logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 5 Perburuan Kelima

“Bapak nyieun sorangan ya kopinya!”
-Dita Eksha Ghasani (Dita)-
***
Kepala Are sedikit digelengkan ke kiri. Dia memberi kode pada Arin untuk tidak bicara disini. Tentu saja, ini masih masuk dalam area Dita. Perempuan itu pasti akan memergoki mereka lalu menyebarkan gosip tak jelas. Kepolosan editor berdarah sunda itu sangat berbahaya untuk dia saat ini.
“Ini belum jam istirahat!”
“Kamu pikir aku mau mengajak ke kantin? Disini tidak ada kantin!”
“Bicara saja disini, apa susahnya?”
Arin tak terlalu suka main rahasia. Dia berusaha menjadi seorang pegawai baru yang baik. Namun Are memaksa, bahkan menyeret tangannya. Mereka pun masuk ke ruangan yang hanya berisi mesin fotocopy.
“Apa sih maumu, Are?”
“Nggak! Aku tahu kamu kayak apa orangnya. Buat apa sih kerja disini?”
Senyum sinis kembali dipertontonkan pada Are. Laki-laki ini sudah tak nyaman melihatnya. Mereka berdua berkenalan di sebuah pelatihan bersenjata khusus. Arin menjadi peserta perempuan satu-satunya yang bisa masuk karena rekomendasi ayahnya.
“Aku juga butuh kerja, Are!”
“Bukannya kamu sudah urus usaha di Semarang?”
“Bangkrut! Puas kamu Are?”
Cewek ini hendak meninggalkan ruangan tempat dia dan Are berada. Dirinya segera dihadang oleh Are tepat didepan pintu. Rasa tak percaya laki-laki ini pada perkataan Arin.
“Seriusan?”
“Kenyataanya begitu! Ayahku mendesak supaya cari pekerjaan lagi saja.”
Are akhirnya menerima alasan itu. Dengusan kesal mulai keluar dari dua lubang hidung Arin. Sekali lagi, perempuan ini paling benci dikulik kehidupan pribadinya. Namun sejurus kemudian, dia ingat siapa Are sesungguhnya.
“Nah, lalu kenapa kamu bekerja disini?”
“Aku malas kalau harus menuruti perkataan orang tuaku. Mereka menuntut supaya aku jadi polisi. Tapi setelah pelatihan itu, aku diam-diam keluar!”
“Hah? Seharusnya tidak semudah itu, Are!”
“Aku dibantu sama om-ku untuk keluar dari sana!”
“Orang tuamu tidak marah?”
“Ya, awalnya marah besar. Terutamanya ayahku, Rin! Tapi, siapa yang berani sama om-ku satu itu? Kalau sudah bilang A ya A. Nggak bisa berubah deh!”
Are mengarang cerita. Namun Arin tetap tersenyum usai mendengarnya. Sudah puas dirinya gantian mengulik teman satu pelatihannya itu. Kini dia benar-benar ingin keluar. Badan Are didorongnya dengan kasar. Padahal dirinya masih tak yakin, kalau Are bisa keluar dengan mudah dari kepolisian. Sebab yang ikut pelatihan itu adalah orang-orang terpilih.
“Hei!”
“Apa lagi, Are?”
“Kamu nge-kos dimana, Rin?”
Pertanyaan itu dilempar oleh Are dengan wajah memerah malu. Satu tangannya dia usap terus di kepala bagian belakang. Sementara Arin hanya tersenyum saja.
“Kos Manila, jalan Purba Wasesa nomor satu.”
Are pun tersenyum mendengarnya. Namun ia segera mengusap mukanya berulang kali. Seketika dirinya pun tersadar. Pesona Arin hari ini sangatlah berbeda dengan yang ia kenal dulu.
“Are, sadarlah! Kamu belum tahu siapa dia aslinya. Duh, kenapa bisa kacau begini?”
Pesan dari Om Dharma masuk ke smartphone milik Arin. Kembali dirinya diingatkan soal tujuan dia berada di kantor penerbitan ini. Cewek itu cukup membacanya saja tanpa membalas. Agnes sedikitnya terkejut melihat sang sekretaris telah kembali ke mejanya.
“Loh, sudah ya?”
“Ya, tadi Kang Are mengajak saya berkeliling sebentar.”
Agnes pun percaya begitu saja. Ia lalu memberikan beberapa berkas yang bisa dipelajari terlebih dahulu. Arin menerima setumpuk berkas itu. Ia buka satu per satu dan tanpa sengaja melihat ada nama serta tanda tangan sekretaris sebelumnya.
“Firmus....”
“Kenapa Arin?”
“Eh, nggak apa Teh Agnes!”
Matanya mulai meneliti kembali setiap berkas yang ada. Iya, dia tak salah lihat. Ada nama lengkap Firmus Wijaya Mangudhibrata di beberapa lembar yang dilihatnya. Bahkan tanda tangan laki-laki itu ada. Giginya mulai gemeretak, merutuk sang mantan sekretaris dari dalam hati.

Jarinya gemetar saat mengetikkan itu. Bukan karena ia belum makan, tapi kesal. Misinya kali ini ternyata tidak semudah sekedar menjemput anak hilang saja.


Agnes berdehem, membuat Arin tersadar kalau posisinya saat ini adalah sekretaris cewek cantik ini. Dia segera memasukkan kembali smartphone miliknya ke dalam saku celana.
“Ya, misal kamu sedang diluar juga bisa mengecek email lewat gadgetmu itu!”
“Boleh ya, Teh Agnes?”
“Itu lebih baik, Arin! Jadi, kamu tidak harus mengandalkan laptop yang ada disini.”
Arin kembali memberikan senyuman manisnya pada atasan barunya itu. Agnes pun membalasnya. Tugas dia masih panjang untuk sekedar mencari keberadaan Firmus. Namun ada satu orang yang bisa dia tanya terlebih dahulu soal ini. Siapa lagi kalau bukan Dita sepupunya?
***
“Ayo, masuk dulu Mbak. Bapaaak...! Ada Mbak Arin dari Semarang.”
Seorang laki-laki muncul dari balik gorden. Pakaiannya lusuh, tangannya masih membawa cetok. Dibalik kumisnya yang sedikit tebal, dia berusaha tersenyum.
“Ini teh beneran Arin anaknya Narto? Dih, geulis pisan euy!” (Ini beneran Arin anaknya Narto? Dih, cantik sekali ya!)
“Iya, Paman Ujang! Ini saya Arin anaknya Pakdhe Narto dari Semarang.”
Arin langsung meraih tangan pamannya. Namun laki-laki itu rasa tak tega. Dia bergegas menariknya. Bukannya tak mau keponakannya bersikap sopan dengan mencium tangannya. Tapi karena kotor. Dia baru saja merapikan tanaman dibelakang rumahnya.
“Sok atuh dibikinin minum!” (Dibikinin minum dulu sana!)
Dita langsung masuk ke dalam usai mendapat perintah dari ayahnya. Sebenarnya dia mau tertawa saat Arin memanggil bapaknya “Paman Ujang”. Padahal nama bapaknya adalah “Ilyas” sementara sebutan “Ujang” memang sangat lazim disematkan disini kalau orang lain tengah memanggil “ayahnya”.
“Gimana kabar Ayah kamu, Rin. Sehat kan?”
“Puji Tuhan, sehat kok paman!”
“Padahal Narto masih sibuk kerja ya.”
“Sekarang sudah agak berkurang, Paman. Semenjak dulu pernah kena stroke, terus Paman sama Dita datang ke Semarang kan?”
“Eh, iya ya! Tapi sekarang sudah baik lagi ya?”
Arin hanya mengangguk saja. Tepat sekali Dita datang membawa minuman yang baru dibuatnya kemari. Ilyas bapaknya itu protes, kenapa yang keluar dua gelas coklat panas.
“Ih, kenapa Mbak Arin dibuatin ini?”
“Kita kan anak muda, Bapak! Minumnya soklat eh coklat panas.”
“Terus kopi buat bapak mana, neng?”
“Bapak nyieun sorangan ya kopinya!”
Wajah Ilyas ditekuk usai mendengar perkataan anaknya sendiri. Dia pun berjalan dengan kesal sambil menyibakkan gorden. Laki-laki itu sepertinya terniat untuk membuat kopi untuk dirinya sendiri.
“Makasih ya, Dit!”
“Sama-sama, Mbak Arin.”

Bình Luận Sách (150)

  • avatar
    GalangDika

    bagus

    10/02/2025

      0
  • avatar
    AmarsyahArya Noor

    cerita menarik

    03/01/2025

      0
  • avatar
    NasirHasbi

    bagus

    18/12/2024

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất