logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 2 Surat Untuk Aluna

—————————————————————
—————————————————————
Teruntuk kekasihku, Aluna ...
Aku harap bisa mengikis waktu. Melompati hari-hari sepi tanpamu. Atau membekukan masa, pada awal pertemuan kita.
Kini tinggal aku sendiri, mengukir bait mimpi pada kanvas ilusi yang tak bertepi. Rindu telah menjadi racun dalam ragaku, yang perlahan membunuh seiring berjalannya waktu.
—————————————————————
—————————————————————
Kulipat secarik kertas berisi sepenggal surat tersebut; mengikatnya pada balon helium, lalu menerbangkannya di langit malam.
Aku tahu kalau suratku tak mungkin bisa sampai ke sisi Aluna. Namun, dengan begitu ... setidaknya dia bisa mendengar isi hatiku.
Kini aku tidak berada di pemakaman, melainkan tempat yang selalu Aluna datangi semasa hidupnya. Dia sangat menyukai bunga, maka dari itu ... taman adalah tempat sekarang kaki ini menjejak. Aluna tidak suka dengan senja. Katanya, "Senja itu memang indah, tapi aku tidak mau menjadi senja."
"Kenapa?" tanyaku kala itu.
"Karena senja harus meninggalkan siang, kembali ke peraduannya," jelasnya sambil mengulas senyuman tipis.
"Walaupun hanya sebentar, setidaknya senja memberikan keindahan!" sanggahku membuatnya lantas menoleh.
"Iya, dan aku tidak mau menjadi indah yang hanya sebentar itu," sahutnya.
"Kalau begitu, aku ingin menjadi bintang untuk matahariku ... yang menemani tanpa harus meninggalkan," kataku lagi.
"Tidak bisa Liam. Aku tidak mungkin menjadi mataharimu. Aku hanya sebagian kecil dari semesta yang suatu saat akan pergi," ucapnya terlihat serius.
Aku menatapnya wajahnya lekat. Namun, pada detik selanjutnya tawa Aluna menggelegar memecah keheningan.
Sekarang, telingaku seperti tengah mendengar tawa dari dirinya. Suara itu terasa nyata di kepala. Aluna sudah mengisi hati dan pikiranku, bahkan ketika kini dia sudah tak lagi di sisiku. Aku tidak pernah menyangka jika dia menepati ucapannya. Aku juga tidak tahu jika pada saat itu Aluna tengah menderita kanker. Dirinya selalu terlihat baik-baik saja.
Kuperhatikan balon helium tadi yang semakin terbang tinggi dan menjauh. Balon itu seperti Aluna. Pada awalnya memang aku genggam, tetapi perlahan terbang; hilang, dan tak akan kembali lagi.
Aku mendesah panjang. Entah sampai kapan aku akan menjadi sosok pria pemurung seperti ini? Bukankah seharusnya aku bersyukur dan berbahagia? Aluna tidak lagi merasakan sakit di tubuhnya, dan mungkin sekarang dia sudah beristirahat dengan tenang di pangkuan Yang Maha Kuasa.
Balon yang membawa sepenggal isi hatiku kini hilang ditelan kegelapan. Lantas aku beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.
Malam ini terasa sepi. Entah mengapa tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang, padahal biasanya selalu saja macet. Apa mungkin karena sudah menjelang tengah malam?
Kaki ini terasa berat untuk melangkah ... kembali ke rumah. Namun begitu, aku masih memerlukan tidur untuk bangun esok hari. Ah, rasanya aku tidak ingin lagi melihat dunia. Semuanya terasa begitu hampa. Udara bahkan terasa begitu hianat. Entah ke mana perginya semua oksigen, sebab aku merasa dadaku semakin sesak.
Sebuah panggilan masuk membuatku mengambil ponsel dari dalam saku. Ternyata mama.
Segera kuangkat panggilan darinya. Sebelum aku berbicara sepatah kata pun, mama sudah terlebih dahulu berbicara.
"Liam kamu di mana? Ini sudah hampir tengah malam, Sayang!" ucapnya terdengar tegas sekaligus lembut. Kentara akan kekhawatiran.
"Liam di jalan pulang. Sebentar lagi sampai rumah," jawabku.
Terdengar mama mengembuskan napas berat nan kasar. "Kalau begitu cepatlah pulang, Mama menunggumu," gumamnya.
"Iya, Ma."
Setelah itu mama memutus sambungan telepon. Dia pasti baru menyadari jika aku belum pulang ke rumah. Walaupun aku masih memiliki mama dan papa yang amat menyayangiku, tetapi tetap saja ... perasaan cintaku terhadap mama papa dan Aluna tidak bisa disamakan. Semuanya mendapat tempat tersendiri di dalam hatiku.
Enggan membuat mama dan papa khawatir berkepanjangan, lantas aku segera mengendarai mobil menuju arah pulang. Seperti kataku tadi, jalanan terasa lenggang. Sehingga membuatku tak lama sampai ke rumah.
Begitu melewati pintu utama, terlihat mama dan papa yang tengah menungguku di ruang tamu.
"Kalau kamu ada urusan, setidaknya kamu kabari mama atau Papa!" ucap papa seraya berjalan ke arahku.
"Iya." Hanya satu kata itu yang mampu terucap dariku.
"Sudah, lebih baik sekarang kamu tidur! Besok 'kan kamu harus kerja," sela mama membuatku hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
Lantas kaki ini berjalan melewati keduanya, menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarku. Memang rumah ini memiliki dua lantai, hanya saja bukan rumah yang luas seperti milik orang-orang kaya.
Keluargaku bukan tergolong keeluarga kaya, tetapi kami berkecukupan. Papa sebagai manajer di salah satu perusahaan daerah, sedangkan mama merupakan seorang guru SMA. Lalu diriku ... aku bukanlah pegawai seperti keduanya. Aku membuka kantor kecil-kecilan yang bergerak di bidang fotografi dan videografi—Yudhis Graph.
Aku melangkah menuju kamar mandi untuk sedikit membersihkan diri sebelum tidur. Setelah selesai, aku mengganti pakaian hanya dengan atasan kaus dan celana boxer.
"Selamat malam Sayang. Doakan aku supaya bermimpi tentangmu," ucapku pada selembar foto Aluna yang dengan indah tersimpan di dalam bingkai foto.
Rutinitas setiap hari menjelang tidur ... aku tidak pernah lupa untuk sekadar mengucapkan selamat malam kepada kekasihku. Ah, mungkin orang-orang di luar sana akan menganggap aku benar gila karena terus berbicara pada batu nisan juga selembar foto. Namun, bagiku ... semua terasa sedikit bisa mengobati rinduku terhadap Aluna. Jika aku sudah tidak bisa menemui raganya, maka tempat peristirahatan terakhir dan potret dirinya lah yang bisa membuatku merasakan kehadiran Aluna.

Bình Luận Sách (5)

  • avatar
    Syahfira Indah Ramadani Lubis

    seruu, menarikk juga alue ceritanya🙏🏻😭

    28/05

      0
  • avatar
    NazwaAyu

    bagussss banget

    26/03

      0
  • avatar
    SianturiSteven

    bagus

    11/03

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất