“Ganteng itu relatif sih, Pras!” -Firmus Wijaya Mangudhibrata (Firmus)- *** Mata Dita sulit diajak kompromi malam ini. Sudah memposisikan dirinya miring ke kiri lalu berubah lagi ke kanan. Namun masih saja dia tidak bisa tertidur. Rasa penasaran menghantuinya. Benarkah karuhun atau leluhurnya itu masuk ke dalam tubuhnya? “Dita....” Ada suara menggema yang memanggil nama dirinya. Sangat jelas itu bukan suara bapaknya. Tentu saja gadis itu ketakutan. Meski ia sudah biasa mendengar suara gaib, namun yang kali ini benar-benar membuatnya merinding. “Ieu teh saha?” (Kamu siapa?) “Ieu kuring karuhun maneh biasanya!” (Iya, saya nenek buyut!) Seketika tenggorokan Dita rasa tercekat. Dia tak mampu untuk membalas suara gaib itu lagi. Meski ingin sekali dirinya bertanya. Sebab yang dia khawatirkan, bisa jadi itu hanyalah makhluk gaib biasa yang mengaku sebagai karuhunnya. “Maneh neangan si Mangudhibrata!” (Kamu cari si Mangudhibrata!) “Mangudhibrata eta saha?’ (Mangudhibrata itu siapa?) Sayangnya tak ada lagi jawaban dari suara itu. Dita mencoba mengingat nama yang disebutkan tadi. Dia rasa tidak asing, hingga teringatlah dia dengan seseorang yang pernah dikenalnya. “Itu nama lengkapnya Mas Mus bukan ya?” *** Sementara itu di Kota Salatiga Perjuangan Firmus belum berakhir. Sudah dua minggu disini, tapi belum dapat pekerjaan juga. Dia masih tak mau menyerah. Meski jaman sudah serba online, namun masih saja ada yang memintanya untuk mengirimkan lamaran berupa hardcopy. Laki-laki berkacamata ini mulai kesal. Entah sudah berapa uang dihamburkannya untuk sekedar print dokumen serta fotocopy. “Ini nih kenapa aku males banget buat lamaran kerja!” Celetukan Pras tak ditanggapi oleh Firmus. Dia masih sibuk menyortir beberapa lembar hasil print diatas kasurnya. “Bikin deh akun ojol sendiri! Lumayan kok hasilnya, Mas Mus.” “Iya, tapi tahu sendiri aku kan nggak biasa.” Pernah tiga hari Firmus mencoba menjadi ojek online seperti Pras. Dia cukup pinjam akunnya saja. Namun kendaran yang dipakai tetap miliknya. Ternyata menjadi ojek online itu luar biasa tantangannya. Hal yang paling buat dia kesal saat harus menerjang jalanan rusak dan licin akibat terguyur hujan. Badannya pun K.O. hingga minta didatangkan tukang pijat. “Memang berat sih, tapi enak aja mas! Lebih bebas dan kita yang atur waktunya.” Pras sudah hampir satu tahun menjalani profesi sebagai ojol. Dia lakukan ketika ibunya berkata, sudah tak sanggup lagi membiayai kuliahnya. Belum ditambah kabar bapaknya meninggal. Membuat laki-laki berambut keriting ini harus berjuang untuk membayar biaya kuliahnya sendiri. “Jadi, kamu masih kuliah?” “Iya sih, Mas Mus! Tapi kan sudah tinggal sedikit lagi. Jadwalnya sudah tidak se-padat dulu.” Firmus hanya mengangguk mendengar cerita Pras. Notifikasi di smartphone miliknya menunjukkan ada email masuk. Dia pun bergegas membukanya. Sontak pupil matanya pun membesar. Kacamatanya dilepas dan dilemparnya begitu saja. Untung Pras berhasil menangkapnya. “ALHAMDULILLLAH...!” “Kenapa Mas Mus? Pasti diterima nih! Kasih tahu dimana dong?” Pras mencoba merebut smartphone milik Firmus. Dia akhirnya melihat nama pengirim dari email di akun milik temannya itu. “Ooh, CV. Bintang Media ya!” “Kamu tahu itu dimana, Pras?” “Tahu dong, berkat pengalamanku jadi ojol!” Dalam email itu tertulis agar Firmus datang kesana langsung. Membawa berkas secara hardcopy, serta berpakaian rapi. Dia melamar sebagai editor. Tak disangka dirinya bisa langsung diterima di bagian itu. Padahal hanya modal nekat saja. “Tapi gajinya dikit sih mas!” “Editor itu, Pras! Seberapa dikitnya sih?” “Iya, aku dulu pernah punya customer yang minta diantar kesana. Di jalan si mbak ini cerita kalau gaji dia nggak seberapa sih!” “Iya, nggak seberapa kalau dibandingkan Jakarta atau Semarang!” “Mas Mus bandingannya kota besar ya jelas kalah!” “Orang kan suka begitu, Pras. Apalagi kalau itu cewek! Mereka butuh skincare juga kan?” “Iya, kalau kita cukup basuh pakai air sudah bersih ya!” Firmus dan Pras tertawa bersama. Skincarenya para cowok memang terhitung sangat sederhana. Tidak ribet sampai ratusan ribu hanya demi wajah kinclong. “Ganteng itu relatif sih, Pras!” “Ya, tiap cowok punya inner handsome-nya masing-masing.” “Apaan tuh inner handsome?” “Kalau cewek kan inner beauty, kita sebagai cowok ya inner handsome!” Firmus memukul punggung Pras. Teman barunya ini bisa saja membuat istilah baru yang belum pernah ada sama sekali. Pras juga berjanji besok akan mengantar Firmus ke tempat kerja yang baru, sebelum dirinya berangkat ke kampus. Sesuai dengan janjinya, Pras mengendarai motor bebeknya didepan. Sementara Firmus mengikutinya dari belakang. Mereka berdua akhirnya berhenti di sebuah rumah mewah tanpa papan nama sama sekali. Tentu saja Firmus curiga. “Kamu yakin nih tempatnya disini, Pras?” “Yakin, Mas Mus! Tuh, ada satpamnya. Coba ditanya dulu!” “Tapi aku jangan ditinggal ya!” Pras menunggu Firmus dengan setia didekat motornya. Saat jari jempol Firmus diacungkan padanya, dia pun bergegas pergi. Satpam yang ditanya olehnya tadi mengantar dirinya masuk ke dalam. “Mbak Erika, ini nih yang calon pegawai baru!” Seorang perempuan berjilbab biru muda polos itu menatap Firmus cukup lama. Penampilan laki-laki berkacamata ini sengaja dibuat lebih segar. Berbeda dari biasanya yang nampak kering, seperti baru saja dihisap vampir darahnya. “Ehem!” “Oh, eh, iya Mas-nya saya antar ke ruang Bu Monica ya!” Perempuan yang dipanggil “Erika” oleh satpam itu mulai keluar dari meja tempat dia berada. Barulah Firmus mengikutinya dari belakang. Inilah alasannya kenapa dia ogah berpenampilan begini. Tapi ini semua dia lakukan demi bisa menarik perhatian atasan barunya. Siapa yang mau menerima pegawai dengan tampilan tidak menarik? “Tok tok tok!” “Ya, masuk!” “Permisi, Bu Monica! Ini mas-nya yang....” “Oh, Mas Firmus ya?” “Iya, Bu.” Monica mempersilahkan duduk, sementara perempuan berjilbab tadi langsung pergi sambil menutup kembali pintunya. Firmus rasa dejavu ada disini. Sebab penampilan Monica sebelas dua belas dengan Teh Agnes, mantan atasannya dulu. “Wah, kalau terlalu ganteng begini mas-nya nggak cocok nih jadi editor!” “Maksud ibu apa?” Firmus tentu saja terkejut mendengar itu. Dia berharap semoga memang benar dirinya diterima disini. Bukan hanya wawancara saja! Monica pun tertawa melihat gelagat Firmus yang mulai tidak nyaman. “Nggak mas bercanda kok! Mas Firmus sudah diterima disini. Saya tertarik dengan pengalaman mas yang bekerja di perusahaan sebelumnya. Mas sebut di biodata diri kalau suka menulis juga ya?” “Iya, bu. Tapi ya hanya penulis novel online.” “Tidak masalah! Setidaknya ada basic pernah menulis fiksi.” Monica sedikit menjelaskan jika CV. Bintang Media ini penerbit khusus buku anak-anak. Memang bukan kelas premium, tetapi buku dengan harga terjangkau. “Ya, harap maklum kalau soal gaji kami juga tidak bisa memberikan lebih mas. Bagaimana, apakah masih mau lanjut?” Senyuman Monica seperti sebuah jebakan. Kini Firmus dihadapkan pada dua pilihan berat. Tetap lanjutkan atau lebih baik tinggalkan penerbit ini dan cari pekerjaan lainnya. Bukan Firmus namanya kalau ia tidak nekat. “Saya terima, bu!” “Wah, baiklah! Tidak banyak yang mau seperti mas-nya ini.”
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
bagus
10/02/2025
0cerita menarik
03/01/2025
0bagus
18/12/2024
0Xem tất cả