"Bang, Abang ...." Suara Nayla membangunkanku, ku buka mataku meski masih mengantuk berat. Ku lihat Nayla terlihat panik, bulir air mata mengembun di pelupuk matanya. "Ada apa, Dek?" "Marwah demamnya makin tinggi, Bang." Beberapa hari lalu Marwah memang demam. Kami pikir hanya demam biasa, lalu hanya memberinya obat penurun panas dan pereda sakit saja. Namun, ternyata kondisinya malah semakin memburuk. Semalaman Nayla tidak bisa tertidur, apalagi saat mendengar Marwah meringis kesakitan. Kami bergantian berjaga, meski aku juga lelah karena pulang larut sebelumnya. "Sudah kamu coba kompres?" "Sudah, Bang. Tapi pas aku cek, tingginya masih 38°c, bagaimana ya Bang?" "Besok pagi kita bawa ke puskesmas dulu, sekarang kompres saja dulu. Biar Abang yang kompres, kamu tidur saja." "Enggak usah, Bang. Abang kan baru beberapa jam tidur, biar Nay saja." "Ya sudah, Abang tidur dulu sebentar lagi, nanti kita gantian ya." "Iya, Bang." *** Marwah terus merintih kesakitan, itulah yang membuatku semakin tak tega saat melihatnya. Antrean puskesmas hari ini cukup panjang, kami yang datang dari jam tujuh pagi saja sampai jam delapan masih belum juga dapat giliran. Nayla mulai nampak kesulitan menenangkan Marwah, padahal biasanya meski sakit sekalipun Marwah anak yang tenang dan tidak rewel. "Biar Abang gendong, Dek." Nayla menyerahkan Marwah padaku, gadis kecilku itu awalnya meronta tapi akhirnya bisa tenang setelah kugendong dengan lembut seraya membacakannya sholawat. Pelan namun pasti Marwah tertidur pulas, meski sesekali rintihannya masih terdengar, aku rindu Marwahku yang ceria. Akhirnya setelah menunggu cukup lama kini nama Marwah yang dipanggil, segera kami menuju ruangan Dokter, sesuai arahan petugas. "Selamat pagi, Pak, Bu," sapanya. "Pagi, Dok." "Ini adeknya mana yang sakit?" "Yang ini, Dok," jawabku seraya menidurkan Marwah. "Adiknya ada keluhan apa, Pak?" "Demam, Dok." "Sudah berapa lama?" "Sudah empat hari ini, Dok." "Biar saya periksa dulu." Dokter wanita itu memeriksa Marwah, mulai dari suhu tubuh dan sebagainya. Marwah kembali merintih kesakitan, membuat pilu diri ini. "Demamnya tinggi juga, 39°c. Lalu karena ini sudah tiga hari, lebih baik kita test lab dulu ya, Pak." "Apa nggak bisa diberi obat saja, Dok?" "Obat yang bisa kita berikan hanya penurun panasnya saja, Pak. Tapi karena Adeknya sudah demam lebih dari tiga hari, ada baiknya kita test lab dulu." "Apa puskesmas ini ada fasilitas itu, Dok?" "Alhamdulillah ada, biayanya juga enggak mahal, kok. Nanti setelah hasil testnya keluar, kembali lagi ke ruangan saya ya, Pak." Kami dipandu seorang petugas mendatangi bagian Laboratorium. Marwah kecil yang tadinya sedang tertidur pulas kini terbangun dan mulai merengek kembali, apalagi saat seorang petugas mencoba mengambil sample darahnya untuk diperiksa. Ini adalah kali pertama Marwah sakit sampai harus melakukan test lab, melihatnya yang kesakitan saat jarum itu menusuk tubuhnya membuat hatiku pilu. Tak cukup sampai disitu, kini kami juga harus bersabar menanti hasil test lab itu, perasaan campur aduk tak menentu. Ternyata kegelisahan tak hanya aku dan Nayla saja yang merasakan, bahkan Safa juga ikut menangis setiap melihat adik kecilnya merintih kesakitan. Setelah menunggu sekitar hampir dua jam, akhirnya seorang petugas memberikan hasil testnya pada kami. Aku tak paham maksud dari tulisan itu, tapi semoga saja hasilnya baik. "Langsung ke ruangan Dokter Anita di Poli Anak ya, Pak." "Iya, Bu. Terima kasih." Dengan segera kami kembali ke ruangan Dokter yang memeriksa Marwah tadi, beruntungnya kami tak perlu menunggu lagi. "Hasilnya mana, Pak?" "Ini, Bu." Dokter itu membacanya dengan seksama, kini aku dan Nayla harap-harap cemas mendengar hasilnya. "Trombositnya sudah rendah, bisa Bapak lihat disini trombosit Adek Marwah sudah kurang dari 100.000/µl. Dugaan saya benar, Anak Bapak terkena DBD." Bak disambar petir disiang bolong, bagaimana bisa Marwah mengidap penyakit berbahaya itu namun kami tak menyadarinya. Pantas saja kali ini dia banyak merintih, padahal dulu meski demam sekalipun Marwah tak pernah uring-uringan dan terkesan tenang. Kakiku lemas, membayangkan anak sekecil Marwah harus menderita sakit berat, kenapa bukan aku saja? Kenapa harus Marwah? "Lalu bagaimana, Dok?" tanya Nayla. "Saya buatkan rujukan ke Rumah Sakit, ya. Adeknya harus dirawat inap, kondisinya tidak boleh memburuk lagi." "Apa tidak bisa dirawat di rumah saja, Dok?" "Bahaya, Pak. Saya khawatir kalau kondisi Marwah akan semakin memburuk, Bapak dan Ibu enggak mau ambil resiko sebesar itu kan?" Aku hanya mengangguk pelan, entah harus berekspresi apa kali ini. Hatiku masih terguncang hebat. "Segera bawa ke Rumah sakit ya, Pak," pesannya seraya menyerahkan selembar kertas padaku. Akhirnya kami pulang dengan langkah gontai, bukan hanya memikirkan betapa sakitnya Marwah saja, namun kini kami juga bingung harus membayar biaya rumah sakit dari mana. "Aku nggak mau ambil resiko, Bang. Ini penyakit bahaya." "Uang kita nggak akan cukup, Nay." "Kita pakai uang kontrakan dulu, Bang. Masih ada waktu dua Minggu lagi, yang terpenting sekarang Marwah sehat." Benar, kesehatan Marwah adalah nomer satu. "Kamu ada uang berapa?" "Nay ada satu juta dua ratus, Bang." "Abang ada tiga ratus, ini uang modal sebenarnya." "Ya sudah, kita coba ke rumah sakit dulu, Bang." Akhirnya kami putuskan untuk segera membawa Marwah ke rumah sakit, berbekal uang seadanya yang kami punya. *** Kupandangi Marwah yang tertidur pulas setelah mendapat perawatan, demamnya sudah turun setelah diberikan obat penurun panas yang dimasukkan melalui anus, Dokter bilang supaya kondisi Marwah lekas membaik. Aku tak kuasa saat menemani Marwah dipasang alat infus, rintihan tangisannya membuatku juga ikut merasa kesakitan. Tubuh sekecil itu kini harus terbaring lemah dengan infus menancap pada tangannya. "Bagaimana, Bang?" "Abang sudah depositkan uang satu juta dulu, ini dua ratus ribu kamu pegang, pakai untuk berjaga-jaga." "Abang mau pulang?" "Iya, siap-siap dagang. Kita enggak tahu uang satu juta itu akan cukup atau tidak." "Lalu Safa bagaimana, Bang? Suster bilang hanya aku saja yang boleh menunggu Marwah." "Safa di rumah saja sama Ayah," sahut Safa. "Iya, biar Safa ikut Abang." Beruntungnya Safa anak yang cukup dewasa meski usianya baru menginjak enam tahun, jadi aku tak khawatir disaat kondisi kacau seperti ini. "Abang titip Marwah. Abang sama Safa pulang dulu, ya. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikum Salam." Ku tuntun Safa pergi, namun hatiku pilu karena harus berpisah sementara dengan Marwah kecilku. Aku tak boleh larut dalam kesedihan, biaya rumah sakit Marwah tak murah, aku harus berusaha sekuat tenaga agar bisa membiayainya sampai Marwah sembuh. "Ayah yang sabar, ya," celetuk Safa saat kami di lift. Ucapannya memang sederhana, namun begitu bermakna. Kupeluk dia erat, berkat ucapannya itu aku merasa mendapat kekuatan lebih untuk berjuang. "Terima kasih, Nak."
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 22 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (93)
RifqiLalu
ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞
05/05/2022
0
MeilianaEstina
alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi.
semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus
ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞
05/05/2022
0alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi. semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus
02/12
0bagus
13/07
0Xem tất cả