logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 7 Pintu Rezeki

Setelah kejadian hari itu, aku dan Nayla tak pernah lagi berkunjung menemui Mbak Nani. Meski begitu rupanya Mbak Nani belum puas mempermalukanku. Bahkan, beberapa kali ku lihat dia dengan sengaja menyebarkannya di akun sosial media dan jejaring WhatsApp.
Aku tak masalah kalau memang semua orang tahu. Toh, memang hanya itu kemampuanku membantunya. Kini aku hanya akan hidup untuk anak dan Istriku, bukan untuk orang lain.
"Abang mau ke mana?" tanya Nayla saat melihatku bergegas.
"Mau coba keliling nawarin jasa, barangkali ada yang butuh."
"Istirahat saja, Bang. Nanti malam 'kan harus jualan lagi."
"Hasil penjualan kan lagi enggak bagus, tabungan kita juga terpakai buat nyumbang kemarin, sebentar lagi bayar kontrakan, Nay."
Nayla hanya menghela nafas panjang. "Maafkan Nay, Bang."
"Kenapa minta maaf, Nay?"
"Nay nggak bisa bantu apapun."
Aku terkekeh. "Nay, siapa bilang kamu nggak bantu apa-apa? Kamu sudah setia di samping Abang, melahirkan dan menjaga kedua anak kita, mendukung langkah Abang. Itu semua juga bentuk dukungan paling besar."
"Tapi itu kan memang kewajiban Istri, Bang. Wajar."
Ku elus pipi Istriku. "Lelah mencari nafkah juga kewajiban suami. Jadi, kamu enggak perlu merasa terbebani. Inilah tanggung jawab serta harga diri Abang sebagai suami."
Air mata mulai mengembun di pelupuk mata Nayla, segera ku hapus agar tak ada air mata yang keluar. Cukuplah air mata bahagia saja, jangan sampai ada air mata kesedihan.
"Abang akan jadi orang serakah dan tak tahu malu kalau membiarkanmu jadi tulang punggung juga, Abang masih mampu berusaha."
"Iya, Bang. Terima kasih sudah jadi Ayah dan suami yang baik."
Ku kecup lembut kening istri tercintaku— Nayla. "Abang jalan dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam."
Nayla mencium punggung tanganku dengan takzim, tak lupa senyumnya begitu mengembang saat mengantarku hingga teras memberikan tambahan semangat untukku yang akan pergi berjuang.
Nikmat mana lagi yang lebih indah jika diberkahi rumah tangga harmonis meski dalam kondisi apapun, hidup kami sudah sulit, jadi sebisa mungkin tak akan memperumit keadaan dengan pertengkaran rumah tangga.
***
Sudah dua jam lebih aku berkeliling kampung, tapi belum ada satu orangpun yang membutuhkan jasaku. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke rumah, beristirahat dan membantu Nayla sore nanti.
Setibanya di rumah Safa dan Marwah langsung bersorak sorai melihat kedatanganku, apalagi saat melihat aku pulang membawakan jajanan kesukaannya.
"Makan di dalam ya, Kak, Dek."
"Iya, Ayah," jawab Safa seraya berlalu pergi membawa adiknya, Marwah.
"Kopi, Bang?"
"Enggak usah, air putih saja, tolong."
Nayla berlalu pergi masuk ke dapur, sedangkan aku tengah mendinginkan tubuh dengan cara mengipasi tubuh ini dengan kipas Safa. Panas sekali hari ini, mungkin karena sudah mendekati musim kemarau.
"Airnya, Bang."
"Terima kasih, Dek."
"Nay sudah pesan batu es untuk sore nanti, Bude Sur bersedia jadi pemasok batu es untuk kita."
"Alhamdulillah, berapa harga yang Bude kasih?"
"Satu balok dua ribu, Bang. Besar sih."
"Ya sudah, setiap hari beli saja sekitar tiga balok, cukup?"
"Cukup, Bang."
"Andai saja kita punya kulkas, nggak perlu beli batu es begini."
"Siapa tahu nanti kita bisa beli, Bang."
"Aamiin. Bikin gorengannya jangan banyak-banyak dulu, Nay. Akhir-akhir ini lagi sepi. Bang Supri bilang, orderannya lagi sepi, makanya lagi pada berhemat."
"Nah buat dua puluh lima buah saja, Bang."
"Iya, Abang setuju. Sebagai gantinya, mending kita beli cemilan saja, lebih awet."
"Iya, Bang. Mana uangnya? Biar Nay yang beli."
"Nggak perlu, nanti Abang saja. Hmm, Nay ...."
"Kenapa, Bang?"
"Maaf ya, Abang enggak dapat uang siang ini."
Nayla tersenyum simpul. "Kirain ada apa, enggak apa-apa, Bang. Rezeki kan sudah Allah atur, mungkin nanti kita dapat rezeki dari jalan lain."
"Aamiin. Terima kasih sudah mau mengerti."
Nayla hanya mengangguk pelan, kini tangannya memijati kakiku, begitulah Nayla. Terkadang aku merasa bersalah padanya, belum banyak yang ku lakukan untuk membalas baktinya tapi Nayla terus memberikanku kebahagiaan dengan caranya sendiri. Semoga kelak akan ada masa dimana aku bisa membahagiakannya.
***
Dengan Bismillah, kutata daganganku di Halte tempat biasa aku mangkal. Suasana hari ini jauh lebih ramai dari biasanya. Memang, bukan para pengemudi ojek online, tapi ada saja pembeli yang datang.
Baru dua jam saja aku berdagang, kini sudah tujuh puluh ribu ku dapat, memang pendapatan kotor karena belum dipotong modal dan lainnya, tapi menurutku ini sudah lebih baik dari sebelumnya.
Meski setelahnya mulai sepi pembeli, tapi aku bersyukur, setidaknya hasil penjualan hari ini jauh lebih banyak dari hasil beberapa hari terakhir ini.
Saat sedang menunggu pembeli, dari kejauhan datang segerombolan orang berwajah seram mendekat, sontak saja aku terkejut, bagaimana jika mereka orang jahat?
Sebenarnya aku ingin lari, tapi jika dipikir lagi untuk apa lari kalau memang kita tak punya salah. Ku mantapkan hati untuk tetap tenang.
Hatiku semakin tak karuan saat mereka duduk berkumpul di Halte tempatku mangkal, tapi semua itu sirna saat mereka tersenyum ramah menyapa. Ternyata memang tak baik menilai orang hanya dari tampilan luar, berdosa sekali aku sempat bersu'udzon.
"Pak, tolong buatkan kopi enam. Tiga kopi hitam dan tiganya lagi kopi susu."
"Alhamdulillah, baik Pak saya buatkan."
Dengan semangat ku buatkan pesanan mereka, selagi menunggu mereka juga menyantap gorengan buatan Nayla dan aneka cemilan lainnya.
Rupanya merekalah yang biasa disebut mata elang, mereka dengan jeli seolah mencari sesuatu setiap kali kendaraan melintas.
"Itu, itu datang. Cepat!" seru salah seorang diantara mereka.
Sontak saja kawan lainnya ikut berlarian mengikuti temannya yang sudah berlari lebih dulu menghalau sebuah mobil yang baru saja melintas.
Aku hanya terpaku seorang diri, lalu siapa yang hendak membayar semuanya? Ingin menagih pun aku takut, jika tidak ditagih maka aku rugi besar.
Kulihat mereka sedang mencoba meminta pengemudi itu keluar, tak ada celah untukku menagih disaat kondisi kacau seperti ini.
Melihatku yang kebingungan, salah seorang diantara mereka berlari menghampiriku. "Maaf Bang, kaget ya?"
"Eh, ti-tidak."
"Ha ha ha, santai saja. Ini pekerjaan."
"Oh, i-iya. Silahkan dilanjut saja."
"Sebentar, saya takut lupa."
Dia merogoh tasnya meraih sesuatu, lalu dia mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya padaku.
"Tunggu, saya ambil kembaliannya dulu."
"Enggak usah, ambil saja. Maaf ya, saya nggak bisa lama-lama."
Alhamdulillah, akhirnya aku tak jadi merugi. Padahal, aku pikir mereka akan pergi begitu saja tanpa membayar, sama seperti kejadian tempo hari saat seorang membeli kopi namun berlalu pergi naik bus tanpa membayar.
Alhamdulillah malam ini aku dapat rezeki tak terduga, begitulah rezeki, terkadang datang melalui jalan yang Idak kita duga sebelumnya.

Bình Luận Sách (93)

  • avatar
    RifqiLalu

    ceritanya menyayat hati perjuangan kita umat manusia... 😞

    05/05/2022

      0
  • avatar
    MeilianaEstina

    alhamdulillah, bagus sekali dan sangat menginspirasi. mengajarkan utk selalu bersyukur dalam situasi apa pun. thanks ya.. saat sedang terjatuh baca karya ini jadi bangkit lagi. semangat terus utk menghasilkan karya yg bagus

    02/12

      0
  • avatar
    HendrawanNasrul

    bagus

    13/07

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất