logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Pandangan Nakal

Bab 2
Pandangan nakal
Syukurlah hari ini bisa aktivitas lagi, persendian tangan dan kaki mulai bisa digerakkan. Tak ada lagi rasa nyeri seperti di remas semua otot nya. Sudah tak terasa sakit seperti sebulan lalu.
Apa pun itu biarlah, yang penting sehat kembali bisa melakukan aktivitas seperti sedia kala. Pagi ini,ku menarik napas panjang, menikmati udara pagi dan ceria nya kicau burung ketilang di pohon jambu milik tetangga. Alhamdulillah masih di ijin kan untuk menghirup udara pagi serta diberi nikmat sehat oleh oleh tuhan.
Ku mulai kegiatan pertama mencuci baju, dan menyusun baju-baju yang menumpuk belum di tata dalam lemari. Orang pindahan itu capek serta beres nya sebulan kata ibu ku. Iya juga, liat nya saja sudah bikin suntuk.
Selagi asyik menjemur baju, tanpa sadar melihat Dewi tetangga depan rumah, sedang tertangkap tangan eh, tertangkap basah melihat ke arah kami ah, bukan sepertinya melihat ke arah suamiku, yang sedang memandikan si Kuda Besi. Baju nya yang basah, akhirnya dibuka mau bagaimana pasti kelihatan lah dada nya.
“Kak, kalau sudah cuci motor nya, cepat ganti baju, dingin kalau masuk angin repot loh”
Seraya ku memintanya supaya tak lagi cuci motor, perasaan hati jadi panas walau Cuma memandang, tapi tak mungkin langsung mengomel dihadapan mereka , bisa terbawa suasana nih kalau marah, Ck!
Tak berapa lama, Kak Irfan masuk untuk berganti baju, dan santai minum kopi di amben samping rumah.
Entah sejak kapan dia datang, sekejap muncul di pintu dapur! tetangga sungguh terlalu tak memberi salam sudah seperti rumah nya saja! Sabar, sabar.
“ Ada apa Wi, bikin kaget saja, muncul tiba-tiba kaya jelangkung” ucap ku sambil bercanda, walau jengkel meraja di dada.
“eh, ini teh disuruh Emak antar kue nih, cobain enak enggak.” seraya nya sambil memberikan sepiring kue bolu dan menaruh di atas meja dapur.
“ lumayan buat teman minum kopi “ katanya sembari cengengesan sendiri.
Aku Cuma tersenyum saja, dan memindahkan semua isi piring, dan menyerahkan kembali pada sang Empunya.
“Bilang sama Emak, terimakasih yah, tapi maaf balik ke rumah piring kosong nih.” timpal ku sambil memberikan piring.
“Ok, iya sama-sama” Kata Dewi sembari kembali ke habitat nya eh, ke rumah nya.
Batin ku masih jengkel soal tatapan aneh dia, walau di sogok kue juga tak merubah anggapan awal ku pada nya. Entah lah apa diri ini terlalu perasa, atau posesif. Tapi rasa ini sangat tak nyaman apalagi tenang.
Sebulan kemudian
Bakat terpendam serta paling menonjol, yaitu dagang mulai meronta, minta di salurkan, apalagi ini di kampung orang tak mengenal siapa pun. Harus pintar-pintar menggali potensi diri. Salah satunya dagang, selain bekerja sedari gadis, yang nama nya Lala tak pernah jadi pengangguran. Pekerjaan apa saja di jalani , yang penting label nya halal, dan tak merugikan orang lain.
“ Sore ibu-ibu , ayo sini kumpul dulu barangkali disini, ada yang minat perabotan dapur, lumayan bisa dicicil, atau tempo tapi harus ada yang muka yah Bu ibu, gimana? Ada yang minat coba di cek dulu, pilihan barang nya ,mungkin ada yang butuh langsung saja ok semua nih produk nya,”
Dengan semangat aku berkicau menawarkan perabot dan barang yang lain.
Nama nya ibu-ibu kalo dengar bisa dicicil, wah, ramai betul yang mau, tapi memang itu yang diharapkan. Semoga saja jadi ladang berkah untuk usaha ku ke depan.
“Mbak Lala, saya pesan karpet permadani nya yang ukuran jumbo yah, tapi nyicil aja dua Bulan boleh?”
Kata Mbak Gita== Mamah muda tetangga samping kiri yang paling alim kalau aku lihat jarang bicara, seperlu nya saja. Eh, jarang mandi juga gak sih? Hehe.. juga sangat santun dalam berbicara,
“ Saya juga loh mbak Lala, jangan lupa panci presto ukuran delapan liter eh salah, dua liter aih jadi malu,”
Sambung Bu Lia sangat antusias, sampai salah sebut ukuran.
“ Buat presto apa besar banget, Bu Lia? Mau buka katering ya?” Goda ku, karena si empu nya yang salah tingkah, karena salah sebut.
Mengalir satu persatu pesanan, dari yang setoran per hari Cuma seratus ribu, meningkat menjadi satu juta rupiah per hari. Alhamdulillah usaha ku lancar , walau aku pendatang tapi mereka semua baik serta ramah.
••••••••
Pagi ini sepulang dari warung sayur, mata ini menangkap pemandangan yang sangat tak lazim, kulihat Mas Ari Abang Ipar ku, habis menurunkan Dewi di ujung gang jauh dari blok tempat tinggal kami. Pagi itu sambil jalan pagi, iseng pulangnya mampir liat warung sayur yang ku lewati setelah lapangan olahraga, sangat segar, dan besar sayuran nya. Pengunjung warung disana pun ramai sekali. Jadi tergoda untuk belanja juga.
‘ mereka sedang apa? Kenapa diturunkan begitu jauh ,dari gang rumah Dewi?’ pikiranku berkecamuk masih menerka ada hubungan apa mereka, apa mereka malu kalau sampai ketahuan? Toh mereka masih sama-sama sendiri kenapa harus malu.
Entah lah dari ekspersi mereka seperti maling saja, Berjalan saja cepat setengah berlari, entah sedang melakukan apa mereka berdua.
Ah sudah lah pusing lihat kelakuan mereka berdua, terserah saja runtuk hati ku .
Hari sudah menjelang siang, masakan satu persatu sudah selesai aku masak. Dari sayur cah kangkung, tempe bacem, sambel goreng, tak lupa lalapan sayur berupa kemangi, ketimun, serta jengkol muda. Nikmat sudah begini juga, seakan makanan mewah saja. Untuk Yura dan Yuri sayur labuh dan wortel saja.
Sambil memberi makan Yuri, aku santai di samping rumah di bawah pohon petai cina yang dijadikan tanaman pagar. Angin sepoi-sepoi membuat asyik acara makan terasa menyenangkan, jadi santai bagus untuk relaksasi hati dan jiwa.
Sedang asyik menikmati momen, ada beberapa tetangga yang masuk pekarangan, mau ikut cari angin seperti nya.
“Halo, Cantik lagi makan , yah ?” tanya Mbak Suri tetangga dekat warung ujung, sambil mendorong bocah nya di sepeda bayi roda tiga.
Yuri tampak senang, senyum mengembang melihat ada teman sebaya nya, yang main ke rumah sambil makan juga.
Sembari memberi makan anak masing-masing kami pun ngobrol mengikuti suasana hati. Kebetulan memang Mbak Sri juga perantau seperti aku jadi sedikit banyak, suka duka di perantauan banyak kisah nya. Kadang berbagi kisah hidup ada baik nya mengobati luka akibat perlakuan didunia luar, yang kadang tak bersahabat.
“Mbak Lala, bagaimana, betah tinggal disini?” tanya nya sembari mata nya menyapu area sekeliling rumah gubuk ini.
“Alhamdulillah betah lah, Daripada kontrak rumah, kan disini bisa sekalian menabung untuk beli rumah sendiri.”
“Tapi tahu gak, Mbak Lala? Ini rumah terkenal serem loh, apalagi dulu sebelum ditempati, banyak yang lihat penampakan di rumah ini, memang Mbak Lala tak khawatir sama anak-anak , soal nya banyak yang mengalami hal yang serem lah pokok nya”
Terlihat Mbak Sri serius sekali, terlihat dari mimik wajah nya yang sangat ketakutan.
Pribadi ku sendiri, mengalami beberapa bulan lalu hal gaib pasti ada, tinggal bagaimana kita menyikapi nya.

Bình Luận Sách (36)

  • avatar
    BudiawanRifky

    good

    18/03/2025

      1
  • avatar
    Ram Dhani

    bagus

    02/12/2024

      0
  • avatar
    Ricaldo Argento Mailoa

    good

    01/11/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất