"Deris ke mana?" tanyaku pada Risya yang tengah berkutat dengan komputer. Dia adalah seorang admin media sosial di sini. Satu-satunya admin. Usianya empat tahun lebih muda dariku. Risya masih berusia dua puluh lima tahun. Walau terkadang pelupa, tetapi dia paling bisa dipercaya. Dia sudah bekerja denganku selama hampir empat tahun lamanya. Sama dengan Deris. Mereka sudah kuanggap seperti adik sendiri. Walaupun hanya lulusan D1, tetapi kesungguhan mereka lah yang membuat Yudhis Graph ini berkembang. Perlu aku akui, pertama kali aku membuka jasa foto aku cukup kewalahan. Harus menjadi fotografer, editor, sekaligus mencetak semua foto. Walaupun tidak begitu banyak pesanan untuk memotret. "Bukannya Deris ada pemotretan, ya? Buat iklan produk skincare kalau gak salah," jelasnya seraya memandangku. "Sama siapa?" "Sama anak baru itu, siapa namanya ... Satria! Iya, Satria." "Anggun mana?" tanyaku lagi. "Anggun hari ini izin ada keluarganya dari Semarang yang meninggal. Mungkin katanya lusa balik lagi ke sini. Semalam katanya dia udah WA Mas Liam, tapi belum dibaca, makanya bilang sama Risya tadi pagi," jelasnya lagi. "Emang iya?" bingungku. Anak itu hanya mengerdikkan bahunya. Lantas aku membuka ponsel dan mengecek aplikasi whatsapp. Kulihat pesan dari Anggun yang ternyata tenggelam. "Nur, kamu sibuk?" tanyaku beralih menghampiri meja kerja Nur yang sedikit renggang dari meja Risya. "Nur lagi edit foto prawedding kemarin," sahutnya. "Farid mana?" "Farid ngajak Rama buat survey tempat pesta ulang tahun lusa," sahut Risya. Aku berdecak kecil. "Mas kenapa, sih? Dateng-dateng nanyain semua orang?" tanya Risya kebingungan. "Saya mau cari tempat referensi buat foto prewedding besok. Maksudnya, saya butuh orang buat nemenin saya dan berdiskusi," jelasku. Terlihat Juni baru saja keluar dari belakang. Mungkin dia dari toilet. "Juni, siap-siap lima menit lagi kamu ikut saya!" pungkasku kemudian melangkah menuju ruanganku. Aku mempersiapkan kamera DSLR untuk dibawa dan juga ponsel tentunya. Klien kali ini ingin aku yang mencarikan tempat untuk mereka melakukan prawedding. Katanya mereka ingin tempat-tempat yang masih asri di daerah Jakarta. Padahal biasanya aku terima tempat dari mereka. Jadi tidak perlu repot-repot bepergian tanpa tujuan. "Ayo!" ajakku kepada Juni. Wanita itu mengangguk dan mengikutiku ke parkiran. Kami pun segera memasuki mobil agar tidak membuang-buang waktu tentu saja. "Memangnya kita mau ke mana, Mas?" tanyanya ketika aku tak kunjung melajukan mobil. "Ada referensi tempat yang masih asri di daerah Jakarta?" "Hm ... Saya kurang tau, soalnya jarang bepergian," sahutnya. "Coba kamu cari di internet, siapa tau ada beberapa tempat yang gak terlalu jauh dari sini," titahku. Dia mengambil ponsel lalu mencari apa yang aku pinta, sedangkan aku mulai memarkirkan mobil keluar dari area kantor. "Ini ada Taman Wisata Mangrove, di Jalan Garden House, Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara," katanya kemudian. "Oke, kita coba ke sana. Kamu bisa baca maps, 'kan?" "Bisa, Mas." "Kalau begitu pake G-Maps aja biar gak nyasar," kataku. "Iya, Mas." Dengan berbekal peta digital aku dan Juni segera melesat ke tempat yang ia maksud. Aku tidak bisa membuang banyak waktu lagi. Setidaknya, aku harus mendatangi dua atau tiga tempat untuk direkomendasikan kepada kilen. Tidak mungkin jika aku hanya memberi mereka satu tempat tanpa ada pilihan yang lainnya. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit bagi kami menempuh perjalanan. "Di depan, Mas. Sepuluh meter lagi," ucap Juni. "Nah, itu!" tunjuknya ke depan. Lantas aku menepikan mobil terlebih dahulu. Kulihat nama yang tertera di atas gapura itu sama dengan apa yang disebutkan Juni tadi. "Harga tiket masuknya berapa?" tanyaku seraya memerhatikan ke sekitar. Tidak terlalu ramai. Mungkin karena sekarang weekday. "Tiga puluh ribu per orang, kalau weekend tiga puluh lima ribu. Untuk anak-anak lima belas ribu, dan weekend dua puluh ribu," jelasnya sambil menatap layar ponsel. Detail sekali dia menjelaskan harga. Padahal aku hanya bertanya untuk hari ini saja. Tanpa banyak berbicara aku memasuki area parkir dan membeli tiket berdua. Ternyata udaranya cukup sejuk, mengingat ini adalah kota metropolitan. Aku dan Juni menyusuri satu per satu spot foto yang ada. Jembatan dengan rumah-rumah beratap segitiga di sisinya, yang sepertinya merupakan penginapan. Tak lupa juga pohon mangrove yang melingkupi tepian danau. Selain itu, spot foto dengan payung-payung yang digantung di atas jalan juga menarik perhatian kami. "Lucu, Mas," kekeh Juni. "Iya," sahutku seraya mengangkat kamera untuk segera memotret. Jalan dengan tepi kanan dan kiri dihiasi pepohonan tinggi, membuatku merasa seperti bukan di Jakarta. Butuh waktu sekitar kurang lebih dua jam aku dan Juni mencari-cari spot foto yang ada. Kakiku cukup pegal dan berdenyut nyeri. "Juni!" panggilku membuatnya menoleh. Dia yang berada sedikit jauh di belakangku, lantas berjalan menghampiri. "Nama saya July, Mas," gumamnya pelan. Aku mengeratkan mata. Pelupa sekali! Perkara Juni dan July saja diri ini salah mengingat. "Saya minta maaf. Saya bingung nama kamu abisnya deketan sama Juni," ucapku membuatnya hanya balas mengangguk kecil. "Kita duduk di sana dulu, nanti lanjut lagi," ajakku seraya menunjuk ke arah bebangkuan. Ia mengangguk kemudian turut mengekoriku yang berjalan terlebih dahulu. "Spot fotonya bagus-bagus semua," ucap Ju-ly seraya mengedarkan pandangan. "Iya, tapi tempatnya terlalu luas menurut saya," sanggahku sembari mengecek kembali foto-foto yang ada. "Abis dari sini, kita mau ke mana lagi, Mas?" "Kita coba ke Taman Suropati." "Kita mau ke Ancol, gak?" "Kita gak bakal ke Ancol. Klien kita bilang Ancol itu udah gak aneh. Dia mau tempat-tempat yang fresh." "Temanya mau yang garden gitu, ya?" Aku balas bergumam sambil terus memerhatikan foto-foto. "Padahal Ancol juga banyak spot foto yang bagus. Kayak jembatan cinta." "Sering ke sana?" tanyaku sedikit mengalihkan pandang terhadapnya. July menggeleng kecil sambil tersenyum kikuk. "Belum. Saya cuma tau dari internet. Gaji saya waktu masih kerja cuma bisa buat ngirim bapak sama ibu di kampung. Selebihnya ... buat biaya hidup. Jadi gak pernah pergi jalan-jalan." "Loh, kamu bukan orang Jakarta?" bingungku. "Memangnya Mas Liam gak baca tempat tanggal lahir saya, kemarin?" Aku meneguk ludah. Apa yang aku lihat dari berkas lamarannya kemarin? "Saya ini kadang pelupa," jawabku seadanya. "Tapi kalau dilihat dari penampilan, Mas Liam kayaknya orang yang anti pelupa dan seorang pemimpin yang baik ... bijaksana." Aku menoleh ke arah wanita berkacamata, berambut sepunggung yang dikuncir satu tersebut. "Kamu lagi muji saya atau justru sebaliknya?" tanyaku seraya menaikkan sebelah alis. July memalingkan wajahnya kemudian tersenyum kecil. "Kalau dilihat dari penampilan. Kalau aslinya ... saya 'kan belum tau."
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
seruu, menarikk juga alue ceritanya🙏🏻😭
28/05
0bagussss banget
26/03
0bagus
11/03
0Xem tất cả