kasihan. “ Akang, ampuni aku, janganlah akang seperti ini! Tega akang sama aku, setelah semua yang telah aku lakukan untuk akang!!” “ Diam kamu,! Dasar perempuan tak tahu diuntung, masih bagus aku mau sama kamu, lihat keturunan mu itu, siapa kamu? Jangan jumawa jadi perempuan sudah miskin, berasa jadi ratu kamu yah? Jangan mimpi heh!” teriakan seorang lelaki yang berpakaian safari ala kompeni zaman dulu, membentak dan menampar hingga darah segar mengucur dari hidung Sang wanita. “MEMANG AKU JUMAWA KENAPA! KAU BISA JADI SEPERTI SEKARANG INI KARENA SIAPA? KARENA AKU YANG KAU JADIKAN UMPAN KE MENIR DISANA, APA KAMU LUPA ! AKU TAK TERIMA SAMPAI AKU MATI PUN, INGAT SATRIO!” Ucap wanita itu kasar dengan mata nyalang berapi-api seperti hendak menelan lelaki di hadapannya “Hahaha... Rupa nya sadar juga kau, kau itu tak lebih hanya gundik, martabatmu tak jauh dari itu!” satu tendangan dari Si Wanita tak mengenai sasaran, Cuma mengenai angin saja. Terlihat dari wajah cantiknya yang berubah garang, dan terus melakukan perlawanan. Sekelebat kilatan cahaya di temaram gelapnya hutan, yah itu kilatan dari golok panjang tapi sangat mengilat, sudah terhunus ditangan sang juragan. Dengan sekilas sudah melayangkan nya ke arah leher Sang Wanita. “jrebb...krakk” suara tertebas diiringi suara teriakan Sang Wanita “ Aaaaahhh..” Napas ku terasa tinggal di tenggorokan, sesak sekali, keringat dingin bercucuran sebesar biji jagung. Netra ku bolak balik mengamati ruangan sekitar. Mengidentifikasi situasi. Aku mimpi rupanya, dan sekarang aku masih di kamar, dengan Yura dan Yuri juga suami ku Kak Irfan yang sudah pulas serta mengorok dengan teratur, bising! Aku meludah ke kiri tiga kali, dan berharap itu hanya gangguan setan saja, entah lah kok setan terus disalahkan, tapi memang itu yang di ajarkan mimpi buruk datang dari setan, untuk memberi rasa waswas dalam jiwa manusia. Aku balik bantal dan membaca doa sebelum melanjutkan tidur. Kucoba memejamkan mata, melanjutkan tidur tapi sia-sia saja wajah mereka yang tadi berdrama dalam mimpi bolak balik mendatangiku. Entah siapa mereka itu, sama sekali aku tak mengenal nya entah tak mengerti dengan semua itu. Mimpi tapi sangat nyata dan berwarna, bahkan teriakan wanita tadi masih terasa nyaring menendang gendang telinga. Kututup wajah ku dengan bantal, berharap bayangan itu hilang, teriakan itu pergi, adegan mengerikan tak lagi bersarang di ingatan ku. Aah, bisa gila kalau terus seperti ini, umpat batin ku pada diri sendiri. Menjelang setengah tiga pagi, mata ku terasa berat terlelap sudah aku dalam buaian putri mimpi. *** Di pagi hari tubuh lemas rasanya, entah mimpi itu bikin tubuh lemas tak bertulang, seperti habis mendaki gunung rasanya. Hari ini semua pekerjaan rumah setengah hati aku kerjakan. Sarapan aku beli saja dari warung nasi di tikungan ujung jalan. “ Dik, kok wajah mu pucat sekali? Kamu ga enak badan yah? Sedari tadi juga kakak perhatikan lebih banyak diam, ada apa sih, biasanya kalau pagi ramai kalah tuh radio rusak dik, sama suara kamu kalau lagi merepet” Kak Irfan bertanya sambil menggoda ku. Aku Cuma nyengir saja, malas menanggapi, karena raga ku memang disini, tapi pikiran ku melayang ke kejadian semalam. “Kalau dirasa makin tak enak, sore panggil tukang urut yah, nanti ayah panggil sehabis pulang kerja, bagaimana mau ga? Muka adik, tuh kek uang kertas lecek, ga ada manis nya sama sekali pahit banget” seloroh nya sambil puas tertawa- tawa, rasanya ingin tak jitak saja tuh kepala nya. Untung sayang, kalau enggak sudah ku bikin perkedel dia ih, sebel! “Iya nih, Bunda cemberut saja ayah dari tadi, Bunda seriawan mungkin, jadi bibirnya sakit kalau untuk ngomong Ayah! Coba disuruh berobat , seperti waktu Yura Seriawan , sama loh Ayah sakit banget, terus sama bunda di kasih obat yang biru itu, ingatkan bunda?” Tanya putri kecil ku Yura, bikin aku gemes, seriawan dia sebut sariwawan sejak kapan penyakit punya nama baru. Ah, Yura ada saja kelakuan nya.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
good
18/03/2025
1bagus
02/12/2024
0good
01/11/2024
0Xem tất cả