logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 9 Tegar

Meski hatiku gelisah, namun kucoba untuk menguatkan diri agar tegar, Marwah butuh dukunganku saat ini.
Dengan semangat aku menyiapkan barang daganganku lebih awal, apalagi gorengan yang membutuhkan waktu lebih lama karena harus digoreng sebelum Maghrib, itu supaya gorengannya tetap hangat hingga beberapa jam kedepan.
Safa kecil juga membantuku banyak hal, dia mencoba menyusun dagangan di gerobak, keberadaannya disampingku saja bagai obat lelah.
"Nanti malam Safa tidur di rumah Mbah Sur saja, ya?"
"Enggak mau Ayah, Safa ikut saja."
"Ayah jualannya sampai malam, nanti Safa mengantuk."
"Safa enggak mau tidur di rumah Mbah Sur, Dodi suka nakal," totalnya lagi.
Yah, mau bagaimana lagi. Cucu Bude Sur memang kurang akur dengan Safa, kasihan juga kalau aku menitipkannya di rumah Bude Sur malam ini.
Biarlah, malam nanti aku akan coba membawa Safa, tapi tentunya juga harus menyiapkan alas tidur, jaga-jaga dia mengantuk.
"Safa tidur dulu Ayah, supaya nggak ngantuk. Tapi janji ya, jangan tinggalin Safa."
"Iya, janji. Ayah ke rumah Mbah Sur dulu, ya. Mau beli batu es."
"Iya Ayah."
***
Safa begitu antusias saat ku ajak berjualan, selama perjalanan dia terus menanyakan banyak hal.
"Ini tempat dagang Ayah?" tanyanya saat kami tiba di Halte.
"Iya, Safa tinggu sebentar, biar Ayah bersihkan dulu tempat buat Kakak duduk."
Kususun dua lembar kardus yang sengaja kubawa dari rumah, lalu melapisinya lagi dengan sebuah sarung agar Safa tak kotor.
Bagi anak sekecil Safa, mungkin ini menyenangkan, apalagi bisa sambil melihat banyak kendaraan lalu lalang.
Siapa yang menduga, hari ini pembeli cukup banyak apalagi pengendara ojek online yang datang satu persatu untuk mangkal.
Safa yang mudah bergaul juga tak sungkan membantu menawarkan kopi pada orang-orang, mungkin karena itulah hari ini berbeda dari biasanya.
hingga pukul sepuluh malam, terhitung sudah lebih dari tiga puluh gelas kopi, belum lagi cemilan dan gorengan yang kini sudah hampir habis.
"Sudah dapat banyak, Ayah?" tanya Safa dengan polosnya.
"Alhamdulillah, berkat Safa."
Gadis kecil itu tersenyum simpul lalu tak lama kemudian dia menguap, pasti dia sudah mengantuk berat, biasanya sebelum jam sembilan malam saja Safa dan Marwah memang sudah tertidur pulas.
Lambat lain matanya terpejam juga, dengkuran halus khas anak-anak terdengar, kasihan sekali Safa dia pasti lelah.
Hingga menjelang tengah malam, akhirnya semua daganganku habis, hanya menyisakan beberapa bungkus kopi dan cemilan, jadi kuputuskan untuk segera pulang, toh sudah sepi juga.
"Nngghh ... Ayah, mau pulang?" gumam Safa seraya menggosok matanya.
"Iya, ayo pakai jaketnya, Sayang."
Alhamdulillah malam ini hasil jualanku adalah yang paling terbanyak sejak berjualan, jika terus seperti ini aku yakin bisa melunasi biaya Rumah Sakit nantinya dan membayar uang kontrakan.
***
TOK TOK TOK
"Assalamu'alaikum, Di," panggil seseorang dari luar.
"Wa'alaikum Salam," jawabku seraya berjalan untuk membukakan pintu.
"Oalah, Bude. Ya Bude, ada apa?" tanyaku pada Bude Sur.
"Ini aku masak agak banyak, kamu pasti belum sempat masak. Oh ya, bagaimana kabar Marwah?"
"Semalam Nayla telepon katanya demamnya masih tinggi, cuma sekarang Marwah nggak rewel."
"Semoga lekas membaik, maafkan Bude enggak bisa bantu apa-apa."
"Enggak apa, Bude. Itu Bude sudah bantu do'a, sudah lebih dari cukup."
Bude Sur menepuk bahuku. "Yang sabar ya, Di. Ujian datang karena Allah yakin kamu bisa menjalaninya."
"Iya, Bude. Terima kasih."
"Kamu kapan mau ke Rumah Sakit lagi?"
"Mungkin siang nanti, Bude."
"Kalau begitu, sebelum ke rumah sakit kamu pergi dulu ke rumah Pak RT, dia minta kamu bantu dia rapikan kebun."
Rezeki tak terduga. "Alhamdulillah, nanti Adi kesana Bude, mau mandiin Safa dulu."
"Ya, Bude pulang, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, terima kasih Bude."
***
Setelah sarapan, aku dan Safa bergegas ke rumah Pak RT, tak lupa membawa perkakas seadanya yang ku punya.
Tak ingin berlama-lama, aku mulai mengerjakan tugasku dan Safa bermain bersama temannya. Karena halaman Pak RT tak begitu luas, hanya butuh waktu dua jam saja semuanya sudah selesai.
"Sudah selesai, Bang Adi?"
"Sudah, Pak RT."
Pak RT merogoh tas miliknya lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribuan padaku. "Ini, Bang Adi."
"Terima kasih, Pak."
"Tidak, saya yang terima kasih."
"Kalau butuh tukang bersih-bersih, boleh kabarin saya, Pak RT."
"InsyaAllah. Saya do'akan anaknya segera sembuh ya."
"Aamiin, terima kasih Pak. Saya permisi dulu, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam."
Alhamdulillah ada tambahan uang lagi untuk biaya rumah sakit Marwah, terima kasih ya Allah.
***
Sebenarnya Safa tak boleh masuk, tapi karena aku beralasan tak ada yang menjaganya jika ditinggal, akhirnya perawat mengizinkan Safa ikut menjenguk Marwah dengan syarat tak boleh berlama-lama.
Kupandangi Marwah yang masih terbaring lemah, Nayla bilang kondisi Marwah sudah jauh lebih membaik tapi juga harus tetap dalam pantauan Dokter dalam beberapa hari kedepan.
"Kamu sudah makan, Nay?"
"Sudah, Bang. Makan bareng Marwah."
"Makanan Rumah Sakit?"
"Iya, nggak enak ternyata, pantas Marwah ogah makan."
"Beli saja di warteg lain kali, tapi sekarang Abang bawakan makanan, tadi pagi Bude Sur kasih."
Nayla meraih kotak makan yang kubawa. "Alhamdulillah, buat nanti saja, Nah masih kenyang."
Mendengar suaraku, Marwah terbangun dari tidurnya dan sempat merengek ingin di gendong, namun berhasil kubujuk dengan hanya memeluknya saja.
Sayang sekali kami tak bisa berlama-lama, aku juga harus menyiapkan dagangan untuk malam nanti, jadi harus kembali sebelum Ashar.
Saat sedang asyik berbincang, seorang perawat dan Dokter datang melakukan pemeriksaan.
"Kita ambil sample darah lagi ya, Cantik," bujuk seorang perawat pada Marwah.
Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat melihat Marwah menangis, pilu. Ternyata selama dirawat Marwah akan terus melakukan test lab setiap harinya untuk memastikan kadar trombosit dan lainnya.
"Obatnya jangan lupa ya, Bu."
"Iya, Dokter."
Dokter itu berlalu pergi setelah selesai dengan pemeriksaannya, namun salah satu Suster lainnya tetap tinggal.
"Maaf Pak, ini depositnya sudah hampir habis jadi harus kembali bayar, soalnya mau test lab."
Ya Allah, satu juta kemarin bahkan hanya cukup untuk mengcover biaya perawatan selama satu hari saja.
"Saya baru ada lima ratus ribu, Bu. Apa bisa?"
"Bisa, Pak. Saya tunggu di ruang administrasi, ya."
"Iya, Sus. Terima kasih."
Suster itu berlalu pergi, Nayla terlihat frustasi sekali. "Abang ada uang berapa?"
"Ada delapan ratus ribu, tapi yang tiga ratus ribunya untuk modal. Besok pasti pihak rumah sakit minta deposit lagi, Dek."
"Bagaimana ini, Bang?"
"Do'akan jualan Abang laris lagi seperti semalam, setidaknya bisa masukin deposit lima ratus ribu lagi."
"Aamiin. Bawalah ini, Bang," ucapnya seraya menyerahkan gawai miliknya.
"Untuk apa?"
"Jual saja, memang nggak akan seberapa tapi lumayan untuk tambahan."
Gawai ini adalah hadiah ulang tahunnya yang ku beli setelah menabung sekian lama, tapi kini memang tak ada pilihan lain.
"Abang pamit dulu, Nay. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam."
Nayla dan Marwah bergantian mencium punggung tanganku dengan takzim, air mata Marwah bahkan masih basah akibat menahan rasa sakit tadi.
'Ya Allah, sembuhkan lah Marwah segera dan mudahlanlah usahaku agar bisa membayar seluruh biaya Rumah Sakitnya.'

Bình Luận Sách (93)

  • avatar
    RifqiLalu

    ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞

    05/05/2022

      0
  • avatar
    MeilianaEstina

    alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi. semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus

    02/12

      0
  • avatar
    HendrawanNasrul

    bagus

    13/07

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất