"Mas!" tegur Sadam, adikku. Aku yang tengah berjalan menuruni anak tangga lantas berhenti, beralih menatapnya yang berada di atas sana. Dia adalah satu-satunya adikku, yang baru saja memasuki Sekolah Menengah Akhir. Tubuhnya yang sedikit pendek dan cenderung kurus, membuatnya sering kali disebut sebagai anak SMP. Gen mama menurun padanya, sedangkan aku ... katanya tinggi berisi seperti keluarga papa--kakek lebih tepatnya. Namun, aku tidak pernah melihat sosoknya secara nyata. Selain pada album foto tentunya. "Kenapa?" tanyaku. "Anterin Sadam ke sekolah dulu, ya?" pintanya sembari berjalan ke arahku. "Biasanya bareng sama papa," kataku sambil menggulung lengan kemeja. Anak berseragam SMA tersebut menyunggingkan senyuman. "Papa berangkatnya nanti jam delapan, soalnya mau ada pertemuan katanya. Jadi aku berangkat bareng Mas Liam aja, ya?" "Ya udah, nanti biar Mas anter kamu dulu ke sekolah," putusku pada akhirnya. "Makasih," gumamnya kemudian berjalan melewatiku. Sadam berlalu ke ruang makan, untuk sarapan tentu saja. Lain halnya dengan diriku yang memilih untuk mengenakan sepatu di ruang depan. Di rumah ini memang papa tidak memperbolehkan kami mengenakan alas kaki. Katanya ..., "Jangan ikut-ikutan orang kaya di sinetron!" Setelah selesai, kini aku memutuskan untuk menunggu adikku di dalam mobil. Aku tidak terbiasa makan pagi-pagi seperti ini. Entahlah, biasanya jika aku sarapan maka perutku pasti saja langsung mulas. Sambil menunggu Sadam, aku membersihkan lensa kameraku. Tak berselang lama, Sadam memasuki mobil dengan roti selai di mulutnya. "Berangkat, Mas!" titahnya seraya menyantap roti tersebut. Aku menggeleng kecil menanggapi perilakunya. Anak itu memang selalu saja membawa sarapannya ke dalam mobil. Kebiasaan yang sudah mendarah daging. "Nanti Mas gak bisa jemput kamu pulang," kataku ketika mulai melajukan mobil. "Kenapa? Nanti Sadam pulang sama siapa kalau gak dijemput Mas Liam?" Aku menoleh beberapa saat ke arahnya. Anak itu tampak menekuk wajahnya kesal sembari terus mengunyah sarapan. "Hari ini Mas banyak kerjaan di luar. Jadi kayaknya bakal pulang telat. Kamu pesen ojek online 'kan bisa," jelasku. "Iya deh iya," kesalnya. "Seragam kamu itu udah putih abu-abu, jadi harus belajar mandiri mulai dari sekarang!" "Iya. Kalau tau bakal diceramahin Mas Liam, mending Sadam pesen ojol aja dari tadi," gerutunya. "Katanya gak mau dipanggil anak SMP, makanya kelakuanmu jangan malah kayak bocah SD!" timpalku. "Iya ... si paling dewasa." Untuk kalimat terakhirnya Sadam memelankan suara. Entah belajar mengumpat dari mana dia. Ponselku bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk. Nama Deris terpampang pada layar benda pipih tersebut. Segera aku mengangkat panggilan teleponnya menggunakan handsfree. "Ada apa, Der?" "Ada yang mau interview. Emangnya kita masih buka lowongan ya, Mas?" katanya setengah berbisik. Kedua alisku saling bertautan. Lowongan kerja? "Bukannya udah ditutup minggu lalu sama Risya?" tanyaku. "Bentar Mas, biar saya tanyain dulu sama Risya." Terdengar Deris tengah menanyakan hal tersebut kepada yang bersangkutan--Risya. Namun, aku tidak bisa mendengar pasti apa yang menjadi jawabannya. "Mas?" tegur Deris tampak memastikan aku masih menerima teleponnya atau tidak. "Gimana?" "Risya bilang, dia lupa take down postingan di sosmed." Risya. Anak itu memang pelupa. "Mas? Terus gimana ini? Apa disuruh pulang aja?" tanya Deris memecah lamunanku. "Jangan. Kasian dia udah dateng. Bilang suruh tunggu saya, sebentar lagi saya ke sana," putusku pada akhirnya. "Oke, Mas." Sambungan telepon terputus, dan tidak terasa ternyata sekolahnya Sadam tinggal beberapa meter di depan sana. Kutepikan mobil tak jauh dari gerbang sekolah. Namun, bukannya langsung turun, Sadam hanya berdiam diri. Kulihat dia tampak memerhatikan sesuatu di depan sana. Seorang gadis cantik bertubuh tinggi. "Kenapa? Kamu suka sama perempuan itu? Sekarang lebih baik urus sekolah dulu! Kamu itu belum pantas buat cinta-cintaan," pesanku menyadari apa yang sedsng terjadi. "Gak. Siapa bilang? Jangan sotoy deh, Mas!" gerutunya. "Memang bener, kok. Kamu liatin dia terus, pasti ada apa-apanya. Tadi ada anak perempuan lain yang lewat, kamu biasa aja," jelasku. "Tau ah, Mas Liam ngeselin!" ketusnya sembari keluar dari mobil. Dia bahkan membuat pintu mobilku berdebam sedikit keras. Seenaknya saja, dia tidak tahu aku harus menabung berapa lama untuk membeli mobil ini? *** "Mas Liam!" tegur Deris membuat atensiku teralih kepadanya. Lantas aku memasukkan ponsel yan sedari tadi aku genggam. "Sini kamera sama laptopnya, biar saya bantu bawa ke ruangan Mas Liam," tawarnya. "Gak usah, biar saya aja." "Ah iya, itu--" "Mana yang mau interview?" tanyaku memotong ucapan Deris. "Itu!" tunjuknya ke belakangku. Ah ternyata aku tidak begitu memerhatikan keadaan. Aku membalikkan tubuh dan menemukan sosok wanita berkacamata bulat tengah menduduki kursi tunggu. Kakiku berayun melangkah pelan mendekatinya. "Hm ... saya Liam, owner dari Yudhis Graph," ucapku sambil mengulas senyuman tipis. "Saya July," sahutnya dengan senyuman yang mengembang. "Sudah bawa persyaratan untuk melamar?" Wanita itu mengangguk cepat kemudian menunjukkan map yang dibawanya. "Kalau begitu kamu ikut saya ke ruangan untuk melakukan interview," pungkasku kemudian berjalan terlebih dahulu. Sampainya di ruangan, aku langsung menyimpan kamera dan laptop yang selalu dibawa ke mana saja. "Duduk!" titahku pada Juni. Ia pun duduk dan menyodorkan berkas ke hadapanku. Gegas aku buka lembaran pertama yang berisikan surat lamaran. "July Masayu ... dua puluh lima tahun," ternyata aku salah mengingat namanya. "Lulusan tata boga?" kedua alisku saling bertautan. "I-iya." "Kenapa melamar di tempat saya? Bukannya gak satu jurusan dengan kemampuanmu?" bingungku. "Saya sudah coba melamar ke beberapa cafe dan restoran, tapi sayangnya masih belum ada yang mau menerima. Kebetulan kemarin saya liat lowongan kerja di instagram, ya saya coba aja. Walaupun gak satu jurusan sama keahlian saya, seenggaknya saya bisa dapat pekerjaan dalam waktu yang dekat ini," jawabnya panjang dikali lebar dikali tinggi sama dengan tiga meter persegi. "Pengalaman bekerja dua tahun di Hotel Wind sebagai asisten koki..... Kenapa sekarang berhenti? Bukannya itu hotel besar?" "Hotel Wind mengalami penurunan konsumen, jadi beberapa karyawan kontrak harus dirumahkan." Aku mengembuskan napas berat nan panjang. Harus bagaimana mengatakannya, ya? Kututup berkas lamaran tersebut, kemudian beralih pandang menatapnya. "Sebenarnya ...." Kulihat dia tampak membuang napas kecil. Apa mungkin dia sudah bisa membaca apa yang ada di dalam benakku? Ayo Liam, katakan saja kalau kamu sudah tidak memerlukan karyawan! "Besar harapan saya untuk bisa bergabung di Yudhis Graph ini," desahnya. "Bagaimana bisa saya mempekerjakan kamu di sini, sedangkan kamu sendiri mengambil kuliah jurusan tata boga?" "Apa kamu memahami dasar-dasar pemotretan? Editing foto? Alat-alat yang digunakan dalam fotografi? Wanita itu terdiam, tidak mengangguk atau pun menggeleng. "Tapi saya bisa jadi asisten Mas Liam. Saya bisa bantu angkat-angkat peralatan," ujarnya terlihat serius. "Kamu yakin?" Ia tampak mengangguk pasti. "Siap bekerja di bawah tekanan? Bisa bekerja individu? Bisa berdiskusi dan bekerja kelompok? Bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu kerjakan?" cecarku. "Bisa, Mas." "Oke, kalau begitu selamat bergabung di Yudhis Graph!" ucapku membuatnya seketika terbelalak. "Saya beneran diterima, 'kan?" tanyanya antusias. "Iya. Besok kamu sudah bisa datang ke sini." "Terima kasih banyak."
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
seruu, menarikk juga alue ceritanya🙏🏻😭
28/05
0bagussss banget
26/03
0bagus
11/03
0Xem tất cả