logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Chương 6 RETAKNYA SEBUAH KEPERCAYAAN

Pagi itu, atmosfer di dalam kelas dua belas bahasa terasa mencekam bagi Alena. Sejak ia melangkah masuk ke ruangan, Dita—sahabat yang biasanya langsung menyapa dengan heboh atau berbagi cerita tentang drama Korea terbaru—hanya duduk diam. Tatapan mata Dita dingin, lurus menatap papan tulis, sama sekali mengabaikan keberadaan Alena yang duduk di bangku tepat di sebelahnya.
Alena mencoba memberanikan diri. Ia mengeluarkan kotak pensilnya dan menoleh pelan. "Dit... kamu udah ngerjain tugas esai bahasa Inggris? Aku agak bingung sama bagian kesimpulannya."
Dita tidak menoleh. Ia hanya mendengus pelan, sebuah tawa sinis yang belum pernah Alena dengar sebelumnya keluar dari bibir sahabatnya itu. "Buat apa nanya sama aku, Al? Nilai bahasa Inggris kamu kan selalu sempurna. Lagian... kamu punya banyak hal lain yang lebih penting buat dipikirin daripada sekadar esai sekolah, kan?"
Jantung Alena berdegup kencang. Sindiran itu terasa begitu tajam dan terarah. "Dit, kamu kenapa sih? Kalau aku ada salah, ngomong langsung..."
"Nanti. Pas istirahat, ikut aku ke gudang belakang sekolah," potong Dita cepat dengan suara berbisik namun penuh penekanan. "Jangan ajak siapa-siapa. Dan jangan coba-coba kabur kalau kamu masih menganggap aku sahabat."
Sepanjang tiga jam pelajaran berikutnya, Alena merasa seperti duduk di atas tumpukan bara api. Konsentrasinya pecah total. Ia tahu, momen yang paling ia takuti akhirnya tiba. Rahasianya telah bocor.
Begitu bel istirahat berbunyi, Dita langsung bangkit berdiri tanpa menanti Alena dan berjalan cepat menuju koridor belakang yang sepi, dekat area gudang olahraga yang jarang dilewati siswa. Alena mengikuti dari belakang dengan langkah kaki yang terasa seberat timah.
Di area gudang yang berdebu dan sunyi, Dita berbalik. Matanya yang merah menahan tangis menatap Alena dengan kombinasi rasa kecewa, marah, dan tidak percaya.
"Kemarin sore," Dita membuka suara, suaranya bergetar. "Aku ngikutin kamu, Al. Aku sengaja karena aku ngerasa kamu banyak bohong belakangan ini. Dan apa yang aku lihat? Sebuah Rolls-Royce hitam. Pria dewasa berjas yang meluk kamu di depan umum. Kamu... masuk ke mobil itu tanpa ragu."
Alena mematung. Seluruh pasokan udara di parunya rasanya menguap seketika. "Dit... aku bisa jelasin..."
"Jelasin apa, Alena?!" bentak Dita, air matanya akhirnya luruh. "Jelasin kalau kerabat jauh papamu itu ternyata seorang om-om kaya raya yang usianya cocok jadi pamanmu?! Jelasin kalau biaya rumah sakit ibumu dan kemewahan tas yang kamu pakai itu hasil dari... dari kamu ngejual diri?!"
Plak!
Kata-kata itu menghantam ego Alena dengan sangat telak, meski tidak ada tamparan fisik yang mendarat. Air mata Alena ikut mengalir membasahi pipinya yang pucat.
"Aku nggak punya pilihan, Dita!" suara Alena meninggi, bercampur dengan tangis yang pecah. "Kamu nggak tahu rasanya berdiri di rumah sakit melihat mesin napas ibumu mau dicabut karena nggak ada uang! Kamu nggak tahu rasanya diancam rentenir kalau adikmu yang umur sepuluh tahun mau dibawa buat dijadikan pemuas mereka! Aku harus nyari uang ratusan juta dalam semalam! Kamu pikir... ada orang baik yang mau minjemin uang segitu banyak tanpa syarat ke anak SMA?!"
Dita tertegun mendengarkan histeria Alena. Kemarahan di wajahnya sedikit mereda, digantikan oleh rasa iba yang mendalam, namun idealisme remajanya tetap menolak kenyataan ini.
"Tapi nggak dengan cara jadi sugar baby, Al... nggak dengan cara tidur sama pria yang nggak kamu cintai, pria yang cuma menganggap kamu mainan! Itu merusak masa depanmu sendiri!" ucap Dita dengan suara yang melemah, melangkah mendekat dan mencoba memegang pundak Alena.
Alena menarik dirinya mundur, menolak sentuhan Dita. "Masa depanku udah hancur sejak papa kabur dan ninggalin utang, Dit. Pria itu... Mas Arzan... dia melunasi semuanya. Dia menyelamatkan keluargaku. Bagiku, sangkar emas ini jauh lebih baik daripada neraka kemiskinan yang kemarin hampir membunuh keluargaku."
Dita menghapus air matanya, menatap Alena dengan pandangan yang kini dipenuhi jarak yang membentang luas. "Jadi... kamu milih jalan ini? Kamu bakal terus ngelakuin ini?"
"Sampai kontrakku selesai. Sampai aku lulus dan bisa mandiri," jawab Alena tegas, mencoba menguatkan hatinya sendiri yang sebenarnya rapuh. "Aku mohon, Dit... tolong jaga rahasia ini. Cuma kamu yang tahu. Kalau sampai sekolah atau Kevin tahu..."
"Aku nggak akan bocor ke pihak sekolah," potong Dita dingin. "Tapi aku kecewa sama kamu, Al. Aku nggak tahu lagi apa aku masih bisa mandang kamu sebagai Alena yang polos yang dulu sering belajar bareng aku di perpus. Hubungan kita... nggak akan bisa sama lagi."
Dita membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan Alena sendirian di lorong gudang yang gelap. Alena merosot, terduduk di lantai semen yang dingin sembari memeluk lututnya. Di dalam hatinya, ia menangis sejadi-jadinya. Harga yang harus ia bayar untuk menyelamatkan keluarganya ternyata bukan hanya kesuciannya, melainkan juga kehilangan sahabat terbaiknya.
--
Ketika Alena melangkah keluar dari minimarket sore itu, matanya masih bengkak dan merah. Ia telah berusaha keras menutupi jejak tangisnya dengan membasuh wajah berkali-kali di toilet sekolah, namun kesedihan yang mendalam tidak bisa disembunyikan dari sepasang mata elang yang sudah menunggunya di dalam sedan hitam.
Arzan langsung menyadari perubahan itu begitu Alena duduk di sampingnya. Aura di dalam mobil seketika mendingin.
"Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Arzan tanpa basa-basi. Suaranya rendah, datar, namun sarat akan ancaman yang mematikan.
Alena menggeleng pelan, memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak menatap Arzan. "Tidak ada, Mas. Hanya... stres karena materi ujian simulasi tadi sangat sulit."
"Jangan berbohong padaku, Alena Putri," ucap Arzan sembari mencengkeram dagu Alena dengan tegas, memaksa gadis itu menghadap ke arahnya. Matanya meneliti setiap inci wajah Alena yang layu. "Kau tidak pernah menangis karena urusan pelajaran. Siapa dia? Bocah laki-laki bernama Kevin itu? Atau orang lain?"
"Bukan Kevin, Mas! Sungguh!" Alena akhirnya terisak, air matanya kembali luruh melintasi pipinya. "Aku hanya... aku hanya lelah. Tolong jangan tanya apa-apa lagi untuk hari ini."
Arzan menatap gadis itu dalam keheningan selama beberapa saat. Rahangnya mengeras. Ia benci melihat air mata Alena, namun ia lebih benci lagi karena merasa ada bagian dari kehidupan gadis ini yang mulai tidak bisa ia kendalikan.
"Yudha, langsung kembali ke penthouse," perintah Arzan dingin.
Sepanjang perjalanan, tidak ada kata yang terucap. Sesampainya di lantai 27, Arzan langsung menarik pergelangan tangan Alena menuju kamar utama. Ia menutup pintu dengan sentakan keras, lalu membalikkan tubuh Alena hingga punggung gadis itu bersandar pada daun pintu yang tertutup.
"Lepaskan tasmu," perintah Arzan, suaranya serak dan menuntut.
Alena menjatuhkan tas sekolahnya ke lantai dengan pasrah. Tubuhnya bergetar hebat saat Arzan mengikis jarak di antara mereka, mengurung tubuh mungil Alena di antara kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada pintu.
"Aku membelimu untuk memberikan kenyamanan, melindungimu dari dunia luar yang kejam, dan memastikan kau tidak perlu menangis karena kemiskinan lagi," bisik Arzan, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alena. "Tapi jika berada di dekatku justru membuatmu menangis seperti ini, katakan padaku, Alena."
"Dita tahu, Mas..." bisik Alena akhirnya, suaranya parau karena emosi yang membuncah. "Sahabatku... dia melihat Anda menjemputku kemarin. Dia tahu aku adalah sugar baby-mu. Dia bilang aku menjual diri... dia bilang aku menjijikkan dan tidak ingin berteman denganku lagi. Aku kehilangan satu-satunya temanku, Mas!"
Tangis Alena pecah sejadi-jadinya di dada bidang Arzan. Semua beban, ketakutan, dan rasa bersalah yang ia pendam sejak siang tadi tumpah begitu saja.
Arzan tertegun sejenak. Tangannya yang semula hendak mencengkeram posesif perlahan melunak. Ia melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Alena, menarik gadis itu ke dalam pelukan yang sangat erat, membiarkan seragam putih Alena basah oleh air mata dan kemeja mahalnya ikut kusut.
"Dunia ini kejam, Alena. Orang-orang di sekitarmu hanya akan peduli pada moralitas ketika mereka sendiri tidak kelaparan," bisik Arzan di atas pucuk kepala Alena, jemarinya mengusap rambut hitam panjang gadis itu dengan kelembutan yang asing. "Temanmu itu tidak ada di sana saat kau butuh ratusan juta. Dia tidak membiayai rumah sakit ibumu. Jadi, kenapa kau harus peduli pada penilaiannya?"
Arzan melepas pelukannya sedikit, lalu menghapus air mata di pipi Alena dengan ibu jarinya yang hangat.
"Kau tidak menjijikkan. Kau adalah milikku, dan di duniaku, kau adalah segalanya," ucap Arzan, tatapannya beralih menjadi sangat intens dan penuh gairah yang menggelap. "Biarkan mereka pergi. Kau tidak butuh teman, kau tidak butuh siapa pun selama kau memiliki aku."
Sebelum Alena sempat mencerna kata-kata posesif itu, Arzan sudah membungkuk, membungkam bibir Alena dengan sebuah ciuman yang dalam dan memabukkan. Ciuman kali ini tidak terasa seperti hukuman, melainkan sebuah cara intens dari sang milyarder untuk menghapus seluruh kesedihan Alena, menenggelamkan gadis itu ke dalam dunia gairah yang sengaja ia ciptakan agar Alena melupakan seluruh rasa sakitnya di dunia nyata.
Di atas sprei sutra abu-abu malam itu, Arzan menuntut haknya dengan lebih protektif, seolah ingin menanamkan keyakinan di dalam benak Alena bahwa satu-satunya tempat aman bagi gadis itu di dunia ini hanyalah di dalam pelukannya.

Bình Luận Sách (2)

  • avatar
    SajaApa

    lanjut

    13d

      0
  • avatar
    Nevii_Chaa

    saya suka

    13d

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất