Ternyata mudah mengorek keterangan dari seorang Dita. Dia begitu polosnya mau menceritakan tentang Firmus semasa bekerja disana. Arin langsung menyimpan semua informasi itu dalam kepalanya. Andalan dia ada pada ingatannya yang kuat. “Eh, nggak kerasa nih kita cerita sampai udah jam 10 malem!” “Aku pulang kalau begitu, Dit!” “Udah malem lho! Mbak Arin nggak takut?” Arin hanya menggeleng. Gelapnya malam sudah biasa dia lalui. Apalagi saat dulu dia masih menjadi pembunuh bayaran. Justru suasana malam mempermudah tugasnya dalam menghabisi setiap korbannya. “Urang eh aku temenin ya!” “Tidak usah! Aku bisa pesan ojek online.” Tetap saja Dita memaksa untuk mengantar dia kembali ke kos-nya. Kota Bandung memang belum dikuasai sepenuhnya oleh Arin. Terlebih lagi dia baru hari ini sampai. Dita tahu letak kos Arin saat disebutkan alamat lengkapnya. “Aku tidak memaksamu ya!” “Iya, aku yang maksa kok! Mbak Arin teh kayak sama siapa aja.” Senyuman diberikan oleh Arin saat sepupunya itu memintanya untuk naik ke jok motor. Mereka pun berboncengan menuju ke alamat tadi. Namun tak diduga, sekelompok laki-laki mencegat mereka diperjalanan. Arin minta agar Dita lebih mempercepat laju motornya. Sayangnya gadis ini takut duluan serta tubuhnya sedikit gemetar. Bukannya makin cepat, Dita memberhentikan motornya cukup jauh dari para pemuda itu. “Dita, terus saja! Jangan pedulikan mereka.” “Tapi, aku takut nih Mbak!” Tentu saja mereka jadi mudah untuk dikerubung. Aroma minuman keras mulai tercium diantara para laki-laki itu. Membuat Dita sedikit menutup hidungnya. Sementara Arin sudah bersiap untuk menghajar mereka semua. “Hee...neng geulis! Hayu main sama Aa’.” (Hee... cewek cantik! Ayo main sama Aa’) “Iih, nggak ah! Mbak...eh!” Suara gebukan sudah terdengar. Arin tak bisa lagi tinggal diam. Dia menghajar beberapa pemuda yang sedang dalam pengaruh minuman keras. Sementara Dita yang sudah ketakutan hanya mampu berlari meninggalkan motornya. Sayang, dia pun tertangkap. “Mbaaak! Tolong akuuu mbaaak!” “Ih, geulis pisan si eneng!” (Ih, cantik bener si eneng!) Arin yang mendengar suara teriakan Dita bergegas menghampirinya. Sementara lelaki mabuk yang sudah berhasil menangkapnya mulai menyingkap bajunya sambil terus memeluknya. Sekuat apa Dita meronta, jelas tidak akan dilepaskan olehnya. Belum saja Arin sampai, tiba-tiba pemuda itu mampu dibanting oleh Dita. “Eh, sejak kapan dia bisa beladiri?” Pemuda itu jelas berteriak kesakitan. Amarahnya mulai terpancing, kini dia mencoba untuk mendekati Dita lagi. Namun yang terjadi, justru perutnya ditinju dengan kuat. “Aaaargh! Si-si-sialan! Neng geulis tapi sadis euy!” “Saha nu geulis?”(Siapa yang cantik?) “Hah! Suara nini-nini? (Hah! Suara nenek-nenek?) “Teu baleg manĕh mah, wawanian ngaganggu incu kuring!” ( Kurang ajar, beraninya kamu ganggu cucu aku!) Kini malah Arin yang diusuguhkan tontonan aksi Dita memukul pemuda mabuk. Anehnya, mata gadis itu terpejam. Gerakannya seperti lemah, tapi begitu kena ternyata fatal juga efeknya. Bahkan sampai terpental jauh. Akhirnya laki-laki itupun kabur. “Dita! STOP!” Arin masih bingung. Sebenarnya apa yang terjadi dengan sepupunya ini? Mata terpejam, tapi masih mampu bergerak. Tangannya pun dingin saat dipegang. “Dita....” “Nini lain Dita!” (Nenek bukan Dita!) Tentu saja Arin pun bingung. Dia tak pandai berbahasa daerah manapun, termasuk Bahasa Jawa. Memang cewek ini cukup payah untuk penguasaan bahasa daerah. Dalam kondisinya yang tak sadarkan diri ini, Dita hanya tersenyum. Seketika dia tersentak hebat. Baru matanya mulai terbuka perlahan. “Eh, Mbak Arin? Aku teh tadi kenapa?” “Hah! Jadi, kamu tidak sadar sudah pukul satu laki-laki mabuk?” Dita langsung terkejut mendengar penuturan Arin. Tentu saja cewek satu ini bingung, sebab dia tadi benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi. “Sejak kapan kamu belajar beladiri? Tapi, suaramu tadi berubah!” “Duh, berubah kayak apa?” “Kayak nenek-nenek deh suaramu tadi!” Mulut Dita langsung ditutup dengan kedua tangannya. Dia mulai mencoba menerka. Kalau dirinya sedang dirasuki sesuatu. “Memang tadi aku bilang apa, Mbak?” “Apa ya? Aku juga nggak begitu paham! Pokoknya suara kamu jadi kayak nenek-nenek.” Sejenak Dita mulai berpikir. Hingga satu kesimpulan pun didapatnya. Dia yakin kalau itu adalah karuhun dia atau leluhur yang masuk ke badannya. Lebih tepatnya Dita tadi kesurupan. “Kayaknya itu karuhun....” “Apa itu karuhun?” “Leluhur, Mbak Arin! Ya udah kita ke kos-an mbak dulu aja.” Arin pun mengangguk. Namun kali ini dia yang mau bawa motornya. Khawatir kalau kondisi Dita seperti tadi. Kini sang pemilik motor pun dia bonceng. *** Mau dijelaskan seperti apa, Arin rasa masih tak percaya. Sebab pikirannya terlalu logis dan tak mudah mencerna tentang apa itu fenomena kesurupan. Dia bahkan malah menjelaskan fenomena kesurupan secara sains. Tentang sistem kelistrikan yang kacau dalam tubuh manusia. “Duh, urang bingung atuh!” “Ya sudah kalau kamu bingung! Terus kamu yakin mau pulang sendirian?” “Lewat jalan raya atuh, Mbak! Tapi ya muter jauh.” Arin mengantarkan sepupunya hanya sampai depan pintu kos saja. Ternyata Om Dharma memesan kos yang terhitung mewah. Bahkan didepannya pun ada semacam resepsionis layaknya di hotel berbintang. Dia cukup menyebutkan nama dan kunci kamar pun diserahkan padanya. “Baiklah, waktunya istirahat!” Sementara itu, Dita masih berpikir akan kejadian tadi. Jantungnya berdegup kencang. Rasa tak percaya kali ini karuhunnya akan datang membantunya. Bukannya dia tak mengerti akan dunia gaib. Dia memiliki kelebihan berupa mampu melihat sesuatu hal yang terjadi kedepannya. Termasuk mampu berkomunikasi dengan makhluk gaib. “Dih si eneng ya! Ini sudah tengah malam naon atuh baru pulang?” “Ya maaf, Bapak! Tadi teh di jalan Dita sama Mbak Arin....” “Kenapa neng di jalan tadi?” Ilyas sudah khawatir sekali dengan anak gadisnya. Dia mencoba melihat apakah ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Namun tidak ditemukan tanda kekerasan. Dita hanya diam, takut untuk bercerita peristiwa yang tadi. “Cerita atuh, neng!” “Ta-tadi Dita sama Mbak Arin dicegat sama orang mabuk....” “Hah? Serius atuh, neng!” “Iih, Bapak! Dita serius malah dua rius ini mah!” “Sok atuh dilanjut ceritanya!” Dita melanjutkan ceritanya. Termasuk soal dirinya yang tadi sempat tak sadarkan diri. Namun bisa memukul orang yang hendak melecehkannya itu. Menurut cerita Arin, suaranya pun berubah menjadi nenek-nenek. Mendengar itu, Ilyas hanya tersenyum saja. “Bapak teh malah ketawa! Kenapa atuh?” Ilyas pun tahu tentang hal itu. Sebab dulu almarhumah istrinya mengalami hal yang sama seperti Dita. Dirasuki oleh karuhun yang mana memiliki kemampuan linuwih. Laki-laki ini juga menyadari kalau anak gadisnya ini juga mewarisi kemampuan itu. “Sudah, cuci kaki sama tangan dulu sana! Lanjut tidur aja, neng.”
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
bagus
10/02/2025
0cerita menarik
03/01/2025
0bagus
18/12/2024
0Xem tất cả