logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

We Are

We Are

Dwi Na


Bab 1

Diana, berusaha untuk terlihat baik-baik saja setelah mengalami kesedihan yang belum lama ini menyesatkannya dalam rasa pahit di kehidupannya. Kini ia bertemu seseorang yang pernah menjadi alasannya tak pernah menyukai orang lain hingga sekarang. Mungkinkah ini bisa membuatnya keluar dari kesedihannya?
Revan, sedang mencari jati diri dengan mengubah perilakunya dalam menjalani kehidupannya yang ternyata selalu terikat dengan masa lalunya. Kini ia bertemu seseorang yang mengubah pandangannya tentang dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia masih terikat masa lalu padahal dirinya sudah berubah?
Kevin, sifatnya selalu ceria, jahil dan cerewet. Ia juga selalu bisa menerima siapapun menjadi keluarga baginya. Ialah yang lahir dari kesendirian. Kini ia bertemu dengan seseorang yang dibencinya tapi malah sering bersamanya. Apakah memang benar siapapun bisa menjadi keluarganya? 
Mereka bertiga awalnya bersama karena terpaksa dan tak punya pilihan. Namun akhirnya kebersamaan antara mereka menjadi kebutuhan. Meski terlibat konflik perasaan, mereka tahu bahwa kebersamaan mereka adalah pelengkap yang menyempurnakan kehidupan mereka.
*****
Namaku Diana. Aku ingat pertama kali mengenal dia ketika kelas satu SMP. Ketika itu sekolah-ku sudah memasuki semester genap. Bahkan tidak lama lagi akan dilaksanakannya ujian tengah semester. Di waktu yang seperti itu tiba-tiba sekolah kami kedatangan seorang murid baru. Dia seorang anak laki-laki. Tentu saja kedatangannya diwaktu seperti itu tidak biasa. Karena dia pindah di saat masa ujian sudah sangat dekat.
Dan bukan hanya itu saja, dia memiliki kelebihan pada wajahnya. Memiliki wajah yang sangat tampan dan tubuh yang bagus. Semua itu membuat para siswi langsung tertarik padanya dan seketika dia langsung menjadi pusat perhatian di sekolah. Khususnya untuk para gadis.
Dia sangat populer di awal kedatangannya. Tapi ternyata hal itu hanya sementara. Ternyata dia memiliki perilaku yang buruk sebagai seorang pelajar. Berbanding terbalik dengan rupa-nya yang menawan. Dia melakukan banyak sekali pelanggaran di sekolah. Bahkan siswa lain menganggapnya berandalan. Bolos, berkelahi adalah kebiasaannya.
Kemudian, akhirnya dia menjadi siswa yang ditakuti di sekolah. Dan mungkin saja itu adalah alasan mengapa dia pindah sekolah dari sekolah sebelumnya. Karena dia dikeluarkan dari sekolah sebelumnya, hasil dari perilakunya yang buruk.
Puncak-nya adalah beberapa hari setelah ujian kenaikan kelas. Dimana waktu itu para murid menunggu hasil belajar mereka selama satu semester. Saat itu tiba-tiba terjadi perkelahian antara Dia dan siswa lain. Hal itu membuatnya harus belajar tahun ajaran baru di sekolah lain. Dia dikeluarkan.
Beruntung Dia bisa naik kelas dan tidak perlu mengulang. Tapi, Dia lebih beruntung lagi karena tidak masuk kantor polisi. Kenapa? karena siswa yang menjadi lawannya adalah anak dari kepala kepolisian wilayah setempat. Itulah yang membedakan lawannya dengan siswa-siswa lain yang pernah berkelahi dengannya. Bisa dibayangkan, Dia salah memilih lawan.
Pada tahun ajaran baru, dia seolah dilupakan. 
Semua orang di sekolah melupakannya kecuali satu. Itu adalah diriku. Aku selalu mengingatnya dan memikirkannya. Yang membuatku selalu merasa bersalah pada Dia ketika mengingatnya. Mengingat diriku sendirilah yang menyebabkan Dia berkelahi. Menyebabkan Dia keluar dari sekolah.
*****
"Kak, aku berangkat!" seru Diana setelah ia memakai sepatunya. Lalu ia berjalan menuju pintu depan rumahnya dan hendak membukanya.
"Hm. Eh, tunggu sebentar!" kakak Diana menyahut dari dapur.
"Hah?" Diana mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa menuju dirinya di belakangnya, terpaksa ia terhenti sejenak menoleh.
"Diana Claire, kau melupakan bekal makan siang mu," ucap kakak Diana dengan menyodorkan sebuah kotak makan berwarna merah.
Diana melihat kotak makan itu. Lalu pandangannya beralih melihat kakak laki-lakinya yang memiliki rambut hitam dan memiliki mata coklat gelap, sama persis seperti dirinya. Namanya juga saudara. Justru aneh jika ada perbedaan yang besar.
Diana menghela napas. "Kau benar, aku lupa. Lupa memberitahumu kalau aku menyiapkan bekal itu untuk makan siangmu saat bekerja nanti. Jadi itu untukmu David Claire." Jelas Diana sembari menunjuk bekal itu lalu menunjuk kakakknya.
"Eh, benarkah?" gantian David yang melihat kotak makan itu.
Diana mengangguk sebagai jawaban, ia segera berbalik dan melanjutkan jalannya.
"Terima kasih kalau begitu," kata David. Tapi Diana tidak mendengar perkataan yang diucapkan David. Karena dia sudah membuka pintu dan keluar rumah tepat saat David berterimakasih.
"Ah, anak itu," David bergumam. Hubungan yang unik untuk saudara yang bersikap seolah hanya teman. Diana bahkan menggunakan ‘aku, kamu’ pada kakaknya
*****
Diana POV.
Aku pergi berangkat sekolah dengan memakai sepedaku yang berwarna merah. Setelah orang tua ku pergi, aku hanya tinggal berdua dengan kakakku. Kini, kami saling memiliki. Umur kami terpaut 6 tahun. Dan David sekarang sedang menjalani tahun terakhir kuliahnya. Dia mengambil semester pendek karena dia mau menggunakan waktunya untuk bekerja. Bekerja membiayai hidup kami sehari-hari.
Walau menurutku percuma, dia mengambil semester pendek akibatnya perlu bayaran lebih kuliahnya, karena mereka membayar untuk semester pendek itu sendiri. Jadi menurutku dia bekerja untuk membayar kuliah bukan mengambil semester pendek untuk bekerja, yang dia lakukan justru sebaliknya. Itu berbeda kan, atau sama saja, terserahlah. Karena jika hanya mengandalkan David saja itu tidak mungkin. Maka aku ikut membantunya bekerja.
David bekerja sebagai pegawai salah satu toko di pusat perbelanjaan. Sedangkan aku bekerja paruh waktu di restoran cepat saji. Bekerja melayani para pelanggan. Atau sebut saja sebagai pelayan.
Perjalananku ke sekolah menghabiskan waktu sekitar empat puluh lima menit. Jika menggunakan sepeda motor pasti lebih cepat. Tapi aku dan David tidak punya motor. Bahkan David pergi bekerja dengan menaiki bus.
Setelah sampai di parkiran sekolah, aku memarkirkan sepedaku di tempat parkir khusus sepeda. Kemudian aku mengambil buku kecil di saku jas almamater ku. Itu sebuah buku catatan pelajaran. Aku membacanya sambil berjalan di koridor sekolah.
Tiba-tiba tubuhku menabrak sesuatu yang membuatku terhuyung ke belakang. Tidak membuatku jatuh. Tapi cukup membuat buku catatan ku terlepas dari tanganku dan terjatuh.
Spontan aku mencari sesuatu yang ku tabrak. Tapi sesuatu itu lebih tepat disebut seseorang. Aku menabrak seorang pemuda yang seumuran kakakku, menurut perkiraanku seperti itu. Sementara aku fokus menatapnya, dia membungkukkan badan untuk mengambil buku ku yang jatuh.
"Maafkan aku, karena tidak menghindar padahal aku melihatmu dengan jelas berada di depanku," ucapnya sambil memberikan bukuku padaku.
Aku menerima buku milikku itu dan berkata, "Terimakasih."
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Seharusnya saya yang minta maaf. Saya tidak memperhatikan jalan sehingga menabrak anda, walaupun itu tidak disengaja."
Pemuda itu tersenyum, "Baiklah, kita impas kalau begitu."
"Eh?" Sedetik kemudian Diana baru mengerti.
"Aku harus segera pergi, lain kali hati-hati ya!"
Pemuda itu pamit dan melewatiku. Aku berbalik memperhatikan punggungnya yang menjauh. Aku rasa pemuda itu mengingatkanku pada seseorang.
Aku mulai berpikir, siapa dia? Padahal sekolah sekarang masih sepi. Tidak biasanya ada orang selain satpam sekolah datang pagi-pagi begini. Karena itulah alasan aku membaca buku sambil berjalan menjadi kebiasaanku. Aku tidak takut insiden menabrak orang lain itu akan terjadi, tapi sepertinya itu sudah berubah sekarang.
Diana POV end.
*****

Bình Luận Sách (130)

  • avatar
    Astin

    Penasaran,, apa masih ada lanjutannya..?? novel nya sangat bagus, dan lumayan menguras air mata

    05/01/2022

      0
  • avatar
    أكسل ماما

    good

    21d

      0
  • avatar
    SolehMuhammad

    seruuu

    12/07

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất